Rabu, 19 April 2017

Sepetak Thailand di Pasar Baru

Maret kemarin, saya dan Ratna (Bali) jalan-jalan ke Pasar Baru. Iseng aja sih sebenernya, datang ke sana yang terkenal dengan surganya buat pecinta kamera. Memang saya ada wacana untuk ganti, tapi masih belum yakin mau apa. Bingung antara mirrorless atau DSLR.

Udah, liat-liat aja dulu. Di sana banyak pilihannya. Gitu kata si Bali. Oke deh.

Kesan pertama saya pas sampe di Pasar Baru,

Bal, ini kayak di Bangkok ya Bal?
Di Bangkok kayak begini ya Bal?

Penjual buah potong tersebar di mana-mana. Mana buahnya seger dan mulus banget, kayak buah impor. Gatau juga sih impor beneran atau bukan. Ada tukang es Kedondong, jambu Bangkok, buah-buah tropis lengkap.

Kata Bali, Bangkok suasananya kayak gini. He-eh.

Sumpah saya norak banget waktu. Apalagi pas masuk ke Harco, pusatnya kamera segala bangsa, sumpah saya norak makin menjadi.

Model kamera antik, analog, berjejer di etalase kaca. Lensa-lensa, body tanpa isi, dari Canon, sampe Yashica, semua ketemu. Macam di museum aja rasanya. Saya yang norak, bukannya nanya-nanya malah jadi ngeblank saking speechlessnya. Untung si Bali ada tujuan nyari len's cap, jadi dia yang nanya dan nyamperin pedangangnya satu-satu.

Di satu toko, Jakarta Camera namanya, si Bali berhenti agak lama. Ada lensa Fujinon, yang dia cari-cari. Karena lensa untuk kamera Terfujilah memang langka (langka yang second), semangatlah dia nyoba di kameranya. Bokehnya alus banget sumpah, tapi ga jadi beli karena harganya yang lumayan. Bisa dapet satu kamera sendiri, Bok. Lepas dari toko itu, dia kode terus sepanjang hari minta kado lensa. Mehehe.

Lewat tanya-tanya sama pak Ginting (yang punya Jakarta Camera), saya jadi tau kalo lensa analog bisa dipake juga untuk kamera digital. Asal ada adaptornya. Yah, emang harga lensa kan mahal ya, sementara lensa analog masih kejangkau gitu. Makanya orang-orang ngakalinnya pake adaptor, untuk masang lensa analog ke kamera digitalnya.

Canon



Ret Ginting - Jakarta Camera
Kalo mau ke tokonya pak Ginting, alamatnya di Harco Pasar Baru Lt. 3 Blok 3A3/3A7. Bapaknya baik kok, mau tanya-tanya dulu juga boleh. Doi juga jual aksesoris kamera macam-macam, udah kayak kolektor.
Selamat mencari! :D

Kamis, 06 April 2017

Tubuh Saya Bukan Milik Saya Sendiri

Pagi ini saya terbangun dengan tubuh yang rasanya bukan milik saya sendiri.  Bagian sebalah kanan saya sulit digerakkan, dari belikat kanan hingga bahu. Hal ini menghambat saya, bahkan untuk berganti posisi dan bangun dari tempat tidur. Sekitar 5 menit saya berusaha menggerakan tubuh, perlahan-lahan, tapi sedikit pergerakan saja bisa menimbulkan nyeri yang lumayan saya rasakan.

Saat itu saya berpikir, bagaimana kalau tiba saatnya nanti ketika saya benar-benar tidak bisa bangun lagi?

Atau saya sadar, tapi tidak bisa mengendalikan tubuh saya sendiri, hingga harus dengan bantuan orang lain untuk sekedar beraktivitas bangun dari tempat tidur?

Langsung terbayang wajah ibu saya, yang pastinya sedih dan akan kerepotan kalau harus mengurus saya sendiri. Apalagi saat ini kami tinggal berjauhan, saya di Cisauk dan ibu di Bekasi.

Langsung terbayang beberapa urusan saya, yang belum selesai. Yang akan merepotkan sekali bagi orang-orang lain, utamanya tim saya, jika tidak saya selesaikan.

Langsung terbayang beberapa projek pribadi yang masih ingin saya selesaikan dan nikmati hasilnya.

Langsung terbayang, seperti adegan film yang diputar dalam layar sinema.

Untuk itu saya menghilangkan pikiran macam-macam tadi, dan berusaha mengabaikan nyeri yang timbul untuk bangun dan beraktivitas seperti biasa.

Seperti tidak terjadi apa-apa. Karena memang sebenarnya, kamu tidak terlalu apa-apa. Hanya salah posisi tidur.

Minggu, 02 April 2017

Doa Orang Patah Hati

Tuhan, jika Kau meridhoi
jatuhkanlah sebutir kelapa ini di atas kepalanya
dengan hati-hati
sebab aku tak ingin ia amnesia, lalu lupa segala

Tuhan, Yang Maha Pengasih
kasihilah kami yang patah hati ini
sebab segalanya dalam hidup ini
jadi terasa perih

Tuhan, Yang Maha Pemberi
kirimilah kami orang-orang baik
yang juga sendiri
agar dapat saling menemani

Tuhan, Yang Maha Mengetahui
kuatkanlah hati kami
dalam menempuh ujian esok hari
sebab Senin tak pernah seseram malam ini

Amin.

Selasa, 14 Maret 2017

Ngomongnya kangen, tapi ga ada eksyen. Pret.

Eh, kamu.

Udah lama ya kita ga ketemu. Ga ngobrol, ga saling ngomong, diem-dieman aja padahal selalu bareng. Meski begitu, saya ga akan menanyakan kabar. Saya tau kamu pasti bosan dengan pertanyaan basa-basi macam "apa kabar", dan malas juga membalasnya dengan jawaban standar. Kamu kan, sok-sokan istimewa padahal biasa juga.

Kamu, malam ini tiba-tiba merasa nostalgia. Abis ngeliat postingan si dia, yang ternyata masih konsisten menulis. Padahal kamu tau kegiatannya lebih banyak dari yang kamu biasa lakukan. Tapi dia masih tetap "senang menulis" dan punya waktu untuk main lagi. Lalu kamu gemas, ke dirimu sendiri.

Gemas. Karena bagaimanapun, semalas dan seenggan apapun kamu, rasa itu masih ada di situ. Ga pernah hilang dari jaman putih abu-abu dulu. Menipis iya, tertutup ketertarikan lain iya, tapi ga pernah hilang. Hampir mungkin, tapi untuk seutuhnya hilang, saya tau kamu ga akan bisa.

Malam ini, kamu mencoba melakukannya lagi. Beberapa kali memang kamu sempat memulai, tapi ga pernah selesai.

Kurang. rasanya kurang terus. Kurang kamu, kurang asik, kurang berbobot, kurang berisi, kurang-kurangin deh. Wokokok. Soalnya memang susah untuk ngerasa cukup, jadi mending kamu cukupkan aja. Gimana? Kekekekek.

Soalnya gini ya, yang terakhir kamu lakukan dengan senang itu di tahun 2016. Itu udah tahun kemarin, tiga bulan yang lalu. Jangan mentang-mentang resolusi 2016 kamu tercapai, terus ga dilanjut lagi di tahun ini. Ga istiqomah, ceunah..

Jadi, sok.. Hayu kita, kamu dan saya, bareng-bareng mulai lagi. Ga usah maksa, cuma ketika ada keinginan dan rasa senang, mari kita lakukan dengan percuma. Jangan ditunda-tunda, keburu rasanya hilang. Lalu kalo udah begitu, yang ada cuma waktu yang dipake untuk tidur. Terus kamu jadi gemas sendiri. Huft.

Oke?

Sesulit apapun, ketika kamu udah mulai, mari kita selesaikan. Catatan ini sebagai pengingat aja ya. Kalo lain kali kamu mau nyerah dan memilih tidur. Soalnya, kamu sendiri loh yang nulis ini.

Soalnya ya, kayak percuma gitu. Ngomongnya kangen, tapi ga ada eksyen. Pret.

Soalnya ya, biar ga jadi kampret.

Kamis, 29 Desember 2016

Meeting Suatu Sore

Kemarin sore saya ikut review meeting tugas akhir untuk anak-anak magang di kantor saya. Sepanjang jalannya meeting, banyak hal menarik yang saya dapat.

Bagaimana saya jadi nostalgia ketika ikut magang dulu.. yang waktu itu namanya PKL.

Bagaimana saya jadi nostalgia saat sidang tugas akhir dulu..

Bagaimana tingkah laku rekan yang lain saat review kemarin..

Bagaimana sistem yang dibuat anak-anak magang ini, yang bertujuan untuk mendukung jalannya bisnis di kantor..
dengan mempertimbangkan kebiasaan pengguna..
dengan team leader dan stakeholder lainnya..
bahwa pengguna ga bisa dipaksa untuk menggunakan sistem, kalo itu dirasa terlalu merepotkan justru akan jadi ga terpakai sistemnya. Sayang banget kalo ga terpakai. :(

Banyak ide-ide menarik juga.

Bagaimana teman saya, yang adalah senior anak-anak magang tadi aktif banget ngasih masukan dan tips ketika sidang.
Which is mereka satu almamater, jadi semua masukan tadi bener-bener based on pengalaman pribadinya.

Ketika urusan kantor ga melulu soal projek dan deadline, tapi ada human relationshipnya juga.

Ga tau ya, saya sih gampang terkesan aja dengan hal-hal semacam ini. :)

Senin, 26 Desember 2016

Puisi Resolusi

Kemarin mau menulis lagi
katamu janji dalam hati
eh, hari sudah hampir besok
tapi tulisanmu masih mentok kepentok

kemarin kau janji mau berpuisi
tapi hingga hari ini
kata-katamu cuma lirik lagu punya orang
yang kau ulang-ulang

ah! puisi
resolusi basi
akankah kau ulangi lagi?
pasti.

Nanti Magisnya Hilang

A photo posted by Yaumil K (@k.yaumil) on

Orang dari seberang jembatan pernah bilang,
"Masa depan adalah warna-warni yang bokeh."

Aku yang waktu itu sedang diam, mau tak mau jadi mendengar omongannya, yang sepertinya ia tujukan untuk dirinya sendiri. Sebab setahuku tidak ada manusia lain yang menyahuti omongannya dari sisi seberang sana. Kita berdua seutuhnya sendiri.

Sambil menahan nafas karena perut yang mendadak kembung, aku tunggu lanjutan kalimatnya yang cuma sepotong tadi. Perut yang kembung kutepuk-tepuk sebagai hiburan. Suaranya benar empuk sekali, reaksi dari asam lambung yang terakumulasi sejak pagi.

Orang itu, yang kulihat berdiri dari seberang jembatan, lalu melanjutkan omongannya.
"Omongan barusan.. orang-orang bakal ngerti ga, ya?
Atau perlu kujelaskan mengapa?"

Kalimatnya yang kosong tanpa ditujukan ke sesiapa, sampai ke telingaku yang sedang awas. Duh, orang melankolis lagi. Perut kembung ini perlu makan, bukan omongan manis penuh filosofis. Dan mendengar kalimat terakhirnya barusan, aku jadi ingin membalas,
"Ga perlu dijelaskan justru, nanti magisnya hilaang.."

Minggu, 18 Desember 2016

Candid

Have a nice day, Sir! :)

Tidur siang

stiker laptopnya leh uga :D

Kebanyakan dari foto-foto yang saya ambil adalah candid dari orang-orang yang saya tidak kenal. Mereka adalah orang-orang yang saya temui di jalan, yang asing, yang saya abadikan gambarnya atas nama realitas apa adanya.

Bukannya justru lebih terkesan ya kalau potret kamu diambil diam-diam tanpa sadar?

Bukannya seperti kekaguman seorang penggemar terhadap idolanya?

Yang di sini adalah kekaguman saya terhadap mereka yang mencerminkan sisi humanis manusia.

Interaksi, aktivitas, yang asli apa adanya tanpa dibuat-buat. Tanpa pose, tanpa gaya yang diarahkan. Tanpa sadar kalau kamu diamati oleh seseorang, yang tanpa tendensi atau maksud jahat apa-apa. Murni hanya ingin mengabadikan momen, dengan kamu sebagai aktor penyampai pesannya.

Tapi banyak dari teman saya yang bilang bahwa ketertarikan saya ini seperti tidak sopan. Ini melanggar privasi.

Well. Saya memang murni mengambilnya diam-diam. tanpa izin kepada yang sosoknya terabadikan.

Tapi.. is it a crime?

*dibuat dengan metode menulis cepat

Minggu, 27 November 2016

Catatan Lama - Im just sayin'

Pagi ini, pas lagi bongkar-bongkar file di laptop, gue nemu catatan lama waktu kuliah dulu. Settingnya di tahun 2013 ketika gue masih berstatus mahasiswa tingkat tiga. Penghujung semester 6.

Mew.
Udah lewat tiga tahun aja, ya. Makanya, mumpung tahun masih di angka 2016 dan sebelum catatan ini berulang tahun keempat, gue post aja yaa..

Dua hari sebelum keberangkatan PKL, ilkom ngadain pembekalan untuk para mahasiswa peserta PKL. Di hari pertama acara ini ada tiga sesi. Sesi pertama pembicaranya dari IBM tentang manajemen proyek, sesi kedua dari Menkominfo RI tentang keamanan jaringan, dan sesi ketiga dari Etnomark tentang I-Brand.
Di sesi pertama kita diarahkan untuk berani bilang "tidak" terhadap proyek yang ga masuk akal dengan segala pertimbangan, kita diarahkan untuk negosiasi keperluan selama pembangunan proyek, dan kita diharuskan untuk menyediakan surat kontrak ke pihak klien. Jadi kalo di akhir proyek nanti klien mau protes atau apa, udah ada bukti tertulis yang sebelumnya disetujui kedua belah pihak.
Di sesi kedua mata kita dibuka lebar tentang unsecure-nya aktivitas di internet, bahwa segala postingan kita di dunia maya bisa dimanfaatin pihak kurang kerjaan untuk kejahatan. Maka sebaiknya jangan terlalu terbuka ngasih data diri di akun socmed, bahkan tanggal dan tahun lahir asli. Terakhir tentang standarisasi aplikasi-aplikasi, jaringan-jaringan, dll dengan prospek persaingan di pasar bebas asia 2015.
Di sesi ketiga ini.. bertolak belakang banget sama sesi dua. Di sini kita diarahkan untuk berani menjual diri kita, membuat "brand" untuk diri kita sendiri supaya kita cepat diingat, cepat dikenal, dan cepat mendapat peran di mata orang lain. Di sini justru kita disarankan untuk bener-bener manfaatin socmed untuk ajang promosi diri, untuk ngasih data yang benar-benar mewakili diri kita. Supaya kalo ada orang yang ngebuka akun kita, dari sana udah bisa ngasih first impression meski belum ketemu langsung.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
QUOTES
Selama perkuliahan semester 6 ini, ga cuma materi kuliah tapi ada juga beberapa kutipan yang gw catet. Inilah dia.. eng ing eeng..
"Hidup adalah looping yang berulang. Karena itu minimalisir break, dan looping yang tidak perlu." (Kelas PSBO, 2013)
"On the Internet, nobody knows you're a dog." (Kelas Komdat, 2013)
"Semua keputusan dalam manajemen itu TERGANTUNG." (Kelas SI, 2013)
"Ga ada makan siang gratis."(Kelas SI, 2013)
"Kalian harus bersyukur kalo masih bisa sibuk." (Kelas Kripto, 2013)
Sebenernya masih kurang sispak, daming, dan valeks. Tapi gw ga inget apa quotenya, ini semua antara gw yang ngantuk pas dosennya ngasih quote atau gw ga ngeh kalo waktu itu ada quote. Wehehe
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Gw baru sadar belakangan ini kalo banyak dari temen-temen gw yang sering lupa makan. Entah sebegitu sibuknya, sebegitu fokusnya, atau sebegitu malesnya mereka makan sampe lupa makan. 
Gw sendiri juga pernah mencoba untuk lupa makan, hampir berhasil, tapi di detik terakhir perut gw menolak lupa, hehe.
Janganlah kalian melupakan makan, wahai teman-temanku. Meski dulu ibu sering bilang, "Makan yang banyak ya, biar cepet gede", bukan berarti begitu udah gede kalian ga butuh makan lagi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Indonesia Open
Kalo ngomongin soal olahraga, mungkin cuma bulutangkis yang paling gw ngerti pertandingannya dibanding cabang lain. Aturannya simpel, tangkis-tangkisan bulu untuk nambahin poin. Siapa yang nyampe poin 21 duluan, dia menang di set itu. Maksimal sampe 3 set di tiap pertandingan.  Udah. Ga ribet dan cepet selesainya, cocok buat gw yang ga betah lama-lama deg-degan nungguin siapa yang menang.
Pas kelas 6 SD dulu, mungkin itu pertama kalinya gw mengalami pengalaman ngefans sama seseorang. 
Itu waktu gw nonton Indonesia Open. Waktu jaman-jamannya Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Hendrawan, Lin Dan, Bao Chun Lai, dll deh. Di masa itu pertama kalinya gw nonton Indonesia Open, bareng babeh gw dan tetangga depan rumah.
Mas Turut, tetangga gue, orangnya sporty banget! Dia menggemari beragam olahraga, mulai dari pertandingannya, permainannya, sampe pemainnya. Ini bener ga ya? Cuma asumsi gue sih, hehehe. Dia udah sobi banget sama babeh gue kalo soal nonton pertandingan olahraga. Orangnya ekspresif banget. Teriak kesenengan kalo shuttlecock lawan nyangkut di net, teriak keseruan kalo smash pemain Indonesia gagal ditangkis lawan, teriak bahagia kalo tim Indonesia menang. Entah siapa ngikutin siapa, tapi babeh gue juga begitu. 
Somehow, atlet-atlet yang bertanding keliatan lebih keren dan gagah dari artis idola remaja yang beken di masa itu. Bayangin, gue sampe ngekliping gambarnya Sony Dwi Kuncoro yang nyungsep demi ngembaliin shutlecock dari halaman koran ibukota. Jaman itu belum booming internet sih, seenggaknya bagi gue. Wahaha.

Selasa, 01 November 2016

Menulis di Medium.com

Hai.

Ini tautan dari tulisan pertama saya di medium.com. Silahkan dicek ya kalau berkenan. :)



Terima kasih banyaaaak. :))