Seorang penyair mempertanyakan bulan di kalender lewat cuitannya. Seorang pemimpin kota membuat keputusan terkait kondisi kotanya. Seorang aku menghubung-hubungkan dua hal itu.
September ini Jakarta kembali melakukan PSBB. Aktivitas perkantoran yang sebelumnya mulai bergeliat, dibatasi lagi sebab laju penularan corona yang tidak ada henti-hentinya. Alih-alih melambat (tepikan sejenak harapan untuk melandai) angkanya malah meningkat terus. Rencana bioskop yang bersiap buka, berakhir wacana. Setelah melalui semua ini, kita masih harus di rumah lagi.
*postingan ini didedikasikan untuk Maret yang saya lewatkan.
Rasanya lama sekali, sejak terakhir saya duduk di luar, bertemu langsung dengan teman. Bicara, bergurau, mengutuki keadaan dan ketidakadilan yang tak habis-habisnya. Lalu membuka buku dan membalik lembar-lembarnya, menukar isi kepala, sambil sesekali memungut kertas (atau ponsel) yang jatuh dari sela-sela.
Sejenak, kondisi pandemi melebur jauh jadi latar belakang;
Sore itu kami berempat melingkar di halaman belakang Panna. Ada saya, Qolbee, Aldrin - the viral spiritual guy, dan mas Adit - a humble photobook collector, yang bergiliran membagi kisah buku foto pilihan masing-masing. Sebenarnya ada seorang lagi, Ply, tapi dia sibuk mondar-mandir.
Diawali oleh Qolbee yang membawa kami bersama-sama mengalami mati lampu di New York tahun 1965. Foto-foto hitam putih karya fotografer René Burri, berhasil mengabadikan gelapnya kota New York di masa itu dan chaos yang menyertainya; kelumpuhan tranportasi. Lanjut buku kedua, kami dibawa menyaksikan kehidupan orang-orang Roma (istilah lain dari Gipsi) dan kesederhanaannya yang tulus lewat jepretan Koudelka.
Bergantian mas Adit menghadirkan sosok poetic Rinko Kawauchi dan simbol surga-neraka dalam wujud pembakaran ladang. Juga pengalamannya menghadiri pameran foto di Jepang, tanpa penerjemah. Sambung-menyambung dengan Aldrin dan kekagumannya pada mas Erik Prasetya, The Banal Aesthetic, yang merekam suasana Jakarta di tahun 91-92.
Tiba giliran saya. Agent Orange karya Jefri Tarigan menghadirkan kisah korban senjata kimia dari perang Vietnam. Perang yang bahkan tidak didukung oleh masyarakat Amerika sendiri pada masa itu, tapi dampaknya masih terasa hingga sekarang mencapai tiga generasi. Perang yang tidak membawa apa-apa sama sekali, kecuali kerugian.
Panna Lab
Sebuah topik dan pertemuan yang sangat-sangat menjadi oase di masa jaga jarak ini. Ada perenungan, sedikit pembahasan komposisi dan pandangan moral dalam memotret yang mengisi kepala kami, lebih-lebih bagi saya yang lama tidak berfotografi. Juga curhatan Aldrin yang ingin menjadi foto jurnalis dan viral dengan karyanya, bukan viral sebagai the spiritual guy. :')
Sejenak, saya lupa bahwa kondisi masih belum kembali ke suasana normal. Pandemi masih belum selesai. Sedih memang, tapi jangan memperparah situasi. Percaya saja, keadaan akan kembali ke masa yang jauh lebih baik lagi.
Kalo ga salah ingat, pertama kali saya menangisi orang lain itu waktu kelas satu SMP. Saat itu, kakek saya yang tinggal satu-satunya meninggal. Pengenalan emosi saya masih belum baik. Entah memang sedih karena ditinggal atau sadar saya tidak punya kakek-nenek lagi, yang jelas itu tangisan pertama yang saya ingat akibat kepergian orang lain.
Peristiwa lainnya di tahun 2011, kali ini bapak meninggal. Saya ingat waktu itu sedang di angkot, dalam perjalanan menuju terminal Baraniangsiang. Beberapa saat sebelumnya ibu saya mengirim pesan kalau bapak masuk rumah sakit, cepat pulang.
Belum setengah perjalanan, bapak sudah berpulang duluan.
Sambil menatap jendela angkot, terbayang beberapa hari sebelumnya saat saya pamit ke Bogor untuk masuk kuliah lagi. Bapak bertanya, "Kapan pulang lagi, Mil?". Itu terakhir kali saya mencium tangan bapak.
Saya nahan nangis. Perjalanan ke rumah masih panjang, tapi sesampainya di sana tangisan saya malah ga keluar. Suasana ramai dengan orang melawat dan kesibukan lainnya mengurus pemakaman.
...
Pagi ini, Pak Sapardi meninggal. Innalillahi, kepergian yang mendadak. Apa dasar sayanya saja, ya, yang tidak update kondisi beliau akhir-akhir ini? :'(
Ada banyak alasan seseorang menangisi kepergian orang lain. Berbeda dari kabar duka sebelumnya, kali ini saya sulit mengenali perasaan sedih akibat ditinggal Pak Sapardi. Meski begitu, tidak perlu alasan khusus untuk menangis karena rasanya memang sebegitu sesak.
Mengenang beliau, saya mencari tulisan-tulisannya yang telah diterbitkan. Ah sial, tak satu pun kumpulan puisinya saya simpan. Beruntung saya menemukan buku yang beliau tulis sebagai apresiasi puisi bagi sastrawan lain. Pembatas bukunya bertuliskan puisi Pada Suatu Hari Nanti, yang lewat larik-lariknya seakan menenangkan bahwa beliau akan tetap dapat ditemui keberadaannya hingga kapanpun,
...
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
...
(1991)
Selamat jalan, Pak Sapardi..
Yang fana adalah waktu, karyamu abadi..
Belum pernah saya merasa sekalut ini. Saking kalutnya, saya ingin menahan tanggal 5 Juli agar jangan datang dulu. Tunggu sebentar saja.. saya tidak ingin melaluinya secepat ini.
Gunanto atau yang lebih sering dipanggil Gupak adalah ayahnya Arifin. Mereka sepasang ayah-anak yang diangkat kesehariannya dalam film Negeri di Bawah Kabut (2011).
Tanggal 19 Juni kemarin Pak Gupak meninggal. Jujur, meski cuma dari film dan ga kenal beliau langsung, tapi rasanya sedih mendengar kabar duka ini.
Pak Gupak yang pekerja keras dan sayang keluarga. Terbayang bagaimana dulu beliau mengusahakan kelanjutan sekolah Arifin walau pusing menyiapkan biayanya.
Pak Gupak yang walau keliatannya cuek dan jarang menunjukkan perasaannya, tapi nangis waktu ditinggal Arifin masuk pesantren.
Pak Gupak yang ... yang meski saya cuma tahu dari film, terus mendukung pendidikan anaknya meski beliau sendiri ga sempat bersekolah.
Innalillahi wa innailaihi roji'un. Selamat beristirahat, Pak Gupak. Kerjamu sudah selesai. 🙏
berusaha terlalu keras, repot-repot mengurusi banyak hal demi kepentingan orang banyak, dan kedua hal itu diketahui orang-orang, kenapa rasanya malah jadi tidak keren, ya? padahal tidak ada yang salah dengan hal ini dan dalam kenyataannya saya berterimakasih kepada yang mau repot-repot begitu.
di kantor saya, ada seorang rekan yang dengan sukarela menjadi penghubung antara para pengambil keputusan dan kami (kroco-kroco yang malas berhubungan langsung dengan petinggi). biasanya hal yang diurus adalah masalah administrasi seperti absen dan ketentuan kalo kami ingin kerja remote, atau bisa juga keluhan-keluhan kami yang tidak mau nurut dengan peraturan baru.
mungkin ini perasaan saya saja yang usil, tapi jelas saya tidak mau ada di posisi rekan itu yang menjadi pengurus kepentingan dua belah pihak, karena selain repot rasanya juga tidak ada keren-kerennya mengurusi hal tersebut. belum lagi kalau ada miskom dan pertanyaan yang ada-ada saja.
sekarang, saya sedang mengerjakan projek dari anak perusahaan lain sambil tetap diam di rumah. bekerja remote dengan orang-orang baru yang belum pernah saya temui langsung, komunikasi kami hanya sebatas chat wa dan concall. entah mengapa, saya merasa ada di posisi rekan saya yang dari tadi kita bicarakan sejak awal tulisan ini. saya yang harus inisiatif melaporkan progres kerjaan saya, di saat tidak ada yang meminta, di saat tidak ada yang langsung menanggapi progress yang saya laporkan, meski lingkarannya hanya satu tim di grup wa.
saya tidak merasa keren, karena saya yang harus berusaha duluan. aduh, ini sih benar-benar hanya rengekan saja karena biasanya saya yang ditagih, ditanyakan pendapatnya, dan sekarang lain.
bagaimanapun, daripada saya terlalu banyak berasumsi, sebenarnya lebih baik diutarakan saja toh? kebingungan saya soal komunikasi antar tim, yang sebenarnya selow dan santuy, tapi kalo tidak ditanggapi begini saya jadi merasa bertepuk sebelah tangan.
itu kegelisahan yang saya rasakan, sih. saya yang tidak keren.
tidak keren, tapi.. ini bukan hal yang buruk juga, ya.
Selama 10 hari kemarin (29 Mei - 7 Juni), YouTube menayangkan film-film hasil kurasi festival internasional secara gratis. Dalam suasana pandemik dan banyak event film festival yang dibatalkan, maka dipilihlah cara online seperti ini sekaligus menggalang dana untuk didonasikan. Berikut adalah beberapa judul film yang sempat saya tonton.
1. Mary is Happy, Mary is Happy (2013)
Film ini diangkat dari cuitan akun Twitter Mary Marlony, bercerita soal kehidupan remaja bernama Mary sebagai siswi tahun terakhir di Thailand. Berlatar proyek buku tahunan sekolah, penonton diajak terlibat dalam adegan-adegan absurb disertai quote dari cuitan Mary.
2. Inabe (2013)
Film ini alurnya tenang sekali, konfliknya datar-datar saja, tonenya juga lembut. Berlatar suasana pedesaan Jepang, kisah yang diangkat adalah kepulangan seorang anggota keluarga setelah lama menjalani kehidupan barunya di kota lain. Awalnya saya merasa kekuatan film ini adalah scene pemandangan suasana desa yang indah, tapi adegan di lima menit terakhir langsung mengubah semua itu. Sebuah plot twist yang tidak disangka akan membumbui film setenang ini.
3. Ice Cream and the Sound of Raindrops (2017)
Selama 74 menit film ini dihadirkan dalam adegan one take shoot. Sejak awal mulai hingga selesai, sorot kamera selalu mengikuti tokoh utamanya kemana pun dia beradegan. Berlatar perjuangan kelompok teater dalam mempersiapkan pentasnya, dari mulai audisi, latihan, gladi resik hingga waktunya pertunjukan. Mengingatkan saya akan film Jepang lainnya, One Cut of the Dead, yang sama-sama menyenangkan untuk ditonton.
4. Tremble All You Want (2017)
Drama rom-com yang manis. Pemeran utama perempuannya mirip dengan penyanyi Isyana. Berkisah tentang seorang gadis introvert yang selalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan perubahan yang ia alami saat didekati oleh teman satu kantor.
5. Cerulia (2017)
Animasi pendek ala stop-motion dari Mexico yang bercerita soal gadis dan kenangan masa kecilnya di sebuah rumah. Ceritanya agak horor dengan nuansa spooky, tapi ada satu adegan indah sekali yang benar-benar berkesan dan membuat saya suka dengan film ini.
6. Shannon Amen (2019)
Film animasi pendek ini merupakan tribute dari sang sutradara untuk temannya yang sudah meninggal. Ceritanya sangat emosional dan visualnya pun indah, ditambah dengan kombinasi dari real footage dan teknik pahatan es yang memperkuat ceritanya dengan isu yang cukup sensitif. Konflik yang dirasakan tokoh bisa sampai ke orang-orang yang menontonnya.
Ini karya #spotifart yang saya buat. Setelah berhari-hari maju-mundur untuk ikut trend ini, akhirnya berhasil juga nih bikin satu dan berani untuk nge-post hasilnya.
Keren juga ya kalo diliat-liat? Wkwk.
Sejak liat trend ini di Twitter, saya penasaran mau coba. Sempat ragu soalnya kemampuan imaji spasial saya ga bagus, dalam arti susah untuk membayangkan layout atau posisi dari sebuah bidang.
Misal, saya mau nulis "Selamat Ulang Tahun" di kartu ucapan yang posisinya di tengah gitu. Nah, saya ga bisa mengira-ngira pasnya di mana biar kalimat itu persis di tengah-tengah kartu. Kejadian yang udah-udah, pasti kurang ke tengah atau malah kertasnya jadi ga cukup karena terlalu ke pinggir. Ga bisa tuh saya kayak Ratna yang bisa mulus banget menulis halus dalam sekali gores tanpa penghapus/tipe-ex sekalipun. 😂
Padahal kunci dari tantangan ini gimana kita menambahkan elemen pendukung sampai jadi satu layar full.
Selain itu, terbatasnya jenis brush di Instagram story bener-bener maksa kita untuk kreatif dan sabaaar untuk menghasilkan #spotifart yang kita mau. Belum lagi kalo ga sengaja mencet tombol undo, semua goresan yang susah-payah kita buat akan kereset dalam sekejap. 😂
Susah-susah bikin ini sebenernya buat apa sih? Tentu bukan untuk dibilang keren dan ga bisa nolak juga kalo saya nyatanya sedang ikut-ikutan trend. Tapi, satu hal yang bikin penasaran adalah bisakah saya yang 'ga bisa' gambar dan lemah spasial ini ikut meramaikan postingan #spotifart?
Jadi inget omongannya Papin yang selalu bilang, "Menggambarlah untuk bersenang-senang."
Bermodalkan omongan itu, saya jadi mikir pasti bisa deh nih bikin karya serupa yang sesuai dengan kemampuan dan imajinasi saya. Yang juga menarik dari tantangan ini adalah sangat tidak terbatasnya jenis karya yang bisa kita hasilkan. Trik apapun bisa dipakai untuk memaksimalkan tools yang ada di Instagram Story.
Dan saya senang sekali, karena akhirnya bisa menjawab tantangan itu. :_)))
Ada banyak dimensi yang ditawarkan film dokumenter ini, tentang masyarakat yang sehari-harinya hidup dari bertani.
Bagaimana mereka menghadapi gagal panen, yang akibatnya mengancam kebutuhan hidup hingga panen berikutnya. Lalu soal perubahan cuaca yang tidak lagi sama menurut perhitungan kalender Jawa, juga harga jual hasil panen yang murah, jalan desa yang rusak, hingga infrastruktur yang tidak rata.
Dimensi lainnya ditampilkan lewat anak-anak dengan konflik yang berbeda: soal melanjutkan pendidikan. Walau biaya sekolah negeri gratis, tapi untuk ongkos dan seragam tetap saja butuh uang. Mencari pinjaman dan hutang ke tetangga pun sulit, karena sama-sama pas-pasan. Ada juga yang terpaksa tidak lanjut karena dinikahkan oleh orangtuanya selepas lulus sekolah dasar, dan kesulitan ini bukan tidak mungkin dialami anak-anak berprestasi.
Kesederhanaan yang intim sekali dihadirkan film ini lewat tungku kayu bakar, bukan hanya sebagai kompor sumber kegiatan rumah tangga tapi sekaligus penghangat ruangan di udara dingin. Banyak interaksi berpusat di tungku kayu ini, mulai memotong kuku anak sampai menghitung pengeluaran hasil panen.
Dengan latar desa di pegunungan Merbabu, percakapan sehari-harinya yang diantarkan dalam bahasa Jawa membuat film ini semakin intim bagi saya. Orang-orang di dalamnya terasa sebagai tetangga di kampung. Interaksi antarpedagang di pasar, mirip dengan pasar induk di Kroya. Karung-karung sayuran dan ibu-ibu yang menghidupinya. Bahkan budaya pesantren sebagai pendidikan alternatif yang juga banyak dijalani saudara saya. Sekarang, saya punya cara pandang baru terhadap mereka.
Seorang kawan menyesalkan film ini yang hanya diputar lewat kanal YouTube. Saya yang berpikiran pendek, senang-senang saja karena tidak perlu membayar biaya langganan, tapi tidak lama keresahan kawan itu bisa saya rasakan juga.
Film sekaya ini, rasanya akan tetap banyak yang suka dan menikmatinya kalaupun disediakan lewat layanan VOD dan sebaiknya begitu. Film ini harus ditonton lebih banyak orang lagi, diresapi lebih banyak jiwa lagi.
Ini film dokumenter yang sangat intim dan jujur, juga sederhana. Namun kaya dengan banyaknya isu yang diangkat.
Konflik disajikan pelan dan halus lewat tutur tokoh di dalamnya. Pendapatan hasil panen yang tidak seberapa, harus pintar-pintar diputar untuk biaya bibit, pupuk, pestisida, makan sehari-hari, dan cicilan hutang. Padahal belum tentu hasil panen berikutnya cukup untuk menambal tanggungan sebelumnya, dan meski bertani, tapi tidak semua menggarap lahan sendiri.
Walau begitu, sesama warga tetap saling membantu dan mengerti dengan kondisi masing-masing yang sama-sama sulit.
Para tokoh di dalamnya tetap menjalani hidup dengan 'enteng-enteng' saja dan beraktivitas seperti biasa. Bahagia, sederhana.
Kamu, cobalah tonton dan resapi maknanya. Ini tentang kehidupan saudara dan keluarga kita yang berprofesi sebagai petani, di negara yang katanya agraris.
Artikel ini juga tayang di urbantani.id dengan sedikit penambahan dan penyesuaian isi