Minggu, 10 Juli 2016

[Posting Sebelum Balik]: Klinik Kopi Jogja

From where I stand

Tuh. Padahal jarak kita cuma 38 menit jalan kaki, tapi kamu belum buka, bahkan masih tutup karena libur. :<


Selasa, 05 Juli 2016

Renungan Malam Takbiran

Contoh kekonyolan :)

Besok lebaran. Malam takbiran kali ini bertepatan dengan ulang tahun saya. Nah, ulang tahun saya kebetulan bareng sama keponakan saya. Cuma bedanya dia ulang tahun yang ke-7, lah saya ulang tahun yang ke-lebih dari tujuh. Ahahaha.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kalo malam takbiran pasti ramai dengan ucapan mohon maaf dan selamat lebaran dari teman-teman. Nah, tahun ini agak beda karena ucapannya nambah dengan ucapan selamat ulang tahun, Happy Birthday, dan doa-doa indah dari teman-teman saya, yang saya amini dengan se-amin-aminnya. Biar bagaimanapun, sekonyol apapun ucapannya, merekalah yang sedikit-banyak tau cita-cita dan harapan saya. Ahahaha. Makasih, guys!

Lewat ucapan-ucapan itu juga, saya jadi merasa bahwa ucapan yang tulus, perhatian yang mereka kasih, meski sekedar kalimat “Happy Birthday Mil“ itu udah jadi kado yang menyenangkan. Rasanya hangat. Mungkin bagi yang ngucapin, itu cuma sekedar basa-basi aja. Tapi kamu ga tau, kan, betapa berharganya itu bagi orang yang kamu kasih ucapan? It means a lot. Apalagi dari orang terdekat. Apalagi dari gebetan. Ahahaha.

Tapi saya ga nolak juga sih, kalo ada yang mau ngasih kado berbentuk barang. AHAHAHA. Yaiya, masa kado ditolak, kan sayang. :p

Padahal dulu saya mikir, ucapan basa-basi gitu apa bakal ngaruh ke orang yang saya ucapin? Sedikit egois rasanya. Padahal mah yang penting kamu udah usaha, niat baik, nunjukin perhatian di hari istimewa seseorang. Karena meski keliatannya biasa aja, siapa yang tau apa yang sebenernya orang lain rasa? Beuh. Gaya banget bahasa saya.

Maksud saya nulis catatan ini sih sebenarnya supaya saya ga males berbuat baik. Biar ga minder, biar ga mikir, “siapalah gue di mata dia“. Biar ga gengsi. Ahahaha. Ucapin ajaa, oke?

Small thing that means a lot. Just do it, Pil.

Sekalian saya mau ngucapin di sini:
Taqabalallahu Minna wa Minkum Shiyamana wa Shiyamakum. Semoga semua amalan kita diterima dan tahun depan bisa ketemu Ramadhan selanjutnyaa, wahai Rakyatkuuh. Selamat lebaran~✌🏻

Minggu, 03 Juli 2016

[Posting Sebelum Mudik] Hellofest 8 Detik Pas: Derita Wanita

Halo, rakyatkuuh!

Apa kabar kalian? Gimana puasanya, masih lancar kan? :)

Ga terasa lebaran sebentar lagi. Udah H-3 aja, loh. Kereta commuterline yang udah sering ketahan jadi makin tertunda perjalanannya karena banyak kereta mudik. Jalanan juga mulai penuh sama motor-motor yang pulang kampung.

NAH. Malam ini malam terakhir saya di Bekasi. Besok saya akan mudik. Eh, pagi ini malah berangkatnya. Perjalanan ini udah jadi rutinitas tahunan yang saya dan keluarga lakukan sejak saya bisa mengingat. Sebelum itupun udah jadi rutinitas juga, sih, seingat saya. Haha.

Saya mudik ke Korea, nih. Kalian percaya? Hampir setiap orang yang saya ceritain kalo saya mudik ke Korea pasti ketawa. Kalian ketawa? Boleh aja sih kalo mau ketawa. Karena ketawa itu bikin sehat, apalagi ketawa tanpa ego. :)

Di postingan sebelum mudik ini, saya mau ngasih liat ke kalian sebuah film pendek tentang keresahan yang sering dialami seorang wanita. Sering gitu kalo saya lagi jalan sendirian ada aja orang yang gangguin. Entah manggil-manggil, suit-suitin, nawarin HP (soalnya saya ngelewatin jejeran konter HP, haha), atau yang paling sering saya alamin adalah ngucapin salam, "Assalamualaikum!"

Padahal bagus ya diucapin salam. Tapi karena posisinya saya sendirian dan yang ngucapin ada banyak dan ga dikenal, rasanya malah jadi risih. :\
Atau kayak di film pendek ini nih, padahal mah ga ada niat jahat, ya. Tapi bikin sebel. Hahaha. :))

Gimana? Nyebelin, kan? Biar sebelnya ilang, bikin film pendek juga, yuuk! :D

Sabtu, 25 Juni 2016

Retorika 2016: Episode Mei

.
A photo posted by Yaumil K (@k.yaumil) on

Tentang Lampu Jalan yang Memuja Bulan
Ada yang diam-diam senang
di tiap malam menjelang
disembunyikannya perasaan hatinya itu
dalam pendar cahaya buram
.
.
.
*note:
I'm running out of idea(s). HELP! m._.m

Minggu, 22 Mei 2016

Poetrygraphy #003: Pada Suatu Hari

Halo.
Mau ngasih tau aja, kalau edisi terbaru poetrygraphy akhirnya selesaaai.. :D

Poetrygraphy #003: Pada Suatu Hari

Udah lama sih selesainya, cuma langsung dipublish ke Issuu. Terus lanjut beberapa hari bikin mockupnya untuk post di kreavi.com, baru dipost di sini. Mehehee. Hasil beberapa malam tanpa tidur dan paket internet malam dicampur es kopi maknyus. :D

Ngomong-ngomong soal kopi, gara-gara proyek ini saya merasa jadi ketagihan kafein, deh. Kopi sih sebenernya. Padahal dulu saya ga suka, karena rasanya asam, tapi sekarang kok biasa aja malah doyan. Apalagi dicampur susu pake es, karena kalo ga pake es jadinya uu. Krik. Hahaa.

Selama ngerjain poetrygraphy ini, saya belajar banyak nih.. Belajar layouting, editorial design, gimana ngatur posisi teks dan gambar supaya bagus dan enak dibaca. Tadinya di tiap penggalan puisi mau satu-satu aja saya sisipin gambar, semacam ilustrasi tunggal gitu. Tapi ga jadi. Soalnya ada bait puisi yang panjang dan rasanya sesak kalo cuma diselingi satu foto sebelum lanjut ke bait berikutnya.

Saya mikir gimana caranya biar kamu, ga sesak bacanya. Saya mikir gimana supaya kamu bisa bernafas. Saya mikir gimana supaya kamu bisa nangkep dan membayangkan maksud kata-kata saya. Iya, kamu, pembaca karya saya. Hahaa.

Untuk itu jumlah gambar yang saya pakai harus bertambah. Saya pilih-pilih lagi gambar mana yang cocok dan gimana posisinya, di halaman kiri atau kanan. Makanya lama baru bisa jadi. Hahaa. Alasan. Padahal mah ga gitu-gitu amat.

Masih banyak yang harus saya pelajari nih. Edisi ketiga ini dengan berbagai alasan pun masih banyak kurangnya. Kurang cetar gitu. Makanya kita ngopi, yuk. Belajar bareng dan ngomongin edisi selanjutnya atau proyek lainnya. Terus ngobrol banyak sambil ketawa tanpa ego. :D

Tabik!

Rabu, 18 Mei 2016

Catatan di Malam Tanpa Tidur

Malam ini saya melewatinya tanpa tidur. Lagi. Ya. Setelah malam senin kemarin saya juga tanpa tidur.

Sebab apakah?
Sebab es kopi susu yang rasanya enak sekali. Tidak kalah dengan kopi Starbucks kesukaan Adnan teman saya. Dengan dua bungkus Nescafe classic yang dicampur susu kental manis cap Bendera, ditambah bongkahan es batu yang renyah untuk dikunyah, saya bisa kehabisan kata saking enaknya.

Sebab apakah?
Sebab proyek poetrygraphy saya selanjutnya yang belum rampung juga. Saya tidak senekat kemarin lagi, entah kenapa selalu ada yang kurang di proyek kali ini. Kata-kata saya dan gambaran yang ada seperti tidak akur.

Sebab apakah?
Sebab paket internet malam yang akan tersia-sia kalau saya tidur. Sayang sekali. Paket yang hanya tersedia mulai pukul 01.00 - 06:59 WIB ini luar biasa besarnya hingga menagih saya minta diberdayakan.

Sebab itu semua, jadilah saya menukarnya dengan waktu tidur saya, dengan segelas es kopi susu, dengan streaming audio visual macam-macam.

Sampai tadi saya menemukan video tentang pengaruh tidak tidur pada tubuh kita dari channel BuzzFeedBlue. Saya ketakutan sendiri melihatnya. Saya kira keren sekali orang yang bisa tidak tidur itu, karena kuat menahan kantuk. Sejenak saya kira saya keren.

Tapi ternyata saya salah.

Dengan tidak tidur, otak saya jadi tidak berfungsi normal. Hal ini sudah saya rasakan di akhir-akhir. Sering saya lupa akan hal yang mau saya utarakan, tepat ketika saya mau mengatakannya. Rasanya menyebalkan sekali. Seperti mau bersin tapi tidak jadi. Seperti dipermainkan. Saya tidak suka.

Efek lain dari tidak tidur adalah: penuaan dini.

Oh. Tidak.

Lingkaran hitam mulai bermunculan di bawah mata saya. Kerutan lainnya akan muncul dan membuat saya terlihat lebih tua dari yang seharusnya. Meski saya belum merasakannya, tapi hal ini akan terjadi kalau saya terus-menerus tidak tidur. Hal ini akan jadi sangat menyebalkan. Saya tidak akan menyukainya.

Saya jadi sering pusing tanpa alasan, bahkan setelah saya makan. Biasanya saya jadi melemah begitu kalau kurang makan. Jalan seperti melayang. Mood tidak karuan. Kalau dokternya Yuli bilang: kliyengan.

Gangguan hormon, halusinasi, penurunan fungsi otak, dan yang paling saya tidak inginkan adalah: melihat hal "lain". Sudah cukup membaca Keluarga Tak Kasat Mata membuat saya parno sendirian di rumah, tidak perlu ditambah penglihatan macam-macam lagi.

Saya tidak ingin mengalaminya. Saking enggannya saya jadi ingin tidur.

Tapi malam sudah berganti hari, sebentar lagi pagi. Ibu saya sudah terbangun lagi. Kalau tidur dengan waktu yang hanya tersisa sedikit ini, saya cemas akan bangun dalam keadaan pusing, dan lebih parah lagi terlambat. Saya tidak ingin terlambat, karena perjalanan kereta pagi sudah sering terlambat dengan sendirinya tanpa harus saya terlambat.

Benarlah malam diciptakan agar kita bisa beristirahat, bukannya browsing dan streaming macam-macam. Poetrygraphy yang jadi alibi juga tidak jalan.

Cukup sudah. Saya akan berhenti menulis omong-kosong ini. Saya akan tidur malam nanti.

Kamis, 12 Mei 2016

Wayang Layang dan Kelanjutan Poetrygraphy

Halloo...

Setelah lamaaa sekali sejak terakhir saya menulis Terhapus Hujan Sehari, sekarang saya datang lagi dengan poetrygraphy terbaru yang berjudul: Wayang Layang.

Wayang layang sebenarnya adalah pertunjukan wayang kontemporer. Sebuah kolaborasi antara teater Les-rémouleurs dari Prancis dan seniman asal Indonesia. Saya menonton pertunjukan mereka akhir April kemarin di pembukaan Festival Printemps Français. Sabtu malam, hujan, di tengah aktivitas malmingnya warga Jakarta, saya  datang ke Plaza Senayan untuk nonton pertunjukan ini. Kyah.

Pertunjukan wayang dengan judul L’Oiseau (The Bird) ini menghadirkan sesosok burung buatan yang melayang terbang. Biasanya kalau nonton wayang kan di layar yang statis, ya. Nah, kalau wayang layang, yang jadi layar itu adalah sayap si burung. Jadi kita dapat dua tontonan sekaligus, tarian burung ini saat terbang, melayang, dan juga cerita yang dikisahkan lewat gambar ilustrasi dari sayap si burung. Epik.

Saking epiknya, saya jadi terinspirasi untuk menulis poetrygraphy lagi. Karena sayang juga sih, kalau hasil dokumentasi saya cuma teronggok di harddisk. Jadi, lebih baik dibikin poetrygraphy ya saya pikir. Mungkin kalau saya rajin nanti bisa terbit jadi photobook betulan. Hehehe.
Mari sama-sama bilang: aaamiiin!

Akhir kata, saya persembahkan sebuah Wayang Layang dalam bentuk lain kepada semesta. Khususnya kamu, yang sudah memberikan waktumu untuk membaca postingan ini. :)



Minggu, 08 Mei 2016

Tentang Kontes Foto 2016 (1)

Tahun 2016 ini saya menulis beberapa resolusi, diantaranya adalah mengikuti kompetisi fotografi baik melalui IG ataupun kompetisi di platform lainnya minimal satu kali setiap bulan. Sudah lima bulan berlalu sejak Januari hingga Mei, dan selama itu ada beberapa kontes yang saya ikuti. Meski belum ada yang menang pun. Hehehe.

Mumpung di bulan Mei ini saya belum mengikuti kontes manapun, rasanya belum terlambat kalau saya ingin mereview kontes-kontes fotografi yang sudah saya ikuti di empat bulan pertama. Semacam evaluasi caturwulan begitu. Hahaha.

Januari 2016


Kontes pertama yang saya ikuti di tahun 2016 dari @fujifilm_id. Temanya adalah resolusi tahun 2016. Cerita dari foto ini adalah menara yang menjulang sebagai perlambang harapan yang tinggi. Niatnya optimis gitu. Hahaha.

Hadiahnya kalau menang adalah sebuah kamera Fuji yang saya lupa tipenya apa.

Asia-Pacific Forest Week ‘Growing our Future’ photo contest by FAO
Ini foto yang saya ikutkan dalam kompetisi "Growing our Future" oleh FAO. Hadiahnya adalah pergi ke Filipina! Saya antusias banget membayangkan pergi ke Filipina karena menang dari kontes foto ini. Sayangnya, lolos tahap pertama aja saya engga. Hahaha.

Februari 2016




Dua foto di atas saya ikutkan dalam kompetisi foto #15TahunSupernova. Menjelang launching-nya episode terakhir Supernova: Intelijensi Embun Pagi. Caption yang tertulis harus mengutip isi dari seri Supernova. Kalau terpilih nih ya, saya bisa dapat dua tiket untuk acara launching si episode terakhir. Sayangnya juri tidak memilih saya. Hahaha.

Maret 2016



Jujur, kontes ini rasanya berat banget bagi saya. Saingannya itu loh, bagus-bagus banget fotonya! Tapi saya tebel muka aja ikut submit foto, biar ada orang yang nyangkut ke akun saya kalau mereka mencari #KontesMerahPutih.

#KontesMerahPutih ini masih berlangsung samapai sekarang, tiap periode punya tema yang berbeda-beda. Tapi saya cuma pernah ikut sekali, sekali-kalinya ya foto ini. Hehehe.

April 2016






YELLOW Photo Competition. Dari judulnya aja udah ketauan kan temanya apa: KUNING. Waktu saya liat foto juaranya, Men, keren banget! Kuningnya beneran kuning, bukan kekuningan, bukan kuning redup, tapi kuning cerah sekuning-kuningnya kuning!

Saya baru sadar di foto ayam ini sebenernya ga sekuning yang saya pikir. Sama sekali ga kuning bahkan. Padahal waktu saya upload via hp, ayamnya lumayan kekuningan makanya saya berani submit. Hahaha.

Itulah perjalanan saya ikut-ikut kontes foto. Sebenernya ada resolusi lain yang berhubungan sama fotografi juga, yaitu ikutan #WeekendHashtagProject dari IG. Nanti ya, saya share juga ceritanya di sini. Tapi ga janji. Hehehe.

Tabik!

Minggu, 17 April 2016

Mendadak Bandung


Kejadiannya udah lamaa banget. Gue pergi ke salah satu tempat paling romantis di dunia, Bandung. Meski udah lama tapi euforia itu masih tetap ada. Nah, supaya ga lupa akan gue ceritakan petualangan gue di Paris van Java. :D

Ceritanya tahun lalu, Agustus 2015, Ratna yang lagi ada kerjaan di Bandung dengan random ngajak gue main ke Bosscha. Dia yang anak Bali, ga tau banyak tentang Bandung. Dan gue yang anak Bekasi, ga lebih tau lagi dari dia. Karena pengalaman gue ke Bandung cuma numpang lewat doang kalo naik kereta pas mudik lebaran. But, random is our middle name, no? :D

Gue yang anaknya ayo-ayo aja kalo soal main awalnya ragu kan, terutama soal transportasi. Ke Bosscha mau naik apa? Naik angkot takut nyasar. Naik ojek takut dimahalin, ketauan banget turisnya. HAHA. Apalagi kita berdua bolang banget kan anaknya alias minim perencanaan alias ngedadak. Tapi kata si Ratna waktu itu,
"Tenang, kau install saja GO-JEK. Ke mana-mana cuma sepuluh ribu!"
"Benarkah? Cuma sepuluh ribu?!"
"Iya, soalnya mereka lagi promoo."

Saat itu memang lagi gencar-gencarnya GO-JEK ngenalin layanan mereka. Dan dengan hanya iming-iming begitu, udah cukup bagi gue untuk berani naik bis sendirian dari Bekasi ke Bandung. Soal nanti liat nanti aja, kalo nyasar pun berdua ini ga sendirian. HAHA.

Sampe di terminal Leuwipanjang gue ketemu Ratna. Kita langsung mesen GO-JEK ke Bosscha karena ga tau seberapa jauh jalan ke sana dan takut kesiangan nyampenya. Beneran loh, tarifnya waktu itu hanya sepuluh reboo. Pake gratisan kredit lagi. Padahal lumayan jauh dari Leuwipanjang di pinggir Bandung menuju Bosscha di Lembang. Sekitar satu-dua jam lah ngebonceng motor, pegel juga. Lumayan, gue jadi tau rasanya menelusuri jalanan Bandung.

Dibaca: boska


Di Bosscha (baca: Boska) udaranya dingiin. Sejuk gitu deh, karena daerah pegunungan kan ya. Bawaannya ngantuk, apalagi waktu ikut kuliah singkat tentang astronomi di sana. HAHA.

Jadi Bosscha ini kan sebenarnya fasilitas penelitian gitu ya, bukan wahana wisata, makanya ada kuliah singkatnya juga. Masuk ke sini tuh bayar tiket masuk, tapi saking udah lamanya gue lupa berapa, hehe. Maapkeun urang yeuh, hilap. Tapi ga mahal kok, karena emang bukan untuk tujuan komersil kan.

Di sana gue ikut tur singkat tentang sejarah pendirian Bosscha di tahun 1923 (thanks to Ratna's documentation). Bahwa Bosscha bukan cuma bangunan putih berkubah di film Petualangan Sherina, tapi sebuah kompleks penelitian yang terdiri atas beberapa bangunan. Kalo bangunan putih itu doang namanya Kupel. Bangunannya dirancang oleh arsitek handal K. C. P. W. Schoemaker.  Di dalamnya ada teleskop buatan Jerman. Bagian-per-bagian didatangkan langsung dari Jerman, naik kapal! Karena pesawat dulu belum ada. Terus dari pelabuhan di pinggir laut, dikirim lagi ke pedalaman Bandung yang ada di tengah gunung. Kebayang ga jauhnya kayak apa? Repotnya kayak apa? Tapi jauh-jauh dan repot-repot tetep didatengin khusus ke Bandung demi majunya ilmu pengetahuan! Yay!

Teleskop ini masih digunakan untuk pengamatan benda-benda langit. Kadang diadain pengamatan bareng, udah ada jadwalnya juga dan orang awam boleh ikut. Cuma kita ga tau karena kurang riset dan waktunya ga pas. Sayang.

Terus diceritain juga bahwa Bandung udah ga 'segelap' dulu karena sekarang banyak tercemar polusi cahaya. Sayang banget ya, padahal di jaman dulu, Bosscha ini ideal banget untuk pengamatan benda langit, sampe repot-repot didatengin teleskop canggih dari Jerman.

Masih banyak deh hal lainnya yang diceritain selama tur. Nambah pengetahuan banget. Lebih jelasnya dateng langsung aja, yuk, ke sana. HAHA.

Waktu gue dateng kemarin pengunjungnya ga begitu ramai. Jadi abis ikut tur ke bangunan Kupel dan kuliah singkat tentang astronomi, kegiatan kita ya foto-foto sepuasnya. Sambil mengenang masa kecil yang berbahagia.

Kalo gue tanya, ada ga sih anak generasi 90an yang belum nonton Petualangan Sherina? Ada, Men. Tapi bukan gue. Karena PS adalah sedikit dari kenangan masa kecil yang membuat gue jadi seperti sekarang ini. HAHA.

Iya, tujuan kita ke Bosscha yang notabenenya fasilitas penelitian yang dikelola ITB kan sebenernya bukan atas dasar sebuah klausa ilmiah. HAHA, GAYA BEUT. Melainkan menapaki jejak petualangan Sherina dan Sadam, dalam usaha mereka melindungi perkebunan Ardiwilaga dari jatuhnya ke tangan konglomerat Kertarajasa. HAHA, GAYA BEUT (2). Kayak latar belakang penelitian ya. HAHA, GAYA BEUT (3).

Kita puas-puasin foto di sana. Dimintain tolong motretin orang, gantian motret, motret sambil loncat, dipotret sambil loncat, apa aja sampai puas. Sambil mengenang PS, sambil nunggu dzuhur, sambil piknik makan bekel combro Bekasi dan keripik Bandung. Di sana ga ada yang jualan, ya Men. Makanya penting untuk bawa bekal sendiri dan jaga kebersihan lingkungan dengan buang sampah ke tempat sampah. :D

Abis dari Bosscha kita memutuskan untuk ke Floating Market a.k.a Pasar Apung. Lokasinya deket kok, jalan kaki lima belas menit nyampe kalo dari Bosscha. Tanya aja mamang-mamang atau akang-akang di sana.

Ngomong-ngomong soal mamang, selama di sana gue mendadak jadi Sunda pisan lah. Kita kan banyak nanya ya, nanya jalan seringnya. Entah waktu ditelpon mamang gojek atau mamang random lainnya. Nah, tiap nanya dengan logat yang disunda-sundain, mamangnya tuh balesnya halus pisaan. 
“Teh, saya udah di lampu merah, ya. Sebentar lagi ke sana.”
“Oh, iya, Kang. Saya di pintu gerbangnya, ya.”
“Iya, Teh, nuhun, ya.”
“Nuhun, Kang.”

Kan jadi waaah.. diperlakukan sebegitu halusnya. Pantes banyak orang bilang kalo Bandung tuh kota yang romantis. HAHA. :))

Balik lagi ke Floating Market. Tiket masuknya berapa yaa, lupa juga. Yang jelas lebih mahal dari masuk Bosscha. Kita dapet welcome drink berupa minuman coklat atau lemon tea, pilih salah satu. Floating Market ini semacam pasar wisata yang HITS banget. Bisa kulineran, banyak tempat main anak, sewa perahu, barang oleh-oleh, dll. yang transaksinya pake koin gitu. Disediain tempat penukaran uangnya, tapi masih ada yang nerima uang tunai juga. Harus bijaksana nih nuker uangnya, karena kalo ada kelebihan ga bisa dikembaliin lagi.


Floating Market ini rameee banget. Kekinian banget deh tempatnya. Bagus abis. Ditata sedemikian rupa, ada sawah, ada saung angklung, ada taman kelinci, ada danau kecil, ada pasar apung tempat jualan makanan, ada saung yang bisa disewain, lengkap kap kap dalam satu lokasi. Jadi awal mulanya FM ini situ buatan, yang dikelola sama seorang pengusaha Bandung. Kreatif-kreatif ya urang Bandung.

Sesuai tempatnya yang kekinian, harga makanan di FM ini agak pricey sih menurut gue. Yah, namanya juga tempat HITS, Bandung pula. Maklum aja yah. HAHA. Makanya gue kebanyakan cuma foto-foto sama keliling. Tempatnya enak sih buat dijelajahi.

Di pasar apungnya yang tempat jualan makanan, ada satu kolam yang diisi sama baaanyak ikan. Nah, anak kecil pada demen ni ngasih makan ikan-ikannya. Ikannya udah banyak, gede-gede, dan riweuh banget pada rebutan makanan. Saking rebutannya, sampe ada ikan yang berenang di atas ikan yang lain demi ngedapetin makanan yang dikasih sama pengunjung! Sadis!
...
Petualangan lainnya kita lanjut di postingan berikutnya, yaa.
Xoxo

Sabtu, 16 April 2016

Retorika 2016: Episode April

(Masih) Ada Api di Matamu
Ada api di matamu
ketika kumasuki ruang-ruang waktu
tempat kita bertemu dulu/
Masih kuingat jelas
malam itu di Jakarta
kupinjam cahaya dari lampu-lampu jalanan
untuk menerangi hariku yang gelap.
Seketika bayangmu hadir, dilatari bokeh dengan warna-warni buram
mengusir muram
menuntunku pulang/
Masih kucuri dengar derai suaramu yang tertawa
masih kucari benar tawa suaramu yang berderai

Wayang Layang
Angkasaku adalah bumi
Cahayaku adalah gelap
yang menyamarkan ke'aku'anmu
kala memanduku dalam lakon pertunjukan semalam

Bosan
Aku bosan duduk
Aku ingin melompat, teriak
lalu berlari
mengunjungi festival seni
Aku bosan sendiri, terasing
di tengah-tengah orang asing
Aku minta teman
Aku ingin ditemani

Lupa
Akhir-akhir ini aku sering lupa
Lupa untuk tidak membayangkan wajahmu dalam kerumunan banyak orang,
lupa dengan waktu yang kita habiskan bersama sambil bicara macam-macam,
lupa untuk mengabaikan gigi-geligimu yang kelihatan saat tertawa,
dan
lupa untuk melupakanmu
yang tak pernah melupakannya

*diketik Mei 2016