Minggu, 19 Januari 2020

#30haribercerita: Menjadi Anonim #2

Menjadi anonim dengan melakukan perjalanan sendiri. Bebas menjadi aku yang lebih memilih jalan daripada naik ojek. Atas nama membakar kalori dari makan banyak sebelumnya.

Bebas menjadi aku, yang memilih makan es krim di bangunan mall tua. Bukan di toko asli tempat legenda itu berdiri.

Bebas menjadi aku, yang lebih banyak diam di suatu tempat. Merenung, mencoba mengenal warga tapi akhirnya memilih menikmati suasana sendiri.

Bebas menjadi aku yang melarat, tanpa peduli kenyamanan teman perjalanan.

Menjadi anonim dan membiarkan matahari menyentuh secara intens, agar bisa bilang,
"Tunggu di sini, aku akan kembali menemuimu dengan kulit yang lebih gelap."

*(25/01)

Sabtu, 18 Januari 2020

#30haribercerita: The Bajau

November 2014, lima ratus warga suku Bajo ditangkap oleh polisi perairan karena tidak memiliki KTP. Dikira nelayan asing yang mencuri ikan, suku nomaden ini telah hidup ratusan tahun di laut, jauh sebelum terbentuknya negara-negara yang lantas mengklaim wilayah perbatasannya masing-masing.
Begitu kurang lebih narasi yang mengawali film dokumenter The Bajau karya Dandhy Laksono. Semalam (18/01), saya menghadiri pemutaran film dan diskusi serta penggalangan dana untuk suku Bajo di M Bloc, masih dalam rangka agenda Patjar Merah Kaget.

Film ini memaparkan bagaimana suku Bajo menghidupi hari-harinya. Tinggal di sampan, menangkap ikan dengan jaring, tombak, dan alat-alat tradisional lainnya. Menyelam belasan menit dengan hanya satu tarikan nafas, hidup dari laut dalam artian sebenarnya. Mungkin yang saya paparkan ini terkesan gagah dan mendukung imaji 'nenek moyangku seorang pelaut', tangguh. Sebaliknya, perasaan yang muncul sejak awal saya menonton pemutaran filmnya adalah pilu.

Dikisahkan bagaimana sulitnya warga Bajo melaut dengan penghasilan yang serba terbatas.

"Yang kami pakai juga perahunya Daeng Rauk. Dia minta 600rb sebulan, tapi bagaimana kami bisa bayar?" ucap seorang warga sambil memperbaiki mesin perahunya yang rusak. Hasil tangkapan yang tidak seberapa, dibeli murah oleh tengkulak. Jelas hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Sementara pemerintah datang dengan kebijakan yang sama sekali asing dengan apa-apa yang biasa mereka lakoni.
"Kalau begini orang Bajo kasihan. Lebih baik kami bantu.. bikin rumah di sini."
Tiap keluarga yang terbantu dibangunkan sebuah rumah dan dua hektar lahan untuk diolah jadi ladang/kebun. Tapi kemudian, pihak perusahaan pengembang datang. Lahan mereka digusur tanpa ganti rugi hingga saat ini.

Penangkapan yang dinarasikan di awal, berlanjut dengan upaya negara untuk 'mendaratkan' suku perairan ini. Niat baik yang seakan memaksa, karena sebenarnya mereka baik-baik saja dengan hidup sebagai pelaut. Pun dengan konflik yang menyusul akibat banyaknya kebutuhan yang mendadak hadir sementara tidak adanya mata pencaharian sejak meraka berkehidupan di darat. Beberapa warga yang sudah dibuatkan rumah di darat oleh Dinas Sosial, tetap kembali melaut karena itulah mata pencaharian yang sudah suku Bajo tekuni bertahun-tahun. Kehidupan mereka sangat tergantung pada hasil laut.

Konflik batin saya rasakan hadir saat menonton dokumenter ini. Di satu sisi, ada pilu melihat sulitnya kehidupan warga Bajo dan narasi pemerintah yang merampas hak-hak warga demi kepentingan 'pembangunan' (pembangunan untuk siapa? Mari pertanyakan). Di sisi lain, saya resah melihat penyu yang dikorbankan dalam upacara adat. Saya meringis melihat kima yang dipecah cangkangnya untuk diambil isinya-karena setahu saya penyu dan kima termasuk biota laut yang dilindungi.

Disampaikan bagaimana suku Bajo sangat menjaga laut sebagai sumber kehidupan, bahkan ampas kopi tidak akan mereka buang ke laut. Sebenarnya ada juga niat baik pemerintah lewat zona konservasi yang pastinya akan membatasi area jelajah suku Bajo. Jika memang peradaban maritim nusantara yang digaungkan, kebijakan ini juga harus diperhatikan pelaksanaannya. Menyaksikan film ini membawa perasaan janggal, namun tetap lebih besar porsinya untuk tetap kritis dengan kondisi peradaban yang terancam oleh pemerintah sendiri.

"Selamat malam, Mas Dhandy. Jujur saya tersentuh sekali dengan karya dokumenter ini. Namun ada konflik batin yang hadir, melihat bagaimana suku Bajo menangkap hasil laut lewat narasi yang ditampilkan. Setahu saya, penyu dan kima merupakan biota laut yang dilindungi. Sehingga muncul pemikiran, bahwa perlu adanya kebijakan yang disampaikan terkait keberlangsungan tradisi peradaban maritim ini. Terima kasih."

*ditulis 19/01/2020.
*rekaman sesi diskusi selepas pemutaran berakhir

Jumat, 17 Januari 2020

Kamis, 16 Januari 2020

#30haribercerita: Cawan Berbisik

Sore ini, tiba-tiba sebuah pesan WA masuk dari nomor yang tidak dikenal. Saya berpikir, "Hmm, mungkin ini kurir JD.ID mau mengantar barang."

Ternyata bukan.

Dia memperkenalkan diri sebagai Yugie Kartaatmaja, seorang seniman keramik lulusan ITB. Akhir tahun kemarin, pamerannya yang berjudul 'Cawan Berbisik' digelar di Jakarta. Konsepnya adalah pengunjung yang datang dapat membisikkan hal apapun ke cawan yang dipamerkan yang ditujukan kepada siapapun orang yang tidak sanggup untuk ia sampaikan langsung. Nantinya cawan berisi bisikan ini akan disampaikan oleh mas Yugie kepada masing-masing penerima pesan.

Mas Yugie bilang, ada seseorang yang menitipkan pesan dalam cawan keramiknya kepada saya. Mas Yugie ingin menyampaikan cawan itu langsung sambil menjelaskan konsep pamerannya lebih lanjut. Pameran yang terinspirasi dari cerita ibunya yang tidak bisa menyampaikan isi hatinya secara langsung. Hingga kemudian ibunya terkena stroke dan menyebabkan hilangnya kemampuan berbicara.

Ini mengejutkan, sekaligus mendebarkan. Membayangkan siapa orang yang mengirim pesannya kepada saya dan apa hal yang ia tidak sanggup untuk menyampaikannya langsung.


Rabu, 15 Januari 2020

#30haribercerita: Jenius Project

J: "Mil, ada design challenge nih. Hadiahnya duit!"
M: "Waaaaak, challenge apaaan Jeeeps?"
J: "Dari Jenius nih, udah gue kirim linknya."
M: "Oke, Jeps!"
J: "Gue daftarin yak, elu ketuanya."
M: "Iya, sip." (santai, belum tentu kepilih ini)
J: "Cashtag lu apa, Mil? Buat data nih."
M: "$yaumil******"
J: "Butuh seorang lagi nih, biar pas bertiga. Ajak yang lain, Mil"
*kebetulan Adnan lagi mampir ke meja sebelah
M: "Nan, cashtag lu apa?"
A: *tanpa curiga langsung ngasih tau
M: "Nah, Jeps dapet tuh cashtagnya Adnan."

Begitulah, saya dan Jepri plus Adnan bergabung dalam satu tim, mendaftar UI/UX Challenge dari Jenius. Saya dan Adnan sebagai UX designer, sementara Jepri jadi UI designer. Target saya, semoga projek ini bisa jadi. Lumayan, untuk tambahan portfolio. :)

Selasa, 14 Januari 2020

#30haribercerita: Paket yang Tertukar

Kemarin Minggu saya membeli buku di Tokopedia. Buku Teokpokki yang selalu habis stok di pasar buku Patjar Merah, dan sedang cetak ulang. Hari ini, sistem lacak pengiriman bilang kalau paketnya sudah sampai dan diterima oleh Pak Minang (resepsionis kantor).

Hore! Langsung saya jemput paketnya ke lobby. Penasaran banget sama buku ini, langsung saya buka bungkusannya. Jeng jeng... buku yang saya terima berbeda. Kok, berubah jadi kisah wattpad. :(

Hemm, pantesan ada yang aneh. Info penerima yang ditulis seller Tokopedia bukan untuk saya. Setelah saya konfirmasi ke seller, ternyata pihak kurir yang salah menempelkan label.

Aih, langsung anjlok mood saya. Udah penasaran banget kan, ada-ada aja kasus paket tertukar begini. Ternyata kurir yang dipakai ini memang punya banyak masalah. Bukan cuma paket saya, banyak keluhan soal paket yang tertukar dan nyasar di akun twitternya. Really-really. :(

Siang itu saya langsung membuat komplain lewat Tokopedia, juga lewat Twitter dengan mention akunnya. Sore harinya, ada kurir yang menghubungi saya bilang akan jemput paket yang tertukar ini esok hari.

Paket saya dijemput, harapannya paket yang benar segera saya terima. Sudah tidak sabar ingin cepat-cepat membacaa.

Senin, 13 Januari 2020

#30haribercerita: Menemukan Mady

Tiba-tiba Anggi mengirim WA, mengajak saya untuk datang ke pameran Mady di Plaza Indonesia. Oke, saya langsung mengiyakan. Sepulang kantor, kami menyempatkan datang ke sana.

Pameran lukisannya diikuti beberapa seniman lainnya, bukan cuma Mady. Bahkan ada juga karya patung yang ikut dipamerkan. Lokasinya yang di pusat perbelanjaan untuk kalangan atas, membuat saya berpikir, "Hemmm, lukisan-lukisan ini dipajang di sini bukan hanya untuk ekspresi seni dari si pembuatnya, tapi juga bertujuan untuk menarik calon pembeli."

Bicara tentang Mady, dia adalah teman SMA saya dan Anggi. Memang sejak dulu sudah terlihat minatnya di bidang seni. Di pelajaran kesenian, karyanya sudah mewakili ekspresi personal. Bukan hanya sekadar mencari nilai dengan bikin yang mudah-mudah, ngga kayak saya ehe. Makanya kemarin watu kami berkunjung, Anggi bilang, "Duh, aku terharu nih, kayak liat karya anakku sendiri."

Di pameran kemarin, saya berusaha untuk lebih meresapi dan apresiasi tiap karya yang ditampilkan. Saya bilang ke Anggi, "Nji, misalnya nih boleh pilih satu untuk dibawa pulang. Kira-kira mau pilih yang mana?"
Dengan adanya pertanyaan pancingan kayak gitu, saya jadi bisa berpikir dan lebih personal dalam memandang sebuah karya.

Omong-omong, yang mau berkunjung pamerannya masih berlanjut hingga akhir Januari tahun ini, ya. Ayo temukan lukisannya Mady. :)

Ps:
Mady adalah nama panggilan kami untuk Ramadhyan Putri Pertiwi

*ditulis 18/01/2020

Minggu, 12 Januari 2020

#30haribercerita: Confessions

Di pasar buku Patjar Merah kemarin, saya membeli dua buku: Aku, Meps, dan Beps; dan Confessions. Yang satu saya donasikan sebagai ketentuan ikut kelas Menulis Ekspresif, yang Confessions saya baca habis dalam sehari semalam.

Novel Confessions bercerita soal pembalasan dendam seorang guru SMP akan kematian putrinya, yang dibunuh oleh siswanya sendiri di kelas yang ia ajar sebagai wali kelas. Alur yang maju-mundur dan penggunaan sudut pandang orang pertama dari setiap tokoh yang terlibat, menyeret pembaca untuk seakan berada di sana dan menjadi pelaku yang bercerita.

Saya membacanya tanpa kesulitan untuk menyelesaikan, karena meski alurnya maju-mundur tapi tiap sudut pandang yang disampaikan selalu habis dalam satu bab. Imajinasi yang saya buat jadi tidak tercampur antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.

Pertama saya tahu soal novel Confessions ini justru dari film berjudul sama yang belum saya tonton. Sebuah genre thriller psikologi yang banyak direkomendasikan orang-orang. Juga di acara Post Santa kemarin, beberapa pegiat membaca sangat merekomendasikannya, membuat saya tak ragu untuk menebus novel ini sebagai buku pertama yang habis saya baca di tahun ini.

*postingan in ditulis 18/01.

Sabtu, 11 Januari 2020

#30haribercerita: Patjar Merah Kaget

Sabtu ini saya pergi ke M Bloc. Sedang ada acara literasi di sana, pasar buku dan kelas-kelas dengan topik menarik oleh Patjar Merah. Saya berkesempatan ikut salah satunya, Menulis Ekspresif untuk Kesehatan Mental.

Yang membuat saya tertarik karena saya sedang dalam proses mengenali emosi dan kondisi mental saya belakangan ini. Selain itu, narasumber yang diundang adalah editor dan penerbit novel terjemahan "I Want to Die but I Want to Eat Teokpokki". Buku bacaan yang mengangkat isu kesehatan mental dari pengalaman pribadi penulisnya di Korea Selatan. Ada juga praktisi psikolog yang meramaikan acara semalam.

Menulis sebagai terapi bisa dilakukan untuk mengenali hal-hal yang mengganggu psikis kita. Ada macam-macam metode, misal: menulis dengan alternate ending dari suatu peristiwa yang menimpa kita; menulis emosi dan perasaan yang mengirinya (marah karena kecewa, sedih karena direndahkan, dsb.); ada juga menuliskan apa yang kita rasakan tanpa sensor. Itu yang sebagian saya tangkap.

*ditulis (12/01)

Jumat, 10 Januari 2020

#30haribercerita: Try Out

"Man rabbuka?" (siapa Tuhanmu?)
"Allah." (Allah)

"Man ismuka?" (siapa namamu?)
"Al-qur'an." (Al-qur'an)

😂

Entah gimana mulanya, tapi sore tadi kami tiba-tiba try out soal pertanyaan di alam kubur. Ada Jepri, Nur, dan saya, di musholla kantor selepas sholat Ashar.

Jepri yang sok tau bilang kalo dia udah ngapalin semua jawaban kalo nanti ditanyain malaikat. Saya yang iseng sok-sokan nanya pake bahasa Arab, lalu terjadilah dialog di atas tadi. Dia kira pertanyaan saya itu soal apa kitabmu, makanya dia jawab Al-qur'an. Sesuai urutan jawaban yang udah dia hapal. 😂

Selepas dari try out guyon ini, kami jadi lanjut bahas soal kejadian selepas manusia meninggal nanti. Setau gue ya, kan ada tiga alam nih: alam fana (dunia ini), alam kubur, dan alam akhirat. Urutannya nanti waktu kita meninggal, kalo bisa jawab semua pertanyaan malaikat, maka kita akan melewati alam kubur kayak orang yang tidur. Itu kalo jawabannya bener, ya. Kalo ga bisa jawab, nah manusia itu akan mengalami siksa kubur, sampai hari kiamat.

Di hari kiamat, kita dibangkitkan lagi untuk pengadilan yang paling adil. Yang timbangan kebaikannya berat, insya Allah masuk surga. Nah, yang timbangan keburukannya lebih berat, masuk neraka. Begitu bahasan singkat obrolan sore tadi.

Tumben-tumbenan banget obrolan kita berbobot gini. Saya rasa, salah satu pemicunya karena series "Dajjal" yang lagi Nur dan Jeps ikutin banget di Netflix. Terus Jeps cerita waktu SD dia belajar soal siksa kubur lewat komik-komik azab yang populer dulu. Yang covernya serem-serem, mulai dari manusia berkepala babi sampai siksaan lain.