Sepuluh tahun lalu di malam itu. Saya mendekati Ibuku yang sedang beberes meja makan, sambil membawa kertas pengumuman lulus seleksi IPB. Dalam gerak lambat Ibuku membaca isi kertas itu, mengoper ke Bapak, lalu mereka cengar-cengir sambil berkali-kali mengucap alhamdulillah.
“Yah, ngga jadi ngantuk deh nih,” kata Ibuku sambil tetap cengar-cengir.
Bertahun sebelumnya, di ruang tamu rumah kami ada saya, Bapak, dan mas Turut, tetangga depan rumah sedang menonton pertandingan Indonesia Open. Tiap kali Taufik Hidayat atau Sony Dwi Kuncoro, atau Markus Kido atau Hendrawan berhasil mendapat poin, Bapak dan mas Turut berteriak kegirangan. Yes!!!
Di babak final, Indonesia menang dan selesai pertandingan Bapak membaca surat Al-Fatihah sebagai bentuk syukur. :’)
...
Jauh bertahun sebelumnya, saya dan saudara-saudara saya berlarian berebut mencium tangan Bapak yang baru pulang solat berjamaah di masjid.
Jauh bertahun sebelumnya, saya dan saudara-saudara saya berebut nyanyi-nyanyi sendiri, merekam suara kami di tape recorder milik bersama. Lagu Sinchan, ejekan siapa yang mengompol, dan ocehan random lainnya. Lalu bersama-sama mendengar suara sumbang itu diputar.
Jauh bertahun sebelumnya, kami bergantian bicara dengan Bapak di telepon. Minta dibawakan Fanta dan biskuit Nyam-Nyam sebagai oleh-oleh kepulangannya dari proyek.
Dua tahun lalu, saya, Ali, dan Fathmah duduk di GBK mendukung tim Indonesia dalam pertandingan badminton Asian Para Games 2018. Para atlet dengan kursi rodanya saling melakukan serangan dengan lincah. Seru sekali!
Di kursi belakang kami, satu keluarga ikut menonton dan si ayah sesekali mengomentari pertandingan. Lalu anaknya yang perempuan bertanya, “Itu siapa?” / "Itu pakde yang menang mainnya" / "Siapa yang menang?"
Saya yang diam-diam menguping jadi merasa hangat. :)
Bertahun lalu, Ratna mengirim saya chat:
Di mana?
Rumah.
Hunting?
Yuk.
Lalu saya sudah berada di kereta, dalam perjalanan bertemu Ratna, menuju ke mana. Semudah itu dulu kita melakukan perjalanan. :)
Semakin ke sini, saya makin yakin kalau kebahagiaan itu berbeda-beda maknanya bagi tiap orang. Mau hal sederhana, mau hal mewah, mau sepi dan tidak ada riak di hidupnya, bisa saja semua berarti bahagia. Bagi saya, kamu, atau orang lainnya.
Yang dia suka, mungkin tidak ada harganya bagimu. Tapi semua orang berhak bahagia. Jadi, ayolah hargai kebahagiaan temanmu. Rayakan dan ikut bahagia, jangan merusaknya.
Karena bahagia, apapun itu, adalah yang tiba-tiba bisa menyalakan hangat di hatimu. :’)






