Jumat, 30 Mei 2014

Bertahan dan Menahan

ini bukan soal menang kalah
atau siapa dapat hadiah
karena memang bukan kompetisi
tapi tentang pengendalian diri

sayangnya
gerak gastrokolik adalah refleks
bergerak berderap
hanya berhenti saat kita mati

maka hingga saat itu tiba
dalam kondisi tidak berdaya
yang bisa kulakukan adalah bertahan
karena melawan bukan pilihan

Sabtu, 24 Mei 2014

Kamis, 22 Mei 2014

Dia Mati Pukul Enam


Tahukah kamu?
Di sudut taman yang kita lewati,
yang kita kunjungi,
yang kita semangat berfoto di sana saat masih maba dulu,
ada sebuah menara jam berdiri.
Sendiri. Menjulang tinggi.

Kini dia sudah mati.
Dia mati pukul enam
lebih lima menit.

Rabu, 21 Mei 2014

Di Depan Shelter Faperta

Add caption
Harus naik dua lantai untuk bisa dapet gambar ini. Ternyata cakep banget diliat dari atas.
Ada yang tiap hari lewat jalan ini? :D

Apa yang Dicari di Baduy?

Lanjutan dari post sebelumnya..

Di pagi hari Baduy tiba-tiba ramai dengan warganya yang beraktivitas. Ramai tanpa ribut. Mereka ke sungai, ke pancuran, ke ladang, atau duduk-duduk di beranda rumahnya. Mungkin ingin melihat seperti apa rupa pendatang yang ribut semalam.

Selepas sarapan aku dan teman-teman ke sungai untuk membicarakan rencana kabur. Kami berencana untuk main air atau tidur saja. Apapun, supaya tidak perlu ikut ke ladang. Di sana aku mager sekali. Kaki baru terasa sakitnya akibat treking 4 jam kemarin, dan terbayang-bayang perjalanan pulang treking 6 jam esok hari. Tapi rencana kabur itu hanya main-main.

Buktinya ini: sketsa bangunan tempat kami istirahat di ladang. Atas: hasil gambarku yang kusebut sketsa, bawah: sketsa hasil gambaran si Guru.

Di ladang, kegiatan kami kebanyakan diisi dengan ngobrol-ngobrol. Aku yang masih canggung dengan orang baru lebih banyak diam mendengarkan. Apa diamku terhitung masuk percakapan? Untuk itu aku membawa buku catatan. Sebenarnya ini modus dengan alibi menulis catatan perjalanan dan menggambar sketsa. Aku hanya berharap tidak terlihat 'ansos' amat.
Catatan hari ke-2

Sore hari sepulang dari ladang, tiba-tiba Cibeo ramai dengan pengunjung yang baru datang. Katanya ada 300 orang. Malam itu Cibeo ramai bukan hanya oleh pengunjung, tapi juga pedagang dari luar Baduy yang menjajakan popmi, juga kerajinan khas Baduy. Malam itu Cibeo berbeda dengan malam kemarin yang syahdu. Mungkin Baduy terlalu ramah untuk menolak pengunjung, persis apa yang digambarkan Natgeo dalam artikel Baduy, Maafkan Kami..

Sebenarnya apa yang dicari jauh-jauh masuk ke Baduy, kalo di sana masih menanyakan sinyal ponsel. Apa yang dicari sampai ke Baduy, kalo kita mengganggu tenangnya dengan ribut. Apa yang aku cari di Baduy, kalo di sana hanya mager?

Soal kejelasan aturan adat selama di Baduy jarang disinggung dalam perjalanan kemarin. Yang aku tahu pasti hanya tidak boleh memotret di kawasan Baduy dalam dan pengunjung hanya boleh menginap semalam di rumah penduduk. Karenanya di hari kedua, rombongan kami pindah ke rumah penduduk lain. Mungkin sebenarnya banyak aturan adat Baduy yang dilanggar oleh pengunjung, termasuk kami, termasuk aku. Mungkin tanpa dijelaskan, harusnya kami menghormati penduduk di sana dengan menahan diri tidak ribut. Mungkin harusnya dipertanyakan lagi pada diri masing-masing, apa yang dicari di Baduy?

Senin, 19 Mei 2014

Kesederhanaan Baduy

Baduy yang aku kunjungi kemarin sederhana sekali. Terbuat dari 4 jam perjalanan jalan kaki, orang-orang baru, turunan, dan tanjakan panjang. Kadang ada jalanan datar, yang aku syukuri sekali saat melintasinya.

Ini pertama kali aku ikut perjalanan macam open trip. Dari rombongan yang berangkat, cuma Ratna dan Guru yang aku kenal, lainnya masih asing karena baru bertemu. Orang asing pertama yang kutemui adalah Tino dan Faisal, teman dari DPM sebelah. Kami tergabung dalam rombongan IPB, 5 on a joyride.

Di hari pertama agendanya trekking 4 jam dari Cijahe menuju Cibeo, desa tempat kami menginap di Baduy Dalam. Kami mengambil jalur lewat Cikeusik, sebuah desa lain di Baduy Dalam. Kenapa ga nginap di Cikeusik aja? Soalnya ke Cikeusik ga sampai 4 jam, Broh. #pfft

Sepanjang perjalanan terlihat hamparan bukit yang indah tapi menakutkan untuk dilihat. Takut menerima kenyataan kalo letak Cibeo ada di balik bukit-bukit itu, takut melihat jalannya yang menanjak, takut terpeleset. Kami ditemani akang-akang warga Cibeo yang ramah, dan bocah-bocah Baduy yang masih kecil tapi kuat jalan jauh. Mereka bertenaga sekali, jalan terus tanpa minum, tanpa terlihat capek, tanpa nafas yang putus, tanpa terpeleset, tanpa sekalipun jalan duluan meninggalkan kami. Mereka juga kalem dan sabar. Beda dengan aku yang rewel bertanya:
'masih ada tanjakan lagi Kang?'
                                                                    'masih jauh ga Kang?'
              'berapa jam lagi Kang?'
                                                            'udah sampe Kang?'   ..........
Meski hanya itu percakapan yang aku tawarkan, tapi mereka jawab semuanya dengan sopan.
Waktu matahari tenggelam dan kami masih belum sampai, duniaku terasa jungkir-balik. Kurang dari 24 jam yang lalu, aku masih di atas kasur menatap laptop. Sekarang aku harus fokus menatap jalan sambil menyalakan lampu senter supaya ga tersandung. Kurang dari 24 jam yang lalu, aku masih lari pagi di kampus, beli ikan asin, beli beras.. sekarang aku sedang berjalan menggendong ransel. Kurang dari 24 jam yang lalu kehidupanku seputar kosan-kampus-bara, sekarang aku ada di tengah bukit, bersama orang-orang yang baru kukenal, menuju pedalaman suku Baduy. Rasanya mirip film The Secret Life of Walter Mitty.

Sekitar jam setengah 8 malam, akhirnya aku tiba di Cibeo. Waktu nyebrang jembatan terakhir sebelum masuk lingkungan rumah penduduk, wah.. rasanya semangat luar biasa. Ga sabar ingin  copot ransel, istirahat. Saat itu kebanyakan penduduk udah tinggal di dalam rumahnya masing-masing, suasananya gelap dan sepi, ramai karena rombongan kami yang berisik. Sisa malam itu habis untuk bersih-bersih di pancuran, makan, sedikit obrolan, dan tidur pulas..

Tadinya ingin sok-sokan menggambar sketsa suasana, berhubung Baduy Dalam tabu untuk difoto. Tapi seperti yang sudah kubilang, aku capek..

(bersambung ke postingan ini..)

Selasa, 13 Mei 2014

Foto Bareng Agnezmo






 
Naikilah kendaraan umum..
Siapa tahu bisa foto bareng Agnezmo, seperti aku dan teman-temanku..

Selasa, 06 Mei 2014

Pergi ke @america

Jadi tujuan gue nyari Pacific Place kemarin itu untuk main ikutan donor darah. Donor darahnya di @america, pusat kebudayaan Amerika di Pacific Place, karena donor ini kerjasama antara Kedubes Amerika dan PMI. Acaranya dua hari loh, tanggal 6-7 Mei 2014. Masih ada besok nih, ayook serbu @america untuk donooooor..

Perjalanan ini ga jadi gue tempuh seorang diri, karena si Guru ikut. Gue senang karena daripada bingung sendiri, rasanya lebih enak kalo ada yang menemani bingung, bukan? Wahaha, sampe si Guru bolos les Inggris. Maaf aku tidak ikut bolos, karena tidak ikut les, Gur. Xv

Untuk masuk ke Pacific Place, gue dan Guru harus menyerahkan tas dan bawaan dulu ke ban berjalan untuk di-scan. Abis itu di @america tas kita diperiksa, lagi-lagi di atas ban berjalan. Masih berlanjut, kita harus nitipin tas dan bawa barang yang diperluin aja masuk ke @america. Terus barang bawaan yang secukupnya itu ditaruh di kotak plastik melewati gerbang detektor. Abis itu baru kita bisa masuk bawa barang bawaan secukupnya yang diperluin aja.

Selesai donor tiba-tiba gue dan Guru disamperin anak gaul JKT yang jangkung-jangkung. Oh, oh, ternyata mereka mahasiswa Binus yang lagi fund raising untuk orang dengan kanker. Sungguh gaya bicara mereka sangat gaul, jauh lebih gaul dari bahasa pemrograman. Gue jadi bingung gimana menanggapinya supaya gaul juga, karena tidak terbiasa. :v

Cara mereka fund raising juga sangat bermodal. Mereka jualan buku voucher yang isinya voucher makan dan lain-lain, yang kayaknya sih ada di Pacific Place itu. Yah, karena gue dan Guru kere, bahkan kami patungan pun tak mampu, mungkin ini jatah orang lain untuk bisa bantu kalian, Guys.

Jekartah hari ini tetap sibuk dengan kendaraannya yang seliweran, meski tanpa klakson. Tapi gue menikmati interaksi dengan abang kondektur Kopaja, om security di Pacific Place, dan bapak ojek yang menunjukkan jalan dengan jelas, sehingga gue dan Guru ga tersesat. Tadinya mau sok akrab juga sama petugas PMI, tapi mereka udah akrab duluan sama panitia donor. Gue pun pamit tanpa jejak.

Ini, ada oleh-oleh dari Jekartah:
Menunggu Kopaja

'Buruh kecil yang terlupakan, seharusnya engkau tidak di jalan. Karena engkau adalah penerus bangsa ini.'

Itinerari:
Kampus-Laladon (angkot Kampus Dalem): 3000
Laladon- St. Bogor (angkot 03): 3000
St. Bogor-St. Sudirman (KRL): 4000
St. Sudirman-Pacific Place (Kopaja 19): 3000
*untuk sekali perjalanan

Senin, 05 Mei 2014

Awesomedit Dapet Pejwan!

Pejwan gan!
Jadi ceritanya gue lagi nyari info angkot dari Bogor ke Pacific Place waktu nemu tulisannya si Telor.

Canggih juga nih Gugel, tulisan Telor ampe nyangkut di pejwan. Padahal judulnya 'Ga Pernah ke Jakarta (1)'. Padahal isinya tentang petualangan dan suka-duka dia main ke kantor Microsoft bersama Uki dan Tantos. Padahal petualangan mereka happy ending, ga tersesat, mungkin itu karena ada Uki sebagai penunjuk jalan. Gue jadi yakin perjalanan gue akan berhasil, meski ga bawa penunjuk jalan. Kita liat aja begimana ceritanya esok hari, insya Allah. :D

Setelah gue baca tulisan si Telor itu, cukup informatif sih isinya, cuman ya Lor.. Lor.. lu kaga nulis nomer kopaja yang lu tumpangin.. -..-
Maka gue bertanya pada Rake seorang anak JKT (karena kebetulan dia lagi OL), dan dia menjawab dengan mengirim link ini.

Okelah gue cukup dapet gambaran, sisanya tinggal berangkat, berdoa, dan nanya-nanya orang di jalan. Semoga happy ending dan kedatangan gue diterima. Wehehe

Kamis, 01 Mei 2014

Perjalanan di Hari Wisuda 30 April 2014

Start:
Gue berangkat dari kosan di Bara 4, menuju shelter sepeda(I) di GWW. Sampai di shelter sepeda, ternyata ada banyak polisi! Oh oh, ada apa ini? Mana Om penjaga shelternya? Ternyata itu polisi yang jaga di wisudaan, numpang duduk sambil ngobrol sama Om penjaga shelter.

Gue pinjem sepeda B*NI bernomor 350 dengan KTM sebagai jaminannya, menuju ke Bread Unit(II) untuk beli bingkisan buat kadiv insekta di UKF (2011-2012), ka Aya, yang wisuda hari ini. Di Bread Unit gue beli brownies, gue bungkus brownies itu pakai plastik hias dan pita biru yang gue bawa dari kosan, dengan dibantu Yunita yang kebetulan ketemu di sana. Yunita abis ketemu dosennya, dia lagi persiapan akan sidang. Makasih Yun udah bantu ngebungkus, gue doain semoga sidangnya lancar. Wahaha

Selanjutnya dari Bread Unit gue balik ke shelter sepeda lagi, balikin sepeda, ga lupa ngambil KTM juga. Gue jalan kaki ke gladiator(III), bertemu teman-teman yang jualan note book untuk bingkisan wisuda. Ada Tantos, Liatos, Ncin, dan Chula. Ketemu Marina yang bareng kaka ipar dan adiknya kaka ipar, mereka datang ke wisudaan kakanya kaka ipar. Selanjutnya ga ada peristiwa menarik sampai para wisudawan dan wisudawati keluar dari GWW.

Suasana tiba-tiba ramai, manusia dari segala penjuru datang ke GWW, nyambut temannya, sodaranya, atau keluarganya yang diwisuda. Gue juga berkeliaran ke GWW(IV), muter-muter nyari ka Aya, tapi gue hanya bertemu orang asing. Entah di putaran ke berapa akhirnya gue menemukan apa yang gue cari, gue serahkan sepotong bingkisan itu, lalu melambai pergi. (~'0')~

Gue ketemu lagi dengan teman-teman yang udah beres jualan note book, lalu pergi ke WR. Indomen(V) untuk makan siang karena hari sudah siang. Selesai dari Indomen, gue berpisah dengan teman-teman untuk mampir ke Agro(VI). Ga maksud apa-apa, mampir aja ke sana. Lalu gue pulang ke kosan dan jadilah tulisan ini. Finish.

Lumayan juga tempat yang gue kunjungi hari ini, ada banyak kalo diitung-itung. Karena gue lagi senang mencoret-coret gara-gara nemu pensil warna merah waktu praseminar kemarin, ini gue sertakan rute perjalanannya. Supaya ga nyasar. Mungkin ada yang mau napak tilas? Siapa tau.

Adios!