Well, hari ini (kemarin) gue abis ikut workshop Make Your Own Book dengan Lala Bohang sebagai mentornya.
Acara ini diadain di Qubicle Center, bersamaan sama pameran The Museum of Forbidden Feelings sebagai side project-nya Lala, atas bukunya yang berjudul The Book of Forbidden Feelings yang baru terbit Juli 2016 kemarin. Pokoknya kita ngomongin hal-hal yang terlarang deh di sana. Hahaha. Ga deeng.
Di sana gue duduk sebelahan sama bu Rossie. Seorang pensiunan yang udah kerja selama 25 tahun di bidang marketing, dan sekarang mendedikasikan dirinya untuk memasyarakatkan budaya membaca.
Utamanya di kalangan tenaga pendidik.
Bu Rossie ini keibuan banget, kalo ngomong suka nepuk punggung gue. Huhuhu. Tepukan di punggung dari seorang yang asing, entah kenapa kok rasanya hangat, ya? :")
Anyway, ada hal lain yang mau gue bahas.
Sesuai judul postingan ini, di workshop tadi ada sesi menulis cepat tiga menit. Tujuannya sih supaya kita jadi lebih mendengar pikiran kita sendiri dan menuangkannya langsung tanpa banyak mikir. Apa adanya yang kepikiran di benak lu, tulis aja. Karena banyak kendala kenapa tulisan seseorang ga rampung-rampung itu karena kebanyakan mikir. Jadi ide yang tadinya ada malah jadi buyar karena ga langsung didengar dan dituangkan ke media lain.
Hmm. It was so fun!
Kenapa ya?
Mungkin karena gue jarang dengerin suara-suara di pikiran gue dengan apa adanya. Serius deh. Gue udah sering menyugesti diri gue untuk lebih jujur sama diri sendiri, tapi ga gampang broh.
Terlalu banyak ketakutan.
Gue udah sampai di tahap menerima. Tapi untuk lanjut ke tahap selanjutnya, tahap mengatasi kali ya bisa disebutnya, gue masih berusaha. Perlu usaha yang parah.
Anyway, ada yang mau tau apa yang gue tulis di workshop tadi?
Gue ketikin ulang nih, tanpa diedit sama sekali. Ada tiga bagian, yang tiap bagiannya ditulis selama tiga menit non-stop. Cekidot!
-------------------
Menulis cepat. Tulis aja apa yang ada di pikiran lo. Jangan dilawan, jangan dibantah, jangan lari dari dia apalagi.
Menulis cepat menuntut lo, bukan menuntut sih, apa ya?
Lebih tepatnya mungkin mengharapkan elo mendengarkan apa kata pikiran lo sendiri. Ga peduli struktur kalimat, penulisan, atau apa, tapi kalo gue peduli sih.
Udah kebiasaan soalnya.
Seharusnya ga usah kayak merasa dituntut atau diburu-buru gitu, karena tujuannya bukan banyak-banyakan tulisan atau bagus-bagusan cerita. Nulis aja terus...
------------------
Di workshop ini menulis cepat dibagi-bagi jadi 3 sesi, well, ga begitu ngerti sih kenapa.
Temen-temen yang lain ada yang sambil ketawaan, kayak yang seru begitu. Sementara kita semua tenggelam dengan pikiran kita masing-masing.
Seneng sih gue dengan metode ini, it feels like..
perasaan lama ketika gue nge-blog dulu, ketika gue ambyar aja nulis apapun, curhat ala anak SMA di masa itu.
Easy bray..
karena ini bukan perlombaan. Elu & mereka punya otak yang beda, pemikiran yang beda, ide yang beda.
Ga usah terpengaruh.
-------------------
Ini sesi terakhir.
Pegel uga karena udah lama ga nulis.
Padahal cuma 3 menit loh di tiap sesi.
Tapi lumayan juga gue udah menghasilkan hampir 1 halaman kertas HVS.
Atau kepegelan ini karena postur menulis gua yang digaya-gayain, ya?
Duduk tegak, dengan posisi meja yang ketinggian, jadi tangan gue kayak harus "ngangkat" gitu posisinya.
Mungkin ada pengaruhnya.
Mungkin itu sebabnya.
Di sini gue ga bisa banyak omong,
karena emang ga ada yang mau diomongin, sih.
Ya, enjoy the process aja.
Ikutin workshop-nya.
------------------