Rabu, 04 Agustus 2021

Peluk

Postingan tentang mimpi, lagi.
Semalam, saya tiba-tiba tergabung dalam tim pelatnas bulutangkis. Tinggal bersama penghuni lainnya, di bangunan asrama yang ternyata.. berhantu. 😢

Saat tur keliling komplek, Pak Pemandu dengan santai menjelaskan tanda-tanda "perkenalan" yang biasa ditampakkan ke penghuni baru. Salah satunya, akan ada sosok berbaju hijau yang biasanya muncul.

Benar saja, di bawah pohon dekat jemuran, saya melihat dua orang wanita muda dengan dress selutut berwarna hijau sedang menari. Tariannya gemulai dan indah, tapi memunculkan perasaan ngeri. Mendadak jantung saya berdebar cepat dan segera saya memalingkan muka.

Dari mimpi semalam, saya bisa sih nge-break down bagian-bagian dari mimpi itu, yang sebenarnya dipengaruhi dari apa yang saya lihat seharian sampai sebelum tidur.

Potongan dress yang dipakai dua wanita itu bersumber dari produk Pinangkami milik Kadek Arini. Kalau "genre" supranatural yang melatarbelakangi mimpi saya, ini pasti karena persis sebelum tidur saya nonton video obrolan Radit soal hantu pabrik. Salah sendiri, idenya siapa coba dengerin cerita horor sebelum tidur. 😂

Anyway, selain pengalaman horor yang terasa nyata, ada hal lain yang juga masih terbawa hingga saya bangun, hingga saya beraktivitas, hingga saya akhirnya menulis postingan ini.

Di mimpi semalam, saya merasakan pelukan. Seorang teman, dalam hal ini dia atlit, memeluk saya dari belakang. Hangat dan sangat nyaman, sampai ketika saya bangun rasanya ada yang hilang.

Saya ngga lihat wajahnya, tapi ketika melihat poster Satou Takeru pemeran Kenshin Himura si batosai, perasaan nyaman yang hilang itu hadir lagi. Maksudnya, saya jadi kehilangan dan ingin merasakannya lagi.



Rasanya, si pemeluk sudah lama dihinggapi kesepian dan akhirnya menemukan apa yang dia cari, saat memeluk saya. Di satu sisi, saya pun belum pernah merasakan interaksi sedemikian intimnya. Rasanya, kami jadi seperti saling menemukan dan mengisi satu sama lain. Meski dalam waktu yang singkat.

Konteksnya, ini pelukan sebagai interaksi yang comforting, ya. Bukan dalam artian hasrat lain. Okay? 😉

Dalam hal ini, benar, saya memang jarang memeluk dan dipeluk. Jangankan hal seintim itu, di kehidupan nyata saya terbiasa menjaga jarak dengan orang lain. Juga rasanya sudah lama sekali sejak terakhir saya bertemu langsung dengan manusia lain sebagai makhluk sosial. 

Omong-omong, saya bisa break down dari mana adegan peluk-memeluk ini sampai muncul di mimpi saya. Ya, apalagi kalau bukan momen kemenangan Grey/Apri. Pelukan kemenangan di podium, dengan kalungan medali emas. Bangga, haru, lega, dan tentunya bahagia. Ah, pengalaman emosional yang kompleks, yang kamu bagi dengan partner seperjuangan selama ini.

Saya juga ingin merasakannya sendiri.

Ah, pandemi ini ngebikin saya jadi makin delusional!

Yang Dicari

Anyway, selamat, yaaa!
Semoga cepet ketemu sama apa yang dicari. Uhuy 💕

Hahaha, kamu juga, yaaa.
Semoga segera ketemu sama yang dicari 😁

Ahaha, iyaaa. Aku masih mencari diriku sendiri 😊

Senin, 02 Agustus 2021

Self-critiques

 I'm a bad person, am I?

Postingan Dummy All Labels are Selected

"Demikian pula, tidak adakah orang yang mencintai atau mengejar atau ingin mengalami penderitaan, bukan semata-mata karena penderitaan itu sendiri, tetapi karena sesekali terjadi keadaan di mana susah-payah dan penderitaan dapat memberikan kepadanya kesenangan yang besar. Sebagai contoh sederhana, siapakah di antara kita yang pernah melakukan pekerjaan fisik yang berat, selain untuk memperoleh manfaat daripadanya? Tetapi siapakah yang berhak untuk mencari kesalahan pada diri orang yang memilih untuk menikmati kesenangan yang tidak menimbulkan akibat-akibat yang mengganggu, atau orang yang menghindari penderitaan yang tidak menghasilkan kesenangan?"

1. Total label: maksimal kar. 200, 12 labels di blog ini

Rabu, 28 Juli 2021

Rumah Gantung

Ada seorang Pak Tua yang tinggal di rumah gantung. Sepetak kontainer besi dengan kait yang tersambung pada sebuah ekskavator kuning. Rumahnya itu berayun-ayun ditiup angin. Penghuni di dalamnya, Pak Tua, berpegangan erat pada sisi rumah sambil mendekap anaknya yang masih balita dengan raut wajah tegang. Bola kecil mainan si anak menggelinding dari satu sisi ke sisi rumah yang lain.


Kamera menjauh, tampilan layar menghadirkan rumah gantung Pak Tua yang berayun. Di belakangnya, ada bangunan dalam konstruksi yang belum jadi. Ternyata Pak Tua sedang diliput oleh sebuah acara reality show, entah bagaimana hingga ia terjebak dan terpaksa tinggal sebagai satu-satunya rumah di dalam lokasi proyek pembangunan.


Mimpi ini saya alami beberapa minggu yang lalu. Debar ketakutan Pak Tua di rumahnya itu terasa nyata. Saya yang sadar kalau itu mimpi juga merasakannya.


Beberapa hari kemudian, saya mengunjungi situs projectmultatuli.org. Seketika visualisasi rumah gantung dari mimpi saya kembali hadir lewat ilustrasi foto di salah satu artikelnya.




Beberapa kali saya mencoba memahami konteks dari mimpi rumah gantung. Ingatan saya bercampur antara adegan di film UP dengan rumah melayang milik Tuan Fredricksen. Juga dengan kekuatiran saya pribadi soal ketahanan tempat tinggal semenjak tahun 2020 lalu rumah saya sendiri kebanjiran.

Rabu, 21 Juli 2021

Sesajen dan Kisah yang Menyertainya

 



Berbeda dari tahun lalu, rasanya saya lebih siap dan tenang-tenang saja dalam menghadapi tanggal 5 Juli. Tidak ada kecemasan berlebihan, tidak ada perasaan rendah dan keinginan untuk melukai diri. Meski rasanya sepi karena masih tanpa adanya pertemuan dengan teman.

Kali ini, saya terbantu dengan pemikiran 'asal' yang bilang bahwa selama pandemi, ulang tahun yang terjadi akan di-hold. Dianulir. So, we're remain the same young as we were before 2020. Haha. Sakarepmu, memang, karena tidak mungkin. 😂

Well, terlepas dari apa yang terjadi, tahun ini saya merasa lebih selo, menerima, dan ikhlas akan apa yang akan terjadi kemudian. Lebih sadar bahwa tiap orang tuh beda-beda jalan hidupnya, rejekinya, jodohnya, alur waktunya, dan segala sel-sel hingga ke partikel atomnya. Belum tentu jika saya menjalani apa yang orang-orang lain jalani, akan sama merasa bahagianya.

Saya jadi lebih meragukan lagi keinginan-keinginan yang timbul. Apa benar ini yang saya mau, atau ini hanya ketakutan sesaat karena menjadi berbeda dengan orang-orang?

Di umur yang semakin dekat dengan 30 tahun, angka yang dulu saya merasa tua sekali tapi saat menuju ke sana, saya ga nyangka, ternyata menjalaninya bisa sedemikian muda. Yah, meskipun rasanya semakin tenang (sepi), karena teman seumuran sudah sibuk dengan urusannya masing-masing dalam peran menjadi dewasa. Tapi perhatian kecil yang hadir lewat sajen yang dikirim, tetap terasa hangatnya.

Kalau ditanya,
"Bagaimana rasanya ulang tahun?"
"Tidak pernah semuda ini."

Terima kasiiiih 🥺

Kamis, 15 Juli 2021

Cuci Otak

Kenapa, ya, orang yang berseragam bisa segitu kasar dan arogan?

Apa jangan-jangan waktu masih pelatihan gitu ada sesi cuci otak? Makanya sensor empatinya rusak.

Lagian PPKM bukannya untuk mengurangi kerumunan? Kok praktiknya malah jadi alasan untuk razia dan main sita usaha orang?

Senin, 28 Juni 2021

I Love it

I love it, when someone called me Upil.
I love it, because it means she/he has known me for at least seven years.
Oh my God, I feel so old.

Seven years ago is the year when I graduated from college lyfe, and as far as I remember, that was the last plece when people called me with that silly name. Hehe.

Still, I love 'em.

Rabu, 23 Juni 2021

Tempura

unsplash.com/@bady

Dulu Bapak pernah minta untuk dibeliin Hokben, karena dia lagi susah makan. Kubelikanlah sepaket Hokben di kios kecil, bukan di restorannya langsung, dengan anggapan "Ah, kan yang penting Hokben." Kubeli yang paket hemat pun, isi semacam nugget-nugget gitu, karena cuma ada menu itu. Ya, namapun kios kecil kan.

Kubawa pulang, kuserahkan ke Bapak langsung. Kuingat, Bapakku ga nafsu makannya. Eh, malah ga dimakan pun sama dia. Cuma dibuka, terus ga ngomong apa-apa lagi. Ga sesuai sama ekspektasinya mungkin. Kuingat lagi, dia nyebut-nyebut menu tempuranya kok ga ada. Oh, Bapakku mau tempura. Oke, kuingat baik-baik.

Beberapa waktu kemudian, ada festival Jepang di UI. Kumain ke sana, kulihat ada yang jual tempura di salah satu stand makanan. Kuingat Bapak, kubeli empat atau dua potong udang goreng tepung itu, dengan harga yang kurasa mahal. Ya, jaman itu aku belum punya uang sendiri, makanya aku perhitungan sekali.

Udang goreng tepung itu kubawa pulang, tampilannya ga menggugah banget. Kurus memanjang, dalam kotak mika sederhana beralas tisu. Dari Depok kubawa sampai ke Bekasi, bersama beberapa potong dorayaki, sebagai oleh-oleh untuk orang rumah.

Bapak makan tempuranya, ngga, ya? Aku ngga ingat.

Waktu itu, selain belum punya uang sendiri, akupun belum kenal makanan enak. Belum tau, bagaimana makanan enak dan proper bisa menyenangkan hati orang. Belum punya pikiran, meski sama-sama rasanya kayak kue apem, tapi dorayaki punya rasa lain yang bikin dia jadi istimewa.

Sekarang, aku udah punya penghasilan sendiri, Pak. Cukuplah untuk sesekali makan yang lain. Udah tau juga, makanan yang enak-enak lokasinya di mana aja. Udah praktis pun sekarang tinggal pesan, nanti makanan enak-enak itu bisa diantar.

Maaf, ya, waktu itu aku ngga bisa memenuhi keinginan Bapak.