Tidur adalah satu-satunya cara berhenti berpikir. Itu katamu pada suatu malam.
Memikirkan apa memang?
Macam-macam. Kebanyakan memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaanku.
Mengapa kau memikirkan hal semacam itu?
Tidak tau juga, semacam kebiasaan kurasa. Aku ingin berhenti berpikir demikian. Aku ingin berhenti berpikir soal apapun.
Kuberi tau ya, orang-orang yang kau pikirkan itu sebenernya sama sekali tidak ambil pusing soal kamu. Orang-orang yang kau pikirkan itu, sama sekali tidak memikirkan kamu. Bahkan mereka semua sama saja dengan kamu, sibuk memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaan mereka. Jadi, stop berpikir soal itu.
Kamu, memang kamu tidak pernah berpikir seperti itu?
Kalo aku sih, aku ya aku. Soal apa yang orang lain pikirkan mengenai aku, itu urusan mereka bukan urusanku. Ada hal lain yang lebih sering kupikirkan. Misal makan pagi besok aku mau makan apa ya? Baju untuk kondangan besok, aku akan memakai apa ya?
Hal-hal seperti itulah.
Kau tau, sebenarnya aku sedang mencoba berhenti untuk berpikir. Tapi semakin aku mencoba, malah semakin berpikir aku. Ada suatu saat ketika aku berhasil berhenti dari kegiatan berpikir, tapi setelah itu aku justru berpikir soal tindakanku yang tanpa pikiran itu. Seperti lingkaran setan.
Kau.. saranku sih kau cari pacar sana.
Hah, apa hubungannya?
Ya aku belum tau juga sih, karena aku belum pernah pacaran juga. Tapi kelihatannya orang yang punya pacar dan melakukan aktivitas pacaran tidak akan menyedihkan seperti kamu. Ya setidaknya mereka kurang punya waktu sendiri untuk memikirkan hal yang sering kau pikirkan itu.
Hei, lihat siapa yang ngomong. Aku tidak ingin menerima saran soal pacaran dari orang yang belum punya pacar juga.
Kuralat ucapanku barusan. Jangan cari pacar. Orang-orang seperti kita ini rasanya tidak cocok kalau pacaran. Ruang yang kita punya bahkan belum cukup untuk menampung diri kita sendiri, apalagi kalau mau ditambah keberadaan orang lain.
...
Bisa tidak ya aku melewati hari tanpa berpikir?
Kupikir kamu pasti bisa. Kamu pernah melakukannya, beberapa kali setauku.
Kapan ya itu?
Ya itu.. seperti ucapanmu yang mengawali percakapan kita ini. Kamu bisa berhenti berpikir ketika kamu sedang tertidur. Katamu kan, tidur adalah satu-satunya cara yang berhasil membuatmu berhenti berpikir.
Hm.. iya sih. Tapi selain itu, sebenarnya aku ingin melakukan aktivitas lain selain tidur. Rasanya sayang kalau malam yang panjang aku lewatkan hanya dengan tidur. Kadang otakku bisa berhasil memikirkan hal lain dan jadi melahirkan karya lain di malam hari tanpa tidur.
Dari pembelaanmu barusan, aku bisa menangkap sesuatu tentang kamu.
Apa?
Sebenarnya yang membuatmu terus-terusan berpikir itu adalah takut. Ketakutanmu akan sesuatu yang akan hilang, yang lepas karena kau biarkan lewat begitu saja tanpa kau pikir masak-masak. Sementara yang kau pikirkan adalah ketakutanmu, bukan caramu untuk menghadapi ketakutanmu itu.
Ucapanmu masuk akal.
Ya kan? Saranku sih, kita sering-sering melakukan hal ini. Kamu bicarakan saja apa-apa yang kamu pikirkan, aku akan dengar dan tanggapi dengan kebisaanku.
Akan kupertimbangkan saranmu.
Bagus. Setelah ini, kau mau apa?
Aku akan mencoba berhenti berpikir.
Caranya?
Tidur.