Kamis, 11 Mei 2023
Jumat, 31 Maret 2023
Sebelum Hari Berakhir
Di voluntrip kedua ini, rasanya aku bisa lebih cepat membuka diri. Mungkin karena ada barengannya, mungkin karena acaranya lebih padat, mungkin karena ketularan santri-santri dan kakak-kakak semua yang jago menghidupkan suasana. Mungkin karena.. aku pada akhirnya berhasil untuk lebih terbuka.
Meski begitu, tetap ada perasaan yang tertinggal karena belum sempat ngobrol banyak sama temen-temen panitia.
Terlepas dari segala pro-kontra yang terjadi dalam kepala, aku semakin yakin untuk sering-sering ikut kegiatan volunteering. Rasanya kegiatan sosial semacam ini dibutuhkan untukku yang introvert, agar bisa terpapar dengan banyak energi dari teman-teman lain, dan bertemu macam-macam orang. Dan konsep per kegiatan ini, tidak membutuhkan banyak komitmen. Selesai acara, pulang.
Cocok untuk aku dengan energi sosial yang tidak banyak. Agak kontra ya, tapi begitulah yang aku rasa sekarang.
![]() |
| Voluntrip with Anggi |
Rabu, 29 Maret 2023
Pameran Patah Hati
Selasa, 14 Februari 2023
Gusar
Kelamaan #wfh, jiwa introvert-ku semakin menjadi-jadi.
Kasian Dicko, dia selalu kena jutek dan judesnya gue di setiap pulang kerja. Padahal dia hanya menjadi dirinya sendiri yang bawel dan ga jelas. Tapi itu bukan alasan untuk dia pantas dijutekin, sih. Soalnya, kalo sama yang lain, responnya fine-fine aja. Karena itu, gue jadi gusar sendiri. Sebenernya apa sih yang bikin gue ga bisa ramah dan zen saat interaksi dengan orang lain?
Ehiya, btw tadi gue dapet driver grab seorang Sir Henry Dunan! Terdengar familiar. Setelah googling baru deh gue ngeh kalo namanya diambil dari nama Bapak Palang Merah Sedunia.
Bersiasat
Sulitnya jadi pedagang kecil. Kalo ga punya tempat, harus keliling sampe dagangan habis. Kalo udah nyewa tempat, harus jor-joran nawarin orang-orang, atau buka channel online, biar dapet pelanggan dan usahanya jalan.
Setiap berangkat ke kantor, gue sering nemu ada usaha baru yang buka deket rumah. Mulai dari warung mie ayam, bakso, warung nasi, sayur segar, sablon jaket, es kelapa, sampe tukang fotokopi.
Namanya di pinggir jalan, semua rumah tetangga udah alih fungsi jadi tempat usaha. Dinamis banget. Kadang baru satu bulan udah ganti jenis. Mie ayam depan rumah baru aja pindah ke ruko samping, yang sebelumnya diisi sama pedagang telur dan barang kelontong.
Secara lokasi memang strategis, tapi sering juga gue liat tempatnya sepi, terus ga lama tutup. Yang bisa gue bantu adalah beli dagangannya dikit-dikit. Meski ga banyak, tapi gue harap bisa jadi pemasukan mereka di hari itu.
Sabtu, 21 Januari 2023
Hatiku Sangat Kacaw
Begitulah perasaanku saat selesai nonton “A Man Called Otto” tadi, tapi aku ga bisa menemukan kata untuk menjelaskan kekacawan ini. Setelah dilanjut nonton review dari Cinecrib, baru aku bisa mengenali perasaan kacaw yang aku alami.
Iya Ra, rasanya mixed feeling abis. Begitu isi chatku ke Tiara.
Mixed feeling karena aku nangis justru di scene yang bahagia. Saat Otto bertemu Sonya, saat makan malam pertama mereka, saat Otto main sama anak-anaknya Marisol, saat Otto ketemu Malcolm —bekas muridnya Sonya.
Mixed feeling karena ada beberapa scene yang sangat film sekali, alias terlalu mudah penyelesaiannya. Yah memang itu bukan poin utama, tapi tetap terasa mengganggu pengalamanku mendalami ceritanya. Yang tadinya bisa relate dan dekat dengan penonton (aku) dengan segala set-upnya, disudahi begitu saja. Sangat hollywood sekali rasanya.
*spoiler*
Scene terakhir yang harusnya sedih, aku malah ga merasakannya. Kematian di sini adalah goal utama Otto sebagai karakter.
*trigger warning*
Otto —yang berkal-kali berusaha bunuh diri, namun gagal— bisa selamat karena meski dia grumpy, namun tetap ada koneksi dengan orang lain. Hampir setiap hari Otto marah-marah ke tetangga, marah-marah ke orang lain yang ga tau apa-apa, ngedumel, tapi tetangganya tetep nyapa, tetep peduli, tetep ngerespon marah-marahnya Otto.
Itu yang rasanya belum aku dapat sehari-hari.
Mixed feeling karena ada perasaan kosong dan iri. I got no Sonya or Marisol.
Mixed feeling karena ada suara di kepala yang bilang, hey ini cuma film. Cobalah tonton aja tanpa ada penilaian macam-macam. Jangan semua-muanya dijadiin ajang evaluasi diri.
Minggu, 20 November 2022
Di antara
Tiba-tiba ini terlintas di pikiran.
Sering kali pameran fotografi, biasanya, diselenggarakan di pusat kebudayaan, galeri seni, toko alat motret dan kamera, atau kawasan tertentu lainnya. Beberapa pernah diadakan di jalan, pasar, bahkan pinggir pesisir langsung di tengah masyarakat. Tapi.. tetap saja fotografi masih terasa berjarak dari kehidupan sehari-hari kebanyakan orang.
Dengan segala pendekatan yang ada, rasanya fotografi masih merupakan barang mewah bagi banyak kalangan. Tau, kenal, tapi tidak semua orang berani mencobanya.
Apa karena, di permukaan, fotografi hanya bersifat satu arah? Hanya di kalangan penggiatnya saja? Apa benar?
Berjarak dari Fotografi
Ealah, judulnya berasa gue si paling aktif motret aja. Aslinya mah boro-boro, paling mentok juga diajak hunting bareng temen-temen. Kalo ga ada yang ngajak, ya, ga motret. Ehehehe.
Sekarang, temen-temen si pengajak hunting itu udah punya kehidupan lain semua. Merujuk ke kondisi di atas, gue jadi ga pernah hunting random lagi. Well, gue emang ga bilang langsung, but, I miss our old days, gaess. :(
Dulu-dulu.. ada acara fotografi di mana, ada pameran di mana, ada diskusi di mana, gue selalu hadir. Gue kejar, bela-belain dateng, tapi tetap tidak berjejaring. Mengamati saja di pojokan dalam gelembung sendiri.
Gue ga tau ini side effectnya atau mungkin gue yang terlalu emosional, tapi dari pertemuan soal fotografi itu selalu ada perasaan haru, pilu, dan kecil. Hasil dari paparan realita yang tidak seindah hasil potret pelaku aktif fotografi yang jadi pembicara. Hasil dari kerja-kerja sulit yang dihadapi demi mengangkat kisah yang nyata dan tersembunyi. Awalnya termotivasi, tapi makin ke sini makin tidak terawat semangatnya.
Rasanya diri ini sangat cetek, karena masih melakukan fotografi sebagai hobi sampingan yang tidak menghasilkan, profit maupun non-profit. Saya merasa makin tidak ada apa-apanya. Lalu berakhir dengan mengambil jarak dari aktivitas ini, yang hampir selalu menyalakan tombol gairah di diri saya.
Menjaga jarak dari mereka yang sudah berdampak.

