Sabtu, 05 Desember 2020

DAY 5: Your parents

Peristiwa ini sudah lama terjadi, sekitar tiga atau empat tahun lalu ketika Ibuku tumben-tumbenan menceritakan kenangannya dengan alm. Bapak.

Ibuku bercerita, dia berusia 24 tahun ketika menikah dengan Bapak. Mereka menikah tanpa pacaran, tanpa pendekatan. Hanya lewat satu pertanyaan dan niat baik yang didukung masing-masing keluarga besar.


Ceritanya waktu itu nenek saya membuka warung makanan. Bapak muda (saat itu belum menikah dengan Ibuku) adalah salah satu pelanggan. Oh iya, rumah orangtua Ibuku dan Bapak masih di satu gang yang sama, jadi mereka kurang lebih memang sudah saling kenal tapi hanya sebatas tetangga.


Bapak yang memang suka berterus-terang tiba-tiba bertanya kepada nenek saya, “Ela (Ibuku) udah punya calon belum?”


Nenek saya langsung melapor ke Kakek saya. Malam harinya, saat solat jamaah bersama di masjid Kakek saya bertanya langsung ke Bapak, “Kamu serius mau melamar Ela? Kalau iya, ajak orangtuamu ke rumah.”


Lalu Bapak datang beserta keluarga besarnya untuk melamar Ibuku. Kakek saya langsung meneruskan niat baik Bapak dan Ibuku menerimanya!


“Kok langsung mau, Ma? Kan ga kenal deket,” tanya saya dengan trust issue yang tinggi.


Jawab Ibuku, karena Bapak rajin jamaah solat di masjid.


Di tahun 1989 akhirnya mereka menikah, sepasang pengantin yang terpaut beda usia cukup jauh. Ibuku 24 tahun, Bapak 39 tahun. Begitulah, kisah cinta Ibuku dan Bapak. 🌝


Seingatku, Bapak orang yang keras dan galak tapi supel dan punya banyak kenalan. Heran, sifatnya yang mudah bergaul ini tidak menurun ke anaknya satupun.


Ibuku kebalikannya, orang yang sabaaaar sekali. Ampun, tidak pernah sekalipun Ibuku melawan Bapak. Sepanjang hidupnya diabdikan untuk melayani dan merawat Bapak dengan sabar.


Bapak dulu bekerja sebagai orang proyek, dia bertugas menggambar rancang bangunan, sepertinya begitu. Sementara Ibuku full-time mengurusi rumah tangga. Sering Bapak pergi ke proyek mana, ke Duri, ke Gresik, sehingga waktu kecil hidup kami sempat pindah-pindah. Kecuali lewat foto, tidak ada satu kenangan pun yang saya ingat. 😅


Sudah agak besar, ingatan saya adalah Bapak yang selalu menelpon ke rumah saat akan selesai proyek. Bertanya mau oleh-oleh apa, dan selalu kami (anak-anaknya) jawab Fanta! Dulu Fanta minuman yang istimewa sekali, seiring kenangan Bapak pulang proyek dan masa-masa lebaran.


Bapak dan Ibuku sama-sama lahir dari keluarga besar. Bapak anak ke-5 dari 10 bersaudara, sementara Ibuku anak ke-6 dari 8 bersaudara. Enaknya setiap libur lebaran kami hanya perlu mudik ke satu tempat, karena saudara-saudara semua berkumpul di satu kota yang sama.


Bapak muda
 
Ibuku muda, mungkin dipotret Bapak :')

Jumat, 04 Desember 2020

DAY 4: Places you want to visit

Nanti kalau pandemi udah selesai atau ketika kondisi udah jauh lebih baik, kita ke Seaworld ya. Seharian di sana, ngeliat ikan berenang, foto-foto di akuarium. :')

Ya?

Kamis, 03 Desember 2020

DAY 3: A memory

Kamisan 613

“Bray, gue ijin pulang cepet ya. Mau anter nyokap berobat.”


Di Kamis itu, saya ijin pulang kantor lebih cepat dari biasanya. Selain memang jadwalnya Ibuku kontrol ke dokter, tapi ada agenda lain yang sudah lama ingin saya lakukan: ikut #aksikamisan.


Dengan ijin menemani Ibuku berobat, saya melipir ke istana merdeka dulu. Teman-teman satu tim yang saya pamiti dan tahu fakta ini, langsung 'menyerang' keesokan harinya. 🌝


Diantar abang ojol, saya sampai di lokasi. Begitu turun dari motor, saya langsung terenyuh. Ternyata #aksikamisan dilakukan bukan di depan pagar istana, tapi di seberangnya. Jauh, jauh dari pagar, jauh dari jendela, jauh dari para penghuni istana, dipisahkan lebarnya jalan Medan Merdeka. Pun masih dijaga beberapa petugas keamanan yang menenteng senjata api di tangan. Miris.


Pikir saya, ya ampun ternyata ‘negara’ masih menjaga jarak dengan rakyatnya sendiri yang bertahun-tahun menggelar aksi protes damai ini.


Saya mendekati kerumunan orang berbaju hitam, dalam naungan payung-payung hitam. Saya bertemu Pak Effendi dan Bu Sumarsih, beliau ramah sekali menyambut saya yang baru kali ini bergabung.


Tidak lama, agenda aksi hari itu dimulai. #aksikamisan ke-613 di Desember 2019.


Selebaran berisi tuntutan yang disusun oleh Bu Sumarsih dibagikan. Beberapa orang bergantian bicara soal maksud dan tujuan, api pengingat kenapa aksi damai ini terus dilakukan. Terus dilakukan. Terus dilakukan.


Terus dilakukan di tiap Kamis, sampai negara mengakui kekeliruannya melanggar HAM rakyatnya sendiri.


Aksinya sendiri berlangsung tidak lama, sekitar 1-2 jam sampai benar-benar bubar. Kami, para peserta aksi, tidak melakukan apa-apa yang mengancam. Kami hanya diam, memandang ke arah istana, berdiri tegak. Menanti ada perwakilan negara yang datang mendengarkan, tapi yang ada hanya petugas keamanan bersenjata.


Pak Effendi berkisah pada saya soal keterlibatannya di aksi ini.. Pesan beliau, jangan sampai apa yang terjadi di masanya terjadi lagi di generasi selanjutnya, di generasi saya. Jangan sampai pelanggaran HAM ini dilupakan, itulah alasan beliau mengikuti #aksikamisan ini.


Di akhir aksi, saya pamit kepada Bu Sumarsih dan Pak Effendi.


Sampai sekarang saya belum pernah ikut lagi #aksikamisan secara langsung. Meski begitu, di masa pandemi ini  #aksikamisan masih terus berlangsung. Tidak di seberang istana, tapi lewat gerakan online atau offline yang terpisah di beberapa daerah.


Kamis ini 3 Desember 2020, #aksikamisan ke-659 #DiRumahAjaDulu.

Rabu, 02 Desember 2020

DAY 2: Things that makes you happy

Those things that makes me happy is, in the other hand, also things that can make me sad

Saya jadi mempertanyakan apa arti bahagia dan bagaimana saya meresponnya. Apa saya benar-benar bahagia atau ..


Baik. Saya akan mulai dengan hal-hal yang senang saya lakukan tanpa pikir panjang.


Saya senang pergi sendirian. Datang ke suatu event gratisan yang tanpa seorang pun saya kenal. Biasanya karena event-event itu memutar film atau pertunjukkan apa, pameran apa tanpa harus bayar tiket. Mau film yang tidak saya mengerti pun, I’m going there for sure.


Saya senang naik transportasi umum. Menyenangkan karena tidak perlu menghapal jalan. Praktis.


Saya senang punya teman bicara, yang bisa diajak diskusi film atau eksperimen memasak atau karir atau penyesalan, apa pun hal-hal receh lainnya.


Saya senang menonton film, utamanya yang gratisan macam di acara festival. Selain gratis, film-film yang diputar juga hasil seleksi kurator dan seringnya menawarkan cerita yang berbeda. (baca paragraf empat ;))


Beberapa film yang cukup berkesan, diantaranya tentu One Cut of The Dead! Satu studio ketawa ngakak, sumpah. 🤣Pengalaman menonton yang super seru bersama sahabat saya.

Selasa, 01 Desember 2020

DAY 1: Describe your personality

Malam itu Minggu kliwon dan hampir tengah malam ketika Ibuku melahirkan seorang bayi perempuan di sebuah daerah bernama Buntu. Begitu sih yang saya dengar soal bagaimana saya bisa lahir. Lalu bulek atau bude-bude akan menghubungkan faktor weton itu dengan karakter kanak-kanak saya yang lebih berani ke kamar mandi sendirian tanpa ditemani. Kalo ga salah ingat begitu, ya. :)


Saya tumbuh dengan dua saudara laki-laki, yaitu adik dan kakak saya. Usia kami yang tidak terlalu jauh membuat saya lebih familiar dengan pasukan Power Rangers yang selalu menang melawan musuhnya di tiap episode dibanding film India romantis Kuch-Kuch Hota Hai yang sampai sekarang belum pernah saya tonton. Hahaha.


Sejak kecil saya sudah sangat tertutup dan pemalu. Bicara sekenanya, menjawab kalau hanya ditanya. Sesuatu terjadi dan entah ada apa dengan masa lalu saya sampai saya jadi sependiam itu. Meski begitu, tapi saya bisa aktif loh ikut PMR di sekolah sampai jadi pengurus segala. Kalau dipikir lagi, kok bisa ya? 🌝


Dulu saya memandang karakter ini sebagai sesuatu yang keren, cool begitulah rasanya. Sampai ada seorang teman perempuan di sekolah yang bilang dia mungkin akan naksir saya saking coolnya, dengan catatan kalo saya ini laki-laki. Sekarang.. ini jadi kebiasaan yang terasa merepotkan.


Karena terbiasa menutup diri, teman saya tidak banyak dan saya jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan kegiatan yang bisa dilakukan sendirian. Menonton — OH, I LOVE MOVIES SO DAMN MUCH (nanti kita bahas ini di postingan lain ya) — berkeliaran sendirian, (dulu) membaca, tidur, memasak, bikin kue lalu bingung bagaimana menghabiskannya. Menganut asas trias politica dari saya, oleh saya, dan untuk saya.


Kondisi tertutup ini membuat saya agak sulit berinteraksi dengan orang lain, utamanya yang baru kenal dan kita tidak dekat. Saya lebih suka mengamati dan terjebak asumsi duluan. Hahaha. Selain tidak pintar membuka obrolan, memang seringnya orang lain yang mulai duluan.


Belakangan ini saya mencoba untuk lebih membuka diri dan aktif memulai duluan. Ternyata tidak semenakutkan itu, tapi juga tidak mudah. Terlalu sering sendirian, saya jadi punya banyak suara di kepala dan membuat saya jadi seorang yang overthinking.


Is she/he have a great time with me?

Am I interesting? Am I good? Are we friends?

Jumat, 30 Oktober 2020

Kemana Hidup Akan Sampai


Sebulanan ini merupakan hari-hari yang berat. Dari sekian banyak capaian hidup sebagai makhluk sosial, banyak yang belum saya penuhi. Tidak punya pasangan, belum dapat ganti pekerjaan, tidak ada penghasilan sampingan, sampai kehilangan hadirnya sosok teman.

Mengikuti kata hati memang bukan pilihan yang mudah, ya kan? Sejak masa sekolah hingga sekarang, rasa-rasanya baru kali ini saya nekat dan benar-benar keluar dari zona aman. Keluar dari pekerjaan yang mapan saat belum dapat pegangan, bertaruh pada tawaran yang akan datang. Berlindung di bawah ketiak idealisme yang tidak pantas disebut idealis juga.

Bodohnya saya yang kurang perhitungan ini. Bertaruh saat semua sedang dalam situasi sulit. Bahkan untuk bertahan hidup sekalipun.

...

Belum pernah saya sekalut ini memikirkan nasib sendiri. Saya bukan perencana yang baik, terlalu banyak andai yang saya pertaruhkan dalam keputusan kali ini. Si dia yang satu itu memang terlihat tidak ambisius, tapi setidaknya dia punya rencana. Si dia yang satu lagi, bukannya malas, tapi memang ada prioritas lain dalam hidupnya. Saya? Tergampar realita sambil terus menunggu datangnya kabar baik.

Hari baik, tanggal baik, bulan baik. Kemana hidup ini akan sampai?

Omong-omong soal mimpi (walau dalam kasus saya kurang realis; tapi sejak kapan sih mimpi terbatas hanya pada hal-hal yang realis?) terus terang sebongkah benda tanpa wujud itu yang membuat saya masih bertahan -- selain karena itu satu-satunya pilihan.

Mimpi diterima bekerja di perusahaan asal Singapore yang membuat saya terbiasa cas-cis-cus bercakap dalam bahasa Inggris walau tidak fluent. Mimpi bergabung dalam sebuah tim multinasional, bersama-sama mengembangkan aplikasi pembelajaran bahasa. Mimpi kondisi pandemi ini segera berakhir dan semua akan kembali baik-baik saja.

Dari hasil refleksi ini, saya benar-benar digampar oleh frase "never take anything for granted".

Hal yang kamu sia-siakan sebenarnya sangat berharga, tapi kamu sendiri baru sadar ketika hal itu tidak kamu miliki lagi. Pekerjaan yang saban hari kamu keluhkan itu, toh masih lebih baik dibanding tidak punya penghasilan. Teman yang kamu anggap hanya mengganggu dan sering kamu abaikan, toh membuatmu kehilangan juga sewaktu dia berhenti menghubungimu.

Mimpi boleh tapi jangan lupa berkaca supaya sadar seberapa pantasnya kamu menerima hal yang kamu impikan itu. Idealis boleh tapi harus tetap realis.

Yah pada akhirnya yang bisa kita lakukan adalah bertahan. Kita tidak pernah tahu kemana hidup akan sampai.

Kamis, 22 Oktober 2020

Sampai Oktober

Kita tidak tahu ke mana hidup ini akan
sampai Oktober di depan mata

hari baik, tanggal baik, bulan baik
kita masih menunggu kabar baik

Rabu, 23 September 2020

maret tanggal seratus delapan puluh tiga

Seorang penyair mempertanyakan bulan di kalender lewat cuitannya. Seorang pemimpin kota membuat keputusan terkait kondisi kotanya. Seorang aku menghubung-hubungkan dua hal itu.

September ini Jakarta kembali melakukan PSBB. Aktivitas perkantoran yang sebelumnya mulai bergeliat, dibatasi lagi sebab laju penularan corona yang tidak ada henti-hentinya. Alih-alih melambat (tepikan sejenak harapan untuk melandai) angkanya malah meningkat terus. Rencana bioskop yang bersiap buka, berakhir wacana. Setelah melalui semua ini, kita masih harus di rumah lagi.

*postingan ini didedikasikan untuk Maret yang saya lewatkan.

Rabu, 19 Agustus 2020

It's been a while: a photobook discussion

Rasanya lama sekali, sejak terakhir saya duduk di luar, bertemu langsung dengan teman. Bicara, bergurau, mengutuki keadaan dan ketidakadilan yang tak habis-habisnya. Lalu membuka buku dan membalik lembar-lembarnya, menukar isi kepala, sambil sesekali memungut kertas (atau ponsel) yang jatuh dari sela-sela.

Sejenak, kondisi pandemi melebur jauh jadi latar belakang;

Sore itu kami berempat melingkar di halaman belakang Panna. Ada saya, Qolbee, Aldrin - the viral spiritual guy, dan mas Adit - a humble photobook collector, yang bergiliran membagi kisah buku foto pilihan masing-masing. Sebenarnya ada seorang lagi, Ply, tapi dia sibuk mondar-mandir.

Diawali oleh Qolbee yang membawa kami bersama-sama mengalami mati lampu di New York tahun 1965. Foto-foto hitam putih karya fotografer René Burri, berhasil mengabadikan gelapnya kota New York di masa itu dan chaos yang menyertainya; kelumpuhan tranportasi. Lanjut buku kedua, kami dibawa menyaksikan kehidupan orang-orang Roma (istilah lain dari Gipsi) dan kesederhanaannya yang tulus lewat jepretan Koudelka.

Bergantian mas Adit menghadirkan sosok poetic Rinko Kawauchi dan simbol surga-neraka dalam wujud pembakaran ladang. Juga pengalamannya menghadiri pameran foto di Jepang, tanpa penerjemah. Sambung-menyambung dengan Aldrin dan kekagumannya pada mas Erik Prasetya, The Banal Aesthetic, yang merekam suasana Jakarta di tahun 91-92.

Tiba giliran saya. Agent Orange karya Jefri Tarigan menghadirkan kisah korban senjata kimia dari perang Vietnam. Perang yang bahkan tidak didukung oleh masyarakat Amerika sendiri pada masa itu, tapi dampaknya masih terasa hingga sekarang mencapai tiga generasi. Perang yang tidak membawa apa-apa sama sekali, kecuali kerugian.

Panna Lab


Sebuah topik dan pertemuan yang sangat-sangat menjadi oase di masa jaga jarak ini. Ada perenungan, sedikit pembahasan komposisi dan pandangan moral dalam memotret yang mengisi kepala kami, lebih-lebih bagi saya yang lama tidak berfotografi. Juga curhatan Aldrin yang ingin menjadi foto jurnalis dan viral dengan karyanya, bukan viral sebagai the spiritual guy. :')

Sejenak, saya lupa bahwa kondisi masih belum kembali ke suasana normal. Pandemi masih belum selesai. Sedih memang, tapi jangan memperparah situasi. Percaya saja, keadaan akan kembali ke masa yang jauh lebih baik lagi.

Selamat Hari Fotografi Dunia. :')