Rabu, 22 Januari 2020

#30haribercerita: Di Balik #36x36project

Sebuah kisah di balik layar #36x36project. Ternyata saya sempat menulis beberapa catatan sampingan, yang baru sekarang kesempatan di-post. Selamat membaca! :)

Ini tentang sebuah project kolaborasi berbasis kamera analog! Selama 36 hari para partsipannya akan memotret satu frame saja dengan tema yang ditentukan malam sebelumnya oleh akun @36x36project. Satu roll film untuk 36 hari.

Karena hal ini, niatan gue untuk hiatus dari Instagram harus tertunda. Sayang yah, padahal ingin log-out dan sok-sokan detox gitu ceritanya. 😅

Hari-hari pertama gue agak khawatir. Ini filmnya beneran kepotret ga ya. Beneran jadi ga ya ntar. Karena kepikiran hal itu, frame yang gue ambil jadi sekadarnya. Itu yang gue rasa sih.

Pernah di hari ketiga yang temanya pasar, gue udah motret tuh satu frame. Eh, di detik berikutnya objek yang gue incar justru semakin fotojenik (bener ga yah penulisannya begitu 😅). Pingin motret lagi, ga bisa. Mau ngulang ambil foto lagi, ga bisa diulang. Sayang sih, tapi gue harus komit untuk cuma ambil satu frame/hari. Di situ gue dapet pelajaran untuk ga terburu-buru. Harus sabar. Gue seperti diingatkan lagi tentang makna motret dengan analog, yang tiap framenya begitu berharga. Tsah.

Memang dasar gue anaknya sok dan banyak gaya yah. Di hari berikutnya, karena sok mengaplikasikan ilmu sabar yang gue dapat di hari ketiga, gue malah belum ambil foto apapun sampe sore hari menjelang magrib. Selain karena tema yang berubah dengan tantangan berbeda. Tapi jangan kuatir, akhirnya gue berhasil kok untuk mengambil frame untuk hari keempat. Nih, barusan aja sebelum buka puasa. 😉

Gue punya pemikiran untuk hanya memotret ketika ada cahaya matahari. Karena namapun motret dengan film ya, sangat tergantung dengan cahaya. Makanya maksimal sore hari gue harus udah menyelesaikan tantangan motret di hari itu.

Ini baru hari keempat, masih ada 32 hari dengan 32 tema lainnya. Semoga kita semua bisa komit dan istiqomah ya, dan semoga akan selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil di setiap harinya.

🙃

*(26/01)

Selasa, 21 Januari 2020

#30haribercerita: #36x36project

Ini tentang proyek di awal Juni tahun 2019 kemarin. Selama 36 hari kami memotret dengan satu roll film berisi 36 frame kamera analog. Satu frame/satu kata kunci/hari, sampai habis satu roll film itu. #36x36project

Ada banyak cerita, banyak rasa, macam-macam hal yang saya alami selama ikut dalam proyek ini. Debar-debar memencet tombol shutter, kata kunci yang kadang bikin bingung, kadang bikin antusias.. dan lainnya. Yang pada dasarnya terasa menyenangkan.

Sayang, harus terhenti di hari ke-32 karena filmnya lepas di dalam kamera. Gara-gara ini, saya kembali berdebar-debar.

Seorang teman menyarankan untuk langsung membawanya ke lab foto untuk diproses. Saya pun ke sana, dengan debar-debar juga. Kali ini soal hasil gambarnya, bisakah tetap diproses? Akankah sesuai dengan yang dibayangkan sewaktu motret kemarin? Atau justru komedi karena ngeblank?

Ternyata hasilnya tidak segagal yang saya kira. Beberapa foto memang tidak jadi, tapi ada juga yang berhasil. Dan semakin senang rasanya saat foto itu bertemu dengan karya dari pemotret lainnya di pameran bulan Juli kemarin.

Melihat foto teman-teman lain yang juga dipamerkan, secara tidak langsung saya merasa seperti ada koneksi yang muncul. Rasanya seperti orang asing yang belum pernah bertemu masing-masing, tapi bisa saling bercerita lewat foto. :)

*(25/01)

Senin, 20 Januari 2020

#30haribercerita: Anak Magang

Pernah pada suatu malam sepulang kerja, saya melintasi gedung pertokoan dan bertemu segerombol karyawan magang. Saat itu jam operasi toko sudah usai, mereka sedang membereskan troli yang sebelumnya dipakai para pembeli. Sekitar 4-5 orang yang saya temui, dengan seragam hitam-putihnya bersama-sama menumpuk troli dan menyusunnya jadi satu rangkaian panjang.

Di batas akhir troli, ada jalanan menurun yang mengarah langsung ke basement pertokoan. Sambil tertawa mereka beramai-ramai mendorong troli-troli itu dan menungganginya. Suara gesekan roda dan jalanan yang dihasilkan nyaring sekali, semakin kencang seiring kecepatan troli yang meluncur. Melihat mereka tawa-tawa bareng, saya jadi ketularan. Interaksi hangat di antara para karyawan magang itu tersampaikan hingga ke tulang. Di penghujung hari dengan kondisi yang sudah loyo, tapi kalau diingat-ingat energinya masih terasa sampai sekarang. :)))

*(25/01)

Minggu, 19 Januari 2020

#30haribercerita: Menjadi Anonim #2

Menjadi anonim dengan melakukan perjalanan sendiri. Bebas menjadi aku yang lebih memilih jalan daripada naik ojek. Atas nama membakar kalori dari makan banyak sebelumnya.

Bebas menjadi aku, yang memilih makan es krim di bangunan mall tua. Bukan di toko asli tempat legenda itu berdiri.

Bebas menjadi aku, yang lebih banyak diam di suatu tempat. Merenung, mencoba mengenal warga tapi akhirnya memilih menikmati suasana sendiri.

Bebas menjadi aku yang melarat, tanpa peduli kenyamanan teman perjalanan.

Menjadi anonim dan membiarkan matahari menyentuh secara intens, agar bisa bilang,
"Tunggu di sini, aku akan kembali menemuimu dengan kulit yang lebih gelap."

*(25/01)

Sabtu, 18 Januari 2020

#30haribercerita: The Bajau

November 2014, lima ratus warga suku Bajo ditangkap oleh polisi perairan karena tidak memiliki KTP. Dikira nelayan asing yang mencuri ikan, suku nomaden ini telah hidup ratusan tahun di laut, jauh sebelum terbentuknya negara-negara yang lantas mengklaim wilayah perbatasannya masing-masing.
Begitu kurang lebih narasi yang mengawali film dokumenter The Bajau karya Dandhy Laksono. Semalam (18/01), saya menghadiri pemutaran film dan diskusi serta penggalangan dana untuk suku Bajo di M Bloc, masih dalam rangka agenda Patjar Merah Kaget.

Film ini memaparkan bagaimana suku Bajo menghidupi hari-harinya. Tinggal di sampan, menangkap ikan dengan jaring, tombak, dan alat-alat tradisional lainnya. Menyelam belasan menit dengan hanya satu tarikan nafas, hidup dari laut dalam artian sebenarnya. Mungkin yang saya paparkan ini terkesan gagah dan mendukung imaji 'nenek moyangku seorang pelaut', tangguh. Sebaliknya, perasaan yang muncul sejak awal saya menonton pemutaran filmnya adalah pilu.

Dikisahkan bagaimana sulitnya warga Bajo melaut dengan penghasilan yang serba terbatas.

"Yang kami pakai juga perahunya Daeng Rauk. Dia minta 600rb sebulan, tapi bagaimana kami bisa bayar?" ucap seorang warga sambil memperbaiki mesin perahunya yang rusak. Hasil tangkapan yang tidak seberapa, dibeli murah oleh tengkulak. Jelas hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Sementara pemerintah datang dengan kebijakan yang sama sekali asing dengan apa-apa yang biasa mereka lakoni.
"Kalau begini orang Bajo kasihan. Lebih baik kami bantu.. bikin rumah di sini."
Tiap keluarga yang terbantu dibangunkan sebuah rumah dan dua hektar lahan untuk diolah jadi ladang/kebun. Tapi kemudian, pihak perusahaan pengembang datang. Lahan mereka digusur tanpa ganti rugi hingga saat ini.

Penangkapan yang dinarasikan di awal, berlanjut dengan upaya negara untuk 'mendaratkan' suku perairan ini. Niat baik yang seakan memaksa, karena sebenarnya mereka baik-baik saja dengan hidup sebagai pelaut. Pun dengan konflik yang menyusul akibat banyaknya kebutuhan yang mendadak hadir sementara tidak adanya mata pencaharian sejak meraka berkehidupan di darat. Beberapa warga yang sudah dibuatkan rumah di darat oleh Dinas Sosial, tetap kembali melaut karena itulah mata pencaharian yang sudah suku Bajo tekuni bertahun-tahun. Kehidupan mereka sangat tergantung pada hasil laut.

Konflik batin saya rasakan hadir saat menonton dokumenter ini. Di satu sisi, ada pilu melihat sulitnya kehidupan warga Bajo dan narasi pemerintah yang merampas hak-hak warga demi kepentingan 'pembangunan' (pembangunan untuk siapa? Mari pertanyakan). Di sisi lain, saya resah melihat penyu yang dikorbankan dalam upacara adat. Saya meringis melihat kima yang dipecah cangkangnya untuk diambil isinya-karena setahu saya penyu dan kima termasuk biota laut yang dilindungi.

Disampaikan bagaimana suku Bajo sangat menjaga laut sebagai sumber kehidupan, bahkan ampas kopi tidak akan mereka buang ke laut. Sebenarnya ada juga niat baik pemerintah lewat zona konservasi yang pastinya akan membatasi area jelajah suku Bajo. Jika memang peradaban maritim nusantara yang digaungkan, kebijakan ini juga harus diperhatikan pelaksanaannya. Menyaksikan film ini membawa perasaan janggal, namun tetap lebih besar porsinya untuk tetap kritis dengan kondisi peradaban yang terancam oleh pemerintah sendiri.

"Selamat malam, Mas Dhandy. Jujur saya tersentuh sekali dengan karya dokumenter ini. Namun ada konflik batin yang hadir, melihat bagaimana suku Bajo menangkap hasil laut lewat narasi yang ditampilkan. Setahu saya, penyu dan kima merupakan biota laut yang dilindungi. Sehingga muncul pemikiran, bahwa perlu adanya kebijakan yang disampaikan terkait keberlangsungan tradisi peradaban maritim ini. Terima kasih."

*ditulis 19/01/2020.
*rekaman sesi diskusi selepas pemutaran berakhir

Jumat, 17 Januari 2020

Kamis, 16 Januari 2020

#30haribercerita: Cawan Berbisik

Sore ini, tiba-tiba sebuah pesan WA masuk dari nomor yang tidak dikenal. Saya berpikir, "Hmm, mungkin ini kurir JD.ID mau mengantar barang."

Ternyata bukan.

Dia memperkenalkan diri sebagai Yugie Kartaatmaja, seorang seniman keramik lulusan ITB. Akhir tahun kemarin, pamerannya yang berjudul 'Cawan Berbisik' digelar di Jakarta. Konsepnya adalah pengunjung yang datang dapat membisikkan hal apapun ke cawan yang dipamerkan yang ditujukan kepada siapapun orang yang tidak sanggup untuk ia sampaikan langsung. Nantinya cawan berisi bisikan ini akan disampaikan oleh mas Yugie kepada masing-masing penerima pesan.

Mas Yugie bilang, ada seseorang yang menitipkan pesan dalam cawan keramiknya kepada saya. Mas Yugie ingin menyampaikan cawan itu langsung sambil menjelaskan konsep pamerannya lebih lanjut. Pameran yang terinspirasi dari cerita ibunya yang tidak bisa menyampaikan isi hatinya secara langsung. Hingga kemudian ibunya terkena stroke dan menyebabkan hilangnya kemampuan berbicara.

Ini mengejutkan, sekaligus mendebarkan. Membayangkan siapa orang yang mengirim pesannya kepada saya dan apa hal yang ia tidak sanggup untuk menyampaikannya langsung.


Rabu, 15 Januari 2020

#30haribercerita: Jenius Project

J: "Mil, ada design challenge nih. Hadiahnya duit!"
M: "Waaaaak, challenge apaaan Jeeeps?"
J: "Dari Jenius nih, udah gue kirim linknya."
M: "Oke, Jeps!"
J: "Gue daftarin yak, elu ketuanya."
M: "Iya, sip." (santai, belum tentu kepilih ini)
J: "Cashtag lu apa, Mil? Buat data nih."
M: "$yaumil******"
J: "Butuh seorang lagi nih, biar pas bertiga. Ajak yang lain, Mil"
*kebetulan Adnan lagi mampir ke meja sebelah
M: "Nan, cashtag lu apa?"
A: *tanpa curiga langsung ngasih tau
M: "Nah, Jeps dapet tuh cashtagnya Adnan."

Begitulah, saya dan Jepri plus Adnan bergabung dalam satu tim, mendaftar UI/UX Challenge dari Jenius. Saya dan Adnan sebagai UX designer, sementara Jepri jadi UI designer. Target saya, semoga projek ini bisa jadi. Lumayan, untuk tambahan portfolio. :)

Selasa, 14 Januari 2020

#30haribercerita: Paket yang Tertukar

Kemarin Minggu saya membeli buku di Tokopedia. Buku Teokpokki yang selalu habis stok di pasar buku Patjar Merah, dan sedang cetak ulang. Hari ini, sistem lacak pengiriman bilang kalau paketnya sudah sampai dan diterima oleh Pak Minang (resepsionis kantor).

Hore! Langsung saya jemput paketnya ke lobby. Penasaran banget sama buku ini, langsung saya buka bungkusannya. Jeng jeng... buku yang saya terima berbeda. Kok, berubah jadi kisah wattpad. :(

Hemm, pantesan ada yang aneh. Info penerima yang ditulis seller Tokopedia bukan untuk saya. Setelah saya konfirmasi ke seller, ternyata pihak kurir yang salah menempelkan label.

Aih, langsung anjlok mood saya. Udah penasaran banget kan, ada-ada aja kasus paket tertukar begini. Ternyata kurir yang dipakai ini memang punya banyak masalah. Bukan cuma paket saya, banyak keluhan soal paket yang tertukar dan nyasar di akun twitternya. Really-really. :(

Siang itu saya langsung membuat komplain lewat Tokopedia, juga lewat Twitter dengan mention akunnya. Sore harinya, ada kurir yang menghubungi saya bilang akan jemput paket yang tertukar ini esok hari.

Paket saya dijemput, harapannya paket yang benar segera saya terima. Sudah tidak sabar ingin cepat-cepat membacaa.

Senin, 13 Januari 2020

#30haribercerita: Menemukan Mady

Tiba-tiba Anggi mengirim WA, mengajak saya untuk datang ke pameran Mady di Plaza Indonesia. Oke, saya langsung mengiyakan. Sepulang kantor, kami menyempatkan datang ke sana.

Pameran lukisannya diikuti beberapa seniman lainnya, bukan cuma Mady. Bahkan ada juga karya patung yang ikut dipamerkan. Lokasinya yang di pusat perbelanjaan untuk kalangan atas, membuat saya berpikir, "Hemmm, lukisan-lukisan ini dipajang di sini bukan hanya untuk ekspresi seni dari si pembuatnya, tapi juga bertujuan untuk menarik calon pembeli."

Bicara tentang Mady, dia adalah teman SMA saya dan Anggi. Memang sejak dulu sudah terlihat minatnya di bidang seni. Di pelajaran kesenian, karyanya sudah mewakili ekspresi personal. Bukan hanya sekadar mencari nilai dengan bikin yang mudah-mudah, ngga kayak saya ehe. Makanya kemarin watu kami berkunjung, Anggi bilang, "Duh, aku terharu nih, kayak liat karya anakku sendiri."

Di pameran kemarin, saya berusaha untuk lebih meresapi dan apresiasi tiap karya yang ditampilkan. Saya bilang ke Anggi, "Nji, misalnya nih boleh pilih satu untuk dibawa pulang. Kira-kira mau pilih yang mana?"
Dengan adanya pertanyaan pancingan kayak gitu, saya jadi bisa berpikir dan lebih personal dalam memandang sebuah karya.

Omong-omong, yang mau berkunjung pamerannya masih berlanjut hingga akhir Januari tahun ini, ya. Ayo temukan lukisannya Mady. :)

Ps:
Mady adalah nama panggilan kami untuk Ramadhyan Putri Pertiwi

*ditulis 18/01/2020