Minggu, 27 November 2016

Catatan Lama - Im just sayin'

Pagi ini, pas lagi bongkar-bongkar file di laptop, gue nemu catatan lama waktu kuliah dulu. Settingnya di tahun 2013 ketika gue masih berstatus mahasiswa tingkat tiga. Penghujung semester 6.

Mew.
Udah lewat tiga tahun aja, ya. Makanya, mumpung tahun masih di angka 2016 dan sebelum catatan ini berulang tahun keempat, gue post aja yaa..

Dua hari sebelum keberangkatan PKL, ilkom ngadain pembekalan untuk para mahasiswa peserta PKL. Di hari pertama acara ini ada tiga sesi. Sesi pertama pembicaranya dari IBM tentang manajemen proyek, sesi kedua dari Menkominfo RI tentang keamanan jaringan, dan sesi ketiga dari Etnomark tentang I-Brand.
Di sesi pertama kita diarahkan untuk berani bilang "tidak" terhadap proyek yang ga masuk akal dengan segala pertimbangan, kita diarahkan untuk negosiasi keperluan selama pembangunan proyek, dan kita diharuskan untuk menyediakan surat kontrak ke pihak klien. Jadi kalo di akhir proyek nanti klien mau protes atau apa, udah ada bukti tertulis yang sebelumnya disetujui kedua belah pihak.
Di sesi kedua mata kita dibuka lebar tentang unsecure-nya aktivitas di internet, bahwa segala postingan kita di dunia maya bisa dimanfaatin pihak kurang kerjaan untuk kejahatan. Maka sebaiknya jangan terlalu terbuka ngasih data diri di akun socmed, bahkan tanggal dan tahun lahir asli. Terakhir tentang standarisasi aplikasi-aplikasi, jaringan-jaringan, dll dengan prospek persaingan di pasar bebas asia 2015.
Di sesi ketiga ini.. bertolak belakang banget sama sesi dua. Di sini kita diarahkan untuk berani menjual diri kita, membuat "brand" untuk diri kita sendiri supaya kita cepat diingat, cepat dikenal, dan cepat mendapat peran di mata orang lain. Di sini justru kita disarankan untuk bener-bener manfaatin socmed untuk ajang promosi diri, untuk ngasih data yang benar-benar mewakili diri kita. Supaya kalo ada orang yang ngebuka akun kita, dari sana udah bisa ngasih first impression meski belum ketemu langsung.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
QUOTES
Selama perkuliahan semester 6 ini, ga cuma materi kuliah tapi ada juga beberapa kutipan yang gw catet. Inilah dia.. eng ing eeng..
"Hidup adalah looping yang berulang. Karena itu minimalisir break, dan looping yang tidak perlu." (Kelas PSBO, 2013)
"On the Internet, nobody knows you're a dog." (Kelas Komdat, 2013)
"Semua keputusan dalam manajemen itu TERGANTUNG." (Kelas SI, 2013)
"Ga ada makan siang gratis."(Kelas SI, 2013)
"Kalian harus bersyukur kalo masih bisa sibuk." (Kelas Kripto, 2013)
Sebenernya masih kurang sispak, daming, dan valeks. Tapi gw ga inget apa quotenya, ini semua antara gw yang ngantuk pas dosennya ngasih quote atau gw ga ngeh kalo waktu itu ada quote. Wehehe
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Gw baru sadar belakangan ini kalo banyak dari temen-temen gw yang sering lupa makan. Entah sebegitu sibuknya, sebegitu fokusnya, atau sebegitu malesnya mereka makan sampe lupa makan. 
Gw sendiri juga pernah mencoba untuk lupa makan, hampir berhasil, tapi di detik terakhir perut gw menolak lupa, hehe.
Janganlah kalian melupakan makan, wahai teman-temanku. Meski dulu ibu sering bilang, "Makan yang banyak ya, biar cepet gede", bukan berarti begitu udah gede kalian ga butuh makan lagi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Indonesia Open
Kalo ngomongin soal olahraga, mungkin cuma bulutangkis yang paling gw ngerti pertandingannya dibanding cabang lain. Aturannya simpel, tangkis-tangkisan bulu untuk nambahin poin. Siapa yang nyampe poin 21 duluan, dia menang di set itu. Maksimal sampe 3 set di tiap pertandingan.  Udah. Ga ribet dan cepet selesainya, cocok buat gw yang ga betah lama-lama deg-degan nungguin siapa yang menang.
Pas kelas 6 SD dulu, mungkin itu pertama kalinya gw mengalami pengalaman ngefans sama seseorang. 
Itu waktu gw nonton Indonesia Open. Waktu jaman-jamannya Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Hendrawan, Lin Dan, Bao Chun Lai, dll deh. Di masa itu pertama kalinya gw nonton Indonesia Open, bareng babeh gw dan tetangga depan rumah.
Mas Turut, tetangga gue, orangnya sporty banget! Dia menggemari beragam olahraga, mulai dari pertandingannya, permainannya, sampe pemainnya. Ini bener ga ya? Cuma asumsi gue sih, hehehe. Dia udah sobi banget sama babeh gue kalo soal nonton pertandingan olahraga. Orangnya ekspresif banget. Teriak kesenengan kalo shuttlecock lawan nyangkut di net, teriak keseruan kalo smash pemain Indonesia gagal ditangkis lawan, teriak bahagia kalo tim Indonesia menang. Entah siapa ngikutin siapa, tapi babeh gue juga begitu. 
Somehow, atlet-atlet yang bertanding keliatan lebih keren dan gagah dari artis idola remaja yang beken di masa itu. Bayangin, gue sampe ngekliping gambarnya Sony Dwi Kuncoro yang nyungsep demi ngembaliin shutlecock dari halaman koran ibukota. Jaman itu belum booming internet sih, seenggaknya bagi gue. Wahaha.

Selasa, 01 November 2016

Menulis di Medium.com

Hai.

Ini tautan dari tulisan pertama saya di medium.com. Silahkan dicek ya kalau berkenan. :)



Terima kasih banyaaaak. :))

Minggu, 16 Oktober 2016

R A N D O M THOUGHTS

"It is okay to be a fool sometimes."

-fool


"I just don't reveal myself to anyone, but when I do, I put my trust on you."

-trust


"Hope comes to those who live with pain and sorrow."

-hope

Cerita Dini Hari

Pukul 01.26 pagi, tiba-tiba saya ngidam Indomie.
Biasanya tidak begini, ada apa dengan saya hari ini?

Jarang-jarang saya masih melek jam segini. Setelah sempat rutin begadang sampai mata berbayang dan kepala kliyengan, belakangan ini saya rajin menidurkan diri lebih awal. Alarm yang saya pasang pukul 01.00, saya abaikan demi tidur yang saya rindukan.

Tapi pagi ini..
Tau-tau saya sudah di dapur. Masak sebungkus Indomie Goreng rasa iga penyet yang tinggal satu-satunya. Ditambah gerusan cabe rawit dalam mangkok legendaris cap ayam, tanpa sadar saya mengunyah hingga licin tandas. Padahal tadi sudah makan malam.

Sekarang..
Saya bingung kenapa saya begini.

Kamis, 13 Oktober 2016

Retorika 2016: Episode September

Malam Sastra
kilap lampu bersajak rindu
mengajakmu mendeklamasikan ia
yang namanya kau simpan
dalam dekap yang semakin pilu


Isak
Senja tenggelam
di helai-helai rambutmu
tak ada lagi yang tersisa di sini
esok sudah pergi
pamit ia dari kelopak matamu
tinggal aku yang terisak
dan pertanyaan yang belum sempat kau jawab
Apa yang lebih rahasia
dari tatapan seorang hawa?


Tidak Ada
tidak ada kata hari ini
akibat aksara yang mogok massal
menolak hadirnya sabda-sabda usang
janji setia atas nama birokrasi

tidak ada karya hari ini
akibat sastra yang dipenjara
oleh aturan paksa sang penguasa
yang lahir atas nama birokrasi

sejujurnya,
tidak ada bahagia hari ini
akibat rasa yang mendadak pergi
menunggu hadirnya ia
yang bernama hanya dalam ratap

Ingin
Memelukmu harus menjelma angin
Dipelukmu harus menjelma guling

*) puisi-puisi ini yang saya sertakan di workshop menulis kemarin untuk dijadikan prototype buku. :>

Senin, 10 Oktober 2016

Menulis Cepat Tiga Menit

Well, hari ini (kemarin) gue abis ikut workshop Make Your Own Book dengan Lala Bohang sebagai mentornya.

Acara ini diadain di Qubicle Center, bersamaan sama pameran The Museum of Forbidden Feelings sebagai side project-nya Lala, atas bukunya yang berjudul The Book of Forbidden Feelings yang baru terbit Juli 2016 kemarin. Pokoknya kita ngomongin hal-hal yang terlarang deh di sana. Hahaha. Ga deeng.

Di sana gue duduk sebelahan sama bu Rossie. Seorang pensiunan yang udah kerja selama 25 tahun di bidang marketing, dan sekarang mendedikasikan dirinya untuk memasyarakatkan budaya membaca.
Utamanya di kalangan tenaga pendidik.

Bu Rossie ini keibuan banget, kalo ngomong suka nepuk punggung gue. Huhuhu. Tepukan di punggung dari seorang yang asing, entah kenapa kok rasanya hangat, ya? :")

Anyway, ada hal lain yang mau gue bahas.

Sesuai judul postingan ini, di workshop tadi ada sesi menulis cepat tiga menit. Tujuannya sih supaya kita jadi lebih mendengar pikiran kita sendiri dan menuangkannya langsung tanpa banyak mikir. Apa adanya yang kepikiran di benak lu, tulis aja. Karena banyak kendala kenapa tulisan seseorang ga rampung-rampung itu karena kebanyakan mikir. Jadi ide yang tadinya ada malah jadi buyar karena ga langsung didengar dan dituangkan ke media lain.

Hmm. It was so fun!
Kenapa ya?
Mungkin karena gue jarang dengerin suara-suara di pikiran gue dengan apa adanya. Serius deh. Gue udah sering menyugesti diri gue untuk lebih jujur sama diri sendiri, tapi ga gampang broh.
Terlalu banyak ketakutan.

Gue udah sampai di tahap menerima. Tapi untuk lanjut ke tahap selanjutnya, tahap mengatasi kali ya bisa disebutnya, gue masih berusaha. Perlu usaha yang parah.

Anyway, ada yang mau tau apa yang gue tulis di workshop tadi?
Gue ketikin ulang nih, tanpa diedit sama sekali. Ada tiga bagian, yang tiap bagiannya ditulis selama tiga menit non-stop. Cekidot!

-------------------



Menulis cepat. Tulis aja apa yang ada di pikiran lo. Jangan dilawan, jangan dibantah, jangan lari dari dia apalagi.


Menulis cepat menuntut lo, bukan menuntut sih, apa ya?
Lebih tepatnya mungkin mengharapkan elo mendengarkan apa kata pikiran lo sendiri. Ga peduli struktur kalimat, penulisan, atau apa, tapi kalo gue peduli sih.
Udah kebiasaan soalnya.

Seharusnya ga usah kayak merasa dituntut atau diburu-buru gitu, karena tujuannya bukan banyak-banyakan tulisan atau bagus-bagusan cerita. Nulis aja terus...


------------------



Di workshop ini menulis cepat dibagi-bagi jadi 3 sesi, well, ga begitu ngerti sih kenapa.


Temen-temen yang lain ada yang sambil ketawaan, kayak yang seru begitu. Sementara kita semua tenggelam dengan pikiran kita masing-masing.

Seneng sih gue dengan metode ini, it feels like..
perasaan lama ketika gue nge-blog dulu, ketika gue ambyar aja nulis apapun, curhat ala anak SMA di masa itu.

Easy bray..
karena ini bukan perlombaan. Elu & mereka punya otak yang beda, pemikiran yang beda, ide yang beda.
Ga usah terpengaruh.

-------------------

Ini sesi terakhir.

Pegel uga karena udah lama ga nulis.

Padahal cuma 3 menit loh di tiap sesi.
Tapi lumayan juga gue udah menghasilkan hampir 1 halaman kertas HVS.

Atau kepegelan ini karena postur menulis gua yang digaya-gayain, ya?
Duduk tegak, dengan posisi meja yang ketinggian, jadi tangan gue kayak harus "ngangkat" gitu posisinya.

Mungkin ada pengaruhnya.
Mungkin itu sebabnya.

Di sini gue ga bisa banyak omong,
karena emang ga ada yang mau diomongin, sih.

Ya, enjoy the process aja.
Ikutin workshop-nya.


------------------

Rabu, 31 Agustus 2016

Retorika 2016: Episode Agustus




Makhluk Sastra
matamu adalah puisi
yang binarnya bicara seribu bahasa
lebih indah dari seorang penyair

bibirmu adalah soneta
yang heningnya menyuarakan surga
lebih agung dari seorang pujangga


Kamu yang Berduka
Ada mendung di matamu
yang rintik gerimisnya
membasahi tanah merah
di Jeruk Purut sore itu

Ada guntur di suaramu
yang getar gemuruhnya
gemetar di sekujur jasad
saat membisikkan adzan di telingaku


Ketuk
Masihkah kau tutup rapat
pintu ke mana kita menuju?
Hanya satu ketuk lagi yang tersisa
untukmu, kuharap itu cukup


Rahasia
Jangan bilang siapa-siapa
katamu
pada cermin
di pantulan mataku

Minggu, 21 Agustus 2016

Jazz Atas Awan - Dieng Culture Festival 2016


Teruntuk Dieng..
yang dinginnya sukses bikin laper..
yang bintangnya sukses bikin saya merasa kecil..
yang sunrisenya sukses bikin saya nanjak-nanjak di sepertiga malam..
yang lampionnya sukses bikin langit malam itu indah banget..
yang sederhana tapi megah alamnya..
Terima kasih udah menerima kedatangan saya dan teman-teman.

:))

"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.” (QS. Al Mulk: 5)

Kamis, 11 Agustus 2016

Kamis, 04 Agustus 2016