Kamis, 15 Juli 2021
Cuci Otak
Senin, 28 Juni 2021
I Love it
Oh my God, I feel so old.
Rabu, 23 Juni 2021
Tempura
![]() |
| unsplash.com/@bady |
Kamis, 27 Mei 2021
trust issue
Kamis, 20 Mei 2021
Me, Planning a Surprise Birthday Trip
Selasa, 11 Mei 2021
Ramadan Hari ke-29
Rabu, 14 April 2021
Film You and I, Tentang Si Mbah dan Warisan Sejarah
Pertama kali saya menonton ‘You and I’ saat ia diputar sebagai film penutup JAFF 2020 kemarin. Jangan ditanya, rasanya sesak dan ambyar tanpa ampun. Berulang saya menontonnya dalam rentang pemutaran yang hanya dua hari, tidak berkurang sedikit pun pilu dan pedihnya. Bukannya kebal malah bertambah. Saya jadi ingat bude dan bulek yang mulai sepuh.
Berlatar peristiwa '65, Kaminah (Mbah Kam) ditangkap saat masih kelas dua SMP. Di penjara ia bertemu Kusdalini (Mbah Kus) dan sejak saat itu, mereka selalu bersama.
Berhati-hati saya mencerna pesan dari film ini. Awalnya yang saya tangkap baru sebatas perjuangan melawan stigma dari sepasang sahabat yang dipertemukan oleh nasib 'buruk', lalu tak terpisahkan, hingga akhirnya salah satu harus pergi duluan.
Pengalaman menonton barusan mengantar saya untuk mencari tahu lebih tentang peristiwa ’65. Kenapa Mbah Kam dan Mbah Kus sampai ditahan? Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu, apa itu Gerwani, tapol dan stigma yang menyertainya. Juga sisi humanis dari para penyintas dengan kerja kemanusiaan yang mereka usahakan hingga sekarang. Yang terakhir ini adalah yang mendorong Mbak Fanny dan Kawan-Kawan Media, untuk mengangkat kisah hidup Mbah Kam dan Mbah Kus.
![]() |
| @bioskoponline |
Baru-baru ini, Bioskop Online kembali menayangkan film 'You and I'. Semakin banyak kisah Mbah Kam dan Mbah Kus ini sampai ke tangan orang-orang, semakin banyak juga tanggapan yang membuka sudut pandang saya jadi lebih luas lagi. Saya pun kembali menontonnya. Kali ini meski masih terasa sesak, tapi rasanya berbeda.
Berawal dari resensi yang ditulis Bang AJP di @cinemapoetica, saya sadar akan pesan dari film ini yang jauh lebih luas dari relasi personal yang sebelumnya saya tangkap. Kepergian Mbah Kam dan Mbah Kus juga adalah kehilangan saksi sejarah atas peristiwa yang selama ini disetir hanya dari satu sudut pandang saja.
Di peristiwa itu, nasib seseorang direnggut tanpa keadilan, dipisahkan dari keluarga dan "diasingkan". Sesudahnya, mereka masih harus hidup dengan stigma seumur hidup sebagai penyintas dan dibatasi geraknya. Sampai tidak dianggap keluarga, karena beban yang ditanggung berakibat ke tiga generasi setelahnya.
Bagaimana sikap negara? Jangan ditanya, justru propaganda lahir dari pihak yang berkuasa. Tidak ada pengakuan, tidak ada pemulihan.
Dan dengan perginya para penyintas, para saksi sejarah, akankah peristiwa ini bisa diadili dan dihindari hingga tidak perlu terulang lagi?
Belum tentu. Kehilangan terbesar adalah terkuburnya kebenaran dari peristiwa masa lalu.
Saya memang terlambat, baru sadar akan kisah dari penyintas tragedi kemanusiaan ini baru-baru saja. Terima kasih kepada tim film 'You and I' karena sudah mengantar film ini hingga menjangkau orang awam seperti saya.
Kabar baik, jauh sebelum karya film ini ramai dibicarakan, upaya-upaya merawat ingatan dan merekam sejarah sudah dilakukan juga oleh banyak orang baik yang peduli. Sedikit yang saya tahu ada Mas Adrian Mulya dengan buku foto Pemenang Kehidupan, yang mengangkat kisah hidup para mbah penyintas '65. Buku foto ini juga yang mengawali pertemuan Mbak Fanny dengan Mbah Kam dan Mbah Kus.
Ada juga podcast #1965SetiapHari, yang mengarsipkan kisah-kisah personal yang dituturkan langsung oleh para saksi sejarah '65, agar dapat didengarkan setiap hari. Kapan saja. Sudah ada tiga episode hingga hari ini, dan akan terus bertambah, seperti slogan projek ini yang ingin membicarakan 65 setiap hari.
"Ja-ngan me-lu-pa-kan se-ja-rah," eja Mbah Kam dengan pelan kepada Mbah Kus dalam satu adegan film 'You and I'.
"Jangan sampai lupa, jangan sampai kamu ngalamin juga," tutur Pak Effendi, aktivis kemanusiaan yang saya temui pada suatu #AksiKamisan.
Jangan lupa, jangan sampai terjadi lagi. Ceritakan ulang, ceritakan terus.
Jangan sampai peristiwa ini terlupakan dan terulang, tanpa pernah selesai, tanpa pernah diangkat kebenarannya.
Minggu, 11 April 2021
Selasa, 23 Maret 2021
Dominasi
Hanya 6 dari 35 fotografer terpilih yang merupakan perempuan. Tadinya saya berpikir biasa saja, bahkan merasa bangga karena menjadi yang sedikit itu. Namun, artinya masih ada dominasi satu pihak di bidang tersebut, dan dominasi di banyak bidang lainnya.











