Selasa, 10 September 2019

Hal-Hal yang Berkelebat Dalam Kepala: Bandung Trip

Akhir pekan kemarin saya datang ke acara diskusi dan peluncuran buku foto, di Bandung. Jauh-jauh datang semata karena impulsif ingin short escape, ingin berada dalam perjalanan di luar rutinitas kantor-rumah-rumah sakit, ingin simulasi solo trip, dan ingin melakukan saja apa yang mau saya lakukan. Menyenangkan, tapi tidak boleh sering-sering.

Tentang diskusi fotonya sendiri, it was great, berhasil memunculkan emosi yang macam-macam bagi saya pribadi. Seperti biasa, perasaan saya selalu campur aduk selepas menghadiri acara diskusi dan bertemu dengan banyak orang. Ada rasa sentimentil yang timbul ketika mendengar pemaparan dan kisah di balik pembuatan buku foto ini. Ada iri yang hangat, membayangkan perasaan yang tumbuh antara teh Grace dan keluarga Sabrina selama proses pemotretan. Juga keakraban yang sesaat, lewat interaksi yang singkat dengan orang-orang baru. Juga kehilangan yang menyertai, di setiap penghujung acara.

Sehabis mengalami luapan emosi yang beragam itu, yang diakhiri secara tiba-tiba, saya selalu seperti hilang pijakan. Tidak tahu mau ke mana, melakukan apa. Seperti butuh beberapa saat untuk diam dulu, meresapi pengalaman emosional yang drastis. Yang di sisi lain, justru di setiap akhir acara selalu saya tutup dengan bergegas pulang.

Lalu menyesal. Karena entah kapan lagi bisa bertemu dengan mereka-mereka yang mudah untuk dikagumi.

Selasa, 22 Januari 2019

Telah Hilang, Teman Berbagi Kesedihan Korporasi

Kehilangan teman bekerja,
bisa sama rasanya seperti duka ditinggal kekasih.

Apalagi malam sebelumnya kita masih sempat menertawakan lelucon yang sama,
yang mungkin tidak lucu bagi yang bukan kita.

Apalagi malam sebelumnya, di warung pinggir jalan kita masih merayakan kesedihan
sebagai sesama budak birokrasi basi.
Kalian dengan rokok masing-masing, dan aku yang sibuk protes soal asap berbalut nikotin.

Apalagi di malam sebelumnya, warung pinggir jalan tempat berkumpul selepas jam kerja,
menjadi saksi kita yang masih bersiasat agar sama-sama selamat dari sabda Raja Terakhir.

...
Malam ini, di warung pinggir jalan kita sama-sama berteduh dari hujan yang tumpah. Kalian masih dengan rokok masing-masing, bersama aku yang sesak dari asap dan kabar pisah yang terlalu mendadak

dan kesedihan adalah teman terbaik bagi retorika.