Rabu, 18 Mei 2016

Catatan di Malam Tanpa Tidur

Malam ini saya melewatinya tanpa tidur. Lagi. Ya. Setelah malam senin kemarin saya juga tanpa tidur.

Sebab apakah?
Sebab es kopi susu yang rasanya enak sekali. Tidak kalah dengan kopi Starbucks kesukaan Adnan teman saya. Dengan dua bungkus Nescafe classic yang dicampur susu kental manis cap Bendera, ditambah bongkahan es batu yang renyah untuk dikunyah, saya bisa kehabisan kata saking enaknya.

Sebab apakah?
Sebab proyek poetrygraphy saya selanjutnya yang belum rampung juga. Saya tidak senekat kemarin lagi, entah kenapa selalu ada yang kurang di proyek kali ini. Kata-kata saya dan gambaran yang ada seperti tidak akur.

Sebab apakah?
Sebab paket internet malam yang akan tersia-sia kalau saya tidur. Sayang sekali. Paket yang hanya tersedia mulai pukul 01.00 - 06:59 WIB ini luar biasa besarnya hingga menagih saya minta diberdayakan.

Sebab itu semua, jadilah saya menukarnya dengan waktu tidur saya, dengan segelas es kopi susu, dengan streaming audio visual macam-macam.

Sampai tadi saya menemukan video tentang pengaruh tidak tidur pada tubuh kita dari channel BuzzFeedBlue. Saya ketakutan sendiri melihatnya. Saya kira keren sekali orang yang bisa tidak tidur itu, karena kuat menahan kantuk. Sejenak saya kira saya keren.

Tapi ternyata saya salah.

Dengan tidak tidur, otak saya jadi tidak berfungsi normal. Hal ini sudah saya rasakan di akhir-akhir. Sering saya lupa akan hal yang mau saya utarakan, tepat ketika saya mau mengatakannya. Rasanya menyebalkan sekali. Seperti mau bersin tapi tidak jadi. Seperti dipermainkan. Saya tidak suka.

Efek lain dari tidak tidur adalah: penuaan dini.

Oh. Tidak.

Lingkaran hitam mulai bermunculan di bawah mata saya. Kerutan lainnya akan muncul dan membuat saya terlihat lebih tua dari yang seharusnya. Meski saya belum merasakannya, tapi hal ini akan terjadi kalau saya terus-menerus tidak tidur. Hal ini akan jadi sangat menyebalkan. Saya tidak akan menyukainya.

Saya jadi sering pusing tanpa alasan, bahkan setelah saya makan. Biasanya saya jadi melemah begitu kalau kurang makan. Jalan seperti melayang. Mood tidak karuan. Kalau dokternya Yuli bilang: kliyengan.

Gangguan hormon, halusinasi, penurunan fungsi otak, dan yang paling saya tidak inginkan adalah: melihat hal "lain". Sudah cukup membaca Keluarga Tak Kasat Mata membuat saya parno sendirian di rumah, tidak perlu ditambah penglihatan macam-macam lagi.

Saya tidak ingin mengalaminya. Saking enggannya saya jadi ingin tidur.

Tapi malam sudah berganti hari, sebentar lagi pagi. Ibu saya sudah terbangun lagi. Kalau tidur dengan waktu yang hanya tersisa sedikit ini, saya cemas akan bangun dalam keadaan pusing, dan lebih parah lagi terlambat. Saya tidak ingin terlambat, karena perjalanan kereta pagi sudah sering terlambat dengan sendirinya tanpa harus saya terlambat.

Benarlah malam diciptakan agar kita bisa beristirahat, bukannya browsing dan streaming macam-macam. Poetrygraphy yang jadi alibi juga tidak jalan.

Cukup sudah. Saya akan berhenti menulis omong-kosong ini. Saya akan tidur malam nanti.

Kamis, 12 Mei 2016

Wayang Layang dan Kelanjutan Poetrygraphy

Halloo...

Setelah lamaaa sekali sejak terakhir saya menulis Terhapus Hujan Sehari, sekarang saya datang lagi dengan poetrygraphy terbaru yang berjudul: Wayang Layang.

Wayang layang sebenarnya adalah pertunjukan wayang kontemporer. Sebuah kolaborasi antara teater Les-rémouleurs dari Prancis dan seniman asal Indonesia. Saya menonton pertunjukan mereka akhir April kemarin di pembukaan Festival Printemps Français. Sabtu malam, hujan, di tengah aktivitas malmingnya warga Jakarta, saya  datang ke Plaza Senayan untuk nonton pertunjukan ini. Kyah.

Pertunjukan wayang dengan judul L’Oiseau (The Bird) ini menghadirkan sesosok burung buatan yang melayang terbang. Biasanya kalau nonton wayang kan di layar yang statis, ya. Nah, kalau wayang layang, yang jadi layar itu adalah sayap si burung. Jadi kita dapat dua tontonan sekaligus, tarian burung ini saat terbang, melayang, dan juga cerita yang dikisahkan lewat gambar ilustrasi dari sayap si burung. Epik.

Saking epiknya, saya jadi terinspirasi untuk menulis poetrygraphy lagi. Karena sayang juga sih, kalau hasil dokumentasi saya cuma teronggok di harddisk. Jadi, lebih baik dibikin poetrygraphy ya saya pikir. Mungkin kalau saya rajin nanti bisa terbit jadi photobook betulan. Hehehe.
Mari sama-sama bilang: aaamiiin!

Akhir kata, saya persembahkan sebuah Wayang Layang dalam bentuk lain kepada semesta. Khususnya kamu, yang sudah memberikan waktumu untuk membaca postingan ini. :)



Minggu, 08 Mei 2016

Tentang Kontes Foto 2016 (1)

Tahun 2016 ini saya menulis beberapa resolusi, diantaranya adalah mengikuti kompetisi fotografi baik melalui IG ataupun kompetisi di platform lainnya minimal satu kali setiap bulan. Sudah lima bulan berlalu sejak Januari hingga Mei, dan selama itu ada beberapa kontes yang saya ikuti. Meski belum ada yang menang pun. Hehehe.

Mumpung di bulan Mei ini saya belum mengikuti kontes manapun, rasanya belum terlambat kalau saya ingin mereview kontes-kontes fotografi yang sudah saya ikuti di empat bulan pertama. Semacam evaluasi caturwulan begitu. Hahaha.

Januari 2016


Kontes pertama yang saya ikuti di tahun 2016 dari @fujifilm_id. Temanya adalah resolusi tahun 2016. Cerita dari foto ini adalah menara yang menjulang sebagai perlambang harapan yang tinggi. Niatnya optimis gitu. Hahaha.

Hadiahnya kalau menang adalah sebuah kamera Fuji yang saya lupa tipenya apa.

Asia-Pacific Forest Week ‘Growing our Future’ photo contest by FAO
Ini foto yang saya ikutkan dalam kompetisi "Growing our Future" oleh FAO. Hadiahnya adalah pergi ke Filipina! Saya antusias banget membayangkan pergi ke Filipina karena menang dari kontes foto ini. Sayangnya, lolos tahap pertama aja saya engga. Hahaha.

Februari 2016




Dua foto di atas saya ikutkan dalam kompetisi foto #15TahunSupernova. Menjelang launching-nya episode terakhir Supernova: Intelijensi Embun Pagi. Caption yang tertulis harus mengutip isi dari seri Supernova. Kalau terpilih nih ya, saya bisa dapat dua tiket untuk acara launching si episode terakhir. Sayangnya juri tidak memilih saya. Hahaha.

Maret 2016



Jujur, kontes ini rasanya berat banget bagi saya. Saingannya itu loh, bagus-bagus banget fotonya! Tapi saya tebel muka aja ikut submit foto, biar ada orang yang nyangkut ke akun saya kalau mereka mencari #KontesMerahPutih.

#KontesMerahPutih ini masih berlangsung samapai sekarang, tiap periode punya tema yang berbeda-beda. Tapi saya cuma pernah ikut sekali, sekali-kalinya ya foto ini. Hehehe.

April 2016






YELLOW Photo Competition. Dari judulnya aja udah ketauan kan temanya apa: KUNING. Waktu saya liat foto juaranya, Men, keren banget! Kuningnya beneran kuning, bukan kekuningan, bukan kuning redup, tapi kuning cerah sekuning-kuningnya kuning!

Saya baru sadar di foto ayam ini sebenernya ga sekuning yang saya pikir. Sama sekali ga kuning bahkan. Padahal waktu saya upload via hp, ayamnya lumayan kekuningan makanya saya berani submit. Hahaha.

Itulah perjalanan saya ikut-ikut kontes foto. Sebenernya ada resolusi lain yang berhubungan sama fotografi juga, yaitu ikutan #WeekendHashtagProject dari IG. Nanti ya, saya share juga ceritanya di sini. Tapi ga janji. Hehehe.

Tabik!

Minggu, 17 April 2016

Mendadak Bandung


Kejadiannya udah lamaa banget. Gue pergi ke salah satu tempat paling romantis di dunia, Bandung. Meski udah lama tapi euforia itu masih tetap ada. Nah, supaya ga lupa akan gue ceritakan petualangan gue di Paris van Java. :D

Ceritanya tahun lalu, Agustus 2015, Ratna yang lagi ada kerjaan di Bandung dengan random ngajak gue main ke Bosscha. Dia yang anak Bali, ga tau banyak tentang Bandung. Dan gue yang anak Bekasi, ga lebih tau lagi dari dia. Karena pengalaman gue ke Bandung cuma numpang lewat doang kalo naik kereta pas mudik lebaran. But, random is our middle name, no? :D

Gue yang anaknya ayo-ayo aja kalo soal main awalnya ragu kan, terutama soal transportasi. Ke Bosscha mau naik apa? Naik angkot takut nyasar. Naik ojek takut dimahalin, ketauan banget turisnya. HAHA. Apalagi kita berdua bolang banget kan anaknya alias minim perencanaan alias ngedadak. Tapi kata si Ratna waktu itu,
"Tenang, kau install saja GO-JEK. Ke mana-mana cuma sepuluh ribu!"
"Benarkah? Cuma sepuluh ribu?!"
"Iya, soalnya mereka lagi promoo."

Saat itu memang lagi gencar-gencarnya GO-JEK ngenalin layanan mereka. Dan dengan hanya iming-iming begitu, udah cukup bagi gue untuk berani naik bis sendirian dari Bekasi ke Bandung. Soal nanti liat nanti aja, kalo nyasar pun berdua ini ga sendirian. HAHA.

Sampe di terminal Leuwipanjang gue ketemu Ratna. Kita langsung mesen GO-JEK ke Bosscha karena ga tau seberapa jauh jalan ke sana dan takut kesiangan nyampenya. Beneran loh, tarifnya waktu itu hanya sepuluh reboo. Pake gratisan kredit lagi. Padahal lumayan jauh dari Leuwipanjang di pinggir Bandung menuju Bosscha di Lembang. Sekitar satu-dua jam lah ngebonceng motor, pegel juga. Lumayan, gue jadi tau rasanya menelusuri jalanan Bandung.

Dibaca: boska


Di Bosscha (baca: Boska) udaranya dingiin. Sejuk gitu deh, karena daerah pegunungan kan ya. Bawaannya ngantuk, apalagi waktu ikut kuliah singkat tentang astronomi di sana. HAHA.

Jadi Bosscha ini kan sebenarnya fasilitas penelitian gitu ya, bukan wahana wisata, makanya ada kuliah singkatnya juga. Masuk ke sini tuh bayar tiket masuk, tapi saking udah lamanya gue lupa berapa, hehe. Maapkeun urang yeuh, hilap. Tapi ga mahal kok, karena emang bukan untuk tujuan komersil kan.

Di sana gue ikut tur singkat tentang sejarah pendirian Bosscha di tahun 1923 (thanks to Ratna's documentation). Bahwa Bosscha bukan cuma bangunan putih berkubah di film Petualangan Sherina, tapi sebuah kompleks penelitian yang terdiri atas beberapa bangunan. Kalo bangunan putih itu doang namanya Kupel. Bangunannya dirancang oleh arsitek handal K. C. P. W. Schoemaker.  Di dalamnya ada teleskop buatan Jerman. Bagian-per-bagian didatangkan langsung dari Jerman, naik kapal! Karena pesawat dulu belum ada. Terus dari pelabuhan di pinggir laut, dikirim lagi ke pedalaman Bandung yang ada di tengah gunung. Kebayang ga jauhnya kayak apa? Repotnya kayak apa? Tapi jauh-jauh dan repot-repot tetep didatengin khusus ke Bandung demi majunya ilmu pengetahuan! Yay!

Teleskop ini masih digunakan untuk pengamatan benda-benda langit. Kadang diadain pengamatan bareng, udah ada jadwalnya juga dan orang awam boleh ikut. Cuma kita ga tau karena kurang riset dan waktunya ga pas. Sayang.

Terus diceritain juga bahwa Bandung udah ga 'segelap' dulu karena sekarang banyak tercemar polusi cahaya. Sayang banget ya, padahal di jaman dulu, Bosscha ini ideal banget untuk pengamatan benda langit, sampe repot-repot didatengin teleskop canggih dari Jerman.

Masih banyak deh hal lainnya yang diceritain selama tur. Nambah pengetahuan banget. Lebih jelasnya dateng langsung aja, yuk, ke sana. HAHA.

Waktu gue dateng kemarin pengunjungnya ga begitu ramai. Jadi abis ikut tur ke bangunan Kupel dan kuliah singkat tentang astronomi, kegiatan kita ya foto-foto sepuasnya. Sambil mengenang masa kecil yang berbahagia.

Kalo gue tanya, ada ga sih anak generasi 90an yang belum nonton Petualangan Sherina? Ada, Men. Tapi bukan gue. Karena PS adalah sedikit dari kenangan masa kecil yang membuat gue jadi seperti sekarang ini. HAHA.

Iya, tujuan kita ke Bosscha yang notabenenya fasilitas penelitian yang dikelola ITB kan sebenernya bukan atas dasar sebuah klausa ilmiah. HAHA, GAYA BEUT. Melainkan menapaki jejak petualangan Sherina dan Sadam, dalam usaha mereka melindungi perkebunan Ardiwilaga dari jatuhnya ke tangan konglomerat Kertarajasa. HAHA, GAYA BEUT (2). Kayak latar belakang penelitian ya. HAHA, GAYA BEUT (3).

Kita puas-puasin foto di sana. Dimintain tolong motretin orang, gantian motret, motret sambil loncat, dipotret sambil loncat, apa aja sampai puas. Sambil mengenang PS, sambil nunggu dzuhur, sambil piknik makan bekel combro Bekasi dan keripik Bandung. Di sana ga ada yang jualan, ya Men. Makanya penting untuk bawa bekal sendiri dan jaga kebersihan lingkungan dengan buang sampah ke tempat sampah. :D

Abis dari Bosscha kita memutuskan untuk ke Floating Market a.k.a Pasar Apung. Lokasinya deket kok, jalan kaki lima belas menit nyampe kalo dari Bosscha. Tanya aja mamang-mamang atau akang-akang di sana.

Ngomong-ngomong soal mamang, selama di sana gue mendadak jadi Sunda pisan lah. Kita kan banyak nanya ya, nanya jalan seringnya. Entah waktu ditelpon mamang gojek atau mamang random lainnya. Nah, tiap nanya dengan logat yang disunda-sundain, mamangnya tuh balesnya halus pisaan. 
“Teh, saya udah di lampu merah, ya. Sebentar lagi ke sana.”
“Oh, iya, Kang. Saya di pintu gerbangnya, ya.”
“Iya, Teh, nuhun, ya.”
“Nuhun, Kang.”

Kan jadi waaah.. diperlakukan sebegitu halusnya. Pantes banyak orang bilang kalo Bandung tuh kota yang romantis. HAHA. :))

Balik lagi ke Floating Market. Tiket masuknya berapa yaa, lupa juga. Yang jelas lebih mahal dari masuk Bosscha. Kita dapet welcome drink berupa minuman coklat atau lemon tea, pilih salah satu. Floating Market ini semacam pasar wisata yang HITS banget. Bisa kulineran, banyak tempat main anak, sewa perahu, barang oleh-oleh, dll. yang transaksinya pake koin gitu. Disediain tempat penukaran uangnya, tapi masih ada yang nerima uang tunai juga. Harus bijaksana nih nuker uangnya, karena kalo ada kelebihan ga bisa dikembaliin lagi.


Floating Market ini rameee banget. Kekinian banget deh tempatnya. Bagus abis. Ditata sedemikian rupa, ada sawah, ada saung angklung, ada taman kelinci, ada danau kecil, ada pasar apung tempat jualan makanan, ada saung yang bisa disewain, lengkap kap kap dalam satu lokasi. Jadi awal mulanya FM ini situ buatan, yang dikelola sama seorang pengusaha Bandung. Kreatif-kreatif ya urang Bandung.

Sesuai tempatnya yang kekinian, harga makanan di FM ini agak pricey sih menurut gue. Yah, namanya juga tempat HITS, Bandung pula. Maklum aja yah. HAHA. Makanya gue kebanyakan cuma foto-foto sama keliling. Tempatnya enak sih buat dijelajahi.

Di pasar apungnya yang tempat jualan makanan, ada satu kolam yang diisi sama baaanyak ikan. Nah, anak kecil pada demen ni ngasih makan ikan-ikannya. Ikannya udah banyak, gede-gede, dan riweuh banget pada rebutan makanan. Saking rebutannya, sampe ada ikan yang berenang di atas ikan yang lain demi ngedapetin makanan yang dikasih sama pengunjung! Sadis!
...
Petualangan lainnya kita lanjut di postingan berikutnya, yaa.
Xoxo

Sabtu, 16 April 2016

Retorika 2016: Episode April

(Masih) Ada Api di Matamu
Ada api di matamu
ketika kumasuki ruang-ruang waktu
tempat kita bertemu dulu/
Masih kuingat jelas
malam itu di Jakarta
kupinjam cahaya dari lampu-lampu jalanan
untuk menerangi hariku yang gelap.
Seketika bayangmu hadir, dilatari bokeh dengan warna-warni buram
mengusir muram
menuntunku pulang/
Masih kucuri dengar derai suaramu yang tertawa
masih kucari benar tawa suaramu yang berderai

Wayang Layang
Angkasaku adalah bumi
Cahayaku adalah gelap
yang menyamarkan ke'aku'anmu
kala memanduku dalam lakon pertunjukan semalam

Bosan
Aku bosan duduk
Aku ingin melompat, teriak
lalu berlari
mengunjungi festival seni
Aku bosan sendiri, terasing
di tengah-tengah orang asing
Aku minta teman
Aku ingin ditemani

Lupa
Akhir-akhir ini aku sering lupa
Lupa untuk tidak membayangkan wajahmu dalam kerumunan banyak orang,
lupa dengan waktu yang kita habiskan bersama sambil bicara macam-macam,
lupa untuk mengabaikan gigi-geligimu yang kelihatan saat tertawa,
dan
lupa untuk melupakanmu
yang tak pernah melupakannya

*diketik Mei 2016

Kamis, 31 Maret 2016

Retorika 2016: Episode Maret

Dalam Diam
mata kita tak beradu
tapi kata kita bertemu
di sepertiga menjelang subuh
kau dan aku sama-sama mengadu

Dialog Imajiner
Lima menit lagi aku ke sana
Titipanmu sudah kubawa, tenang saja
Seperangkat alat pekerja
yang tak tahu mengisi harinya
dengan apa

Aduh
Akalku hilang
tertinggal di halaman-halaman pikiranmu
yang ketinggalan zaman
tersesat alur nalarmu
yang belok-belok
mengambang bersama ucapanmu
yang omong kosong

Acrophobia
seorang pria yang takut ketinggian,
berontak.
saat diangkat naik pangkat,
ia teriak.

*diketik April 2016

Senin, 29 Februari 2016

Retorika 2016: Episode Februari

makhluk tak kasat mata
katanya, ada yang sedang mendekatimu meski kau tak sadar. diam-diam ia memperkecil jarak. senti demi senti dikikisnya untuk mendengar suaramu ketika menggumam.

pagi itu kulihat ia di pojok ruangan. mendapatimu yang baru datang, ia tersenyum menarik perhatian. tapi kau hanya diam.

siangnya kulihat ia mematung di jendela. menunggumu yang baru kembali dari makan di luar. setahuku ia sendiri belum makan.

sore datang. kau bergegas pulang. kulihat ia masih sibuk dengan pekerjaan di tangan. tapi matanya, kulihat tatapannya yang menemanimu hingga hilang dari pandangan.

negeri sejuta senja
mendekatlah
kan kuceritakan tentang negeri sejuta senja
yang banyak orang bilang ada surga di dalamnya
yang banyak orang datang memburu semburatnya
yang banyak orang hilang, melebur di tanahnya

puisi adalah soal logika
sebermula kata adalah bahasa
seiring aksara yang terbaca
ada spasi yang tercipta
menyusup di sela cerita

puisi cinta tanpa kata cinta di dalamnya
secangkir kopi di pagi hari
adalah bukti kau masih di sini
sepiring nasi bersambal terasi
adalah bukti kau masih peduli

*diketik Maret 2016

Senin, 15 Februari 2016

#tantangan21hari

Pictured by Tantos, illustrated by me :D

Ada yang bilang kalo kita ngelakuin suatu hal secara terus-menerus selama 21 hari, maka kita akan jadi terbiasa untuk terus melakukan hal tersebut secara berkelanjutan. Masalahnya apakah kita bisa konsisten dan disiplin minimal untuk 21 hari aja melakukan hal tersebut? Bisa iya, bisa engga. Karena kebiasaan baru yang sedang kita bentuk ini berarti mengorbankan kebiasaan lama kita untuk berubah. Dan sekalinya udah menjadi kebiasaan, maka hal itu semestinya sulit untuk diubah.

Teman saya, Tantos, menantang saya ikut #tantangan21hari ala dia. Aturan mainnya pertama masing-masing dari kita harus nentuin hal apa yang mau kita jadiin kebiasaan dalam 21 hari itu. Misal sikat gigi sebelum tidur, bangun pagi sebelum jam 4, makan sarapan sehat, atau olahraga ringan sebelum berangkat kerja. Hal yang sederhana aja, tapi masih belum bisa kita lakuin terus-menerus. Setelah ketemu mau ngelakuin apa, maka kita harus konsisten ngejalaninnya selama 21 hari. Kalo gagal di tengah, maka kita harus ngulang lagi dari awal perhitungan hari dan lanjutin lagi ngejalaninnya sampai genap 21 hari. Ada hukumannya juga, yang mesti kita tentuin masing-masing. Selain hukuman, ada juga hadiah yang akan saling kita kasih di akhir tantangan ke temen seperjuangan kita di #tantangan21hari ini.

Saya mengiyakan aja ajakan si Tantos ini. Meski terkenal suka hilang arah alias tersesat, tapi sepanjang pengalaman saya berteman sama Tantos, belum pernah dia menyesatkan saya ke tempat yang menyesatkan. Paling nyasar aja, jadinya muter-muter. He he he.

Sekarang kita bahas tantangan yang saya pilih untuk #tantangan21hari, yaitu menyikat gigi malam sebelum tidur. Yap, itulah. Mungkin keliatannya sepele, bahkan mungkin akan menimbulkan reaksi semacam, ”Yaelah, yang bener loh, masa hal sepele kayak gitu aja sampe mesti dibikin tantangan?”
Yaah, memang seharusnya ga perlu dibikin tantangan sih, harusnya udah jadi kebiasaan rutin, ya. Tapi emang dasar saya kelewat males, suka tiba-tiba hilang kesadaran gitu kalo malem, alias ketiduran. Jadi kadang ga sikat sebelum tidur. He he he.

Tantangan ini sebenernya udah dimulai sejak tanggal 8 Februari 2016 kemarin. Kalo lancar selama 21 hari, harusnya tanggal 28 Februari 2016 nanti selesai. Tapi sesuatu telah terjadi, guys. Sesuatu yang mengubah jalannya #tantangan21hari ini dari pihak saya. Mungkin ga gitu berpengaruh ke tantangannya Tantos. He he he.

Kejadiannya tanggal 10 Februari 2016, waktu itu #tantangan21hari baru berjalan selama tiga hari. Di hari itu sebenernya ga ada kejadian yang luar biasa, sampe suatu ketika saya tiba-tiba terbangun di pagi hari tanggal 11 Februari 2016, tanpa ingat kejadian di malam sebelumnya. Saya kehilangan kesadaran!

Saya ga ingat apa yang saya lakukan di malam tanggal 10 Februari 2016. Waktu itu hari Rabu yang tiba-tiba berganti jadi hari Kamis. Seingat saya waktu itu abis pulang kerja. Hujan ga ya, Jakarta? Kayaknya engga. Saya naik kereta ke Manggarai dari Tanah Abang. Waktu itu saya kebagian tempat duduk, lalu ketiduran sampai Manggarai. Untung dibangunin teman saya, jadi ga bablas Bogor. Sampai Manggarai, saya kebagian tempat duduk lagi di kereta pulang menuju Bekasi. Saya nerusin tidur yang tadi di sepanjang perjalanan pulang. Begitu bangun udah mau sampai stasiun Kranji. Oh! Saya ketemu orang yang waktu itu ngambil keripik teman saya, dia turun di Kranji juga. Terus saya langsung pulang ke rumah seperti biasa. Sekitar jam setengah delapan malam saya sampai rumah. Oh! Kemudian saya ingat, bahwa di hari Rabu malam itu saya ketiduran. Ketiduran tanpa menyikat gigi. *die*

Begitu sadar, kejadiannya udah jam empat pagi waktu itu. Kayaknya ini efek saya tidur di kereta, jadi keterusan sampai di rumah, bahkan keterusan sampai besok paginya pun. Saya langsung ingat si Tantos, dan juga ingat hukuman dari #tantangan21hari yang harus saya jalani. *die* *double die*

Seperti saya bilang di awal, kalau kita gagal menjalani tantangan sebelum genap 21 hari maka hitungan hari kita harus diulangi dari awal lagi. Selain itu juga ada hukumannya. Hukuman yang Tantos pilihkan untuk saya adalah menulis satu postingan dengan minimal 1000 kata dengan satu ilustrasi berupa gambar atau foto hasil karya saya sendiri.

Dan.. di sinilah kita berada sekarang. Di postingan minimal 1000 kata dengan ilustrasi karya saya sendiri. Susah juga ya. Poin dari tantangan ini adalah, tentu aja, mencukupi 1000 kata itu, dan membuat ilustrasinya sendiri. Sekian lama saya kalo nulis postingan cuma retorika-retorika yang terdiri atas puisi pendek, yang bahkan ga sampai seratus kata di dalamnya. Itu juga kadang telat di beberapa episode. Lah, postingan ini juga baru jadi setelah beberapa hari. He he he.
Sebenarnya bisa aja ya, saya diam-diam gitu. Ga usah ngaku kalau saya ketiduran tanpa sempat menyikat gigi. Toh, selama ini ga ada bukti juga kalau saya udah sikat gigi sebelum tidur. Mau saya kirimin foto saya pas nyikat gigi, kata Tantos ga usah. Toh, dia juga selama ini ga nanyain. Mehehe. Tapi saya ga mau begitu. Percuma dong ntar bukan #tantangan21hari namanya kalo ga 21 hari.
Paragraf ini diawali dengan kata ke-776. Masih kurang 224 kata lagi sebelum genap jadi postingan 1000 kata. Tapi seiring bertambahnya kata yang sekarang adalah kata ke-798, maka semakin dekat pula saya dengan akhir 1000 kata, bahkan kurang dari 200 kata lagi, guys!

Begitu pula dengan #tantangan21hari saya. Di minggu tanggal 14 Februari 2016 ini baru berjalan selama empat hari karena tragedi di hari ke-3 tanggal 10 Februari kemarin. Meski di tanggal 11 Februari harus ngulang dari awal lagi, tapi seiring berjalannya waktu, toh, udah lebih dekat ke hari ke-21. Cuma kurang 17 hari lagi, guys! He he he.

Oke. Saya mulai bingung mau menulis apa lagi. Jadi biarkanlah jari-jari saya mengetik terserah entah apa.

Kalo ditanya, setelah #tantangan21hari ini berakhir, selanjutnya mau apa? Ya, harapannya kebiasaan yang saya jalani selama tantangan ini bisa terus konsisten saya jalani. Bukan karena terikat suatu tantangan, bukan karena janji sama orang lain, bukan. Tapi karena janji sama diri saya sendiri. Karena saya memang ingin berubah. Gitu. Seharusnya.

Karena yang paling susah dilawan sebenarnya adalah diri kita sendiri, maka kadang kita perlu bantuan teman lain. Teman ini bisa kita mintain tolong untuk ngingetin kita, nyemangatin kita, ngawasin kita, bahkan untuk sekedar jadi tempat pamer aja juga bisa. Mehehe. Pamer nih, kalo kita udah tiga hari berturut-turut ga ketiduran.

Kalo ada dari kalian yang tipenya main-main dan susah serius, modus pamer ini bisa juga dijadiin alasan untuk berubah jadi diri yang lebih baik. Pamer yang buat bercandaan ya. Bukan pamer yang ngejatuhin orang lain. Mehehe.
Ada yang mau ikutan?
Wish me luck!
Wish us luck, guys!

Minggu, 31 Januari 2016

Retorika 2016: Episode Januari

#1
di langit malam kulihat cahaya
saat bunda tertatih antara hidup dan mati
menuntunmu melihat dunia

di hari itu aku paling bahagia
menyambutmu hadir di dunia

*dipersembahkan untuk seluruh bayi dan teman saya yang lahir pada bulan Januari. :D

#2
pada suatu hari aku bertanya,
apa yang biasa kau lakukan di sabtu pagi?

masihkah kau menatap layar monitor
sambil mendengar lagu asing yang kau sendiri tak tahu bercerita tentang apa?
yang kau suruh dirimu untuk diam dan dengar saja, nikmati melodinya

adakah kau duduk dalam kereta menuju Jogja
sambil membaca buku yang kau sendiri tak tahu tentang apa?
ikut dalam rencana temanmu yang tanpa rencana itu
bertualang keluar Jakarta

jika saja kau tahu bunyi pertanyaanku ini
akankah kau bercerita saja
ataukah kau justru bertanya,
untuk apa kau bertanya?
bukankah kita melakukan segalanya berdua?

#3
kita berada di ketinggian yang sama
ketika hujan datang
membawa kesenangan yang kekal

kita berada di ketinggian yang sama
ketika kamu menapak
di tanah yang basah sisa hujan semalam

kita pernah berada di ketinggian yang sama
ketika kamu belum terbang
lalu menghilang

#4
langit masih gelap
ayam masih terlelap
sendirian ia terperangkap dalam senyap
ketika mimpinya datang menyergap

Senin, 04 Januari 2016

Kembali ke Halimun

Sudah lama saya tidak menginjakkan kaki di tanah Halimun. Terakhir ke sana adalah di tahun 2012, ketika status mahasiswa dan anggota UKF masih saya sandang. Setelah bertahun tidak ke sana, di tanggal 2 Januari 2016 kemarin, akhirnya saya kembali ke Halimun.

Pertama kali saya mengunjungi Halimun di tahun 2011. Saya adalah angkatan termuda di UKF waktu itu, yaitu angkatan 8. Perjalanan saya tempuh dengan naik truk sapi dari kampus di Bogor, saya menyebutnya begitu, yang dilanjut berjalan kaki kurang-lebih 12 jam dari balai di Kabandungan menuju bumi perkemahan di Citalahab. Berangkat tengah malam dan baru sampai siang keesokan harinya. Perjalanan yang luar biasa, sangat memorable, dengan beban logistik di punggung dan teman-teman seperjalanan yang saling support. Saking berkesannya, saya tidak membayangkan akan kembali ke Halimun dengan cara yang berbeda.

Perjalanan kali ini saya tempuh bersama teman-teman sekelas saat kuliah dulu. Kami berangkat menuju Halimun dengan berkendara dari Bogor. Naik mobil bukan truk sapi. Tujuan pertama kami adalah Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Kabandungan, Sukabumi. Dari sana kami menyewa mobil Colt L-300 menuju stasiun penelitian Cikaniki di kawasan TNGH. Kami membayar Rp550.000 untuk satu unit mobil plus pengendaranya, diantar pp balai-Cikaniki. Satu mobil bisa mengangkut hingga dua belas orang, menurut hitungan saya. :"

Untuk sampai ke Cikaniki seingat saya dulu menghabiskan kurang-lebih enam jam perjalanan berjalan kaki. Tapi dengan mobil Colt ternyata hanya butuh dua jam perjalanan dari kantor balai.

Sepanjang perjalanan dalam mobil Colt, ingatan saya flashback ke pengalaman pertama berkunjung ke Halimun. Saya ingat jembatan tempat kami solat subuh dulu. Saya ingat bangunan warga yang kami tumpangi untuk istirahat. Saya ingat kami istirahat hampir setengah jam sekali, makanya lama sekali enam jam kemudian baru sampai. Saya ingat kami berfoto di gerbang taman nasional, yang menandakan sudah setengah jalan yang kami lalui. Lalu cerita dari senior yang bilang kalau tebing di sebelah kanan sudah berpindah ke sebelah kiri, itu berarti Cikaniki sudah tidak jauh lagi. Saya ingat, meski capek dan berat beban yang kami bawa tapi kami terus berjalan sambil menunggu satu sama lain. Selambat apa pun teman yang berjalan, tidak ada yang ditinggalkan.

Kembali ke perjalanan kemarin. Sampai di Cikaniki, kami menemui petugas untuk membayar tiket masuk kawasan TN. Ongkosnya Rp5.000/orang, dan Rp10.000/unit mobil yang dibawa pengunjung.

Ada beberapa spot yang bisa dikunjungi, diantaranya Curug Macan, kebun teh, dan fasilitas loop trail berupa jembatan gantung yang terhubung dari pohon-ke-pohon. Sayangnya loop trail sedang ditutup karena ada bagiannya yang rusak. Padahal itu spot utama yang kami incar. Akhirnya kami memutuskan pergi ke Curug Macan yang berjarak 200 meter saja dari Cikaniki.

Medan menuju Curug Macan berupa turunan tanah berbatu yang agak becek karena habis hujan. Curug Macannya sendiri tidak terlalu besar dan sungainya tidak dalam. Tapi harus tetap berhati-hati agar tidak terpeleset.

Dari Curug Macan, kami kembali ke Cikaniki untuk solat dan makan siang. Tidak ada penjual makanan di sini, jadi harus membawa bekal atau makanan sendiri. Fasilitas di Cikaniki cukup lengkap. Ada kamar tidur, kamar kecil, dapur kecil, dan semacam aula. Seorang teman saya pernah menginap di sini saat penelitian tugas akhirnya dulu. Dialah yang punya ide untuk trip kami kemarin. Kapasitasnya terbatas dan memang sengaja dibatasi saya rasa, sehingga harus izin dahulu dan agak sulit jika ingin menginap. Biayanya Rp250.000/malam untuk satu kamar, bisa muat empat orang.

Selanjutnya kami menuju ke daerah Loop trail, hanya untuk melihat dari bawah. Tidak boleh naik, karena berbahaya dan sedang ditutup. Jaraknya 1.8 KM masuk hutan. Ada aliran sungai kecil yang kami temui di tengah jalan, cukup menyegarkan untuk membasuh kaki. Saat itu sudah sore dan mendung, suara tonggeret mulai berbunyi. Kami bergegas menuju kebun teh sebagai spot terakhir sebelum pulang.

Kebun teh inilah yang saya lewati saat menuju ke Citalahab dulu. Jalurnya menanjak dan berbukit, rasanya jauh sekali dan tidak sampai-sampai. Padahal dari Cikaniki ke Citalahab hanya 2 KM jauhnya menurut papan petunjuk. Jika hari cerah dan sedang beruntung, kita bisa menjumpai burung elang. Dari kebun teh biasanya terlihat jelas elang yang terbang, karena langit yang terbentang luas. Sayangnya, kemarin hujan jadi kami tidak bisa berlama-lama.

Menunggu hujan reda, kami kembali ke Cikaniki. Tidak ada sinyal provider di sana. Itu bagus, karena kami jadi tidak terikat gadget. Kadang terdengar suara Owa Jawa, atau lutung, atau hewan liar lainnya di tengah suara hujan. Kadang terdengar suara tawa teman lain yang bercanda. Kami berteduh sambil memakan cemilan. Ini penting untuk membawa makanan sendiri. Karena di suhu yang dingin kita jadi mudah lapar.

Dilanjutkan memandang hujan di tengah hutan, lalu kabut turun. Sesuai dengan namanya, halimun yang berarti kabut. Rasanya tenang sekali.

Rasanya menyenangkan sekali. Kembali ke sini, ke tanah Halimun.