Selasa, 15 Desember 2020

DAY 15: If you could run away, where would you go?



Pada suatu hari yang baik kita akan bepergian bersama. Ke sebuah pantai sepi, yang menuju ke sana kita melewati hutan dan bukit. Aku di sampingmu dengan jendela terbuka, membiarkan angin masuk membawa udara segar menggantikan segala kesuntukan hidup yang pengar.


Di pantai yang sepi kita sampai. Kau dan aku duduk menikmati bekal sambil memandang garis pantai yang berubah-ubah digerus ombak. Matahari terik dan kita harus mengernyit untuk memaknainya.


Sambil berbincang, kau membahas segala hal dari yang mungkin sampai tidak mungkin. Harapanmu akan jauh melampaui keadaan buruk saat itu, mengundang optimisme di masa sekarang maupun yang akan datang. Dan aku mengamininya. Selalu.


Kita akan di sana sampai bayang-bayang perlahan menghilang. Di peralihan waktu, kita berkejaran menangkap saat terakhir matahari jatuh. Digantikan puluhan rasi lainnya yang tidak kita ketahui namanya. Mengusir pikiran-pikiran rungsang, mengantar kita pulang.


Pantai selatan, 2021.

Senin, 14 Desember 2020

DAY 14: Describe your style

Dari dulu baju-baju saya adalah hasil pembelian Ibuku. Tiba-tiba saja Ibuku beli baju (biasanya dagangan saudara) lalu dikasihkan ke saya. Saya yang orangnya ga tegaan, akhirnya memakai saja baju-baju itu sebagai pakaian entah ke acara mana. Padahal saya dan Ibuku seringnya beda selera.

Bayangkan sejak kecil hingga kuliah, baju-baju saya kebanyakan lungsuran abang atau lungsuran Ibuku atau pilihan Ibuku. Di saat anak-anak lain kuliah dengan jeans ketat atau celana pensil, yang saya pakai adalah celana kulot gondrong sejak bertahun lalu, yang warnanya mulai pudar. Sampai saya dipanggil rapper karena baju-baju yang gombrong dan apa adanya. Ditambah memang belum melek fashion sih, padahal itu masa sedang mekar-mekarnya. 🙈


Karena banyak baju pemberian Ibuku, saya jarang beli baju sendiri. Baru ketika mulai bekerja, dan ada kebutuhan baju untuk kondangan atau bergaul ke mana, akhirnya saya membeli pakaian sendiri.


Koleksi saya kebanyakan baju polos yang hanya bermain di warna. Dulu saya suka banget warna biru. Sekarang kalau memilih apa-apa saya lebih terbuka dengan pilihan  warna yang lain, tergantung bagusnya apa. Meski begitu, perkembangan fashion saya masih di zona pemula.


Atasan kaos/tunik/kemeja dan celana panjang, dua piece pakaian adalah andalan saya. Tanpa eksperimen macam-macam. Dengan sepatu tali atau flats (tapi jarang saya pakai karena bikin kulit belang).


Kemana-mana saya mengandalkan totebag. Entah kenapa saya jarang bisa bawa barang ringkas dengan hanya tas kecil yang fashionable. Kalau menggunakan backpack, tidak jarang bawaan saya makin banyak. Dulu saya pemakai tas slempang, tapi karena saya tidak tinggi, tali slempang saya tidak bisa panjang-panjang.


Dibanding fashionable, saya memang lebih mengutamakan aspek kegunaan. Haha.


Sekarang, saya menghindari beli baju kalau memang tidak perlu banget. Meski begitu, kadang kecolongan juga sih lapar mata. Karena sesungguhnya bajumu udah banyak, tapi yang dipakai itu-itu saja.

Minggu, 13 Desember 2020

DAY 13: Favorite book

goodreads.com

Buku ini saya baca sewaktu masih SMP. Buku yang bikin saya ngga bisa berhenti baca sebelum ceritanya selesai.  Sejak awal kalimat, ceritanya udah begitu mengalir dan mengajak pembacanya hanyut dalam petualangan di dalamnya. Kayaknya pengalaman pertama saya baca novel fantasi dari karya Eva Ibbotson ini.

Saya ingat banget, waktu itu malam minggu saya sendirian karena keluarga yang lain ikut peringatan apa gitu di mesjid. Saya keseruan sendiri, gila-gila, ngga sabar mau namatin novel ini sesegera mungkin.

Ceritanya tentang Oliver, seorang yatim-piatu yang dapet warisan sebuah rumah besar. Karena masih di bawah umur, dia diwakilin sama om dan tantenya yang diam-diam ngincar rumah ini. Untuk merebut rumah ini dari Oliver, mereka sengaja nakut-nakutin dan ninggalin Oliver sendirian di rumah ini (karena Oliver punya asma) dengan harapan dia cepet mati ketakutan (?).

Bener aja, ternyata rumah ini berhantu! Satu keluarga pula! Ampun, Oliver hampir mati shock di malam pertama dia tinggal di sana.

Tapi.. hantu-hantu itu bukan penghuni asli rumah itu. Ternyata mereka cuma hantu pesanan yang salah kirim. Hemm, siapa pelakunya yang sampai pesan hantu segala?

Setelah perkenalan, keluarga hantu itu akhirnya saling bercerita dan malah jadi nemenin Oliver tinggal di sana. Sisa ceritanya? Baca sendiri ya, seru!

Yang bikin seru, tiap hantu punya latar belakang yang jelas. Siapa mereka saat masih hidup, kenapa bisa jadi hantu, kenapa gentayangan, dll. Ceritanya jadi makin hidup karena adanya behind story ini.

Saya langsung jatuh cinta sama karya-karyanya Eva Ibbotson. Rasa seru itu masih terasa sampai sekarang. :')

Sabtu, 12 Desember 2020

DAY 12: Favorite TV series

The one with F.R.I.E.N.D.S.


I KNOW!!! *with Monica’s tone


Ya, FRIENDS adalah serial favorit saya. Sesuai judulnya, serial ini bercerita tentang persahabatan enam orang sebaya di kota New York yang dengan ragam karakter dan perbedaannya saling melengkapi satu sama lain. Mereka kompak banget!


Monica si perfeksionis berbagi apartemen dengan Rachel yang impulsif. Selanjutnya ada Pheobe si vegan yang quirky. Lalu ada Chandler si aktor dan Joe si pegawai kantoran penghuni kamar seberang. Terakhir Ross, ahli geologi/staff museum, yang juga adalah kakak Monica.


Pertama nonton episodenya, saya langsung suka! Ceritanya ringan seputar kehidupan mereka di New York dengan segala masalahnya yang ada-ada aja. Menampilkan komedi lewat interaksi antarkarakter yang beragam, jenaka tanpa harus melucu. Juga karena para karakternya seumuran dan kita menghadapi struggle yang mirip-mirip.


Padahal serial ini punya banyak banget episode, 10 seasons bayangkan, tapi saya ngga merasa terintimidasi karena cerita tiap episodenya langsung selesai dalam satu babak. Jadi ga langsung nonton semua pun it’s okay. Dilanjut tiga bulan lagi saat kamu baru perpanjang langganan Netflix pun tak apa. FRIENDS bisa dinikmati kapanpun dan di manapun. :D


Situasi yang ditampilkan juga masih relate sampai sekarang, jokes-jokesnya, padahal episode terakhirnya tayang 16 tahun yang lalu! So timeless, ya kan?

Jumat, 11 Desember 2020

DAY 11: Talk about your siblings

Keduanya laki-laki. Kami tidak saling akrab. Meski begitu, kami selalu membelikan satu sama lain tiap jajan makanan.

Kamis, 10 Desember 2020

Rabu, 09 Desember 2020

DAY 9: Write about happiness

Sepuluh tahun lalu di malam itu. Saya mendekati Ibuku yang sedang beberes meja makan, sambil membawa kertas pengumuman lulus seleksi IPB. Dalam gerak lambat Ibuku membaca isi kertas itu, mengoper ke Bapak, lalu mereka cengar-cengir sambil berkali-kali mengucap alhamdulillah.

“Yah, ngga jadi ngantuk deh nih,” kata Ibuku sambil tetap cengar-cengir.


Bertahun sebelumnya, di ruang tamu rumah kami ada saya, Bapak, dan mas Turut, tetangga depan rumah sedang menonton pertandingan Indonesia Open. Tiap kali Taufik Hidayat atau Sony Dwi Kuncoro, atau Markus Kido atau Hendrawan berhasil mendapat poin, Bapak dan mas Turut berteriak kegirangan. Yes!!!


Di babak final, Indonesia menang dan selesai pertandingan Bapak membaca surat Al-Fatihah sebagai bentuk syukur. :’)

...


Jauh bertahun sebelumnya, saya dan saudara-saudara saya berlarian berebut mencium tangan Bapak yang baru pulang solat berjamaah di masjid.


Jauh bertahun sebelumnya, saya dan saudara-saudara saya berebut nyanyi-nyanyi sendiri, merekam suara kami di tape recorder milik bersama. Lagu Sinchan, ejekan siapa yang mengompol, dan ocehan random lainnya. Lalu bersama-sama mendengar suara sumbang itu diputar.


Jauh bertahun sebelumnya, kami bergantian bicara dengan Bapak di telepon. Minta dibawakan Fanta dan biskuit Nyam-Nyam sebagai oleh-oleh kepulangannya dari proyek.


Dua tahun lalu, saya, Ali, dan Fathmah duduk di GBK mendukung tim Indonesia dalam pertandingan badminton Asian Para Games 2018. Para atlet dengan kursi rodanya saling melakukan serangan dengan lincah. Seru sekali!


Di kursi belakang kami, satu keluarga ikut menonton dan si ayah sesekali mengomentari pertandingan. Lalu anaknya yang perempuan bertanya, “Itu siapa?” / "Itu pakde yang menang mainnya" / "Siapa yang menang?"

Saya yang diam-diam menguping jadi merasa hangat. :)


Bertahun lalu, Ratna mengirim saya chat:

Di mana?

Rumah.

Hunting?

Yuk.


Lalu saya sudah berada di kereta, dalam perjalanan bertemu Ratna, menuju ke mana. Semudah itu dulu kita melakukan perjalanan. :)


Semakin ke sini, saya makin yakin kalau kebahagiaan itu berbeda-beda maknanya bagi tiap orang. Mau hal sederhana, mau hal mewah, mau sepi dan tidak ada riak di hidupnya, bisa saja semua berarti bahagia. Bagi saya, kamu, atau orang lainnya.


Yang dia suka, mungkin tidak ada harganya bagimu. Tapi semua orang berhak bahagia. Jadi, ayolah hargai kebahagiaan temanmu. Rayakan dan ikut bahagia, jangan merusaknya.


Karena bahagia, apapun itu, adalah yang tiba-tiba bisa menyalakan hangat di hatimu. :’)

Selasa, 08 Desember 2020

DAY 8: The power of music

Mendengar musik itu seperti membiarkan seseorang bicara denganmu lewat nada-nada diiringi kata yang diatur sedemikian rupa, hingga menghasilkan bunyi yang padu. Nada-nada yang manis dengan kata-kata puitis atau nada-nada keras dengan kata-kata yang tegas, bisa juga kolaborasi lainnya yang saling melengkapi. Saya senang mendengarnya, pesan yang dimaksud jadi tersampaikan dengan kuat.

Dalam lagu-lagu romantis, keinginan sang vokalis untuk bersama selamanya dengan sang kekasih jadi semakin dramatis. Dalam lagu-lagu sedih, penyesalan dan kehilangan yang disampaikan jadi semakin terasa pedih. Dalam lagu-lagu yang manis, perasaan senang dan tenang jadi ikut menular ke hati para pendengar.


Pernah dulu ketika saya masih PP bekerja naik kereta, sambil berdesakan dan berdiri tiba-tiba alunan musik Gramedia (jenis yang instrumental akustik asik) diputar. Teman saya sambil bercanda bilang,


“Ini biar penumpangnya ga pada emosi nih desek-desekan, makanya diputer musik yang tipe begini.”


Hehe bisa jadi, siih.


Sesampainya di stasiun Kranji, kadang saya temui ada pengamen jalanan dengan alat musik biola. Asli, keren banget. Saya yang tadinya capek dan ingin cepat sampai rumah, jadi berhenti sebentar, mendengar permainan mereka sambil update story. Hahaha. Asli keren. :)



Musik juga jadi perantara saya dalam mengeksplor kata-kata dalam bahasa asing. Biasanya kalau saya suka dengan nada dari suatu lagu, maka saya akan cari liriknya (utamanya yang dalam bahasa asing). Setelah itu saya akan penasaran dengan artinya, dan berujung pada keinginan untuk menguasai bahasa tersebut demi bisa paham langsung dalam bahasa aslinya. 🌝

Senin, 07 Desember 2020

DAY 7: Favourite Movie

 

Bayangkan kamu berada di situasi seperti ini: ada seorang teman yang kamu kagumi tiba-tiba meminta rekomendasi film berdasarkan yang kamu suka. Film apa yang akan kamu rekomendasikan?


No worries, saya akan share beberapa film favorite versi saya dan barangkali bisa kamu rekomendasikan lagi ke teman yang kamu kagumi itu. :)


  1. One Cut of The Dead (2017)


Saya menonton film ini di gelaran Japanese Film Festival 2018. Setelah melihat review seorang teman di IG yang bilang betapa banyaknya ‘daun’ (penghargaan) yang diraih film ini. Dengan genre horor-komedi, alur cerita film ini benar-benar tidak saya duga! Ampun deh, sampai ngakak-ngakak saya nontonnya, dan makin seru karena satu studio ngakak semua!!


Di 37 menit awal film ini bercerita tentang syuting film horor di sebuah lokasi bekas pabrik tua. Proses syuting ditampilkan tanpa ‘cut’ sekalipun. Setelahnya, alur cerita berganti dan mengubah suasana film ini seluruhnya. Benar-benar pengalaman menonton yang menyenangkan, yang sampai sekarang pun masih terasa senang mengenangnya. :)


  1. 1917 (2019)

Ini film terakhir yang saya tonton di bioskop sebelum pandemi menyerang. Sepulang kerja, sendirian memesan tiket, dan menonton film ini di bioskop dekat rumah. Mungkin kamu sendiri pun sudah menontonnya?


Sebuah film perang dengan teknik one-cut, yang dari awal film dibuka sampai akhir seolah kamera tanpa henti mengikuti tiap adegan para pemainnya. Bercerita tentang dua orang sahabat yang mengemban misi penting membawa pesan ke zona perang di daerah lain. Sepanjang film saya deg-degan karena mereka cuma punya satu sama lain di misi ini. Dan seperti halnya film perang, ada cerita soal pengorbanan dan bertahan hidup. Saya menangis menontonnya, beruntung studio di malam itu tidak ramai.


  1. Shawshank Redemption (1994)

Ini film andalan saya. Ibaratnya sebuah paket lengkap karena mengandung drama, persahabatan, kesetiaan, dan sebuah akhir yang tidak tertebak. 


Seorang manager keuangan dituduh sebagai pelaku atas kematian istrinya. Kehidupan penjara yang korup menyulitkannya mencari keadilan, hingga akhirnya dia berhenti melawan dan mulai menjalani masa hukumannya dengan tenang. Skornya di IMDb 9.3/10. Ayolah, kamu harus coba tonton film ini. 🙌


  1. Castaway on The Moon (2009)

Terjerat utang dan kesulitan hidup, seorang pria berusaha membunuh dirinya dengan melompat ke sungai Han. Alih-alih mati, pria itu malah terdampar di sebuah pulau tanpa penghuni. Tidak punya piliihan lain, dia akhirnya menerima nasib dan bertahan hidup dengan memanfaatkan kondisi yang ada.


Film  Korea ini diadaptasi dari film berjudul Cast Away (2000) yang diperankan Tom Hanks. Yang saya suka dari film ini, bagaimana cara seseorang bertahan hidup bisa digambarkan dengan hal sederhana dan komedi yang tipis saja, namun dalam.


Scene favorit saya adalah adegan petugas pengantar makanan yang mengayuh perahu bebek. Seperti apa adegannya? Ajak temanmu menonton, ya. :)


  1. The Photograph (2007)

Mungkin ini film terakhir yang saya tonton di Kineforum? Atau bukan? Saking lamanya saya tidak ingat.


Bercerita tentang seorang fotografer tua yang juga pemilik kamar sewaan. Suatu hari, seorang perempuan muda datang dan menyewa salah satu kamarnya. Pak tua fotografer yang awalnya sangat tertutup perlahan membuka diri dan membiarkan perempuan muda itu menjadi temannya.


Alur ceritanya memang cenderung lambat, konfliknya pun berkisar konflik pribadi. Tapi film yang mengangkat kisah fotografi selalu menarik untuk disaksikan. Surprise di film ini, ternyata ada Nicholas Saputra jadi salah satu pemerannya! Dengan peran yang well.. kamu lihat sendiri saja. :)


Minggu, 06 Desember 2020

DAY 6: Single and happy

Semakin ke sini, saya percaya kalau pernikahan bukan untuk semua orang. Seperti halnya keputusan memiliki keturunan. Orang yang tidak menikah bukan berarti hidupnya tidak lengkap. Orang yang menikah dan berencana tidak punya anak pun bukan lantas gagal jadi manusia. Itu semua pilihan yang tujuan akhirnya tentu kebahagiaan.

Kalau dipikir-pikir sebenarnya ada banyak pilihan bagi seseorang untuk melanjutkan hidupnya. Berkaitan dengan yang sedang saya alami, usia menjelang akhir 20an tanpa tanda-tanda adanya bakal pasangan. Saya tidak punya pilihan untuk tidak memikirkan alternatif lain yang bisa saya ambil jika sampai tidak menikah.


Sejujurnya, menjadi single kadang membuat saya minder. Setiap mendengar kabar seorang teman akan menikah, ada sedikit perasaan sedih karena saya merasa semakin sendirian. Meski begitu, sampai sekarang saya masih juga belum siap untuk berbagi hidup dan segala urusannya dengan orang lain. Ditambah belum ada yang mendekati juga. 🌝


Anyway, secara keseluruhan saya single dan happy. Tidak selamanya happy memang, tapi bukan faktor single yang jadi penyebabnya.


Duh, tema hari ini lumayan nantang ya. Saya labih lancar menulis soal kesedihan dibanding hal-hal yang bahagia. Hahaha.