Rabu, 31 Mei 2017

Oh, Flamingo | Band Indie-Alternatif yang Masih Saudara Sendiri

Pertama kali saya dengar lagunya Oh, Flamingo yang berjudul "June", bayangan saya langsung lari ke band-band indie ala British. Betotan bass dan petikan gitarnya terasa asik di telinga saya yang awam sekali soal musik. Taunya cuma dengar, suka, lalu kepo. :D

Iramanya lumayan bikin kepala saya goyang-goyang sambil bahu naik-turun sok asik menikmati lagu. Nah, ini salah satu cara mendefinisikan lagu yang saya suka. Karena kalo ditanya sukanya jenis musik kayak apa, saya agak sulit menjelaskan saking generalnya. Asal lagunya asik, itu saya suka. Ga membantu ya jawaban saya? Haha.

Lagu yang saya dengar di Spotify ini durasinya 10 menitan. Tapi kocak karena di tengah lagu mendadak hening beberapa saat, lalu mulai lagi dengan lagu yang sama sekali berbeda. Entah ini medley atau mix atau lagu berapa babak, karena ketika saya cari, lirik untuk June tidak sepanjang ini.

Next setelah ketemu liriknya, saya tertarik dengan grup Oh, Flamingo ini. Apa benar mereka dari British sana? Saya lihat cover photonya, kok ala-ala pemuda Bandung yang kreatif dan piknik abis ya? Tampang mereka juga asia-melayu yang unyu-unyu gitu.

Saya googling lagi, ternyata mereka band asal Filipina. Oalah, masih sodara jauh rupanya!

Anak piknik abis
*Gambar dari sini

Rabu, 19 April 2017

Sepetak Thailand di Pasar Baru

Maret kemarin, saya dan Ratna (Bali) jalan-jalan ke Pasar Baru. Iseng aja sih sebenernya, datang ke sana yang terkenal dengan surganya buat pecinta kamera. Memang saya ada wacana untuk ganti, tapi masih belum yakin mau apa. Bingung antara mirrorless atau DSLR.

Udah, liat-liat aja dulu. Di sana banyak pilihannya. Gitu kata si Bali. Oke deh.

Kesan pertama saya pas sampe di Pasar Baru,

Bal, ini kayak di Bangkok ya Bal?
Di Bangkok kayak begini ya Bal?

Penjual buah potong tersebar di mana-mana. Mana buahnya seger dan mulus banget, kayak buah impor. Gatau juga sih impor beneran atau bukan. Ada tukang es Kedondong, jambu Bangkok, buah-buah tropis lengkap.

Kata Bali, Bangkok suasananya kayak gini. He-eh.

Sumpah saya norak banget waktu. Apalagi pas masuk ke Harco, pusatnya kamera segala bangsa, sumpah saya norak makin menjadi.

Model kamera antik, analog, berjejer di etalase kaca. Lensa-lensa, body tanpa isi, dari Canon, sampe Yashica, semua ketemu. Macam di museum aja rasanya. Saya yang norak, bukannya nanya-nanya malah jadi ngeblank saking speechlessnya. Untung si Bali ada tujuan nyari len's cap, jadi dia yang nanya dan nyamperin pedangangnya satu-satu.

Di satu toko, Jakarta Camera namanya, si Bali berhenti agak lama. Ada lensa Fujinon, yang dia cari-cari. Karena lensa untuk kamera Terfujilah memang langka (langka yang second), semangatlah dia nyoba di kameranya. Bokehnya alus banget sumpah, tapi ga jadi beli karena harganya yang lumayan. Bisa dapet satu kamera sendiri, Bok. Lepas dari toko itu, dia kode terus sepanjang hari minta kado lensa. Mehehe.

Lewat tanya-tanya sama pak Ginting (yang punya Jakarta Camera), saya jadi tau kalo lensa analog bisa dipake juga untuk kamera digital. Asal ada adaptornya. Yah, emang harga lensa kan mahal ya, sementara lensa analog masih kejangkau gitu. Makanya orang-orang ngakalinnya pake adaptor, untuk masang lensa analog ke kamera digitalnya.

Canon



Ret Ginting - Jakarta Camera
Kalo mau ke tokonya pak Ginting, alamatnya di Harco Pasar Baru Lt. 3 Blok 3A3/3A7. Bapaknya baik kok, mau tanya-tanya dulu juga boleh. Doi juga jual aksesoris kamera macam-macam, udah kayak kolektor.
Selamat mencari! :D

Kamis, 06 April 2017

Tubuh Saya Bukan Milik Saya Sendiri

Pagi ini saya terbangun dengan tubuh yang rasanya bukan milik saya sendiri.  Bagian sebalah kanan saya sulit digerakkan, dari belikat kanan hingga bahu. Hal ini menghambat saya, bahkan untuk berganti posisi dan bangun dari tempat tidur. Sekitar 5 menit saya berusaha menggerakan tubuh, perlahan-lahan, tapi sedikit pergerakan saja bisa menimbulkan nyeri yang lumayan saya rasakan.

Saat itu saya berpikir, bagaimana kalau tiba saatnya nanti ketika saya benar-benar tidak bisa bangun lagi?

Atau saya sadar, tapi tidak bisa mengendalikan tubuh saya sendiri, hingga harus dengan bantuan orang lain untuk sekedar beraktivitas bangun dari tempat tidur?

Langsung terbayang wajah ibu saya, yang pastinya sedih dan akan kerepotan kalau harus mengurus saya sendiri. Apalagi saat ini kami tinggal berjauhan, saya di Cisauk dan ibu di Bekasi.

Langsung terbayang beberapa urusan saya, yang belum selesai. Yang akan merepotkan sekali bagi orang-orang lain, utamanya tim saya, jika tidak saya selesaikan.

Langsung terbayang beberapa projek pribadi yang masih ingin saya selesaikan dan nikmati hasilnya.

Langsung terbayang, seperti adegan film yang diputar dalam layar sinema.

Untuk itu saya menghilangkan pikiran macam-macam tadi, dan berusaha mengabaikan nyeri yang timbul untuk bangun dan beraktivitas seperti biasa.

Seperti tidak terjadi apa-apa. Karena memang sebenarnya, kamu tidak terlalu apa-apa. Hanya salah posisi tidur.

Minggu, 02 April 2017

Doa Orang Patah Hati

Tuhan, jika Kau meridhoi
jatuhkanlah sebutir kelapa ini di atas kepalanya
dengan hati-hati
sebab aku tak ingin ia amnesia, lalu lupa segala

Tuhan, Yang Maha Pengasih
kasihilah kami yang patah hati ini
sebab segalanya dalam hidup ini
jadi terasa perih

Tuhan, Yang Maha Pemberi
kirimilah kami orang-orang baik
yang juga sendiri
agar dapat saling menemani

Tuhan, Yang Maha Mengetahui
kuatkanlah hati kami
dalam menempuh ujian esok hari
sebab Senin tak pernah seseram malam ini

Amin.

Selasa, 14 Maret 2017

Ngomongnya kangen, tapi ga ada eksyen. Pret.

Eh, kamu.

Udah lama ya kita ga ketemu. Ga ngobrol, ga saling ngomong, diem-dieman aja padahal selalu bareng. Meski begitu, saya ga akan menanyakan kabar. Saya tau kamu pasti bosan dengan pertanyaan basa-basi macam "apa kabar", dan malas juga membalasnya dengan jawaban standar. Kamu kan, sok-sokan istimewa padahal biasa juga.

Kamu, malam ini tiba-tiba merasa nostalgia. Abis ngeliat postingan si dia, yang ternyata masih konsisten menulis. Padahal kamu tau kegiatannya lebih banyak dari yang kamu biasa lakukan. Tapi dia masih tetap "senang menulis" dan punya waktu untuk main lagi. Lalu kamu gemas, ke dirimu sendiri.

Gemas. Karena bagaimanapun, semalas dan seenggan apapun kamu, rasa itu masih ada di situ. Ga pernah hilang dari jaman putih abu-abu dulu. Menipis iya, tertutup ketertarikan lain iya, tapi ga pernah hilang. Hampir mungkin, tapi untuk seutuhnya hilang, saya tau kamu ga akan bisa.

Malam ini, kamu mencoba melakukannya lagi. Beberapa kali memang kamu sempat memulai, tapi ga pernah selesai.

Kurang. rasanya kurang terus. Kurang kamu, kurang asik, kurang berbobot, kurang berisi, kurang-kurangin deh. Wokokok. Soalnya memang susah untuk ngerasa cukup, jadi mending kamu cukupkan aja. Gimana? Kekekekek.

Soalnya gini ya, yang terakhir kamu lakukan dengan senang itu di tahun 2016. Itu udah tahun kemarin, tiga bulan yang lalu. Jangan mentang-mentang resolusi 2016 kamu tercapai, terus ga dilanjut lagi di tahun ini. Ga istiqomah, ceunah..

Jadi, sok.. Hayu kita, kamu dan saya, bareng-bareng mulai lagi. Ga usah maksa, cuma ketika ada keinginan dan rasa senang, mari kita lakukan dengan percuma. Jangan ditunda-tunda, keburu rasanya hilang. Lalu kalo udah begitu, yang ada cuma waktu yang dipake untuk tidur. Terus kamu jadi gemas sendiri. Huft.

Oke?

Sesulit apapun, ketika kamu udah mulai, mari kita selesaikan. Catatan ini sebagai pengingat aja ya. Kalo lain kali kamu mau nyerah dan memilih tidur. Soalnya, kamu sendiri loh yang nulis ini.

Soalnya ya, kayak percuma gitu. Ngomongnya kangen, tapi ga ada eksyen. Pret.

Soalnya ya, biar ga jadi kampret.

Kamis, 29 Desember 2016

Meeting Suatu Sore

Kemarin sore saya ikut review meeting tugas akhir untuk anak-anak magang di kantor saya. Sepanjang jalannya meeting, banyak hal menarik yang saya dapat.

Bagaimana saya jadi nostalgia ketika ikut magang dulu.. yang waktu itu namanya PKL.

Bagaimana saya jadi nostalgia saat sidang tugas akhir dulu..

Bagaimana tingkah laku rekan yang lain saat review kemarin..

Bagaimana sistem yang dibuat anak-anak magang ini, yang bertujuan untuk mendukung jalannya bisnis di kantor..
dengan mempertimbangkan kebiasaan pengguna..
dengan team leader dan stakeholder lainnya..
bahwa pengguna ga bisa dipaksa untuk menggunakan sistem, kalo itu dirasa terlalu merepotkan justru akan jadi ga terpakai sistemnya. Sayang banget kalo ga terpakai. :(

Banyak ide-ide menarik juga.

Bagaimana teman saya, yang adalah senior anak-anak magang tadi aktif banget ngasih masukan dan tips ketika sidang.
Which is mereka satu almamater, jadi semua masukan tadi bener-bener based on pengalaman pribadinya.

Ketika urusan kantor ga melulu soal projek dan deadline, tapi ada human relationshipnya juga.

Ga tau ya, saya sih gampang terkesan aja dengan hal-hal semacam ini. :)

Senin, 26 Desember 2016

Puisi Resolusi

Kemarin mau menulis lagi
katamu janji dalam hati
eh, hari sudah hampir besok
tapi tulisanmu masih mentok kepentok

kemarin kau janji mau berpuisi
tapi hingga hari ini
kata-katamu cuma lirik lagu punya orang
yang kau ulang-ulang

ah! puisi
resolusi basi
akankah kau ulangi lagi?
pasti.

Nanti Magisnya Hilang

A photo posted by Yaumil K (@k.yaumil) on

Orang dari seberang jembatan pernah bilang,
"Masa depan adalah warna-warni yang bokeh."

Aku yang waktu itu sedang diam, mau tak mau jadi mendengar omongannya, yang sepertinya ia tujukan untuk dirinya sendiri. Sebab setahuku tidak ada manusia lain yang menyahuti omongannya dari sisi seberang sana. Kita berdua seutuhnya sendiri.

Sambil menahan nafas karena perut yang mendadak kembung, aku tunggu lanjutan kalimatnya yang cuma sepotong tadi. Perut yang kembung kutepuk-tepuk sebagai hiburan. Suaranya benar empuk sekali, reaksi dari asam lambung yang terakumulasi sejak pagi.

Orang itu, yang kulihat berdiri dari seberang jembatan, lalu melanjutkan omongannya.
"Omongan barusan.. orang-orang bakal ngerti ga, ya?
Atau perlu kujelaskan mengapa?"

Kalimatnya yang kosong tanpa ditujukan ke sesiapa, sampai ke telingaku yang sedang awas. Duh, orang melankolis lagi. Perut kembung ini perlu makan, bukan omongan manis penuh filosofis. Dan mendengar kalimat terakhirnya barusan, aku jadi ingin membalas,
"Ga perlu dijelaskan justru, nanti magisnya hilaang.."

Minggu, 18 Desember 2016

Candid

Have a nice day, Sir! :)

Tidur siang

stiker laptopnya leh uga :D

Kebanyakan dari foto-foto yang saya ambil adalah candid dari orang-orang yang saya tidak kenal. Mereka adalah orang-orang yang saya temui di jalan, yang asing, yang saya abadikan gambarnya atas nama realitas apa adanya.

Bukannya justru lebih terkesan ya kalau potret kamu diambil diam-diam tanpa sadar?

Bukannya seperti kekaguman seorang penggemar terhadap idolanya?

Yang di sini adalah kekaguman saya terhadap mereka yang mencerminkan sisi humanis manusia.

Interaksi, aktivitas, yang asli apa adanya tanpa dibuat-buat. Tanpa pose, tanpa gaya yang diarahkan. Tanpa sadar kalau kamu diamati oleh seseorang, yang tanpa tendensi atau maksud jahat apa-apa. Murni hanya ingin mengabadikan momen, dengan kamu sebagai aktor penyampai pesannya.

Tapi banyak dari teman saya yang bilang bahwa ketertarikan saya ini seperti tidak sopan. Ini melanggar privasi.

Well. Saya memang murni mengambilnya diam-diam. tanpa izin kepada yang sosoknya terabadikan.

Tapi.. is it a crime?

*dibuat dengan metode menulis cepat