Senin, 02 Agustus 2021

Self-critiques

 I'm a bad person, am I?

Postingan Dummy All Labels are Selected

"Demikian pula, tidak adakah orang yang mencintai atau mengejar atau ingin mengalami penderitaan, bukan semata-mata karena penderitaan itu sendiri, tetapi karena sesekali terjadi keadaan di mana susah-payah dan penderitaan dapat memberikan kepadanya kesenangan yang besar. Sebagai contoh sederhana, siapakah di antara kita yang pernah melakukan pekerjaan fisik yang berat, selain untuk memperoleh manfaat daripadanya? Tetapi siapakah yang berhak untuk mencari kesalahan pada diri orang yang memilih untuk menikmati kesenangan yang tidak menimbulkan akibat-akibat yang mengganggu, atau orang yang menghindari penderitaan yang tidak menghasilkan kesenangan?"

1. Total label: maksimal kar. 200, 12 labels di blog ini

Rabu, 28 Juli 2021

Rumah Gantung

Ada seorang Pak Tua yang tinggal di rumah gantung. Sepetak kontainer besi dengan kait yang tersambung pada sebuah ekskavator kuning. Rumahnya itu berayun-ayun ditiup angin. Penghuni di dalamnya, Pak Tua, berpegangan erat pada sisi rumah sambil mendekap anaknya yang masih balita dengan raut wajah tegang. Bola kecil mainan si anak menggelinding dari satu sisi ke sisi rumah yang lain.


Kamera menjauh, tampilan layar menghadirkan rumah gantung Pak Tua yang berayun. Di belakangnya, ada bangunan dalam konstruksi yang belum jadi. Ternyata Pak Tua sedang diliput oleh sebuah acara reality show, entah bagaimana hingga ia terjebak dan terpaksa tinggal sebagai satu-satunya rumah di dalam lokasi proyek pembangunan.


Mimpi ini saya alami beberapa minggu yang lalu. Debar ketakutan Pak Tua di rumahnya itu terasa nyata. Saya yang sadar kalau itu mimpi juga merasakannya.


Beberapa hari kemudian, saya mengunjungi situs projectmultatuli.org. Seketika visualisasi rumah gantung dari mimpi saya kembali hadir lewat ilustrasi foto di salah satu artikelnya.




Beberapa kali saya mencoba memahami konteks dari mimpi rumah gantung. Ingatan saya bercampur antara adegan di film UP dengan rumah melayang milik Tuan Fredricksen. Juga dengan kekuatiran saya pribadi soal ketahanan tempat tinggal semenjak tahun 2020 lalu rumah saya sendiri kebanjiran.

Rabu, 21 Juli 2021

Sesajen dan Kisah yang Menyertainya

 



Berbeda dari tahun lalu, rasanya saya lebih siap dan tenang-tenang saja dalam menghadapi tanggal 5 Juli. Tidak ada kecemasan berlebihan, tidak ada perasaan rendah dan keinginan untuk melukai diri. Meski rasanya sepi karena masih tanpa adanya pertemuan dengan teman.

Kali ini, saya terbantu dengan pemikiran 'asal' yang bilang bahwa selama pandemi, ulang tahun yang terjadi akan di-hold. Dianulir. So, we're remain the same young as we were before 2020. Haha. Sakarepmu, memang, karena tidak mungkin. 😂

Well, terlepas dari apa yang terjadi, tahun ini saya merasa lebih selo, menerima, dan ikhlas akan apa yang akan terjadi kemudian. Lebih sadar bahwa tiap orang tuh beda-beda jalan hidupnya, rejekinya, jodohnya, alur waktunya, dan segala sel-sel hingga ke partikel atomnya. Belum tentu jika saya menjalani apa yang orang-orang lain jalani, akan sama merasa bahagianya.

Saya jadi lebih meragukan lagi keinginan-keinginan yang timbul. Apa benar ini yang saya mau, atau ini hanya ketakutan sesaat karena menjadi berbeda dengan orang-orang?

Di umur yang semakin dekat dengan 30 tahun, angka yang dulu saya merasa tua sekali tapi saat menuju ke sana, saya ga nyangka, ternyata menjalaninya bisa sedemikian muda. Yah, meskipun rasanya semakin tenang (sepi), karena teman seumuran sudah sibuk dengan urusannya masing-masing dalam peran menjadi dewasa. Tapi perhatian kecil yang hadir lewat sajen yang dikirim, tetap terasa hangatnya.

Kalau ditanya,
"Bagaimana rasanya ulang tahun?"
"Tidak pernah semuda ini."

Terima kasiiiih 🥺

Kamis, 15 Juli 2021

Cuci Otak

Kenapa, ya, orang yang berseragam bisa segitu kasar dan arogan?

Apa jangan-jangan waktu masih pelatihan gitu ada sesi cuci otak? Makanya sensor empatinya rusak.

Lagian PPKM bukannya untuk mengurangi kerumunan? Kok praktiknya malah jadi alasan untuk razia dan main sita usaha orang?

Senin, 28 Juni 2021

I Love it

I love it, when someone called me Upil.
I love it, because it means she/he has known me for at least seven years.
Oh my God, I feel so old.

Seven years ago is the year when I graduated from college lyfe, and as far as I remember, that was the last plece when people called me with that silly name. Hehe.

Still, I love 'em.

Rabu, 23 Juni 2021

Tempura

unsplash.com/@bady

Dulu Bapak pernah minta untuk dibeliin Hokben, karena dia lagi susah makan. Kubelikanlah sepaket Hokben di kios kecil, bukan di restorannya langsung, dengan anggapan "Ah, kan yang penting Hokben." Kubeli yang paket hemat pun, isi semacam nugget-nugget gitu, karena cuma ada menu itu. Ya, namapun kios kecil kan.

Kubawa pulang, kuserahkan ke Bapak langsung. Kuingat, Bapakku ga nafsu makannya. Eh, malah ga dimakan pun sama dia. Cuma dibuka, terus ga ngomong apa-apa lagi. Ga sesuai sama ekspektasinya mungkin. Kuingat lagi, dia nyebut-nyebut menu tempuranya kok ga ada. Oh, Bapakku mau tempura. Oke, kuingat baik-baik.

Beberapa waktu kemudian, ada festival Jepang di UI. Kumain ke sana, kulihat ada yang jual tempura di salah satu stand makanan. Kuingat Bapak, kubeli empat atau dua potong udang goreng tepung itu, dengan harga yang kurasa mahal. Ya, jaman itu aku belum punya uang sendiri, makanya aku perhitungan sekali.

Udang goreng tepung itu kubawa pulang, tampilannya ga menggugah banget. Kurus memanjang, dalam kotak mika sederhana beralas tisu. Dari Depok kubawa sampai ke Bekasi, bersama beberapa potong dorayaki, sebagai oleh-oleh untuk orang rumah.

Bapak makan tempuranya, ngga, ya? Aku ngga ingat.

Waktu itu, selain belum punya uang sendiri, akupun belum kenal makanan enak. Belum tau, bagaimana makanan enak dan proper bisa menyenangkan hati orang. Belum punya pikiran, meski sama-sama rasanya kayak kue apem, tapi dorayaki punya rasa lain yang bikin dia jadi istimewa.

Sekarang, aku udah punya penghasilan sendiri, Pak. Cukuplah untuk sesekali makan yang lain. Udah tau juga, makanan yang enak-enak lokasinya di mana aja. Udah praktis pun sekarang tinggal pesan, nanti makanan enak-enak itu bisa diantar.

Maaf, ya, waktu itu aku ngga bisa memenuhi keinginan Bapak.

Kamis, 27 Mei 2021

trust issue

Capek kan, ya, kalo apa-apa pake perasaan. Bukan cuma dalam personal relationship, tapi juga konteks loyalitas dan kesetiakawanan yang udah kita jaga walau dalam kondisi apapun. Niatnya tulus as an added value, with personal touch, coz I believe everything from the heart will bring you to a deeper and stronger connection. Tapi teman yang kamu percaya dan longgar dengan banyak kompromi itu, engga memperlakukanmu dengan kesetiaan yang sama.

I thought we had no secret between us, instead you tell me no truth.

Dia (temanmu satu tim) meninggalkanmu tanpa penjelasan dan ketika ditanya, engga ada kejujuran di dalamnya.

I feel so much betrayed.

People really are horrible creatures.

Kamis, 20 Mei 2021

Me, Planning a Surprise Birthday Trip

Sabtu ini dia berulang tahun. Sejak masuk bulannya, gue udah ngebayangin akan ngajak dia jalan bareng, nyicipin kuliner hidden gem rekomendasi #darihaltekehalte, lanjut jalan kaki menyusuri kota, menuju ke taman dengan perpustakaan umum luar ruangan. Di penghujung hari saat kita berpisah ke tempat tinggal masing-masing, gue akan menyerahkan kotak hadiah yang udah seharian gue bawa-bawa dalam tas. A surprise birthday trip.

What a romantic plan, huh?

Instead, gue malah ngajak Ali dan Fathmah untuk ketemuan di hari Sabtunya. Nyali gue belum cukup kuat untuk mewujudkan itu semua. Rencana yang sebegitu manis dan romantis hanya bisa terjadi di kepala, karena memang interaksi kami biasa-biasa aja.

The truth is, it would be your special day and I wanna be the special person to spent the day with. Yet, I ain't special.

Plan B.

Gue kirim aja hadiahnya lewat pos. With a lil note, as a thankful word for being a good, nice, and fun friend to share the same interests with. Sukur-sukur pas Minggu dia ngajak ketemuan, dan gue tetap bisa menjalankan that surprise birthday trip for him. Haha.

Kebiasaan ini udah berlangsung beberapa kali. Ketika gue membayangkan melakukan hal-hal manis dan membuat orang yang menerimanya kehabisan kata-kata saking senangnya. Padahal in real life gue dan si subjek ini ga sedekat itu, kami cuma temen biasa. Padahal tujuan utamanya adalah memuaskan diri gue sendiri akan fantasi dan romantisasi dari sebuah surprise.

Padahal ga semua orang suka dengan surprise, makanya gue takut segala printilan rencana itu akan bikin dia menduga yang engga-engga, lalu menimbulkan awkward dan menjauhkan jarak kita yang memang ga sebegitu dekatnya.

Tapi... rencanamu ini kan ga merugikan siapapun? No hard feeling attached, tho?

Selasa, 11 Mei 2021

Ramadan Hari ke-29

Tiba-tiba Bapak ingin pergi ke Purwokerto, sehari saja besoknya pulang. Aku sih ayo-ayo aja, siap berangkat kapanpun Bapak dan keluarga yang lain siap. Anehnya, belakangan baru ketahuan kalau cuma aku yang akan menemani Bapak ke sana. Ditambah lagi, durasi perjalanan ternyata tiga hari (pokoknya menghabiskan jatah libur lebaran).

Kagetlah aku. Kok yang lain ga ikut? Amal cuma nganter sambil bawain barang. Mama cuma nyiapin baju-baju ganti. Irul ga keliatan sosoknya. Karena kaget, aku agak panik dan bilang kalo masih ada pekerjaan kantor (at least bisa koordinasi dulu), sambil sibuk packing baju tambahan.

Bapak di mimpiku semalam, dia diam saja. Potongan rambutnya cepak, nyaris botak, dan bulat dihiasi uban. Memakai jaket krem khasnya dengan lengan terlipat, yang biasa ia pakai kalau sedang dalam perjalanan jauh. Bapak diam saja. Kami jalan bareng menuju stasiun/terminal/tempat sewa mobil(?), tapi Bapak hanya menunduk. Tidak ada tatap.

Ini tahun kesepuluh sejak Bapak meninggal 2011 lalu. Juga tahun ketiga sejak kami sekeluarga tidak bisa pulang dan mengunjungi makam Bapak.

Pak, entah kenapa kok aku mimpiin Bapak, ya?