Kemarin gue ketemu Gustika, tapi karena ga ngeh kalo dia itu Gustika, jadi gue biasa aja.
Kemarin gue ketemu thedustysneakers, tapi karena sebelumnya gue ga tau dia itu siapa, jadi nganggepnya biasa aja.
Beda cerita kalo gue mau ketemu om Dita, atau mas Wid. Baru otw aja, gue udah deg-degan, nervous karena mau ketemu fotografer idola. Menerka-nerka, nanti nanya apa ya. Kesempatan ngobrol langsung ga ya?
Tidak benar-benar mengenal seseorang, kadang sangat baik efeknya bagi saya. Saya jadi santai, lebih lepas, zero expectations lah istilahnya. Saya yang overthinking dan gampang nervous ini jadi ga mikir apa-apa. Ga sibuk membayangkan akan ngobrol apa, ga takut kecewa kalo nanti ternyata saya ga sempat menyapa langsung. Ga minder, karena saya merasa bukan apa-apa dibanding mereka yang saya kagumi.
Kamis, 02 Januari 2020
Rabu, 01 Januari 2020
#30haribercerita: Banjir Awal Tahun
Malam ini, hujan turun. Tidak seperti biasanya, sekarang saya takut mendengar suara hujan.
Masih terbayang subuh tadi, ada air yang menggenang tiba-tiba, hasil dari luapan saluran di dapur. Mengalir dari depan, terus masuk ke kamar-kamar, terus menggenangi seluruh rumah. Semalaman hujan deras turun, hingga pagi masih belum berhenti juga.
Sudah lama tidak kebanjiran begini, saya langsung flash back. Kapan terakhir kali rumah ini kebanjiran? Momen terdahsyat yang saya ingat, sekitar tahun 2007/2008 (?). Banjir besar lima tahunan yang waktu itu merendam rumah saya berhari-hari. Berkali-kali saya sekeluarga menguras rumah, berkali-kali juga tergenang air banjir. Tidak lama setelah musim banjir lewat, bapak memutuskan untuk meninggikan lantai rumah. Alhamdulillah, sejak saat itu rumah kami tidak kebanjiran lagi kalau hujan.
Makanya saya seperti tidak terima, rumah ini sudah ditinggikan tapi masih banjir? Apa karena efek kenaikan volume air, sehingga kondisi rumah saya perlu di-upgrade lagi? Apa karena pembangunan yang dikejar tanpa peduli lingkungan, jadi lahan penyerapan berkurang?
Sekarang saya takut mendengar suara hujan.
Kalau pemerintah berlindung di balik banjir musiman lima tahun, lalu kenapa masih juga lahan-lahan kosong dibangun? Kalau tinggi permukaan air kalimalang sudah sejajar dengan jalanan, kenapa solusinya hanya ditanggul?
Harus sampai setinggi apa kami meninggikan lantai rumah? Mau diperlebar bagaimana lagi saluran air, kalau ujung-ujungnya volume air yang turun masih lebih besar dari yang sanggup ditampung?
Masih terbayang subuh tadi, ada air yang menggenang tiba-tiba, hasil dari luapan saluran di dapur. Mengalir dari depan, terus masuk ke kamar-kamar, terus menggenangi seluruh rumah. Semalaman hujan deras turun, hingga pagi masih belum berhenti juga.
Sudah lama tidak kebanjiran begini, saya langsung flash back. Kapan terakhir kali rumah ini kebanjiran? Momen terdahsyat yang saya ingat, sekitar tahun 2007/2008 (?). Banjir besar lima tahunan yang waktu itu merendam rumah saya berhari-hari. Berkali-kali saya sekeluarga menguras rumah, berkali-kali juga tergenang air banjir. Tidak lama setelah musim banjir lewat, bapak memutuskan untuk meninggikan lantai rumah. Alhamdulillah, sejak saat itu rumah kami tidak kebanjiran lagi kalau hujan.
Makanya saya seperti tidak terima, rumah ini sudah ditinggikan tapi masih banjir? Apa karena efek kenaikan volume air, sehingga kondisi rumah saya perlu di-upgrade lagi? Apa karena pembangunan yang dikejar tanpa peduli lingkungan, jadi lahan penyerapan berkurang?
Sekarang saya takut mendengar suara hujan.
Kalau pemerintah berlindung di balik banjir musiman lima tahun, lalu kenapa masih juga lahan-lahan kosong dibangun? Kalau tinggi permukaan air kalimalang sudah sejajar dengan jalanan, kenapa solusinya hanya ditanggul?
Harus sampai setinggi apa kami meninggikan lantai rumah? Mau diperlebar bagaimana lagi saluran air, kalau ujung-ujungnya volume air yang turun masih lebih besar dari yang sanggup ditampung?
The Lonely Readers New Year's Eve
Sore kemarin (31/12), saya menghadiri sharing buku yang diadakan POST Bookshop, toko buku indipenden yang dikelola sepasang pecinta buku yang asik!
Awalnya saya berniat datang hanya untuk mendengar para lonely readers bercerita, sambil foto-foto dokumentasi. Saya ngga ingat tahun ini baca buku apa aja, saking jarangnya baca buku lagi. Buku-buku yang saya baca belakangan juga semua pinjaman dari Ucim. The Siblings-nya Lala Bohang, Orang-Orang Oetimu, dan kumpulan zine selfish. Terima kasih, Ucim.
Oke, kembali ke acara sharing. Teman-teman yang datang kemarin adalah dewa membaca, anggota klub pecinta buku, dan penulis beneran. Banyak banget rekomendasi buku yang saya dapat, yang cukup memotivasi untuk rajin baca buku lagi. Perasaan yang mereka ceritakan saat membaca buku, antusiasme yang mereka bagi, sedikit-sedikit saya bisa merasakan juga. Kangen juga rasanya, untuk deg-degan membaca buku sampai halaman terakhir. Deg-degan karena belum rela kalau kebahagiaan ini akan berakhir.
Sebenarnya saya udah nyiapin jawaban. Kalau pun saya kena tembak sharing, saya akan menyebut Orang-Orang Oetimu sebagai buku yang paling berkesan di 2019. Saya suka banget sama alur ceritanya, yang mundur-mundur teratur, punya banyak plot, tapi saling terkait satu sama lain. Itu memikat sekali. Salah satu buku yang betah saya baca, hingga habis (selain karena ini buku pinjaman :p). Sedikit mengingatkan akan buku 100 Year Old Man Who Climbed Out The Window and Dissapear.
My last new year's eve was not lonely anymore. Selain terapi fotografi yang sukses membuat perasaan saya merasa baik, keramahan teman-teman kemarin juga membuat saya merasa diterima. Hangat rasanya, walau hari hujan.
Terima kasih banyak mas Teddy dan kak Maesy, juga teman-teman semua atas keramahannya. Atas cerita yang dibagi di penghujung hari. Selamat tahun baru! :)
Awalnya saya berniat datang hanya untuk mendengar para lonely readers bercerita, sambil foto-foto dokumentasi. Saya ngga ingat tahun ini baca buku apa aja, saking jarangnya baca buku lagi. Buku-buku yang saya baca belakangan juga semua pinjaman dari Ucim. The Siblings-nya Lala Bohang, Orang-Orang Oetimu, dan kumpulan zine selfish. Terima kasih, Ucim.
Oke, kembali ke acara sharing. Teman-teman yang datang kemarin adalah dewa membaca, anggota klub pecinta buku, dan penulis beneran. Banyak banget rekomendasi buku yang saya dapat, yang cukup memotivasi untuk rajin baca buku lagi. Perasaan yang mereka ceritakan saat membaca buku, antusiasme yang mereka bagi, sedikit-sedikit saya bisa merasakan juga. Kangen juga rasanya, untuk deg-degan membaca buku sampai halaman terakhir. Deg-degan karena belum rela kalau kebahagiaan ini akan berakhir.
Sebenarnya saya udah nyiapin jawaban. Kalau pun saya kena tembak sharing, saya akan menyebut Orang-Orang Oetimu sebagai buku yang paling berkesan di 2019. Saya suka banget sama alur ceritanya, yang mundur-mundur teratur, punya banyak plot, tapi saling terkait satu sama lain. Itu memikat sekali. Salah satu buku yang betah saya baca, hingga habis (selain karena ini buku pinjaman :p). Sedikit mengingatkan akan buku 100 Year Old Man Who Climbed Out The Window and Dissapear.
My last new year's eve was not lonely anymore. Selain terapi fotografi yang sukses membuat perasaan saya merasa baik, keramahan teman-teman kemarin juga membuat saya merasa diterima. Hangat rasanya, walau hari hujan.
Terima kasih banyak mas Teddy dan kak Maesy, juga teman-teman semua atas keramahannya. Atas cerita yang dibagi di penghujung hari. Selamat tahun baru! :)
Selasa, 31 Desember 2019
A Decade of Me (part 2)
2019: Pameran HPB, 36x36Project
2018: Dialog Kota, photobook submition
2017: Cekrak-Cekrek CNN, Dufan
2016: Dieng Jazz Festival
2015: Outing Mos-Mos
2014: Lulus kuliah
2013: ke Way Kambas
2012:
2011:
2010:
Senin, 30 Desember 2019
A Decade of Me
10: Masuk kuliah di IPB
11: Bapak meninggal
12: *I'm stop typing. Why do I tend to write the dark time when remembering my last decade?
11: Bapak meninggal
12: *I'm stop typing. Why do I tend to write the dark time when remembering my last decade?
Untold Stories - The Dark Side of Me
Here I am, a little girl trapped in a grown up world. Sometimes I need a time to remembrance my true feelings. The other side of me whom often being forgotten. Perhaps, I'm just going take this chance to say all of my lame complaining.
This year of 2019 is a lil bit hard. In the beginning, I was cope with my broken hearted from the last 2018. It shaped my mind to become so ambitious about meeting the one. The truth, I didn't even realise that me myself is not fully healing, yet.
Then my mom got hospitalised for almost a month. The first time I feel so scared, it does changed everything in our lives, for my whole family. I asked God, why.. why.. why did it happen to me? What did I do at the past? For Him gave me this kind of situations.
My priority, my plans, everything got to change for my mom. The situations are not the same anymore. I wanted to blame on something, but there's nothing to blame. It wouldn't change a thing either.
Since that, I can't casually going here and there like I was back then. I spend more of my free time in the house, standing there by my mom's side. Whenever I'm in a trip, I just hold to myself for not going too long. For just going back home as soon as my trip is done.
I do live from day to day, from a pay-check to another. And it goes on and on. Until suddenly its lead us to this very last day of 2019. And I feel like I'm the same as the last year.
This year.. has taught so many lessons. Yet, I didn't think that I'm a better person. Everytime I spell the magic chant, "Live is not a competition.. live is not a competition..," the truth is I just not ready for the next decade.
This year of 2019 is a lil bit hard. In the beginning, I was cope with my broken hearted from the last 2018. It shaped my mind to become so ambitious about meeting the one. The truth, I didn't even realise that me myself is not fully healing, yet.
Then my mom got hospitalised for almost a month. The first time I feel so scared, it does changed everything in our lives, for my whole family. I asked God, why.. why.. why did it happen to me? What did I do at the past? For Him gave me this kind of situations.
My priority, my plans, everything got to change for my mom. The situations are not the same anymore. I wanted to blame on something, but there's nothing to blame. It wouldn't change a thing either.
Since that, I can't casually going here and there like I was back then. I spend more of my free time in the house, standing there by my mom's side. Whenever I'm in a trip, I just hold to myself for not going too long. For just going back home as soon as my trip is done.
I do live from day to day, from a pay-check to another. And it goes on and on. Until suddenly its lead us to this very last day of 2019. And I feel like I'm the same as the last year.
This year.. has taught so many lessons. Yet, I didn't think that I'm a better person. Everytime I spell the magic chant, "Live is not a competition.. live is not a competition..," the truth is I just not ready for the next decade.
Sabtu, 28 Desember 2019
Bermain Film: Memotret dengan Kamera Bapak
Aku mengingatmu, menyimpan gambarmu, dengan cara-cara lama seperti yang dilakukan para pendahulu kita dulu.Bukan dengan bit-bit biner berisi kode heksa yang menerjemahkan warna,melainkan dengan lembaran film dan reaksi kimiawi yang mengunci cahaya di saat ia jatuh.
Jumat, 27 Desember 2019
Untold Stories - Kamera Analog Pertama
Hai, ini adalah sambungan dari postingan sebelumnya. Series ini akan berisi hal-hal yang belum sempat saya ceritakan. Soal kata-kata yang baru muncul di saat bubaran acara, di perjalanan pulang, atau ketika asik dengan pikiran-pikiran sendiri.
Jadi.. kemarin kami rekaman dua episode sekaligus! Mumpung lagi pada ngumpul kan, karena entah kapan lagi bisa full team begini. Episode berikutnya bercerita soal kamera analog yang pertama dipakai.
Kamera analog pertama yang saya pakai adalah kamera poin n shoot, hasil doorprize dari kantor bapak dulu. Pertama memotretnya dengan film Kodak 400Tx pemberian Ginanjar. Terima kasih, Gin!
Setelah beberapa kali motret dengan kamera bapak, ada rasa ingin eksplor lebih. Karena tipe point n shoot cuma bisa jepret-gulung-jepret, jadinya terbatas hanya untuk penggunaan dengan kondisi cahaya yang cukup. Mulailah saya melirik kamera lain. Dari Baim, saya bertemu Trialfy yang melepas kamera SLR dengan harga murah.
Ricoh KR5-Super, kamera analog kedua yang sering saya ajak hunting belakangan ini. Dengan kondisi lightmeter mati, tuas rewind udah ga ada, dan beberapa bagian yang patah.
Ada kejadian konyol di waktu awal-awal saya pakai. Karena tuas rewind yang udah copot, akhirnya mau ga mau saya akalin dengan ngegulung film secara manual. Ada dua roll film korban keprihatinan saya waktu itu. Yang satu saya gulung di dalam kamar tanpa penerangan. Yang kedua, saya gulung di dalam tas dengan usaha saya tutupin totebag. Hasilnya ketika discan adalah kebakar kabeh. :(
Ini ga bisa diakalin lagi. Saya bawa ke Pasar Baru, minta tolong pasangin tuas rewind. Alhamdulillah masih ada printilan kamera lain yang cocok.
Cerita lain awal saya bermain analog, bisa ditengok di siniiii :)
Jadi.. kemarin kami rekaman dua episode sekaligus! Mumpung lagi pada ngumpul kan, karena entah kapan lagi bisa full team begini. Episode berikutnya bercerita soal kamera analog yang pertama dipakai.
Kamera analog pertama yang saya pakai adalah kamera poin n shoot, hasil doorprize dari kantor bapak dulu. Pertama memotretnya dengan film Kodak 400Tx pemberian Ginanjar. Terima kasih, Gin!
Setelah beberapa kali motret dengan kamera bapak, ada rasa ingin eksplor lebih. Karena tipe point n shoot cuma bisa jepret-gulung-jepret, jadinya terbatas hanya untuk penggunaan dengan kondisi cahaya yang cukup. Mulailah saya melirik kamera lain. Dari Baim, saya bertemu Trialfy yang melepas kamera SLR dengan harga murah.
Ricoh KR5-Super, kamera analog kedua yang sering saya ajak hunting belakangan ini. Dengan kondisi lightmeter mati, tuas rewind udah ga ada, dan beberapa bagian yang patah.
Ada kejadian konyol di waktu awal-awal saya pakai. Karena tuas rewind yang udah copot, akhirnya mau ga mau saya akalin dengan ngegulung film secara manual. Ada dua roll film korban keprihatinan saya waktu itu. Yang satu saya gulung di dalam kamar tanpa penerangan. Yang kedua, saya gulung di dalam tas dengan usaha saya tutupin totebag. Hasilnya ketika discan adalah kebakar kabeh. :(
Ini ga bisa diakalin lagi. Saya bawa ke Pasar Baru, minta tolong pasangin tuas rewind. Alhamdulillah masih ada printilan kamera lain yang cocok.
Cerita lain awal saya bermain analog, bisa ditengok di siniiii :)
Rabu, 25 Desember 2019
Untold Stories - Yang Membuatku Suka Bermain Analog
Siang tadi saya rekaman bareng teman-teman sebagai bahan podcast Klise Bekasi. Ini adalah episode kedua kami, coba ya nanti kalian dengar sendiri di Spotify. Hehehe.
Topik podcast kali ini adalah alasan kamu menyukai kamera analog. Kan, susah tuh makenya, ga bisa langsung ketauan lah hasilnya, mahal juga prosesnya. Ribet deh, nggak praktis. Nah, kamu kok malah suka sih sampe bikin-bikin perkumpulan segala?
Awal suka karena saat itu ada temen yang ngasih film, Kodak 400tx. Saya coba pakai dengan kamera dari doorprize di kantor bapak. Setelah dicuci-scan, lah kok hasilnya baguss, masuk kategori berhasil deh. Jadi nagih. :_)
Mungkin akan lain cerita kalau hasilnya banyak yang gagal. Haha.
Selain dari itu, karena dibalik tiap jepretan, ada nilai sentimentil yang hadir. Karena kamera yang saya pakai ini, dulu juga pernah dipakai sama bapak. Kami pernah sama-sama memotret dengan cara-cara lama. Sepertinya, ini cara lain saya untuk mengenang bapak.
Ohiya, satu lagi. Dokumentasi fisik dari klise yang udah diproses. Ini ga ada gantinya sih, cuma bisa kamu dapat dari film kamera analog.
Kalau nanti podcastnya sudah tayang, mungkin jawaban saya akan terdengar kurang menarik. Karena saya cuma jawab sekadarnya aja. Duh 😂
Entah kenapa ya, kata-kata ini baru keluar lancar di sesi off recording. 😂
*Episodenya sudah tayaang. Bisa didengar di sini ya :9
Topik podcast kali ini adalah alasan kamu menyukai kamera analog. Kan, susah tuh makenya, ga bisa langsung ketauan lah hasilnya, mahal juga prosesnya. Ribet deh, nggak praktis. Nah, kamu kok malah suka sih sampe bikin-bikin perkumpulan segala?
Awal suka karena saat itu ada temen yang ngasih film, Kodak 400tx. Saya coba pakai dengan kamera dari doorprize di kantor bapak. Setelah dicuci-scan, lah kok hasilnya baguss, masuk kategori berhasil deh. Jadi nagih. :_)
Mungkin akan lain cerita kalau hasilnya banyak yang gagal. Haha.
Selain dari itu, karena dibalik tiap jepretan, ada nilai sentimentil yang hadir. Karena kamera yang saya pakai ini, dulu juga pernah dipakai sama bapak. Kami pernah sama-sama memotret dengan cara-cara lama. Sepertinya, ini cara lain saya untuk mengenang bapak.
Ohiya, satu lagi. Dokumentasi fisik dari klise yang udah diproses. Ini ga ada gantinya sih, cuma bisa kamu dapat dari film kamera analog.
Kalau nanti podcastnya sudah tayang, mungkin jawaban saya akan terdengar kurang menarik. Karena saya cuma jawab sekadarnya aja. Duh 😂
Entah kenapa ya, kata-kata ini baru keluar lancar di sesi off recording. 😂
*Episodenya sudah tayaang. Bisa didengar di sini ya :9
Jumat, 22 November 2019
Menjadi Anonim
Bakal menempuh perjalanan panjang selama 12 jam, kegiatan apa saja yang mungkin akan dilakukan udah terbayang sih untuk mencegah kebosanan.
Makan, main hp, baca buku, atau.. tidur. Saking takutnya mati kutu, saya tahan-tahan tuh namatin bukunya Ucim yang baru sebagian terbaca.
Nonton yutub Ria SW udah. Omong-omong, dia semakin keren deh ngevlognya. Di tripnya yang sendirian ini, pembawaannya mirip presenter senior ibukota. Experienced dan matang. Keren memang.
Instastory macam-macam, tentu saja udah. Dan masih akan terus berlanjut sampai entah kapan.
Soal instastory, story pertama adalah jembatan transit menuju halte Kuningan Timur. Perjalanan solo kali ini saya awali dengan naik busway dari kantor ke stasiun Gambir. Murah tentu saja motivasi utamanya. Jadi luv banget sama Tije deh, kemana-mana cuma Rp3.500. Hehe.
Naik busway sekitar jam setengah dua, dengan opsi harus transit sekali. Yang saya kurang perhitungan, kondisi jalanan Jumat siang teh lumayan macet yah. Saya pikir bakal keburu lah, meski harus transit sekali dan jumlah stops yang lumayan banyak. Tapi.. ngelirik jadwal kereta yang berangkat jam 15.00, sementara jam 13.48 saya masih di Kuningan, mulai kuatir juga yaah. Mana nih armada busway ke arah Senen, 10 menitan saya menunggu. Jam 14.20an saya masih di Menteng, macet juga. Masih 4-5 stops lagi. Yang nyebelin, kenapa banyak banget ya perempatan lampu merah di Menteng? Kan makin was-was.
Mulailah mencari opsi lain. Naik gojek berapa nih. Wah murah, Rp3000 aja. Sebenarnya alternatif naik gojek ini udah kepikiran sejak masih di Kuningan. Cuma, saya deskripsikan kondisi cuaca yang gerah, dengan gembolan yang saya bawa-bawa, ditambah aqua 750ml, plus jembatan penyebrangan yang siratal mustaqim. Makin lepek kalo bolak-balik ya kan. Saya tahan-tahan, dengan berpatokan sama estimasi waktu di gmaps. Masih cukup, meski mepet. Sampai gongnya, di halte Menteng saya turun dan lanjut naik gojek.
Memang dasar kurang pengalaman, di halte saya turun lumayan sepi ojek. Dapet abang driver di satu halte di depan. Lumayan menunggu juga. Lumayan makan waktu.
"Pak, saya buru-buru nih. Ditunggu ya, Pak."
"Iyh mba." (beneran abangnya ngetik begitu).
Ngikutin panduan maps, abang drivernya masih jalan terus meski sudah lewat pintu stasiun Gambir. Memang dia benar karena sesuai drop-off stasiun harusnya masih depan lagi. Memang saya yang grasa-grusu, minta turun di situ, di pintu masuk parkir stasiun.
"Makasih ya, Bang!"
"Ya mbak, hati-hati."
Cetak boarding pass, langsung cabut ke pemeriksaan KTP. Udah jam 14.45 tuh, lima belas menit lagi berangkat. Masih harus naik dua lantai lagi. Masih harus jalan ke depan lagi, karena dapet gerbong pertama.
Akhirnya sampe di gerbong, lah udah ada ibu-ibu ngedudukin kursi saya. Akhirnya kami tukeran tempat duduk. Saya dapet teman sebelah mbak-mbak kece. Yang sampe sekarang kita belum berkenalan. Dari percakapan di telpon yang saya dengar diam-diam, dia mau ke Semarang sih.
First half of the journey, Cirebon. 17:48 WIB
Gambir - Surabaya, 15 Nov 2019
Makan, main hp, baca buku, atau.. tidur. Saking takutnya mati kutu, saya tahan-tahan tuh namatin bukunya Ucim yang baru sebagian terbaca.
Nonton yutub Ria SW udah. Omong-omong, dia semakin keren deh ngevlognya. Di tripnya yang sendirian ini, pembawaannya mirip presenter senior ibukota. Experienced dan matang. Keren memang.
Instastory macam-macam, tentu saja udah. Dan masih akan terus berlanjut sampai entah kapan.
Soal instastory, story pertama adalah jembatan transit menuju halte Kuningan Timur. Perjalanan solo kali ini saya awali dengan naik busway dari kantor ke stasiun Gambir. Murah tentu saja motivasi utamanya. Jadi luv banget sama Tije deh, kemana-mana cuma Rp3.500. Hehe.
Naik busway sekitar jam setengah dua, dengan opsi harus transit sekali. Yang saya kurang perhitungan, kondisi jalanan Jumat siang teh lumayan macet yah. Saya pikir bakal keburu lah, meski harus transit sekali dan jumlah stops yang lumayan banyak. Tapi.. ngelirik jadwal kereta yang berangkat jam 15.00, sementara jam 13.48 saya masih di Kuningan, mulai kuatir juga yaah. Mana nih armada busway ke arah Senen, 10 menitan saya menunggu. Jam 14.20an saya masih di Menteng, macet juga. Masih 4-5 stops lagi. Yang nyebelin, kenapa banyak banget ya perempatan lampu merah di Menteng? Kan makin was-was.
Mulailah mencari opsi lain. Naik gojek berapa nih. Wah murah, Rp3000 aja. Sebenarnya alternatif naik gojek ini udah kepikiran sejak masih di Kuningan. Cuma, saya deskripsikan kondisi cuaca yang gerah, dengan gembolan yang saya bawa-bawa, ditambah aqua 750ml, plus jembatan penyebrangan yang siratal mustaqim. Makin lepek kalo bolak-balik ya kan. Saya tahan-tahan, dengan berpatokan sama estimasi waktu di gmaps. Masih cukup, meski mepet. Sampai gongnya, di halte Menteng saya turun dan lanjut naik gojek.
Memang dasar kurang pengalaman, di halte saya turun lumayan sepi ojek. Dapet abang driver di satu halte di depan. Lumayan menunggu juga. Lumayan makan waktu.
"Pak, saya buru-buru nih. Ditunggu ya, Pak."
"Iyh mba." (beneran abangnya ngetik begitu).
Ngikutin panduan maps, abang drivernya masih jalan terus meski sudah lewat pintu stasiun Gambir. Memang dia benar karena sesuai drop-off stasiun harusnya masih depan lagi. Memang saya yang grasa-grusu, minta turun di situ, di pintu masuk parkir stasiun.
"Makasih ya, Bang!"
"Ya mbak, hati-hati."
Cetak boarding pass, langsung cabut ke pemeriksaan KTP. Udah jam 14.45 tuh, lima belas menit lagi berangkat. Masih harus naik dua lantai lagi. Masih harus jalan ke depan lagi, karena dapet gerbong pertama.
Akhirnya sampe di gerbong, lah udah ada ibu-ibu ngedudukin kursi saya. Akhirnya kami tukeran tempat duduk. Saya dapet teman sebelah mbak-mbak kece. Yang sampe sekarang kita belum berkenalan. Dari percakapan di telpon yang saya dengar diam-diam, dia mau ke Semarang sih.
First half of the journey, Cirebon. 17:48 WIB
Gambir - Surabaya, 15 Nov 2019
Langganan:
Postingan (Atom)




