Dari dulu baju-baju saya adalah hasil pembelian Ibuku. Tiba-tiba saja Ibuku beli baju (biasanya dagangan saudara) lalu dikasihkan ke saya. Saya yang orangnya ga tegaan, akhirnya memakai saja baju-baju itu sebagai pakaian entah ke acara mana. Padahal saya dan Ibuku seringnya beda selera.
Bayangkan sejak kecil hingga kuliah, baju-baju saya kebanyakan lungsuran abang atau lungsuran Ibuku atau pilihan Ibuku. Di saat anak-anak lain kuliah dengan jeans ketat atau celana pensil, yang saya pakai adalah celana kulot gondrong sejak bertahun lalu, yang warnanya mulai pudar. Sampai saya dipanggil rapper karena baju-baju yang gombrong dan apa adanya. Ditambah memang belum melek fashion sih, padahal itu masa sedang mekar-mekarnya. 🙈
Karena banyak baju pemberian Ibuku, saya jarang beli baju sendiri. Baru ketika mulai bekerja, dan ada kebutuhan baju untuk kondangan atau bergaul ke mana, akhirnya saya membeli pakaian sendiri.
Koleksi saya kebanyakan baju polos yang hanya bermain di warna. Dulu saya suka banget warna biru. Sekarang kalau memilih apa-apa saya lebih terbuka dengan pilihan warna yang lain, tergantung bagusnya apa. Meski begitu, perkembangan fashion saya masih di zona pemula.
Atasan kaos/tunik/kemeja dan celana panjang, dua piece pakaian adalah andalan saya. Tanpa eksperimen macam-macam. Dengan sepatu tali atau flats (tapi jarang saya pakai karena bikin kulit belang).
Kemana-mana saya mengandalkan totebag. Entah kenapa saya jarang bisa bawa barang ringkas dengan hanya tas kecil yang fashionable. Kalau menggunakan backpack, tidak jarang bawaan saya makin banyak. Dulu saya pemakai tas slempang, tapi karena saya tidak tinggi, tali slempang saya tidak bisa panjang-panjang.
Dibanding fashionable, saya memang lebih mengutamakan aspek kegunaan. Haha.
Sekarang, saya menghindari beli baju kalau memang tidak perlu banget. Meski begitu, kadang kecolongan juga sih lapar mata. Karena sesungguhnya bajumu udah banyak, tapi yang dipakai itu-itu saja.