makhluk tak kasat mata
katanya, ada yang sedang mendekatimu meski kau tak sadar. diam-diam ia memperkecil jarak. senti demi senti dikikisnya untuk mendengar suaramu ketika menggumam.
pagi itu kulihat ia di pojok ruangan. mendapatimu yang baru datang, ia tersenyum menarik perhatian. tapi kau hanya diam.
siangnya kulihat ia mematung di jendela. menunggumu yang baru kembali dari makan di luar. setahuku ia sendiri belum makan.
sore datang. kau bergegas pulang. kulihat ia masih sibuk dengan pekerjaan di tangan. tapi matanya, kulihat tatapannya yang menemanimu hingga hilang dari pandangan.
negeri sejuta senja
mendekatlah
kan kuceritakan tentang negeri sejuta senja
yang banyak orang bilang ada surga di dalamnya
yang banyak orang datang memburu semburatnya
yang banyak orang hilang, melebur di tanahnya
puisi adalah soal logika
sebermula kata adalah bahasa
seiring aksara yang terbaca
ada spasi yang tercipta
menyusup di sela cerita
puisi cinta tanpa kata cinta di dalamnya
secangkir kopi di pagi hari
adalah bukti kau masih di sini
sepiring nasi bersambal terasi
adalah bukti kau masih peduli
*diketik Maret 2016
Senin, 29 Februari 2016
Senin, 15 Februari 2016
#tantangan21hari
![]() |
| Pictured by Tantos, illustrated by me :D |
Ada yang bilang kalo kita ngelakuin suatu hal secara terus-menerus selama 21 hari, maka kita akan jadi terbiasa untuk terus melakukan hal tersebut secara berkelanjutan. Masalahnya apakah kita bisa konsisten dan disiplin minimal untuk 21 hari aja melakukan hal tersebut? Bisa iya, bisa engga. Karena kebiasaan baru yang sedang kita bentuk ini berarti mengorbankan kebiasaan lama kita untuk berubah. Dan sekalinya udah menjadi kebiasaan, maka hal itu semestinya sulit untuk diubah.
Teman saya, Tantos, menantang saya ikut #tantangan21hari ala
dia. Aturan mainnya pertama masing-masing dari kita harus nentuin hal apa yang
mau kita jadiin kebiasaan dalam 21 hari itu. Misal sikat gigi sebelum tidur, bangun
pagi sebelum jam 4, makan sarapan sehat, atau olahraga ringan sebelum berangkat
kerja. Hal yang sederhana aja, tapi masih belum bisa kita lakuin terus-menerus.
Setelah ketemu mau ngelakuin apa, maka kita harus konsisten ngejalaninnya
selama 21 hari. Kalo gagal di tengah, maka kita harus ngulang lagi dari awal
perhitungan hari dan lanjutin lagi ngejalaninnya sampai genap 21 hari. Ada
hukumannya juga, yang mesti kita tentuin masing-masing. Selain hukuman, ada juga
hadiah yang akan saling kita kasih di akhir tantangan ke temen seperjuangan
kita di #tantangan21hari ini.
Saya mengiyakan aja ajakan si Tantos ini. Meski terkenal
suka hilang arah alias tersesat, tapi sepanjang pengalaman saya berteman sama
Tantos, belum pernah dia menyesatkan saya ke tempat yang menyesatkan. Paling nyasar
aja, jadinya muter-muter. He he he.
Sekarang kita bahas tantangan yang saya pilih untuk
#tantangan21hari, yaitu menyikat gigi malam sebelum tidur. Yap, itulah. Mungkin
keliatannya sepele, bahkan mungkin akan menimbulkan reaksi semacam, ”Yaelah, yang
bener loh, masa hal sepele kayak gitu aja sampe mesti dibikin tantangan?”
Yaah, memang seharusnya ga perlu dibikin tantangan sih, harusnya
udah jadi kebiasaan rutin, ya. Tapi emang dasar saya kelewat males, suka
tiba-tiba hilang kesadaran gitu kalo malem, alias ketiduran. Jadi kadang ga
sikat sebelum tidur. He he he.
Tantangan ini sebenernya udah dimulai sejak tanggal 8 Februari 2016 kemarin. Kalo lancar selama 21 hari, harusnya tanggal 28 Februari 2016 nanti selesai. Tapi sesuatu telah terjadi, guys. Sesuatu yang mengubah jalannya #tantangan21hari ini dari pihak saya. Mungkin ga gitu berpengaruh ke tantangannya Tantos. He he he.
Kejadiannya tanggal 10 Februari 2016, waktu itu #tantangan21hari baru berjalan selama tiga hari. Di hari itu sebenernya ga ada kejadian yang luar biasa, sampe suatu ketika saya tiba-tiba terbangun di pagi hari tanggal 11 Februari 2016, tanpa ingat kejadian di malam sebelumnya. Saya kehilangan kesadaran!
Saya ga ingat apa yang saya lakukan di malam tanggal 10 Februari
2016. Waktu itu hari Rabu yang tiba-tiba berganti jadi hari Kamis. Seingat saya
waktu itu abis pulang kerja. Hujan ga ya, Jakarta? Kayaknya engga. Saya naik
kereta ke Manggarai dari Tanah Abang. Waktu itu saya kebagian tempat duduk,
lalu ketiduran sampai Manggarai. Untung dibangunin teman saya, jadi ga bablas
Bogor. Sampai Manggarai, saya kebagian tempat duduk lagi di kereta pulang
menuju Bekasi. Saya nerusin tidur yang tadi di sepanjang perjalanan pulang. Begitu
bangun udah mau sampai stasiun Kranji. Oh! Saya ketemu orang yang waktu itu
ngambil keripik teman saya, dia turun di Kranji juga. Terus saya langsung pulang ke
rumah seperti biasa. Sekitar jam setengah delapan malam saya sampai rumah. Oh! Kemudian
saya ingat, bahwa di hari Rabu malam itu saya ketiduran. Ketiduran tanpa
menyikat gigi. *die*
Begitu sadar, kejadiannya udah jam empat pagi waktu itu.
Kayaknya ini efek saya tidur di kereta, jadi keterusan sampai di rumah, bahkan
keterusan sampai besok paginya pun. Saya langsung ingat si Tantos, dan juga ingat
hukuman dari #tantangan21hari yang harus saya jalani. *die* *double die*
Seperti saya bilang di awal, kalau kita gagal menjalani
tantangan sebelum genap 21 hari maka hitungan hari kita harus diulangi dari
awal lagi. Selain itu juga ada hukumannya. Hukuman yang Tantos pilihkan untuk
saya adalah menulis satu postingan dengan minimal 1000 kata dengan satu
ilustrasi berupa gambar atau foto hasil karya saya sendiri.
Dan.. di sinilah kita berada sekarang. Di postingan minimal
1000 kata dengan ilustrasi karya saya sendiri. Susah juga ya. Poin dari tantangan
ini adalah, tentu aja, mencukupi 1000 kata itu, dan membuat ilustrasinya
sendiri. Sekian lama saya kalo nulis postingan cuma retorika-retorika yang
terdiri atas puisi pendek, yang bahkan ga sampai seratus kata di dalamnya. Itu juga
kadang telat di beberapa episode. Lah, postingan ini juga baru jadi setelah
beberapa hari. He he he.
Sebenarnya bisa aja ya, saya diam-diam gitu. Ga usah ngaku
kalau saya ketiduran tanpa sempat menyikat gigi. Toh, selama ini ga ada bukti
juga kalau saya udah sikat gigi sebelum tidur. Mau saya kirimin foto saya pas
nyikat gigi, kata Tantos ga usah. Toh, dia juga selama ini ga nanyain. Mehehe. Tapi
saya ga mau begitu. Percuma dong ntar bukan #tantangan21hari namanya kalo ga 21
hari.
Paragraf ini diawali dengan kata ke-776. Masih kurang 224 kata
lagi sebelum genap jadi postingan 1000 kata. Tapi seiring bertambahnya kata
yang sekarang adalah kata ke-798, maka semakin dekat pula saya dengan akhir
1000 kata, bahkan kurang dari 200 kata lagi, guys!
Begitu pula dengan #tantangan21hari saya. Di minggu tanggal 14
Februari 2016 ini baru berjalan selama empat hari karena tragedi di hari ke-3
tanggal 10 Februari kemarin. Meski di tanggal 11 Februari harus ngulang dari
awal lagi, tapi seiring berjalannya waktu, toh, udah lebih dekat ke hari ke-21.
Cuma kurang 17 hari lagi, guys! He he he.
Oke. Saya mulai bingung mau menulis apa lagi. Jadi biarkanlah
jari-jari saya mengetik terserah entah apa.
Kalo ditanya, setelah #tantangan21hari ini berakhir,
selanjutnya mau apa? Ya, harapannya kebiasaan yang saya jalani selama tantangan
ini bisa terus konsisten saya jalani. Bukan karena terikat suatu tantangan,
bukan karena janji sama orang lain, bukan. Tapi karena janji sama diri saya
sendiri. Karena saya memang ingin berubah. Gitu. Seharusnya.
Karena yang paling susah dilawan sebenarnya adalah diri kita
sendiri, maka kadang kita perlu bantuan teman lain. Teman ini bisa kita mintain
tolong untuk ngingetin kita, nyemangatin kita, ngawasin kita, bahkan untuk
sekedar jadi tempat pamer aja juga bisa. Mehehe. Pamer nih, kalo kita udah tiga
hari berturut-turut ga ketiduran.
Kalo ada dari kalian yang tipenya main-main dan susah
serius, modus pamer ini bisa juga dijadiin alasan untuk berubah jadi diri yang
lebih baik. Pamer yang buat bercandaan ya. Bukan pamer yang ngejatuhin orang
lain. Mehehe.
Ada yang mau ikutan?
Wish me luck!
Wish us luck, guys!
Minggu, 31 Januari 2016
Retorika 2016: Episode Januari
#1
di langit malam kulihat cahaya
saat bunda tertatih antara hidup dan mati
menuntunmu melihat dunia
di hari itu aku paling bahagia
menyambutmu hadir di dunia
*dipersembahkan untuk seluruh bayi dan teman saya yang lahir pada bulan Januari. :D
#2
pada suatu hari aku bertanya,
apa yang biasa kau lakukan di sabtu pagi?
masihkah kau menatap layar monitor
sambil mendengar lagu asing yang kau sendiri tak tahu bercerita tentang apa?
yang kau suruh dirimu untuk diam dan dengar saja, nikmati melodinya
adakah kau duduk dalam kereta menuju Jogja
sambil membaca buku yang kau sendiri tak tahu tentang apa?
ikut dalam rencana temanmu yang tanpa rencana itu
bertualang keluar Jakarta
jika saja kau tahu bunyi pertanyaanku ini
akankah kau bercerita saja
ataukah kau justru bertanya,
untuk apa kau bertanya?
bukankah kita melakukan segalanya berdua?
#3
kita berada di ketinggian yang sama
ketika hujan datang
membawa kesenangan yang kekal
kita berada di ketinggian yang sama
ketika kamu menapak
di tanah yang basah sisa hujan semalam
kita pernah berada di ketinggian yang sama
ketika kamu belum terbang
lalu menghilang
#4
langit masih gelap
ayam masih terlelap
sendirian ia terperangkap dalam senyap
ketika mimpinya datang menyergap
di langit malam kulihat cahaya
saat bunda tertatih antara hidup dan mati
menuntunmu melihat dunia
di hari itu aku paling bahagia
menyambutmu hadir di dunia
*dipersembahkan untuk seluruh bayi dan teman saya yang lahir pada bulan Januari. :D
#2
pada suatu hari aku bertanya,
apa yang biasa kau lakukan di sabtu pagi?
masihkah kau menatap layar monitor
sambil mendengar lagu asing yang kau sendiri tak tahu bercerita tentang apa?
yang kau suruh dirimu untuk diam dan dengar saja, nikmati melodinya
adakah kau duduk dalam kereta menuju Jogja
sambil membaca buku yang kau sendiri tak tahu tentang apa?
ikut dalam rencana temanmu yang tanpa rencana itu
bertualang keluar Jakarta
jika saja kau tahu bunyi pertanyaanku ini
akankah kau bercerita saja
ataukah kau justru bertanya,
untuk apa kau bertanya?
bukankah kita melakukan segalanya berdua?
#3
kita berada di ketinggian yang sama
ketika hujan datang
membawa kesenangan yang kekal
kita berada di ketinggian yang sama
ketika kamu menapak
di tanah yang basah sisa hujan semalam
kita pernah berada di ketinggian yang sama
ketika kamu belum terbang
lalu menghilang
#4
langit masih gelap
ayam masih terlelap
sendirian ia terperangkap dalam senyap
ketika mimpinya datang menyergap
Senin, 04 Januari 2016
Kembali ke Halimun
Sudah lama saya tidak menginjakkan kaki di tanah Halimun. Terakhir ke sana adalah di tahun 2012, ketika status mahasiswa dan anggota UKF masih saya sandang. Setelah bertahun tidak ke sana, di tanggal 2 Januari 2016 kemarin, akhirnya saya kembali ke Halimun.
Pertama kali saya mengunjungi Halimun di tahun 2011. Saya adalah angkatan termuda di UKF waktu itu, yaitu angkatan 8. Perjalanan saya tempuh dengan naik truk sapi dari kampus di Bogor, saya menyebutnya begitu, yang dilanjut berjalan kaki kurang-lebih 12 jam dari balai di Kabandungan menuju bumi perkemahan di Citalahab. Berangkat tengah malam dan baru sampai siang keesokan harinya. Perjalanan yang luar biasa, sangat memorable, dengan beban logistik di punggung dan teman-teman seperjalanan yang saling support. Saking berkesannya, saya tidak membayangkan akan kembali ke Halimun dengan cara yang berbeda.
Perjalanan kali ini saya tempuh bersama teman-teman sekelas saat kuliah dulu. Kami berangkat menuju Halimun dengan berkendara dari Bogor. Naik mobil bukan truk sapi. Tujuan pertama kami adalah Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Kabandungan, Sukabumi. Dari sana kami menyewa mobil Colt L-300 menuju stasiun penelitian Cikaniki di kawasan TNGH. Kami membayar Rp550.000 untuk satu unit mobil plus pengendaranya, diantar pp balai-Cikaniki. Satu mobil bisa mengangkut hingga dua belas orang, menurut hitungan saya. :"
Untuk sampai ke Cikaniki seingat saya dulu menghabiskan kurang-lebih enam jam perjalanan berjalan kaki. Tapi dengan mobil Colt ternyata hanya butuh dua jam perjalanan dari kantor balai.
Sepanjang perjalanan dalam mobil Colt, ingatan saya flashback ke pengalaman pertama berkunjung ke Halimun. Saya ingat jembatan tempat kami solat subuh dulu. Saya ingat bangunan warga yang kami tumpangi untuk istirahat. Saya ingat kami istirahat hampir setengah jam sekali, makanya lama sekali enam jam kemudian baru sampai. Saya ingat kami berfoto di gerbang taman nasional, yang menandakan sudah setengah jalan yang kami lalui. Lalu cerita dari senior yang bilang kalau tebing di sebelah kanan sudah berpindah ke sebelah kiri, itu berarti Cikaniki sudah tidak jauh lagi. Saya ingat, meski capek dan berat beban yang kami bawa tapi kami terus berjalan sambil menunggu satu sama lain. Selambat apa pun teman yang berjalan, tidak ada yang ditinggalkan.
Kembali ke perjalanan kemarin. Sampai di Cikaniki, kami menemui petugas untuk membayar tiket masuk kawasan TN. Ongkosnya Rp5.000/orang, dan Rp10.000/unit mobil yang dibawa pengunjung.
Ada beberapa spot yang bisa dikunjungi, diantaranya Curug Macan, kebun teh, dan fasilitas loop trail berupa jembatan gantung yang terhubung dari pohon-ke-pohon. Sayangnya loop trail sedang ditutup karena ada bagiannya yang rusak. Padahal itu spot utama yang kami incar. Akhirnya kami memutuskan pergi ke Curug Macan yang berjarak 200 meter saja dari Cikaniki.
Medan menuju Curug Macan berupa turunan tanah berbatu yang agak becek karena habis hujan. Curug Macannya sendiri tidak terlalu besar dan sungainya tidak dalam. Tapi harus tetap berhati-hati agar tidak terpeleset.
Dari Curug Macan, kami kembali ke Cikaniki untuk solat dan makan siang. Tidak ada penjual makanan di sini, jadi harus membawa bekal atau makanan sendiri. Fasilitas di Cikaniki cukup lengkap. Ada kamar tidur, kamar kecil, dapur kecil, dan semacam aula. Seorang teman saya pernah menginap di sini saat penelitian tugas akhirnya dulu. Dialah yang punya ide untuk trip kami kemarin. Kapasitasnya terbatas dan memang sengaja dibatasi saya rasa, sehingga harus izin dahulu dan agak sulit jika ingin menginap. Biayanya Rp250.000/malam untuk satu kamar, bisa muat empat orang.
Selanjutnya kami menuju ke daerah Loop trail, hanya untuk melihat dari bawah. Tidak boleh naik, karena berbahaya dan sedang ditutup. Jaraknya 1.8 KM masuk hutan. Ada aliran sungai kecil yang kami temui di tengah jalan, cukup menyegarkan untuk membasuh kaki. Saat itu sudah sore dan mendung, suara tonggeret mulai berbunyi. Kami bergegas menuju kebun teh sebagai spot terakhir sebelum pulang.
Kebun teh inilah yang saya lewati saat menuju ke Citalahab dulu. Jalurnya menanjak dan berbukit, rasanya jauh sekali dan tidak sampai-sampai. Padahal dari Cikaniki ke Citalahab hanya 2 KM jauhnya menurut papan petunjuk. Jika hari cerah dan sedang beruntung, kita bisa menjumpai burung elang. Dari kebun teh biasanya terlihat jelas elang yang terbang, karena langit yang terbentang luas. Sayangnya, kemarin hujan jadi kami tidak bisa berlama-lama.
Menunggu hujan reda, kami kembali ke Cikaniki. Tidak ada sinyal provider di sana. Itu bagus, karena kami jadi tidak terikat gadget. Kadang terdengar suara Owa Jawa, atau lutung, atau hewan liar lainnya di tengah suara hujan. Kadang terdengar suara tawa teman lain yang bercanda. Kami berteduh sambil memakan cemilan. Ini penting untuk membawa makanan sendiri. Karena di suhu yang dingin kita jadi mudah lapar.
Dilanjutkan memandang hujan di tengah hutan, lalu kabut turun. Sesuai dengan namanya, halimun yang berarti kabut. Rasanya tenang sekali.
Rasanya menyenangkan sekali. Kembali ke sini, ke tanah Halimun.
Pertama kali saya mengunjungi Halimun di tahun 2011. Saya adalah angkatan termuda di UKF waktu itu, yaitu angkatan 8. Perjalanan saya tempuh dengan naik truk sapi dari kampus di Bogor, saya menyebutnya begitu, yang dilanjut berjalan kaki kurang-lebih 12 jam dari balai di Kabandungan menuju bumi perkemahan di Citalahab. Berangkat tengah malam dan baru sampai siang keesokan harinya. Perjalanan yang luar biasa, sangat memorable, dengan beban logistik di punggung dan teman-teman seperjalanan yang saling support. Saking berkesannya, saya tidak membayangkan akan kembali ke Halimun dengan cara yang berbeda.
Perjalanan kali ini saya tempuh bersama teman-teman sekelas saat kuliah dulu. Kami berangkat menuju Halimun dengan berkendara dari Bogor. Naik mobil bukan truk sapi. Tujuan pertama kami adalah Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Kabandungan, Sukabumi. Dari sana kami menyewa mobil Colt L-300 menuju stasiun penelitian Cikaniki di kawasan TNGH. Kami membayar Rp550.000 untuk satu unit mobil plus pengendaranya, diantar pp balai-Cikaniki. Satu mobil bisa mengangkut hingga dua belas orang, menurut hitungan saya. :"
Untuk sampai ke Cikaniki seingat saya dulu menghabiskan kurang-lebih enam jam perjalanan berjalan kaki. Tapi dengan mobil Colt ternyata hanya butuh dua jam perjalanan dari kantor balai.
Sepanjang perjalanan dalam mobil Colt, ingatan saya flashback ke pengalaman pertama berkunjung ke Halimun. Saya ingat jembatan tempat kami solat subuh dulu. Saya ingat bangunan warga yang kami tumpangi untuk istirahat. Saya ingat kami istirahat hampir setengah jam sekali, makanya lama sekali enam jam kemudian baru sampai. Saya ingat kami berfoto di gerbang taman nasional, yang menandakan sudah setengah jalan yang kami lalui. Lalu cerita dari senior yang bilang kalau tebing di sebelah kanan sudah berpindah ke sebelah kiri, itu berarti Cikaniki sudah tidak jauh lagi. Saya ingat, meski capek dan berat beban yang kami bawa tapi kami terus berjalan sambil menunggu satu sama lain. Selambat apa pun teman yang berjalan, tidak ada yang ditinggalkan.
Kembali ke perjalanan kemarin. Sampai di Cikaniki, kami menemui petugas untuk membayar tiket masuk kawasan TN. Ongkosnya Rp5.000/orang, dan Rp10.000/unit mobil yang dibawa pengunjung.
Ada beberapa spot yang bisa dikunjungi, diantaranya Curug Macan, kebun teh, dan fasilitas loop trail berupa jembatan gantung yang terhubung dari pohon-ke-pohon. Sayangnya loop trail sedang ditutup karena ada bagiannya yang rusak. Padahal itu spot utama yang kami incar. Akhirnya kami memutuskan pergi ke Curug Macan yang berjarak 200 meter saja dari Cikaniki.
Medan menuju Curug Macan berupa turunan tanah berbatu yang agak becek karena habis hujan. Curug Macannya sendiri tidak terlalu besar dan sungainya tidak dalam. Tapi harus tetap berhati-hati agar tidak terpeleset.
Dari Curug Macan, kami kembali ke Cikaniki untuk solat dan makan siang. Tidak ada penjual makanan di sini, jadi harus membawa bekal atau makanan sendiri. Fasilitas di Cikaniki cukup lengkap. Ada kamar tidur, kamar kecil, dapur kecil, dan semacam aula. Seorang teman saya pernah menginap di sini saat penelitian tugas akhirnya dulu. Dialah yang punya ide untuk trip kami kemarin. Kapasitasnya terbatas dan memang sengaja dibatasi saya rasa, sehingga harus izin dahulu dan agak sulit jika ingin menginap. Biayanya Rp250.000/malam untuk satu kamar, bisa muat empat orang.
Selanjutnya kami menuju ke daerah Loop trail, hanya untuk melihat dari bawah. Tidak boleh naik, karena berbahaya dan sedang ditutup. Jaraknya 1.8 KM masuk hutan. Ada aliran sungai kecil yang kami temui di tengah jalan, cukup menyegarkan untuk membasuh kaki. Saat itu sudah sore dan mendung, suara tonggeret mulai berbunyi. Kami bergegas menuju kebun teh sebagai spot terakhir sebelum pulang.
Kebun teh inilah yang saya lewati saat menuju ke Citalahab dulu. Jalurnya menanjak dan berbukit, rasanya jauh sekali dan tidak sampai-sampai. Padahal dari Cikaniki ke Citalahab hanya 2 KM jauhnya menurut papan petunjuk. Jika hari cerah dan sedang beruntung, kita bisa menjumpai burung elang. Dari kebun teh biasanya terlihat jelas elang yang terbang, karena langit yang terbentang luas. Sayangnya, kemarin hujan jadi kami tidak bisa berlama-lama.
Menunggu hujan reda, kami kembali ke Cikaniki. Tidak ada sinyal provider di sana. Itu bagus, karena kami jadi tidak terikat gadget. Kadang terdengar suara Owa Jawa, atau lutung, atau hewan liar lainnya di tengah suara hujan. Kadang terdengar suara tawa teman lain yang bercanda. Kami berteduh sambil memakan cemilan. Ini penting untuk membawa makanan sendiri. Karena di suhu yang dingin kita jadi mudah lapar.
Dilanjutkan memandang hujan di tengah hutan, lalu kabut turun. Sesuai dengan namanya, halimun yang berarti kabut. Rasanya tenang sekali.
Rasanya menyenangkan sekali. Kembali ke sini, ke tanah Halimun.
Kamis, 31 Desember 2015
Retorika 2015: Episode Desember
Hari yang Dijanjikan
kalau sampai tiba waktunya
akankah senja semerah hari ini?
pada hari itu gadis kecil mungkin telah menjelma dewasa
yang berkat doa orang tua, ia selamat dari pertaruhan dunia
Bunga-bunga Cosmos
mendekatlah
akan kuceritakan kisah yang dulu kucuri dengar
tentang bunga-bunga cosmos
yang mati muda
yang tumbuh cepat
mekar berbunga, berbiji tua lalu mati
Isyarat Hujan
hujan turun di Bekasi sore ini
diiringi perkusi dari langit
yang menghentak!
memintamu berhenti sejenak
untuk mendekat dan memperkecil jarak
Denyut
Dengarlah
ini denyut nadi orang yang patah hati
rasanya sama saja
tidak mati
*diketik Januari 2016
kalau sampai tiba waktunya
akankah senja semerah hari ini?
pada hari itu gadis kecil mungkin telah menjelma dewasa
yang berkat doa orang tua, ia selamat dari pertaruhan dunia
Bunga-bunga Cosmos
mendekatlah
akan kuceritakan kisah yang dulu kucuri dengar
tentang bunga-bunga cosmos
yang mati muda
yang tumbuh cepat
mekar berbunga, berbiji tua lalu mati
Isyarat Hujan
hujan turun di Bekasi sore ini
diiringi perkusi dari langit
yang menghentak!
memintamu berhenti sejenak
untuk mendekat dan memperkecil jarak
Denyut
Dengarlah
ini denyut nadi orang yang patah hati
rasanya sama saja
tidak mati
*diketik Januari 2016
Senin, 30 November 2015
Retorika 2015: Episode November
Berita Duka
Berita duka datang bagi yang tidak mengharapkannya
seorang teman yang selama ini hilang kabar, kini telah berpulang
bukan kembali ke kita, tapi kepada keabadian
tempat terbaik telah disediakan untuk mereka yang baik
dan rindu mendadak hadir bagi mereka yang kehilangan
Di Bandara
Malam menjelang ketika kamu harus pulang
tak ada lagi yang tersisa di sini
apalagi rencana ke depan
tapi kita masih bisa menepi
duduk minum kopi, lalu bicara
semoga bukan untuk yang terakhir kali
Buah Tangan
Segumpal rendang hadir untuk orang tersayang
bawa dengan hati, jaga jangan sampai tumpah
kamu bisa sisihkan minyaknya kalau mau
itu juga supaya panas dalammu
tidak makin parah
dan bibirmu tidak makin pecah
atau sariawanmu tidak makin merah
tapi kamu malah khawatir
kalau rendang ini membeku
terpapar salju yang menderu
Perpisahan
satu lagi orang yang pergi
diikuti satu, dua, tiga, dan empat lainnya
dan seterusnya
sampai semuanya habis
sampai semuanya pergi
kamu kapan?
Berita duka datang bagi yang tidak mengharapkannya
seorang teman yang selama ini hilang kabar, kini telah berpulang
bukan kembali ke kita, tapi kepada keabadian
tempat terbaik telah disediakan untuk mereka yang baik
dan rindu mendadak hadir bagi mereka yang kehilangan
Di Bandara
Malam menjelang ketika kamu harus pulang
tak ada lagi yang tersisa di sini
apalagi rencana ke depan
tapi kita masih bisa menepi
duduk minum kopi, lalu bicara
semoga bukan untuk yang terakhir kali
Buah Tangan
Segumpal rendang hadir untuk orang tersayang
bawa dengan hati, jaga jangan sampai tumpah
kamu bisa sisihkan minyaknya kalau mau
itu juga supaya panas dalammu
tidak makin parah
dan bibirmu tidak makin pecah
atau sariawanmu tidak makin merah
tapi kamu malah khawatir
kalau rendang ini membeku
terpapar salju yang menderu
Perpisahan
satu lagi orang yang pergi
diikuti satu, dua, tiga, dan empat lainnya
dan seterusnya
sampai semuanya habis
sampai semuanya pergi
kamu kapan?
Minggu, 22 November 2015
Pixels Berduka
Kenapa gue nangis, ya?
Padahal pertemanan kita ga bisa dibilang deket. Ga pernah se-projek bareng. Ga ikut UKM yang sama. Ga pernah main bareng. Kita cuma temen sekelas dan seangkatan. Kita cuma sama-sama Pixel.
Pertama gue tau kabar tentang lu, pagi itu gue di kereta mau berangkat kerja. Lagi misuh-misuh kegencet di kereta, tapi tiba-tiba gue merasa pilu. Kenapa coba? Itu karena kabar kepergian lu, yang bener-bener ga disangka-sangka.
Gue langsung inget kejadian di kelas sispak dulu. Betapa epic lu waktu itu. Di presentasi progress project, elu yang di minggu sebelumnya dikritik abis sama bu dosen gara-gara presentasi yang monoton, langsung bertindak dengan ngasih presentasi yang beda. Yang katanya kebanyakan teks dan kurang gambar, langsung lu ganti dengan deretan gambar dan teks yang gamblang. Yang katanya harus menatap audiens dan gaya bicara yang menggebu-gebu, lu langsung berdiri menghadap audiens dan ngomong dengan semangat orang mau menang tender. Dan berkat usaha kita sekelas ngerjain projek, akhirnya UAS sispak ditiadakan. *tepuk tangan*
Habis itu, gue ga punya kenangan personal lagi tentang lu. Memang teman sepermainan kita beda juga. Tapi tetep aja gue ngerasa kehilangan. Lama ga ada kabar, sekalinya ada justru kabar duka. Cepet banget lu pergi ninggalin kita. Sikap lu yang suka ngebanyol dan bercanda, itu yang bikin gue dan teman lainnya bakal kehilangan banget.
Kenapa gue jadi nangis, ya?
Padahal kemarin pas gue dateng ke rumah lu, bareng teman-teman Pixels yang lain, rasanya ga bakal ada acara tangis-tangisan. Keluarga lu udah ikhlas. Bokap lu, adek lu, kakak lu, keluarga lu, semua udah keliatan tegar atas kepergian lu.
Tapi.. memang air mata ga selalu berarti kesedihan. Kayak kemarin. Padahal waktu itu kita lagi ngomongin kebiasaan lu yang konyol, tapi.. kok mata gue berair, ya? :')
Lu orang baik. Makanya banyak yang kehilangan lu. Yang terus ngedoain lu. Keluarga lu sempet khawatir, karena tingkah lu yang ga pernah serius, apa ni anak bisa bertahan di luar sana? Tapi ngeliat banyaknya teman yang datang demi lu, mereka jadi lega bahwa banyak orang yang peduli sama lu.
Selamat beristirahat, ya. Terima kasih atas keceriaan yang selalu lu bagi. Sampe ketemu lagi, Dhir. :')
Senin, 02 November 2015
Manusia Anti Modus
Ipul teman saya, orangnya polos luar biasa. Banyak temennya yang sering ngartiin dia ga peka. Padahal kalo mereka tau cerita sebenernya, mereka pasti setuju kalo si Ipul ini cuma orang paling anti modus sedunia. Asal mereka tau aja..
Saking polosnya, si Ipul ga bisa ngebedain antara orang pura-pura dan orang yang sandiwara. Di mata Ipul, apa yang orang lain lakuin itu ga punya maksud lain selain apa yang keliatan. Makanya dia gampang banget kena tipu. Sebaliknya, orang yang mau modus sama dia, hmm.. siap-siap aja gagal atau coba ngomong terus terang karena kodenya sering ga diterima.
Suatu hari, Ipul cerita sama saya. Dia abis ketemu sama orang aneh di stasiun Manggarai. Orang ini kenal juga engga sama si Ipul, tapi ngajak ngomong macem-macem. Si Ipul yang sama sekali ga curiga mah ngeladenin aja. Ditanya dia jawab, diajak ngobrol dia nyaut. Sama sekali ngelupain pepatah, 'Jangan ngomong sama orang asing'.
Wahahaha. Entah saya harus kasian atau gimana denger cerita si Ipul. Waktu saya tanya kenapa dia ga pura-pura ke toilet aja, pergi gitu dari itu orang, si Ipul dengan naifnya cuma nganggep itu orang lagi nyari temen ngobrol. Kasian juga ya itu orang. Orang kayak Ipul diajak investasi ngomongin masa depan mah, mana kepikiran. Salah milih korban, wahahah.
Saking polosnya, si Ipul ga bisa ngebedain antara orang pura-pura dan orang yang sandiwara. Di mata Ipul, apa yang orang lain lakuin itu ga punya maksud lain selain apa yang keliatan. Makanya dia gampang banget kena tipu. Sebaliknya, orang yang mau modus sama dia, hmm.. siap-siap aja gagal atau coba ngomong terus terang karena kodenya sering ga diterima.
Suatu hari, Ipul cerita sama saya. Dia abis ketemu sama orang aneh di stasiun Manggarai. Orang ini kenal juga engga sama si Ipul, tapi ngajak ngomong macem-macem. Si Ipul yang sama sekali ga curiga mah ngeladenin aja. Ditanya dia jawab, diajak ngobrol dia nyaut. Sama sekali ngelupain pepatah, 'Jangan ngomong sama orang asing'.
"Lu ga ditawarin obat herbal sama dia?" tanya saya.
"Ngga tuh. Cuma dia nanya, 'Kerja apa kuliah? Ada rencana mau beli rumah atau mobil ga? Mau wirausaha ga?' gitu."
"Hmm, berarti dia orang kredit tuh. Mau nawarin modal."
"Terus dia cerita mau merger usahanya sama perusahaan startup."
"Cerita doang?"
"Iya. Ngomoooong mulu. Awalnya soal musik, soal Indra Yudistira, Wishnutama, pokoknya industri kreatif gitu. Mungkin karena gue ga antusias nanggepinnya, jadi ga nawarin apa-apa."
"Barang-barang lu ga ada yang ilang?"
"Ga ada.."
"Itu orang mau nyulik elu kali, Pul. Cuma takut nyusahin makanya ga jadi."
"HEH! Sembarangan lu.. Itu orang emang dateng tiba-tiba. Gue lagi nunggu kereta kan, sambil makan keripik sendirian. Terus itu orang dateng, minta keripik gue. Udah minta, diabisin coba! Keripik gue!"
"Waahahhah, itu lu kena hipnotis berarti. Buktinya keripik lu abis!"
"HAH? Astaghfirullaaaah.."
Wahahaha. Entah saya harus kasian atau gimana denger cerita si Ipul. Waktu saya tanya kenapa dia ga pura-pura ke toilet aja, pergi gitu dari itu orang, si Ipul dengan naifnya cuma nganggep itu orang lagi nyari temen ngobrol. Kasian juga ya itu orang. Orang kayak Ipul diajak investasi ngomongin masa depan mah, mana kepikiran. Salah milih korban, wahahah.
"Lagian elu mau-maunya diajak ngobrol sama orang ga dikenal."
"Gue kan ga mikir macem-macem. Ya, gue juga ga tau maksud itu orang maunya apa. Niat gue kan cuma jadi orang baik yang ga nyuekin orang lain."
"Hmm.."
"Lu tau, gue rasa orang jaman sekarang itu terlalu curigaan. Kebanyakan mikir yang engga-engga. Coba senadainya kita hidup tanpa prasangka, ga ada modus-modus. Pasti bakal lebih tenang hidupnya.. Ga usah ngemodus dan takut dimodusin, kan?"
"Wahahah, untung lu ga diapa-apain Puuul... Keripik doang abis!"
"Iya nih. Lu ga tau aja gue baca-baca doa terus dalem hati. Ngeri..."
Sabtu, 31 Oktober 2015
Retorika 2015: Episode Oktober
Di Seberang Jembatan Layang
Di seberang jembatan layang
ada langit malam yang terluka
pekatnya koyak
ditembaki kokangan lampu sorot
milik juragan properti ibukota
Wanita Pendiam
Ia tak bersuara kecuali dalam hati
Ia tak berkata kecuali lewat tatapan mata
Di Balik Bilik yang Sepi
Di balik bilik yang sepi
Kamu bebas berekspresi
Bisa bersuara berisik
Tanpa ada yang terusik
Dalam Tidurmu Tadi Pagi
Kamu belum benar lelap, dalam tidurmu tadi pagiketika tepukan halus datang dari seorang asing
yang menanyakan arah, sambil tersenyum bersalah
karena mengusik tidurmu tadi pagi
Minggu, 25 Oktober 2015
Persembahan untuk Bukan Teman
Hei, Guru.
Sabtu 24 Oktober kemarin, kulihat wajah ayah dan mama (panggilan untuk orangtuamu) berseri-seri sekali. Mereka terlihat sangat bahagia, bangga, dan lega. Mau tau apa yang dikatakan ayahmu waktu aku menyalaminya? "Maafin tingkah Rizqah selama ini ya...," begitu katanya. Masih bercanda aja, hahaha.
Aku jadi ikut bahagia. Senang melihat kalian di pelaminan. Pernikahan yang indah. Sungguh.
Aku tak tau tahapan seperti apa yang kalian lalui hingga sampai pada keputusan bahagia ini. Sama sekali tak tau padahal beberapa kali kita melakukan perjalanan bersama. Yah, cerita itu memang tidak harus diketahui semua orang sih. Tapi tetap saja, begitu aku tau dengan siapa kau akan menikah, yang ternyata temanku juga, si Faisal, aku merasa bodoh sekali tidak tau apa-apa. -_-
Perjalanan pertama kita ke Baduy dulu itu, apa sudah mulai dari situ? Memang si Faisal satu-satunya orang yang tidak menertawakanmu di saat yang lain iya. Tapi kukira itu wajar karena dia memang anak baik, dan sangat menghormatimu sebagai kakak yang waktu itu terbully oleh kami semua.
Perjalanan selanjutnya kita pergi ke Bojen dengan ayah, mama, serta adikmu Salsa dan Tasya. Apa sudah mulai dari situ? Lalu terakhir kita bertemu di TIM, Cikini.. apa sudah mulai jauh sebelum itu?
Kalau benar jawabannya iya, dan yang menurut penuturan seorang teman adalah memang iya, maka aku jadi terharu. Rapat sekali kalian saling menjaga satu sama lain sampai tiba waktunya. Tega sekali kau tak bilang apa-apa sama sekali. Aku benar-benar clueless, sampai seorang teman justru bertanya, "Masa ga keliatan, sih?" -_-
Lalu bulan lalu kau mengundangku main ke rumah, tumben.
"Mau lamaran yah?" tebakku.
"Siapa yang mau lamaran? Aku akan menikah," jawabmu. -_-
Dan benarlah kemarin kalian menikah. Momen sekali seumur hidup yang seru! Baru kali ini aku lihat ada pengantin yang masih dibully sama teman-temannya. Hahahha. Aku jadi makin senang dengan pernikahan kalian. Sungguh. Ini kutuliskan ulang jawaban dari kartu ucapan kemarin.
Untuk Faisal & Rizqah
Selamat kepada pasangan mempelai yang berbahagia. Saya sangat bahagia untuk kalian berdua. Saya mendoakan kalian agar bahagia sepanjang hidup bersama. Moga dikaruniakan banyak kebahagiaan dan tak banyak ketidakbahagiaan. Yang terpenting ialah bahagia. Jangan lupa juga untuk bahagia!
Dari: Saya
Sekali lagi, selamat!
Wassalamu'alaikum.
Langganan:
Postingan (Atom)







