Senin, 28 Juni 2021

I Love it

I love it, when someone called me Upil.
I love it, because it means she/he has known me for at least seven years.
Oh my God, I feel so old.

Seven years ago is the year when I graduated from college lyfe, and as far as I remember, that was the last plece when people called me with that silly name. Hehe.

Still, I love 'em.

Rabu, 23 Juni 2021

Tempura

unsplash.com/@bady

Dulu Bapak pernah minta untuk dibeliin Hokben, karena dia lagi susah makan. Kubelikanlah sepaket Hokben di kios kecil, bukan di restorannya langsung, dengan anggapan "Ah, kan yang penting Hokben." Kubeli yang paket hemat pun, isi semacam nugget-nugget gitu, karena cuma ada menu itu. Ya, namapun kios kecil kan.

Kubawa pulang, kuserahkan ke Bapak langsung. Kuingat, Bapakku ga nafsu makannya. Eh, malah ga dimakan pun sama dia. Cuma dibuka, terus ga ngomong apa-apa lagi. Ga sesuai sama ekspektasinya mungkin. Kuingat lagi, dia nyebut-nyebut menu tempuranya kok ga ada. Oh, Bapakku mau tempura. Oke, kuingat baik-baik.

Beberapa waktu kemudian, ada festival Jepang di UI. Kumain ke sana, kulihat ada yang jual tempura di salah satu stand makanan. Kuingat Bapak, kubeli empat atau dua potong udang goreng tepung itu, dengan harga yang kurasa mahal. Ya, jaman itu aku belum punya uang sendiri, makanya aku perhitungan sekali.

Udang goreng tepung itu kubawa pulang, tampilannya ga menggugah banget. Kurus memanjang, dalam kotak mika sederhana beralas tisu. Dari Depok kubawa sampai ke Bekasi, bersama beberapa potong dorayaki, sebagai oleh-oleh untuk orang rumah.

Bapak makan tempuranya, ngga, ya? Aku ngga ingat.

Waktu itu, selain belum punya uang sendiri, akupun belum kenal makanan enak. Belum tau, bagaimana makanan enak dan proper bisa menyenangkan hati orang. Belum punya pikiran, meski sama-sama rasanya kayak kue apem, tapi dorayaki punya rasa lain yang bikin dia jadi istimewa.

Sekarang, aku udah punya penghasilan sendiri, Pak. Cukuplah untuk sesekali makan yang lain. Udah tau juga, makanan yang enak-enak lokasinya di mana aja. Udah praktis pun sekarang tinggal pesan, nanti makanan enak-enak itu bisa diantar.

Maaf, ya, waktu itu aku ngga bisa memenuhi keinginan Bapak.

Kamis, 27 Mei 2021

trust issue

Capek kan, ya, kalo apa-apa pake perasaan. Bukan cuma dalam personal relationship, tapi juga konteks loyalitas dan kesetiakawanan yang udah kita jaga walau dalam kondisi apapun. Niatnya tulus as an added value, with personal touch, coz I believe everything from the heart will bring you to a deeper and stronger connection. Tapi teman yang kamu percaya dan longgar dengan banyak kompromi itu, engga memperlakukanmu dengan kesetiaan yang sama.

I thought we had no secret between us, instead you tell me no truth.

Dia (temanmu satu tim) meninggalkanmu tanpa penjelasan dan ketika ditanya, engga ada kejujuran di dalamnya.

I feel so much betrayed.

People really are horrible creatures.

Kamis, 20 Mei 2021

Me, Planning a Surprise Birthday Trip

Sabtu ini dia berulang tahun. Sejak masuk bulannya, gue udah ngebayangin akan ngajak dia jalan bareng, nyicipin kuliner hidden gem rekomendasi #darihaltekehalte, lanjut jalan kaki menyusuri kota, menuju ke taman dengan perpustakaan umum luar ruangan. Di penghujung hari saat kita berpisah ke tempat tinggal masing-masing, gue akan menyerahkan kotak hadiah yang udah seharian gue bawa-bawa dalam tas. A surprise birthday trip.

What a romantic plan, huh?

Instead, gue malah ngajak Ali dan Fathmah untuk ketemuan di hari Sabtunya. Nyali gue belum cukup kuat untuk mewujudkan itu semua. Rencana yang sebegitu manis dan romantis hanya bisa terjadi di kepala, karena memang interaksi kami biasa-biasa aja.

The truth is, it would be your special day and I wanna be the special person to spent the day with. Yet, I ain't special.

Plan B.

Gue kirim aja hadiahnya lewat pos. With a lil note, as a thankful word for being a good, nice, and fun friend to share the same interests with. Sukur-sukur pas Minggu dia ngajak ketemuan, dan gue tetap bisa menjalankan that surprise birthday trip for him. Haha.

Kebiasaan ini udah berlangsung beberapa kali. Ketika gue membayangkan melakukan hal-hal manis dan membuat orang yang menerimanya kehabisan kata-kata saking senangnya. Padahal in real life gue dan si subjek ini ga sedekat itu, kami cuma temen biasa. Padahal tujuan utamanya adalah memuaskan diri gue sendiri akan fantasi dan romantisasi dari sebuah surprise.

Padahal ga semua orang suka dengan surprise, makanya gue takut segala printilan rencana itu akan bikin dia menduga yang engga-engga, lalu menimbulkan awkward dan menjauhkan jarak kita yang memang ga sebegitu dekatnya.

Tapi... rencanamu ini kan ga merugikan siapapun? No hard feeling attached, tho?

Selasa, 11 Mei 2021

Ramadan Hari ke-29

Tiba-tiba Bapak ingin pergi ke Purwokerto, sehari saja besoknya pulang. Aku sih ayo-ayo aja, siap berangkat kapanpun Bapak dan keluarga yang lain siap. Anehnya, belakangan baru ketahuan kalau cuma aku yang akan menemani Bapak ke sana. Ditambah lagi, durasi perjalanan ternyata tiga hari (pokoknya menghabiskan jatah libur lebaran).

Kagetlah aku. Kok yang lain ga ikut? Amal cuma nganter sambil bawain barang. Mama cuma nyiapin baju-baju ganti. Irul ga keliatan sosoknya. Karena kaget, aku agak panik dan bilang kalo masih ada pekerjaan kantor (at least bisa koordinasi dulu), sambil sibuk packing baju tambahan.

Bapak di mimpiku semalam, dia diam saja. Potongan rambutnya cepak, nyaris botak, dan bulat dihiasi uban. Memakai jaket krem khasnya dengan lengan terlipat, yang biasa ia pakai kalau sedang dalam perjalanan jauh. Bapak diam saja. Kami jalan bareng menuju stasiun/terminal/tempat sewa mobil(?), tapi Bapak hanya menunduk. Tidak ada tatap.

Ini tahun kesepuluh sejak Bapak meninggal 2011 lalu. Juga tahun ketiga sejak kami sekeluarga tidak bisa pulang dan mengunjungi makam Bapak.

Pak, entah kenapa kok aku mimpiin Bapak, ya?

Rabu, 14 April 2021

Film You and I, Tentang Si Mbah dan Warisan Sejarah

Pertama kali saya menonton ‘You and I’ saat ia diputar sebagai film penutup JAFF 2020 kemarin. Jangan ditanya, rasanya sesak dan ambyar tanpa ampun. Berulang saya menontonnya dalam rentang pemutaran yang hanya dua hari, tidak berkurang sedikit pun pilu dan pedihnya. Bukannya kebal malah bertambah. Saya jadi ingat bude dan bulek yang mulai sepuh.


Berlatar peristiwa '65, Kaminah (Mbah Kam) ditangkap saat masih kelas dua SMP. Di penjara ia bertemu Kusdalini (Mbah Kus) dan sejak saat itu, mereka selalu bersama.


Berhati-hati saya mencerna pesan dari film ini. Awalnya yang saya tangkap baru sebatas perjuangan melawan stigma dari sepasang sahabat yang dipertemukan oleh nasib 'buruk', lalu tak terpisahkan, hingga akhirnya salah satu harus pergi duluan.


Pengalaman menonton barusan mengantar saya untuk mencari tahu lebih tentang peristiwa ’65. Kenapa Mbah Kam dan Mbah Kus sampai ditahan? Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu, apa itu Gerwani, tapol dan stigma yang menyertainya. Juga sisi humanis dari para penyintas dengan kerja kemanusiaan yang mereka usahakan hingga sekarang. Yang terakhir ini adalah yang mendorong Mbak Fanny dan Kawan-Kawan Media, untuk mengangkat kisah hidup Mbah Kam dan Mbah Kus.


@bioskoponline


Baru-baru ini, Bioskop Online kembali menayangkan film 'You and I'. Semakin banyak kisah Mbah Kam dan Mbah Kus ini sampai ke tangan orang-orang, semakin banyak juga tanggapan yang membuka sudut pandang saya jadi lebih luas lagi. Saya pun kembali menontonnya. Kali ini meski masih terasa sesak, tapi rasanya berbeda.


Berawal dari resensi yang ditulis Bang AJP di @cinemapoetica, saya sadar akan pesan dari film ini yang jauh lebih luas dari relasi personal yang sebelumnya saya tangkap. Kepergian Mbah Kam dan Mbah Kus juga adalah kehilangan saksi sejarah atas peristiwa yang selama ini disetir hanya dari satu sudut pandang saja.


Di peristiwa itu, nasib seseorang direnggut tanpa keadilan, dipisahkan dari keluarga dan "diasingkan". Sesudahnya, mereka masih harus hidup dengan stigma seumur hidup sebagai penyintas dan dibatasi geraknya. Sampai tidak dianggap keluarga, karena beban yang ditanggung berakibat ke tiga generasi setelahnya.


Bagaimana sikap negara? Jangan ditanya, justru propaganda lahir dari pihak yang berkuasa. Tidak ada pengakuan, tidak ada pemulihan.


Dan dengan perginya para penyintas, para saksi sejarah, akankah peristiwa ini bisa diadili dan dihindari hingga tidak perlu terulang lagi?


Belum tentu. Kehilangan terbesar adalah terkuburnya kebenaran dari peristiwa masa lalu.


Saya memang terlambat, baru sadar akan kisah dari penyintas tragedi kemanusiaan ini baru-baru saja. Terima kasih kepada tim film 'You and I' karena sudah mengantar film ini hingga menjangkau orang awam seperti saya.


Kabar baik, jauh sebelum karya film ini ramai dibicarakan, upaya-upaya merawat ingatan dan merekam sejarah sudah dilakukan juga oleh banyak orang baik yang peduli. Sedikit yang saya tahu ada Mas Adrian Mulya dengan buku foto Pemenang Kehidupan, yang mengangkat kisah hidup para mbah penyintas '65. Buku foto ini juga yang mengawali pertemuan Mbak Fanny dengan Mbah Kam dan Mbah Kus.


Ada juga podcast #1965SetiapHari, yang mengarsipkan kisah-kisah personal yang dituturkan langsung oleh para saksi sejarah '65, agar dapat didengarkan setiap hari. Kapan saja. Sudah ada tiga episode hingga hari ini, dan akan terus bertambah, seperti slogan projek ini yang ingin membicarakan 65 setiap hari.


"Ja-ngan me-lu-pa-kan se-ja-rah," eja Mbah Kam dengan pelan kepada Mbah Kus dalam satu adegan film 'You and I'.


"Jangan sampai lupa, jangan sampai kamu ngalamin juga," tutur Pak Effendi, aktivis kemanusiaan yang saya temui pada suatu #AksiKamisan.


Jangan lupa, jangan sampai terjadi lagi. Ceritakan ulang, ceritakan terus.

Jangan sampai peristiwa ini terlupakan dan terulang, tanpa pernah selesai, tanpa pernah diangkat kebenarannya.

Selasa, 23 Maret 2021

Dominasi

Hanya 6 dari 35 fotografer terpilih yang merupakan perempuan. Tadinya saya berpikir biasa saja, bahkan merasa bangga karena menjadi yang sedikit itu. Namun, artinya masih ada dominasi satu pihak di bidang tersebut, dan dominasi di banyak bidang lainnya. 

Senin, 08 Februari 2021

Bun, aku masih tak mengerti banyak hal

Saat aku mendengar lagu ini, aku merasakan sekali pedihnya menjadi orang dewasa yang kesepian. Yang mencari-cari bunda, berharap menemukan nyaman dalam dekapnya. Yang ingin tetap disayang, walau bukan juara.

Jumat, 01 Januari 2021

Tentang Mencintai Seseorang

Disengaja atau engga, pasti akan ada perubahan yang terjadi di dirimu ketika kamu suka sama seseorang.

Bisa jadi kamu akan tiba-tiba rajin olahraga. Atau jadi rajin baca buku dan dengerin podcast politik. Ada juga yang rasanya ingin masakin atau buat sesuatu untuk orang itu terus, karena untuk memenangkan hati seseorang bisa dengan cara mengenyangkan perutnya. Hahaha.

Ilustrasi di atas ga cuma berlaku di antara manusia doang sih. Kamu yang lagi keranjingan hobi baru pasti juga begitu, ada bagian dari dirimu yang berubah demi hal itu. Dan hal itu seringnya ga kamu sadari, dengan kata lain kamu sukarela melakukannya.

Kamu ingin memberikan versi terbaik dari dirimu.

Kalo begitu.. apa berarti mencintai orang lain juga bentuk lain dari mencintai diri sendiri?

Anyways, selamat tahun baru! Ingat, setiap hari adalah hari yang baru, hari yang baik, seperti namamu. Ayo lebih mencintai diri sendiri. :)