Hati-hati membacanya, postingan ini mengandung
spoiler!
Hallow,
Bang Dika!
Gue mau laporan, nih, Bang. Gue baru selesai baca karya terbaru lu, si
Koala Kumal. Hasil minjem ke ade gue tapi, dia yang beli, bukan gue. Hehe.
Kesan gue setelah selesai baca: asli gue suka sama novel ini. Baguuuus, Bang!
Dibanding novel-novel lu sebelumnya, Koala Kumal terasa lebih nyata di kehidupan gue. Rasanya lebih berisi, ga cuma seputar komedi-cinta-galau seperti yang lain, tapi juga pendewasaan. Di novel ini, lu terlihat lebih macho menghadapi hidup! Selamat, Bang, misi pencitraan lu berhasil. Heheheh.
Bagian yang rasanya 'Gue-Banget' adalah bab tentang jurit malam. Karena kehidupan SMP kita mirip-mirip, Bang. Pas SMP dulu, gue juga duduk berpasangan sama kaka kelas pas ujian. Pas SMP, gue juga ikut PMR. Pas SMP, kehidupan ekskul gue juga menganut senioritas garis keras! Gue jadi kayak ngebaca riwayat hidup gue sendiri, dan riwayat hidup orang-orang yang gue kenal masa SMP dulu. Bedanya, gue ga tau apakah di masa itu gue juga bikin orang patah hati.
Koala Kumal jadi semacam refleksi diri bagi gue. Setiap bab punya kesannya masing-masing. Tentang jatuh cinta diam-diam, kode ga nyampe, dan ke-ge-er-an, gue jadi kepikiran berapa banyak kesempatan yang gue lewatkan.
Tentang patah hati, gue dapet pembelajaran untuk berani patah hati. Bukan cuma patah hati soal 'hati', tapi juga soal kehidupan, impian, dan hal lainnya.
Benar lah kalo patah hati bisa ngubah persepsi kita terhadap sesuatu. Dan patah hati harusnya ngebuat kita jadi lebih kuat, jadi lebih dewasa. Karena
ada sesuatu yang selesai. Gue suka adegan terakhir, ketika lu ngobrol sama nyokap lu. Cara lu menuliskannya seperti merek sosis,
so good so nice, Bang.
Tentang novel ini, gue jadi sadar bahwa elu multitalen(an) ya, Bang. Muehehehe
Menciptakan Miko berhasil menciptakan respek gue terhadap lu. (y)
Ngomong-ngomong, Bang, gue mau curhat dikit. Dikiiit aja deh, suwer. Jadi gini, rasanya ada beberapa kejanggalan di Koala Kumal.
Pertama, tentang identitas Bahri dan Dodo di bab petasan Jangwe. Diceritain kalo model rambut Bahri belah tengah rapi yang disisir hati-hati, sedangkan Dodo cepak ala tentara. Lalu di adegan berjemur di atas mobil, diceritain kalo Dodo sering tersisih berjemur di atas bagasi, sementara Bahri di atap mobil bersama Dika kecil. Tapi ilustrasi bocah yang berjemur disebelah Dika ga cocok sama karakter Bahri, karena dia berambut cepak! Sementara bocah yang diduga Dodo, yang tersisih di atas bagasi, justru memiliki ciri rambut-belah-tengah punya Bahri.
What's going on, Bang? Apakah Dodo dan Bahri tukeran model rambut? Atau Bahri menyamar jadi Dodo?
Kedua, di bab cewek tomboi. Diceritain lu pacaran sama Deska, tapi Deska pindah hati ke Astra. Di adegan Deska minta putus, lu duduk berdua sama Deska di teras rumahnya. Tapi tiba-tiba, ada adegan Astar menghela napas panjang, dan lu putus sama Astra. Bang Dika, sebenernya lu duduk berdua di rumah Astra, atau Deska?
Tell me the truth, Baang..
Udah, Bang. Gitu aja cerita gue hari ini. Laporan selesai.
Keep up the good work.
Salam cheya-cheya.