Peristiwa ini sudah lama terjadi, sekitar tiga atau empat tahun lalu ketika Ibuku tumben-tumbenan menceritakan kenangannya dengan alm. Bapak.
Ibuku bercerita, dia berusia 24 tahun ketika menikah dengan Bapak. Mereka menikah tanpa pacaran, tanpa pendekatan. Hanya lewat satu pertanyaan dan niat baik yang didukung masing-masing keluarga besar.
Ceritanya waktu itu nenek saya membuka warung makanan. Bapak muda (saat itu belum menikah dengan Ibuku) adalah salah satu pelanggan. Oh iya, rumah orangtua Ibuku dan Bapak masih di satu gang yang sama, jadi mereka kurang lebih memang sudah saling kenal tapi hanya sebatas tetangga.
Bapak yang memang suka berterus-terang tiba-tiba bertanya kepada nenek saya, “Ela (Ibuku) udah punya calon belum?”
Nenek saya langsung melapor ke Kakek saya. Malam harinya, saat solat jamaah bersama di masjid Kakek saya bertanya langsung ke Bapak, “Kamu serius mau melamar Ela? Kalau iya, ajak orangtuamu ke rumah.”
Lalu Bapak datang beserta keluarga besarnya untuk melamar Ibuku. Kakek saya langsung meneruskan niat baik Bapak dan Ibuku menerimanya!
“Kok langsung mau, Ma? Kan ga kenal deket,” tanya saya dengan trust issue yang tinggi.
Jawab Ibuku, karena Bapak rajin jamaah solat di masjid.
Di tahun 1989 akhirnya mereka menikah, sepasang pengantin yang terpaut beda usia cukup jauh. Ibuku 24 tahun, Bapak 39 tahun. Begitulah, kisah cinta Ibuku dan Bapak. 🌝
Seingatku, Bapak orang yang keras dan galak tapi supel dan punya banyak kenalan. Heran, sifatnya yang mudah bergaul ini tidak menurun ke anaknya satupun.
Ibuku kebalikannya, orang yang sabaaaar sekali. Ampun, tidak pernah sekalipun Ibuku melawan Bapak. Sepanjang hidupnya diabdikan untuk melayani dan merawat Bapak dengan sabar.
Bapak dulu bekerja sebagai orang proyek, dia bertugas menggambar rancang bangunan, sepertinya begitu. Sementara Ibuku full-time mengurusi rumah tangga. Sering Bapak pergi ke proyek mana, ke Duri, ke Gresik, sehingga waktu kecil hidup kami sempat pindah-pindah. Kecuali lewat foto, tidak ada satu kenangan pun yang saya ingat. 😅
Sudah agak besar, ingatan saya adalah Bapak yang selalu menelpon ke rumah saat akan selesai proyek. Bertanya mau oleh-oleh apa, dan selalu kami (anak-anaknya) jawab Fanta! Dulu Fanta minuman yang istimewa sekali, seiring kenangan Bapak pulang proyek dan masa-masa lebaran.
Bapak dan Ibuku sama-sama lahir dari keluarga besar. Bapak anak ke-5 dari 10 bersaudara, sementara Ibuku anak ke-6 dari 8 bersaudara. Enaknya setiap libur lebaran kami hanya perlu mudik ke satu tempat, karena saudara-saudara semua berkumpul di satu kota yang sama.
![]() |
| Bapak muda |
![]() |
| Ibuku muda, mungkin dipotret Bapak :') |



