Kamis, 09 Januari 2020

#30haribercerita: Sakit

Tanggal 9 ini saya izin ga masuk kantor. Tenggorokan saya radang, akibatnya jadi batuk dan pilek luar biasa. Seharian saya teler, tidur, batuk, dan bersin. Ditambah nyeri otot yang masih belum sembuh, tiap kalo bersin atau batuk, kaki saya jadi sakit karena ketarik. Seram.

Ini sakit pertama saya setelah sekian lama (semoga seterusnya ga sakit lagiii, sehat-sehat terus. Aamiin).


*wow, tiga post dalam sehari. Kejar ketertinggalan sekali.

Rabu, 08 Januari 2020

#30haribercerita: Laptop Tua

Laptop saya rusak lagi. Baru ketauannya kemarin, ketika saya mau update postingan #30haribercerita ini. Waktu baru mau dinyalakan, media storagenya ga kebaca. Kudu install ulang ini mah. Heu :(

Dulu di zaman kuliah kalo ada masalah per-laptop-an,  saya pasti minta tolongnya ke Rivo. Karena apa, ya? Padahal saya sama dia ga berteman dekat juga. Apa gara-gara dia pengurus di kegiatan apa gitu. Lupa. Heheh.

Yah, dulu beberapa kali laptop saya bermasalah, masalah yang ga bisa saya pecahkan sendiri (padahal mahasiswa ilmu komputer wkwk). Mulai dari install Linux, dual OS, sampai yang paling awam install ulang, kayaknya minta tulungnya ke Rivo. Makasih, Rivo!

Sekarang laptop saya masih rusak. Entah apa file-filenya bisa terselamatkan atau engga. Semua data foto-foto saya ada di sana. :(

Sebagian memang ada di drive, tapi engga semuanya. Karena saya males misah-misahin, semua data digital sisa kuliah dan kerjaan sebelumnya, ada di laptop semua. Gimana ya, belum coba dicari solusinya.

Dari peristiwa ini, saya jadi mikir untuk harus rajin-rajin back up data. At least di harddisk lain juga. Atau karena saya males dan laptop yang sudah waktunya diganti, saya langsung buka tabungan untuk beli MacBook di Jenius. Butuh dana yang lumayan, nih. Mudah-mudahan ada rejekinya, mudah-mudahan tercapai. Aamiin.

Perkara laptop rusak ini juga yang bikin postingan ini baru saya tulis di tanggal (10/01). Saya edit tanggal penanyangannya biar rapi. Hehehe. Gapapa, ya? :)

Selasa, 07 Januari 2020

#30haribercerita: Cerita Pengasuh

"Breh, gue ijin ga masuk yaaa. Si Ummi risaiiiin"
Seorang teman baru ditinggal Ummi, nenek tetangga yang semula mengasuh bayinya.

"Ijin breh ga masuuuk, yang gantiin baru dateng minggu depaaan. Mau ngasuh bayik duluuu."
Begitu kira-kira bunyi izinnya di grup WA team kantor.

Belakangan saya baru tahu, si Ummi resign karena kakinya sakit. Bukan karena konflik atau apa, tapi bolak-balik naik turun tangga sepertinya sudah tidak bisa ditanggung badan Ummi di usianya yang mulai renta.

Yang dramatis dari resignnya si Ummi, karena beliau tidak datang langsung untuk bilang terus terang soal keputusannya. Melainkan selembar surat di depan pintu rumah teman saya ini, yang mewakili permohonan izin Ummi.

Saya terbayang bagaimana bingungnya teman saya ketika pengasuh bayinya tiba-tiba tidak kembali lagi. Pasti langsung kelabakan mencari. Alhamdulillah cepat dapat penggantinya.

"Mudah-mudahan yang baru ini bisa aweeeet ngasuhnyaa," teman saya berkata.

Saya jadi langsung relate dengan cerita-cerita soal pusingnya ibu-ibu di kota besar yang ditinggal pergi asisten rumah tangganya. Pekerjaan rumah yang tadinya ada yang mengurusnya, tiba-tiba.. jadi siapa yang mau mengurusnya? Susah juga karena harus mengajari lagi, sama-sama adaptasi lagi.

Dulu saya juga pernah mencari suster atau pengasuh, di awal-awal ibu saya pulang dari rumah sakit. Posisi kami saat itu cuma bertiga, saya dan abang saya yang bekerja, dan ibu saya. Adik saya saat itu sembari mengurus skripsi di PWT. Siapa yang akan mengurus ibu selama kami bekerja?

Mencari bantuan tetangga, tapi sudah ada janji yang lebih dulu diambil oleh tetangga itu. Mencari di agen, ditolak karena tidak tersedia. Abang saya sampai menukar shift malam supaya kami bisa bergantian. Kalau dipikir-pikir, kasihan sekali harus masuk shift malam terus. :(

Setelah beberapa lama, akhirnya Bulek dari Jawa datang dengan membawa seorang saudara jauh. Saat kami mulai bisa selow, mulai nyaman karena ada tenaga bantuan, tibalah saatnya saudara kami ini pulang. Ada anaknya yang mau masuk SMP, mesti diurus. Akhirnya setelah kurang-lebih satu bulan menemani, saudara kami ini pulang.

Senin, 06 Januari 2020

#30haribercerita: @#$!

Kalau lihat-lihat berita belakangan ini, sungguh saya rasanya ingin berkata kasar.

Ada menteri yang entah gimana jalan pikirnya, sampai benih lobster mau diekspor. Padahal itu bukannya seperti sukarela ngasih kekayaan alam kita sendiri untuk diserahkan ke pihak asing?

Ada menteri yang entah di mana nuraninya, bilang ga ada kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Padahal ada petani yang dirampas lahannya atas nama pembangunan. Pembangunan untuk siapa? Untuk investor?

Ada menteri yang lembeeeek banget sama pasukan negara asing, tapi kerasnya bukan main sama rakyatnya sendiri.

Ada presiden yang ...

*ini bakal kena jerat pasal karet UU ITE ga, ya?

Minggu, 05 Januari 2020

#30haribercerita: NKCTHI


"Tangisan paling pedih adalah tangisan tanpa suara."

Ga kerasa ya, tau-tau udah tanggal 5 Januari aja. Suwer, kadang jadi serem sendiri kalo sadar cepet banget waktu berlalu.

Hari ini saya nonton film NKCTHI (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini). Pemutaran pukul 16:20, tapi saya baru beli online 16:00. Sesantuy itu karena jarak bioskop yang dekat dari rumah, plus random dan bosan karena seharian ngga keluar. Impulsif memang :)

Tadi saya sempat khawatir, karena berangkat buru-buru sampai lupa bawa tissue. Katanya ini film haru-biru sekali, ga sulit untuk mancing air mata keluar, saking menyentuhnya. Begitu rata-rata testimoni yang saya baca. Film soal keluarga, yang versi seriesnya memang bikin saya nangis.

Ketika saya tonton sendiri filmnya, berhasil bikin air mata keluar di beberapa adegan. Terutama adegan yang menyorot Aurora. Tangisannya yang tanpa suara, justru paling berhasil mengacak-acak perasaan saya. Sheila Dara memang mantap. Di versi series pun, peran dia yang paling menyentuh dan bikin saya nangis.

Film ini menarik karena diangkat dari buku yang isinya kumpulan kutipan tentang kehidupan. Entah seperti apa keterlibatan Checel di pengembangan cerita dan karakternya hingga jadi skenario yang utuh. Cuma ya, yang dominan saya rasakan justru kesal, sebal, sama bapaknya. Karena dia terlihat ngatur-ngatur hidup anaknya, nyuruh-nyuruh Angkasa untuk jagain adik-adiknya, tapi dia sendiri ga keliatan menjaga keluarganya sendiri. Bagi saya, film ini kurang hangat.

Selain pesan soal keluarga dan bagaimana menghadapi perasaan negatif, film ini juga membuat saya berpikir bahwa tidak mudah menjadi orang tua. Untuk membesarkan anak-anak dengan perasaan yang utuh, untuk menjaga hubungan antar anggota keluarga, untuk saling menghargai. Masing-masing orang harus bisa selesai dengan perasaannya sendiri, untuk bisa memahami perasaan orang lain. Karena seperti yang Kale bilang, kebahagiaan itu cuma bisa diperjuangkan oleh diri kita sendiri.

Sabtu, 04 Januari 2020

#30haribercerita: Cedera

Dua hari ini setelah tahun baru, saya belum juga masuk kantor. Di tanggal 2 Januari, sebenarnya rumah yang kebanjiran sudah beres dibersihkan. Masih ada sisa-sisa genangan sedikit, tapi sudah tidak apa.

Di hari itu saya tidak masuk kantor. Kondisi jalanan masih tergenang di beberapa titik. Sarana transportasi masih belum sepenuhnya normal. Kantor juga memberi kompensasi karena ada force majeure banjir, saya manfaatkan waktu yang ada untuk pijat.

Sudah lama betis kiri saya sakit. Awalnya nyeri ringan karena kurang pemanasan saat jogging, tapi sakitnya tidak hilang juga. Malah menjalar makin parah hingga ke pinggang. Dengan jasa Go-Massage, saya akhirnya dipijat. Kata ibu yang memijat, sakit ini perkara kurang minum air putih saja. "Wong masih muda, kok" katanya. Saya kurang puas dengan diagnosisnya, tapi karena dia bukan orang medis, saya ga bisa menuntut lebih juga.

Setelah dipijat, kaki saya tidak lebih baik. Memang enak ketika dipijat, tapi setelahnya masih sakit, malah rasanya semakin parah. Salah gerak sedikit nyeri luar biasa. Saya masih paksakan aktivitas biasa, mencoba untuk melawan.

Esok harinya, saya kembali izin dari kantor. Kali ini karena sakit pinggang. Memang pinggang saya masih sakit, jadi saya putuskan bekerja remote saja dari rumah.

Saran untuk minum air putih yang banyak saya terapkan. Lumayan, sakitnya berkurang. Semoga memang benar, cedera saya ini hanya karena kurang minum air.

Hari ini, Sabtu. Giliran lengan kiri saya yang nyeri. Jujur, saya ga sadar apa sebab bisa sakit begini. Apa karena posisi tidur saya yang menindih?

Saya ga ngerti lagi kenapa. Cedera otot bertubi-tubi, tapi hanya di sebelah kiri. Saya kan, masih muda.

Counter pain hot, counter pain cold, vitamin neurotrophic, plester koyo, semua belum juga ampuh untuk meredakan nyeri. Mungkin saya perlu periksa ke dokter.

Jumat, 03 Januari 2020

#30haribercerita: Sembilan Naga

i
Di tempat seperti ini,
kita belajar untuk tidak pernah
meminta maaf kepada hidup.
Tidak pernah menyesal.

Tempat ini terlalu basah,
untuk ditambah air mata dan
terlalu sempit
untuk diisi penyesalan.

Prolog: Marwan.

ii
Istriku Ajeng, manusia terkuat yang pernah kukenal.

Terima kasih untuk rumah terindah yang pernah aku tempati.
Terima kasih untuk memberi maaf, sebelum aku meminta. 
Terima kasih untuk bersabar, sampai aku tahu
kalau hal-hal terbaik dalam hidup
tidak memerlukan uang.

Seperti bunyi suaramu yang selalu setia
menuntunku, pulang ke hatimu
rumahku yang terindah.

Suamimu, Marwan.

Surat dari Marwan.
Film Sembilan Naga, karya Rudi Soedjarwo.

Kamis, 02 Januari 2020

#30haribercerita: Menjadi Anonim

Kemarin gue ketemu Gustika, tapi karena ga ngeh kalo dia itu Gustika, jadi gue biasa aja.

Kemarin gue ketemu thedustysneakers, tapi karena sebelumnya gue ga tau dia itu siapa, jadi nganggepnya biasa aja.

Beda cerita kalo gue mau ketemu om Dita, atau mas Wid. Baru otw aja, gue udah deg-degan, nervous karena mau ketemu fotografer idola. Menerka-nerka, nanti nanya apa ya. Kesempatan ngobrol langsung ga ya?

Tidak benar-benar mengenal seseorang, kadang sangat baik efeknya bagi saya. Saya jadi santai, lebih lepas, zero expectations lah istilahnya. Saya yang overthinking dan gampang nervous ini jadi ga mikir apa-apa. Ga sibuk membayangkan akan ngobrol apa, ga takut kecewa kalo nanti ternyata saya ga sempat menyapa langsung. Ga minder, karena saya merasa bukan apa-apa dibanding mereka yang saya kagumi.

Rabu, 01 Januari 2020

#30haribercerita: Banjir Awal Tahun

Malam ini, hujan turun. Tidak seperti biasanya, sekarang saya takut mendengar suara hujan.

Masih terbayang subuh tadi, ada air yang menggenang tiba-tiba, hasil dari luapan saluran di dapur. Mengalir dari depan, terus masuk ke kamar-kamar, terus menggenangi seluruh rumah. Semalaman hujan deras turun, hingga pagi masih belum berhenti juga.

Sudah lama tidak kebanjiran begini, saya langsung flash back. Kapan terakhir kali rumah ini kebanjiran? Momen terdahsyat yang saya ingat, sekitar tahun 2007/2008 (?). Banjir besar lima tahunan yang waktu itu merendam rumah saya berhari-hari. Berkali-kali saya sekeluarga menguras rumah, berkali-kali juga tergenang air banjir. Tidak lama setelah musim banjir lewat, bapak memutuskan untuk meninggikan lantai rumah. Alhamdulillah, sejak saat itu rumah kami tidak kebanjiran lagi kalau hujan.

Makanya saya seperti tidak terima, rumah ini sudah ditinggikan tapi masih banjir? Apa karena efek kenaikan volume air, sehingga kondisi rumah saya perlu di-upgrade lagi? Apa karena pembangunan yang dikejar tanpa peduli lingkungan, jadi lahan penyerapan berkurang?

Sekarang saya takut mendengar suara hujan.

Kalau pemerintah berlindung di balik banjir musiman lima tahun, lalu kenapa masih juga lahan-lahan kosong dibangun? Kalau tinggi permukaan air kalimalang sudah sejajar dengan jalanan, kenapa solusinya hanya ditanggul?

Harus sampai setinggi apa kami meninggikan lantai rumah? Mau diperlebar bagaimana lagi saluran air, kalau ujung-ujungnya volume air yang turun masih lebih besar dari yang sanggup ditampung?

The Lonely Readers New Year's Eve

Sore kemarin (31/12), saya menghadiri sharing buku yang diadakan POST Bookshop, toko buku indipenden yang dikelola sepasang pecinta buku yang asik!

Awalnya saya berniat datang hanya untuk mendengar para lonely readers bercerita, sambil foto-foto dokumentasi. Saya ngga ingat tahun ini baca buku apa aja, saking jarangnya baca buku lagi. Buku-buku yang saya baca belakangan juga semua pinjaman dari Ucim. The Siblings-nya Lala Bohang, Orang-Orang Oetimu, dan kumpulan zine selfish. Terima kasih, Ucim.

Oke, kembali ke acara sharing. Teman-teman yang datang kemarin adalah dewa membaca, anggota klub pecinta buku, dan penulis beneran. Banyak banget rekomendasi buku yang saya dapat, yang cukup memotivasi untuk rajin baca buku lagi. Perasaan yang mereka ceritakan saat membaca buku, antusiasme yang mereka bagi, sedikit-sedikit saya bisa merasakan juga. Kangen juga rasanya, untuk deg-degan membaca buku sampai halaman terakhir. Deg-degan karena belum rela kalau kebahagiaan ini akan berakhir.

Sebenarnya saya udah nyiapin jawaban. Kalau pun saya kena tembak sharing, saya akan menyebut Orang-Orang Oetimu sebagai buku yang paling berkesan di 2019. Saya suka banget sama alur ceritanya, yang mundur-mundur teratur, punya banyak plot, tapi saling terkait satu sama lain. Itu memikat sekali. Salah satu buku yang betah saya baca, hingga habis (selain karena ini buku pinjaman :p). Sedikit mengingatkan akan buku 100 Year Old Man Who Climbed Out The Window and Dissapear.

My last new year's eve was not lonely anymore. Selain terapi fotografi yang sukses membuat perasaan saya merasa baik, keramahan teman-teman kemarin juga membuat saya merasa diterima. Hangat rasanya, walau hari hujan.

Terima kasih banyak mas Teddy dan kak Maesy, juga teman-teman semua atas keramahannya. Atas cerita yang dibagi di penghujung hari. Selamat tahun baru! :)