Di pasar buku Patjar Merah kemarin, saya membeli dua buku: Aku, Meps, dan Beps; dan Confessions. Yang satu saya donasikan sebagai ketentuan ikut kelas Menulis Ekspresif, yang Confessions saya baca habis dalam sehari semalam.
Novel Confessions bercerita soal pembalasan dendam seorang guru SMP akan kematian putrinya, yang dibunuh oleh siswanya sendiri di kelas yang ia ajar sebagai wali kelas. Alur yang maju-mundur dan penggunaan sudut pandang orang pertama dari setiap tokoh yang terlibat, menyeret pembaca untuk seakan berada di sana dan menjadi pelaku yang bercerita.
Saya membacanya tanpa kesulitan untuk menyelesaikan, karena meski alurnya maju-mundur tapi tiap sudut pandang yang disampaikan selalu habis dalam satu bab. Imajinasi yang saya buat jadi tidak tercampur antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.
Pertama saya tahu soal novel Confessions ini justru dari film berjudul sama yang belum saya tonton. Sebuah genre thriller psikologi yang banyak direkomendasikan orang-orang. Juga di acara Post Santa kemarin, beberapa pegiat membaca sangat merekomendasikannya, membuat saya tak ragu untuk menebus novel ini sebagai buku pertama yang habis saya baca di tahun ini.
*postingan in ditulis 18/01.
Minggu, 12 Januari 2020
Sabtu, 11 Januari 2020
#30haribercerita: Patjar Merah Kaget
Sabtu ini saya pergi ke M Bloc. Sedang ada acara literasi di sana, pasar buku dan kelas-kelas dengan topik menarik oleh Patjar Merah. Saya berkesempatan ikut salah satunya, Menulis Ekspresif untuk Kesehatan Mental.
Yang membuat saya tertarik karena saya sedang dalam proses mengenali emosi dan kondisi mental saya belakangan ini. Selain itu, narasumber yang diundang adalah editor dan penerbit novel terjemahan "I Want to Die but I Want to Eat Teokpokki". Buku bacaan yang mengangkat isu kesehatan mental dari pengalaman pribadi penulisnya di Korea Selatan. Ada juga praktisi psikolog yang meramaikan acara semalam.
Menulis sebagai terapi bisa dilakukan untuk mengenali hal-hal yang mengganggu psikis kita. Ada macam-macam metode, misal: menulis dengan alternate ending dari suatu peristiwa yang menimpa kita; menulis emosi dan perasaan yang mengirinya (marah karena kecewa, sedih karena direndahkan, dsb.); ada juga menuliskan apa yang kita rasakan tanpa sensor. Itu yang sebagian saya tangkap.
*ditulis (12/01)
Yang membuat saya tertarik karena saya sedang dalam proses mengenali emosi dan kondisi mental saya belakangan ini. Selain itu, narasumber yang diundang adalah editor dan penerbit novel terjemahan "I Want to Die but I Want to Eat Teokpokki". Buku bacaan yang mengangkat isu kesehatan mental dari pengalaman pribadi penulisnya di Korea Selatan. Ada juga praktisi psikolog yang meramaikan acara semalam.
Menulis sebagai terapi bisa dilakukan untuk mengenali hal-hal yang mengganggu psikis kita. Ada macam-macam metode, misal: menulis dengan alternate ending dari suatu peristiwa yang menimpa kita; menulis emosi dan perasaan yang mengirinya (marah karena kecewa, sedih karena direndahkan, dsb.); ada juga menuliskan apa yang kita rasakan tanpa sensor. Itu yang sebagian saya tangkap.
*ditulis (12/01)
Jumat, 10 Januari 2020
#30haribercerita: Try Out
"Man rabbuka?" (siapa Tuhanmu?)
"Allah." (Allah)
"Man ismuka?" (siapa namamu?)
"Al-qur'an." (Al-qur'an)
😂
Entah gimana mulanya, tapi sore tadi kami tiba-tiba try out soal pertanyaan di alam kubur. Ada Jepri, Nur, dan saya, di musholla kantor selepas sholat Ashar.
Jepri yang sok tau bilang kalo dia udah ngapalin semua jawaban kalo nanti ditanyain malaikat. Saya yang iseng sok-sokan nanya pake bahasa Arab, lalu terjadilah dialog di atas tadi. Dia kira pertanyaan saya itu soal apa kitabmu, makanya dia jawab Al-qur'an. Sesuai urutan jawaban yang udah dia hapal. 😂
Selepas dari try out guyon ini, kami jadi lanjut bahas soal kejadian selepas manusia meninggal nanti. Setau gue ya, kan ada tiga alam nih: alam fana (dunia ini), alam kubur, dan alam akhirat. Urutannya nanti waktu kita meninggal, kalo bisa jawab semua pertanyaan malaikat, maka kita akan melewati alam kubur kayak orang yang tidur. Itu kalo jawabannya bener, ya. Kalo ga bisa jawab, nah manusia itu akan mengalami siksa kubur, sampai hari kiamat.
Di hari kiamat, kita dibangkitkan lagi untuk pengadilan yang paling adil. Yang timbangan kebaikannya berat, insya Allah masuk surga. Nah, yang timbangan keburukannya lebih berat, masuk neraka. Begitu bahasan singkat obrolan sore tadi.
Tumben-tumbenan banget obrolan kita berbobot gini. Saya rasa, salah satu pemicunya karena series "Dajjal" yang lagi Nur dan Jeps ikutin banget di Netflix. Terus Jeps cerita waktu SD dia belajar soal siksa kubur lewat komik-komik azab yang populer dulu. Yang covernya serem-serem, mulai dari manusia berkepala babi sampai siksaan lain.
"Allah." (Allah)
"Man ismuka?" (siapa namamu?)
"Al-qur'an." (Al-qur'an)
😂
Entah gimana mulanya, tapi sore tadi kami tiba-tiba try out soal pertanyaan di alam kubur. Ada Jepri, Nur, dan saya, di musholla kantor selepas sholat Ashar.
Jepri yang sok tau bilang kalo dia udah ngapalin semua jawaban kalo nanti ditanyain malaikat. Saya yang iseng sok-sokan nanya pake bahasa Arab, lalu terjadilah dialog di atas tadi. Dia kira pertanyaan saya itu soal apa kitabmu, makanya dia jawab Al-qur'an. Sesuai urutan jawaban yang udah dia hapal. 😂
Selepas dari try out guyon ini, kami jadi lanjut bahas soal kejadian selepas manusia meninggal nanti. Setau gue ya, kan ada tiga alam nih: alam fana (dunia ini), alam kubur, dan alam akhirat. Urutannya nanti waktu kita meninggal, kalo bisa jawab semua pertanyaan malaikat, maka kita akan melewati alam kubur kayak orang yang tidur. Itu kalo jawabannya bener, ya. Kalo ga bisa jawab, nah manusia itu akan mengalami siksa kubur, sampai hari kiamat.
Di hari kiamat, kita dibangkitkan lagi untuk pengadilan yang paling adil. Yang timbangan kebaikannya berat, insya Allah masuk surga. Nah, yang timbangan keburukannya lebih berat, masuk neraka. Begitu bahasan singkat obrolan sore tadi.
Tumben-tumbenan banget obrolan kita berbobot gini. Saya rasa, salah satu pemicunya karena series "Dajjal" yang lagi Nur dan Jeps ikutin banget di Netflix. Terus Jeps cerita waktu SD dia belajar soal siksa kubur lewat komik-komik azab yang populer dulu. Yang covernya serem-serem, mulai dari manusia berkepala babi sampai siksaan lain.
Kamis, 09 Januari 2020
#30haribercerita: Sakit
Tanggal 9 ini saya izin ga masuk kantor. Tenggorokan saya radang, akibatnya jadi batuk dan pilek luar biasa. Seharian saya teler, tidur, batuk, dan bersin. Ditambah nyeri otot yang masih belum sembuh, tiap kalo bersin atau batuk, kaki saya jadi sakit karena ketarik. Seram.
Ini sakit pertama saya setelah sekian lama (semoga seterusnya ga sakit lagiii, sehat-sehat terus. Aamiin).
*wow, tiga post dalam sehari. Kejar ketertinggalan sekali.
Ini sakit pertama saya setelah sekian lama (semoga seterusnya ga sakit lagiii, sehat-sehat terus. Aamiin).
*wow, tiga post dalam sehari. Kejar ketertinggalan sekali.
Rabu, 08 Januari 2020
#30haribercerita: Laptop Tua
Laptop saya rusak lagi. Baru ketauannya kemarin, ketika saya mau update postingan #30haribercerita ini. Waktu baru mau dinyalakan, media storagenya ga kebaca. Kudu install ulang ini mah. Heu :(
Dulu di zaman kuliah kalo ada masalah per-laptop-an, saya pasti minta tolongnya ke Rivo. Karena apa, ya? Padahal saya sama dia ga berteman dekat juga. Apa gara-gara dia pengurus di kegiatan apa gitu. Lupa. Heheh.
Yah, dulu beberapa kali laptop saya bermasalah, masalah yang ga bisa saya pecahkan sendiri (padahal mahasiswa ilmu komputer wkwk). Mulai dari install Linux, dual OS, sampai yang paling awam install ulang, kayaknya minta tulungnya ke Rivo. Makasih, Rivo!
Sekarang laptop saya masih rusak. Entah apa file-filenya bisa terselamatkan atau engga. Semua data foto-foto saya ada di sana. :(
Sebagian memang ada di drive, tapi engga semuanya. Karena saya males misah-misahin, semua data digital sisa kuliah dan kerjaan sebelumnya, ada di laptop semua. Gimana ya, belum coba dicari solusinya.
Dari peristiwa ini, saya jadi mikir untuk harus rajin-rajin back up data. At least di harddisk lain juga. Atau karena saya males dan laptop yang sudah waktunya diganti, saya langsung buka tabungan untuk beli MacBook di Jenius. Butuh dana yang lumayan, nih. Mudah-mudahan ada rejekinya, mudah-mudahan tercapai. Aamiin.
Perkara laptop rusak ini juga yang bikin postingan ini baru saya tulis di tanggal (10/01). Saya edit tanggal penanyangannya biar rapi. Hehehe. Gapapa, ya? :)
Dulu di zaman kuliah kalo ada masalah per-laptop-an, saya pasti minta tolongnya ke Rivo. Karena apa, ya? Padahal saya sama dia ga berteman dekat juga. Apa gara-gara dia pengurus di kegiatan apa gitu. Lupa. Heheh.
Yah, dulu beberapa kali laptop saya bermasalah, masalah yang ga bisa saya pecahkan sendiri (padahal mahasiswa ilmu komputer wkwk). Mulai dari install Linux, dual OS, sampai yang paling awam install ulang, kayaknya minta tulungnya ke Rivo. Makasih, Rivo!
Sekarang laptop saya masih rusak. Entah apa file-filenya bisa terselamatkan atau engga. Semua data foto-foto saya ada di sana. :(
Sebagian memang ada di drive, tapi engga semuanya. Karena saya males misah-misahin, semua data digital sisa kuliah dan kerjaan sebelumnya, ada di laptop semua. Gimana ya, belum coba dicari solusinya.
Dari peristiwa ini, saya jadi mikir untuk harus rajin-rajin back up data. At least di harddisk lain juga. Atau karena saya males dan laptop yang sudah waktunya diganti, saya langsung buka tabungan untuk beli MacBook di Jenius. Butuh dana yang lumayan, nih. Mudah-mudahan ada rejekinya, mudah-mudahan tercapai. Aamiin.
Perkara laptop rusak ini juga yang bikin postingan ini baru saya tulis di tanggal (10/01). Saya edit tanggal penanyangannya biar rapi. Hehehe. Gapapa, ya? :)
Selasa, 07 Januari 2020
#30haribercerita: Cerita Pengasuh
"Breh, gue ijin ga masuk yaaa. Si Ummi risaiiiin"
Seorang teman baru ditinggal Ummi, nenek tetangga yang semula mengasuh bayinya.
"Ijin breh ga masuuuk, yang gantiin baru dateng minggu depaaan. Mau ngasuh bayik duluuu."
Begitu kira-kira bunyi izinnya di grup WA team kantor.
Belakangan saya baru tahu, si Ummi resign karena kakinya sakit. Bukan karena konflik atau apa, tapi bolak-balik naik turun tangga sepertinya sudah tidak bisa ditanggung badan Ummi di usianya yang mulai renta.
Yang dramatis dari resignnya si Ummi, karena beliau tidak datang langsung untuk bilang terus terang soal keputusannya. Melainkan selembar surat di depan pintu rumah teman saya ini, yang mewakili permohonan izin Ummi.
Saya terbayang bagaimana bingungnya teman saya ketika pengasuh bayinya tiba-tiba tidak kembali lagi. Pasti langsung kelabakan mencari. Alhamdulillah cepat dapat penggantinya.
"Mudah-mudahan yang baru ini bisa aweeeet ngasuhnyaa," teman saya berkata.
Saya jadi langsung relate dengan cerita-cerita soal pusingnya ibu-ibu di kota besar yang ditinggal pergi asisten rumah tangganya. Pekerjaan rumah yang tadinya ada yang mengurusnya, tiba-tiba.. jadi siapa yang mau mengurusnya? Susah juga karena harus mengajari lagi, sama-sama adaptasi lagi.
Dulu saya juga pernah mencari suster atau pengasuh, di awal-awal ibu saya pulang dari rumah sakit. Posisi kami saat itu cuma bertiga, saya dan abang saya yang bekerja, dan ibu saya. Adik saya saat itu sembari mengurus skripsi di PWT. Siapa yang akan mengurus ibu selama kami bekerja?
Mencari bantuan tetangga, tapi sudah ada janji yang lebih dulu diambil oleh tetangga itu. Mencari di agen, ditolak karena tidak tersedia. Abang saya sampai menukar shift malam supaya kami bisa bergantian. Kalau dipikir-pikir, kasihan sekali harus masuk shift malam terus. :(
Setelah beberapa lama, akhirnya Bulek dari Jawa datang dengan membawa seorang saudara jauh. Saat kami mulai bisa selow, mulai nyaman karena ada tenaga bantuan, tibalah saatnya saudara kami ini pulang. Ada anaknya yang mau masuk SMP, mesti diurus. Akhirnya setelah kurang-lebih satu bulan menemani, saudara kami ini pulang.
Seorang teman baru ditinggal Ummi, nenek tetangga yang semula mengasuh bayinya.
"Ijin breh ga masuuuk, yang gantiin baru dateng minggu depaaan. Mau ngasuh bayik duluuu."
Begitu kira-kira bunyi izinnya di grup WA team kantor.
Belakangan saya baru tahu, si Ummi resign karena kakinya sakit. Bukan karena konflik atau apa, tapi bolak-balik naik turun tangga sepertinya sudah tidak bisa ditanggung badan Ummi di usianya yang mulai renta.
Yang dramatis dari resignnya si Ummi, karena beliau tidak datang langsung untuk bilang terus terang soal keputusannya. Melainkan selembar surat di depan pintu rumah teman saya ini, yang mewakili permohonan izin Ummi.
Saya terbayang bagaimana bingungnya teman saya ketika pengasuh bayinya tiba-tiba tidak kembali lagi. Pasti langsung kelabakan mencari. Alhamdulillah cepat dapat penggantinya.
"Mudah-mudahan yang baru ini bisa aweeeet ngasuhnyaa," teman saya berkata.
Saya jadi langsung relate dengan cerita-cerita soal pusingnya ibu-ibu di kota besar yang ditinggal pergi asisten rumah tangganya. Pekerjaan rumah yang tadinya ada yang mengurusnya, tiba-tiba.. jadi siapa yang mau mengurusnya? Susah juga karena harus mengajari lagi, sama-sama adaptasi lagi.
Dulu saya juga pernah mencari suster atau pengasuh, di awal-awal ibu saya pulang dari rumah sakit. Posisi kami saat itu cuma bertiga, saya dan abang saya yang bekerja, dan ibu saya. Adik saya saat itu sembari mengurus skripsi di PWT. Siapa yang akan mengurus ibu selama kami bekerja?
Mencari bantuan tetangga, tapi sudah ada janji yang lebih dulu diambil oleh tetangga itu. Mencari di agen, ditolak karena tidak tersedia. Abang saya sampai menukar shift malam supaya kami bisa bergantian. Kalau dipikir-pikir, kasihan sekali harus masuk shift malam terus. :(
Setelah beberapa lama, akhirnya Bulek dari Jawa datang dengan membawa seorang saudara jauh. Saat kami mulai bisa selow, mulai nyaman karena ada tenaga bantuan, tibalah saatnya saudara kami ini pulang. Ada anaknya yang mau masuk SMP, mesti diurus. Akhirnya setelah kurang-lebih satu bulan menemani, saudara kami ini pulang.
Senin, 06 Januari 2020
#30haribercerita: @#$!
Kalau lihat-lihat berita belakangan ini, sungguh saya rasanya ingin berkata kasar.
Ada menteri yang entah gimana jalan pikirnya, sampai benih lobster mau diekspor. Padahal itu bukannya seperti sukarela ngasih kekayaan alam kita sendiri untuk diserahkan ke pihak asing?
Ada menteri yang entah di mana nuraninya, bilang ga ada kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Padahal ada petani yang dirampas lahannya atas nama pembangunan. Pembangunan untuk siapa? Untuk investor?
Ada menteri yang lembeeeek banget sama pasukan negara asing, tapi kerasnya bukan main sama rakyatnya sendiri.
Ada presiden yang ...
*ini bakal kena jerat pasal karet UU ITE ga, ya?
Ada menteri yang entah gimana jalan pikirnya, sampai benih lobster mau diekspor. Padahal itu bukannya seperti sukarela ngasih kekayaan alam kita sendiri untuk diserahkan ke pihak asing?
Ada menteri yang entah di mana nuraninya, bilang ga ada kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Padahal ada petani yang dirampas lahannya atas nama pembangunan. Pembangunan untuk siapa? Untuk investor?
Ada menteri yang lembeeeek banget sama pasukan negara asing, tapi kerasnya bukan main sama rakyatnya sendiri.
Ada presiden yang ...
*ini bakal kena jerat pasal karet UU ITE ga, ya?
Minggu, 05 Januari 2020
#30haribercerita: NKCTHI
"Tangisan paling pedih adalah tangisan tanpa suara."
Ga kerasa ya, tau-tau udah tanggal 5 Januari aja. Suwer, kadang jadi serem sendiri kalo sadar cepet banget waktu berlalu.
Hari ini saya nonton film NKCTHI (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini). Pemutaran pukul 16:20, tapi saya baru beli online 16:00. Sesantuy itu karena jarak bioskop yang dekat dari rumah, plus random dan bosan karena seharian ngga keluar. Impulsif memang :)
Tadi saya sempat khawatir, karena berangkat buru-buru sampai lupa bawa tissue. Katanya ini film haru-biru sekali, ga sulit untuk mancing air mata keluar, saking menyentuhnya. Begitu rata-rata testimoni yang saya baca. Film soal keluarga, yang versi seriesnya memang bikin saya nangis.
Ketika saya tonton sendiri filmnya, berhasil bikin air mata keluar di beberapa adegan. Terutama adegan yang menyorot Aurora. Tangisannya yang tanpa suara, justru paling berhasil mengacak-acak perasaan saya. Sheila Dara memang mantap. Di versi series pun, peran dia yang paling menyentuh dan bikin saya nangis.
Film ini menarik karena diangkat dari buku yang isinya kumpulan kutipan tentang kehidupan. Entah seperti apa keterlibatan Checel di pengembangan cerita dan karakternya hingga jadi skenario yang utuh. Cuma ya, yang dominan saya rasakan justru kesal, sebal, sama bapaknya. Karena dia terlihat ngatur-ngatur hidup anaknya, nyuruh-nyuruh Angkasa untuk jagain adik-adiknya, tapi dia sendiri ga keliatan menjaga keluarganya sendiri. Bagi saya, film ini kurang hangat.
Selain pesan soal keluarga dan bagaimana menghadapi perasaan negatif, film ini juga membuat saya berpikir bahwa tidak mudah menjadi orang tua. Untuk membesarkan anak-anak dengan perasaan yang utuh, untuk menjaga hubungan antar anggota keluarga, untuk saling menghargai. Masing-masing orang harus bisa selesai dengan perasaannya sendiri, untuk bisa memahami perasaan orang lain. Karena seperti yang Kale bilang, kebahagiaan itu cuma bisa diperjuangkan oleh diri kita sendiri.
Sabtu, 04 Januari 2020
#30haribercerita: Cedera
Dua hari ini setelah tahun baru, saya belum juga masuk kantor. Di tanggal 2 Januari, sebenarnya rumah yang kebanjiran sudah beres dibersihkan. Masih ada sisa-sisa genangan sedikit, tapi sudah tidak apa.
Di hari itu saya tidak masuk kantor. Kondisi jalanan masih tergenang di beberapa titik. Sarana transportasi masih belum sepenuhnya normal. Kantor juga memberi kompensasi karena ada force majeure banjir, saya manfaatkan waktu yang ada untuk pijat.
Sudah lama betis kiri saya sakit. Awalnya nyeri ringan karena kurang pemanasan saat jogging, tapi sakitnya tidak hilang juga. Malah menjalar makin parah hingga ke pinggang. Dengan jasa Go-Massage, saya akhirnya dipijat. Kata ibu yang memijat, sakit ini perkara kurang minum air putih saja. "Wong masih muda, kok" katanya. Saya kurang puas dengan diagnosisnya, tapi karena dia bukan orang medis, saya ga bisa menuntut lebih juga.
Setelah dipijat, kaki saya tidak lebih baik. Memang enak ketika dipijat, tapi setelahnya masih sakit, malah rasanya semakin parah. Salah gerak sedikit nyeri luar biasa. Saya masih paksakan aktivitas biasa, mencoba untuk melawan.
Esok harinya, saya kembali izin dari kantor. Kali ini karena sakit pinggang. Memang pinggang saya masih sakit, jadi saya putuskan bekerja remote saja dari rumah.
Saran untuk minum air putih yang banyak saya terapkan. Lumayan, sakitnya berkurang. Semoga memang benar, cedera saya ini hanya karena kurang minum air.
Hari ini, Sabtu. Giliran lengan kiri saya yang nyeri. Jujur, saya ga sadar apa sebab bisa sakit begini. Apa karena posisi tidur saya yang menindih?
Saya ga ngerti lagi kenapa. Cedera otot bertubi-tubi, tapi hanya di sebelah kiri. Saya kan, masih muda.
Counter pain hot, counter pain cold, vitamin neurotrophic, plester koyo, semua belum juga ampuh untuk meredakan nyeri. Mungkin saya perlu periksa ke dokter.
Di hari itu saya tidak masuk kantor. Kondisi jalanan masih tergenang di beberapa titik. Sarana transportasi masih belum sepenuhnya normal. Kantor juga memberi kompensasi karena ada force majeure banjir, saya manfaatkan waktu yang ada untuk pijat.
Sudah lama betis kiri saya sakit. Awalnya nyeri ringan karena kurang pemanasan saat jogging, tapi sakitnya tidak hilang juga. Malah menjalar makin parah hingga ke pinggang. Dengan jasa Go-Massage, saya akhirnya dipijat. Kata ibu yang memijat, sakit ini perkara kurang minum air putih saja. "Wong masih muda, kok" katanya. Saya kurang puas dengan diagnosisnya, tapi karena dia bukan orang medis, saya ga bisa menuntut lebih juga.
Setelah dipijat, kaki saya tidak lebih baik. Memang enak ketika dipijat, tapi setelahnya masih sakit, malah rasanya semakin parah. Salah gerak sedikit nyeri luar biasa. Saya masih paksakan aktivitas biasa, mencoba untuk melawan.
Esok harinya, saya kembali izin dari kantor. Kali ini karena sakit pinggang. Memang pinggang saya masih sakit, jadi saya putuskan bekerja remote saja dari rumah.
Saran untuk minum air putih yang banyak saya terapkan. Lumayan, sakitnya berkurang. Semoga memang benar, cedera saya ini hanya karena kurang minum air.
Hari ini, Sabtu. Giliran lengan kiri saya yang nyeri. Jujur, saya ga sadar apa sebab bisa sakit begini. Apa karena posisi tidur saya yang menindih?
Saya ga ngerti lagi kenapa. Cedera otot bertubi-tubi, tapi hanya di sebelah kiri. Saya kan, masih muda.
Counter pain hot, counter pain cold, vitamin neurotrophic, plester koyo, semua belum juga ampuh untuk meredakan nyeri. Mungkin saya perlu periksa ke dokter.
Jumat, 03 Januari 2020
#30haribercerita: Sembilan Naga
i
Di tempat seperti ini,
kita belajar untuk tidak pernah
meminta maaf kepada hidup.
Tidak pernah menyesal.
Tempat ini terlalu basah,
untuk ditambah air mata dan
terlalu sempit
untuk diisi penyesalan.
Prolog: Marwan.
ii
Istriku Ajeng, manusia terkuat yang pernah kukenal.
Terima kasih untuk rumah terindah yang pernah aku tempati.
Terima kasih untuk memberi maaf, sebelum aku meminta.
Terima kasih untuk bersabar, sampai aku tahu
kalau hal-hal terbaik dalam hidup
tidak memerlukan uang.
Seperti bunyi suaramu yang selalu setia
menuntunku, pulang ke hatimu
rumahku yang terindah.
Suamimu, Marwan.
Surat dari Marwan.
Film Sembilan Naga, karya Rudi Soedjarwo.
Di tempat seperti ini,
kita belajar untuk tidak pernah
meminta maaf kepada hidup.
Tidak pernah menyesal.
Tempat ini terlalu basah,
untuk ditambah air mata dan
terlalu sempit
untuk diisi penyesalan.
Prolog: Marwan.
ii
Istriku Ajeng, manusia terkuat yang pernah kukenal.
Terima kasih untuk rumah terindah yang pernah aku tempati.
Terima kasih untuk memberi maaf, sebelum aku meminta.
Terima kasih untuk bersabar, sampai aku tahu
kalau hal-hal terbaik dalam hidup
tidak memerlukan uang.
Seperti bunyi suaramu yang selalu setia
menuntunku, pulang ke hatimu
rumahku yang terindah.
Suamimu, Marwan.
Surat dari Marwan.
Film Sembilan Naga, karya Rudi Soedjarwo.
Langganan:
Postingan (Atom)