Keep in touch, ya!
Jangan sombong-sombong kalo diajak main.
Jangan ngilang, ya!
:)
HUHU MISS YOU GUYS :(
Keep in touch, ya!
Jangan sombong-sombong kalo diajak main.
Jangan ngilang, ya!
:)
HUHU MISS YOU GUYS :(
Sepuluh tahun lalu di malam itu. Saya mendekati Ibuku yang sedang beberes meja makan, sambil membawa kertas pengumuman lulus seleksi IPB. Dalam gerak lambat Ibuku membaca isi kertas itu, mengoper ke Bapak, lalu mereka cengar-cengir sambil berkali-kali mengucap alhamdulillah.
“Yah, ngga jadi ngantuk deh nih,” kata Ibuku sambil tetap cengar-cengir.
Bertahun sebelumnya, di ruang tamu rumah kami ada saya, Bapak, dan mas Turut, tetangga depan rumah sedang menonton pertandingan Indonesia Open. Tiap kali Taufik Hidayat atau Sony Dwi Kuncoro, atau Markus Kido atau Hendrawan berhasil mendapat poin, Bapak dan mas Turut berteriak kegirangan. Yes!!!
Di babak final, Indonesia menang dan selesai pertandingan Bapak membaca surat Al-Fatihah sebagai bentuk syukur. :’)
...
Jauh bertahun sebelumnya, saya dan saudara-saudara saya berlarian berebut mencium tangan Bapak yang baru pulang solat berjamaah di masjid.
Jauh bertahun sebelumnya, saya dan saudara-saudara saya berebut nyanyi-nyanyi sendiri, merekam suara kami di tape recorder milik bersama. Lagu Sinchan, ejekan siapa yang mengompol, dan ocehan random lainnya. Lalu bersama-sama mendengar suara sumbang itu diputar.
Jauh bertahun sebelumnya, kami bergantian bicara dengan Bapak di telepon. Minta dibawakan Fanta dan biskuit Nyam-Nyam sebagai oleh-oleh kepulangannya dari proyek.
Dua tahun lalu, saya, Ali, dan Fathmah duduk di GBK mendukung tim Indonesia dalam pertandingan badminton Asian Para Games 2018. Para atlet dengan kursi rodanya saling melakukan serangan dengan lincah. Seru sekali!
Di kursi belakang kami, satu keluarga ikut menonton dan si ayah sesekali mengomentari pertandingan. Lalu anaknya yang perempuan bertanya, “Itu siapa?” / "Itu pakde yang menang mainnya" / "Siapa yang menang?"
Saya yang diam-diam menguping jadi merasa hangat. :)
Bertahun lalu, Ratna mengirim saya chat:
Di mana?
Rumah.
Hunting?
Yuk.
Lalu saya sudah berada di kereta, dalam perjalanan bertemu Ratna, menuju ke mana. Semudah itu dulu kita melakukan perjalanan. :)
Semakin ke sini, saya makin yakin kalau kebahagiaan itu berbeda-beda maknanya bagi tiap orang. Mau hal sederhana, mau hal mewah, mau sepi dan tidak ada riak di hidupnya, bisa saja semua berarti bahagia. Bagi saya, kamu, atau orang lainnya.
Yang dia suka, mungkin tidak ada harganya bagimu. Tapi semua orang berhak bahagia. Jadi, ayolah hargai kebahagiaan temanmu. Rayakan dan ikut bahagia, jangan merusaknya.
Karena bahagia, apapun itu, adalah yang tiba-tiba bisa menyalakan hangat di hatimu. :’)
Mendengar musik itu seperti membiarkan seseorang bicara denganmu lewat nada-nada diiringi kata yang diatur sedemikian rupa, hingga menghasilkan bunyi yang padu. Nada-nada yang manis dengan kata-kata puitis atau nada-nada keras dengan kata-kata yang tegas, bisa juga kolaborasi lainnya yang saling melengkapi. Saya senang mendengarnya, pesan yang dimaksud jadi tersampaikan dengan kuat.
Dalam lagu-lagu romantis, keinginan sang vokalis untuk bersama selamanya dengan sang kekasih jadi semakin dramatis. Dalam lagu-lagu sedih, penyesalan dan kehilangan yang disampaikan jadi semakin terasa pedih. Dalam lagu-lagu yang manis, perasaan senang dan tenang jadi ikut menular ke hati para pendengar.
Pernah dulu ketika saya masih PP bekerja naik kereta, sambil berdesakan dan berdiri tiba-tiba alunan musik Gramedia (jenis yang instrumental akustik asik) diputar. Teman saya sambil bercanda bilang,
“Ini biar penumpangnya ga pada emosi nih desek-desekan, makanya diputer musik yang tipe begini.”
Hehe bisa jadi, siih.
Sesampainya di stasiun Kranji, kadang saya temui ada pengamen jalanan dengan alat musik biola. Asli, keren banget. Saya yang tadinya capek dan ingin cepat sampai rumah, jadi berhenti sebentar, mendengar permainan mereka sambil update story. Hahaha. Asli keren. :)
Musik juga jadi perantara saya dalam mengeksplor kata-kata dalam bahasa asing. Biasanya kalau saya suka dengan nada dari suatu lagu, maka saya akan cari liriknya (utamanya yang dalam bahasa asing). Setelah itu saya akan penasaran dengan artinya, dan berujung pada keinginan untuk menguasai bahasa tersebut demi bisa paham langsung dalam bahasa aslinya. 🌝
…
Bayangkan kamu berada di situasi seperti ini: ada seorang teman yang kamu kagumi tiba-tiba meminta rekomendasi film berdasarkan yang kamu suka. Film apa yang akan kamu rekomendasikan?
No worries, saya akan share beberapa film favorite versi saya dan barangkali bisa kamu rekomendasikan lagi ke teman yang kamu kagumi itu. :)
Saya menonton film ini di gelaran Japanese Film Festival 2018. Setelah melihat review seorang teman di IG yang bilang betapa banyaknya ‘daun’ (penghargaan) yang diraih film ini. Dengan genre horor-komedi, alur cerita film ini benar-benar tidak saya duga! Ampun deh, sampai ngakak-ngakak saya nontonnya, dan makin seru karena satu studio ngakak semua!!
Di 37 menit awal film ini bercerita tentang syuting film horor di sebuah lokasi bekas pabrik tua. Proses syuting ditampilkan tanpa ‘cut’ sekalipun. Setelahnya, alur cerita berganti dan mengubah suasana film ini seluruhnya. Benar-benar pengalaman menonton yang menyenangkan, yang sampai sekarang pun masih terasa senang mengenangnya. :)
Ini film terakhir yang saya tonton di bioskop sebelum pandemi menyerang. Sepulang kerja, sendirian memesan tiket, dan menonton film ini di bioskop dekat rumah. Mungkin kamu sendiri pun sudah menontonnya?
Sebuah film perang dengan teknik one-cut, yang dari awal film dibuka sampai akhir seolah kamera tanpa henti mengikuti tiap adegan para pemainnya. Bercerita tentang dua orang sahabat yang mengemban misi penting membawa pesan ke zona perang di daerah lain. Sepanjang film saya deg-degan karena mereka cuma punya satu sama lain di misi ini. Dan seperti halnya film perang, ada cerita soal pengorbanan dan bertahan hidup. Saya menangis menontonnya, beruntung studio di malam itu tidak ramai.
Ini film andalan saya. Ibaratnya sebuah paket lengkap karena mengandung drama, persahabatan, kesetiaan, dan sebuah akhir yang tidak tertebak.
Seorang manager keuangan dituduh sebagai pelaku atas kematian istrinya. Kehidupan penjara yang korup menyulitkannya mencari keadilan, hingga akhirnya dia berhenti melawan dan mulai menjalani masa hukumannya dengan tenang. Skornya di IMDb 9.3/10. Ayolah, kamu harus coba tonton film ini. 🙌
Terjerat utang dan kesulitan hidup, seorang pria berusaha membunuh dirinya dengan melompat ke sungai Han. Alih-alih mati, pria itu malah terdampar di sebuah pulau tanpa penghuni. Tidak punya piliihan lain, dia akhirnya menerima nasib dan bertahan hidup dengan memanfaatkan kondisi yang ada.
Film Korea ini diadaptasi dari film berjudul Cast Away (2000) yang diperankan Tom Hanks. Yang saya suka dari film ini, bagaimana cara seseorang bertahan hidup bisa digambarkan dengan hal sederhana dan komedi yang tipis saja, namun dalam.
Scene favorit saya adalah adegan petugas pengantar makanan yang mengayuh perahu bebek. Seperti apa adegannya? Ajak temanmu menonton, ya. :)
Mungkin ini film terakhir yang saya tonton di Kineforum? Atau bukan? Saking lamanya saya tidak ingat.
Bercerita tentang seorang fotografer tua yang juga pemilik kamar sewaan. Suatu hari, seorang perempuan muda datang dan menyewa salah satu kamarnya. Pak tua fotografer yang awalnya sangat tertutup perlahan membuka diri dan membiarkan perempuan muda itu menjadi temannya.
Alur ceritanya memang cenderung lambat, konfliknya pun berkisar konflik pribadi. Tapi film yang mengangkat kisah fotografi selalu menarik untuk disaksikan. Surprise di film ini, ternyata ada Nicholas Saputra jadi salah satu pemerannya! Dengan peran yang well.. kamu lihat sendiri saja. :)
Semakin ke sini, saya percaya kalau pernikahan bukan untuk semua orang. Seperti halnya keputusan memiliki keturunan. Orang yang tidak menikah bukan berarti hidupnya tidak lengkap. Orang yang menikah dan berencana tidak punya anak pun bukan lantas gagal jadi manusia. Itu semua pilihan yang tujuan akhirnya tentu kebahagiaan.
Kalau dipikir-pikir sebenarnya ada banyak pilihan bagi seseorang untuk melanjutkan hidupnya. Berkaitan dengan yang sedang saya alami, usia menjelang akhir 20an tanpa tanda-tanda adanya bakal pasangan. Saya tidak punya pilihan untuk tidak memikirkan alternatif lain yang bisa saya ambil jika sampai tidak menikah.
Sejujurnya, menjadi single kadang membuat saya minder. Setiap mendengar kabar seorang teman akan menikah, ada sedikit perasaan sedih karena saya merasa semakin sendirian. Meski begitu, sampai sekarang saya masih juga belum siap untuk berbagi hidup dan segala urusannya dengan orang lain. Ditambah belum ada yang mendekati juga. 🌝
Anyway, secara keseluruhan saya single dan happy. Tidak selamanya happy memang, tapi bukan faktor single yang jadi penyebabnya.
Duh, tema hari ini lumayan nantang ya. Saya labih lancar menulis soal kesedihan dibanding hal-hal yang bahagia. Hahaha.
Peristiwa ini sudah lama terjadi, sekitar tiga atau empat tahun lalu ketika Ibuku tumben-tumbenan menceritakan kenangannya dengan alm. Bapak.
Ibuku bercerita, dia berusia 24 tahun ketika menikah dengan Bapak. Mereka menikah tanpa pacaran, tanpa pendekatan. Hanya lewat satu pertanyaan dan niat baik yang didukung masing-masing keluarga besar.
Ceritanya waktu itu nenek saya membuka warung makanan. Bapak muda (saat itu belum menikah dengan Ibuku) adalah salah satu pelanggan. Oh iya, rumah orangtua Ibuku dan Bapak masih di satu gang yang sama, jadi mereka kurang lebih memang sudah saling kenal tapi hanya sebatas tetangga.
Bapak yang memang suka berterus-terang tiba-tiba bertanya kepada nenek saya, “Ela (Ibuku) udah punya calon belum?”
Nenek saya langsung melapor ke Kakek saya. Malam harinya, saat solat jamaah bersama di masjid Kakek saya bertanya langsung ke Bapak, “Kamu serius mau melamar Ela? Kalau iya, ajak orangtuamu ke rumah.”
Lalu Bapak datang beserta keluarga besarnya untuk melamar Ibuku. Kakek saya langsung meneruskan niat baik Bapak dan Ibuku menerimanya!
“Kok langsung mau, Ma? Kan ga kenal deket,” tanya saya dengan trust issue yang tinggi.
Jawab Ibuku, karena Bapak rajin jamaah solat di masjid.
Di tahun 1989 akhirnya mereka menikah, sepasang pengantin yang terpaut beda usia cukup jauh. Ibuku 24 tahun, Bapak 39 tahun. Begitulah, kisah cinta Ibuku dan Bapak. 🌝
Seingatku, Bapak orang yang keras dan galak tapi supel dan punya banyak kenalan. Heran, sifatnya yang mudah bergaul ini tidak menurun ke anaknya satupun.
Ibuku kebalikannya, orang yang sabaaaar sekali. Ampun, tidak pernah sekalipun Ibuku melawan Bapak. Sepanjang hidupnya diabdikan untuk melayani dan merawat Bapak dengan sabar.
Bapak dulu bekerja sebagai orang proyek, dia bertugas menggambar rancang bangunan, sepertinya begitu. Sementara Ibuku full-time mengurusi rumah tangga. Sering Bapak pergi ke proyek mana, ke Duri, ke Gresik, sehingga waktu kecil hidup kami sempat pindah-pindah. Kecuali lewat foto, tidak ada satu kenangan pun yang saya ingat. 😅
Sudah agak besar, ingatan saya adalah Bapak yang selalu menelpon ke rumah saat akan selesai proyek. Bertanya mau oleh-oleh apa, dan selalu kami (anak-anaknya) jawab Fanta! Dulu Fanta minuman yang istimewa sekali, seiring kenangan Bapak pulang proyek dan masa-masa lebaran.
Bapak dan Ibuku sama-sama lahir dari keluarga besar. Bapak anak ke-5 dari 10 bersaudara, sementara Ibuku anak ke-6 dari 8 bersaudara. Enaknya setiap libur lebaran kami hanya perlu mudik ke satu tempat, karena saudara-saudara semua berkumpul di satu kota yang sama.
![]() |
| Bapak muda |
![]() |
| Ibuku muda, mungkin dipotret Bapak :') |
Nanti kalau pandemi udah selesai atau ketika kondisi udah jauh lebih baik, kita ke Seaworld ya. Seharian di sana, ngeliat ikan berenang, foto-foto di akuarium. :')
Ya?
![]() |
Kamisan 613 |
“Bray, gue ijin pulang cepet ya. Mau anter nyokap berobat.”
Di Kamis itu, saya ijin pulang kantor lebih cepat dari biasanya. Selain memang jadwalnya Ibuku kontrol ke dokter, tapi ada agenda lain yang sudah lama ingin saya lakukan: ikut #aksikamisan.
Dengan ijin menemani Ibuku berobat, saya melipir ke istana merdeka dulu. Teman-teman satu tim yang saya pamiti dan tahu fakta ini, langsung 'menyerang' keesokan harinya. 🌝
Diantar abang ojol, saya sampai di lokasi. Begitu turun dari motor, saya langsung terenyuh. Ternyata #aksikamisan dilakukan bukan di depan pagar istana, tapi di seberangnya. Jauh, jauh dari pagar, jauh dari jendela, jauh dari para penghuni istana, dipisahkan lebarnya jalan Medan Merdeka. Pun masih dijaga beberapa petugas keamanan yang menenteng senjata api di tangan. Miris.
Pikir saya, ya ampun ternyata ‘negara’ masih menjaga jarak dengan rakyatnya sendiri yang bertahun-tahun menggelar aksi protes damai ini.
Saya mendekati kerumunan orang berbaju hitam, dalam naungan payung-payung hitam. Saya bertemu Pak Effendi dan Bu Sumarsih, beliau ramah sekali menyambut saya yang baru kali ini bergabung.
Tidak lama, agenda aksi hari itu dimulai. #aksikamisan ke-613 di Desember 2019.
Selebaran berisi tuntutan yang disusun oleh Bu Sumarsih dibagikan. Beberapa orang bergantian bicara soal maksud dan tujuan, api pengingat kenapa aksi damai ini terus dilakukan. Terus dilakukan. Terus dilakukan.
Terus dilakukan di tiap Kamis, sampai negara mengakui kekeliruannya melanggar HAM rakyatnya sendiri.
Aksinya sendiri berlangsung tidak lama, sekitar 1-2 jam sampai benar-benar bubar. Kami, para peserta aksi, tidak melakukan apa-apa yang mengancam. Kami hanya diam, memandang ke arah istana, berdiri tegak. Menanti ada perwakilan negara yang datang mendengarkan, tapi yang ada hanya petugas keamanan bersenjata.
Pak Effendi berkisah pada saya soal keterlibatannya di aksi ini.. Pesan beliau, jangan sampai apa yang terjadi di masanya terjadi lagi di generasi selanjutnya, di generasi saya. Jangan sampai pelanggaran HAM ini dilupakan, itulah alasan beliau mengikuti #aksikamisan ini.
Di akhir aksi, saya pamit kepada Bu Sumarsih dan Pak Effendi.
Sampai sekarang saya belum pernah ikut lagi #aksikamisan secara langsung. Meski begitu, di masa pandemi ini #aksikamisan masih terus berlangsung. Tidak di seberang istana, tapi lewat gerakan online atau offline yang terpisah di beberapa daerah.
Kamis ini 3 Desember 2020, #aksikamisan ke-659 #DiRumahAjaDulu.
Those things that makes me happy is, in the other hand, also things that can make me sad
Saya jadi mempertanyakan apa arti bahagia dan bagaimana saya meresponnya. Apa saya benar-benar bahagia atau ..
Baik. Saya akan mulai dengan hal-hal yang senang saya lakukan tanpa pikir panjang.
Saya senang pergi sendirian. Datang ke suatu event gratisan yang tanpa seorang pun saya kenal. Biasanya karena event-event itu memutar film atau pertunjukkan apa, pameran apa tanpa harus bayar tiket. Mau film yang tidak saya mengerti pun, I’m going there for sure.
Saya senang naik transportasi umum. Menyenangkan karena tidak perlu menghapal jalan. Praktis.
Saya senang punya teman bicara, yang bisa diajak diskusi film atau eksperimen memasak atau karir atau penyesalan, apa pun hal-hal receh lainnya.
Saya senang menonton film, utamanya yang gratisan macam di acara festival. Selain gratis, film-film yang diputar juga hasil seleksi kurator dan seringnya menawarkan cerita yang berbeda. (baca paragraf empat ;))
Beberapa film yang cukup berkesan, diantaranya tentu One Cut of The Dead! Satu studio ketawa ngakak, sumpah. 🤣Pengalaman menonton yang super seru bersama sahabat saya.
Malam itu Minggu kliwon dan hampir tengah malam ketika Ibuku melahirkan seorang bayi perempuan di sebuah daerah bernama Buntu. Begitu sih yang saya dengar soal bagaimana saya bisa lahir. Lalu bulek atau bude-bude akan menghubungkan faktor weton itu dengan karakter kanak-kanak saya yang lebih berani ke kamar mandi sendirian tanpa ditemani. Kalo ga salah ingat begitu, ya. :)
Saya tumbuh dengan dua saudara laki-laki, yaitu adik dan kakak saya. Usia kami yang tidak terlalu jauh membuat saya lebih familiar dengan pasukan Power Rangers yang selalu menang melawan musuhnya di tiap episode dibanding film India romantis Kuch-Kuch Hota Hai yang sampai sekarang belum pernah saya tonton. Hahaha.
Sejak kecil saya sudah sangat tertutup dan pemalu. Bicara sekenanya, menjawab kalau hanya ditanya. Sesuatu terjadi dan entah ada apa dengan masa lalu saya sampai saya jadi sependiam itu. Meski begitu, tapi saya bisa aktif loh ikut PMR di sekolah sampai jadi pengurus segala. Kalau dipikir lagi, kok bisa ya? 🌝
Dulu saya memandang karakter ini sebagai sesuatu yang keren, cool begitulah rasanya. Sampai ada seorang teman perempuan di sekolah yang bilang dia mungkin akan naksir saya saking coolnya, dengan catatan kalo saya ini laki-laki. Sekarang.. ini jadi kebiasaan yang terasa merepotkan.
Karena terbiasa menutup diri, teman saya tidak banyak dan saya jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan kegiatan yang bisa dilakukan sendirian. Menonton — OH, I LOVE MOVIES SO DAMN MUCH (nanti kita bahas ini di postingan lain ya) — berkeliaran sendirian, (dulu) membaca, tidur, memasak, bikin kue lalu bingung bagaimana menghabiskannya. Menganut asas trias politica dari saya, oleh saya, dan untuk saya.
Kondisi tertutup ini membuat saya agak sulit berinteraksi dengan orang lain, utamanya yang baru kenal dan kita tidak dekat. Saya lebih suka mengamati dan terjebak asumsi duluan. Hahaha. Selain tidak pintar membuka obrolan, memang seringnya orang lain yang mulai duluan.
Belakangan ini saya mencoba untuk lebih membuka diri dan aktif memulai duluan. Ternyata tidak semenakutkan itu, tapi juga tidak mudah. Terlalu sering sendirian, saya jadi punya banyak suara di kepala dan membuat saya jadi seorang yang overthinking.
Is she/he have a great time with me?
Am I interesting? Am I good? Are we friends?