Selasa, 31 Maret 2015

Retorika 2015: Episode Maret

Kepala
Kepalaku ya kepalaku
Kepalamu ya kepalamu
Mau sekeras batu
Mau serapuh abu
Selamanya akan begitu
Milikku dan milikmu

Bulan-Bulanan
Bulan pertama, kita ber-50
Bulan kedua, kita tinggal ber-6

Bulan ketiga, kita ber-15
Bulan keempat, kita tinggal ber-12

Bulan kelima, kita ber-8
Bulan keenam, kita bertanya-tanya

Efek Samping
Banyak duduk
Lemak numpuk
Pipi gemuk
Mata ngantuk

Ke mana (1)
Ke mana perginya manusia pencinta kata
yang di tangannya aksara berubah menjadi senjata?

Hutangnya masih belum lunas
tugasnya masih belum tuntas

Selasa, 24 Maret 2015

Sandiwara Kereta

A photo posted by Yaumil K (@k.yaumil) on


Aku bisa apa jika kamu memintaku beranjak
sementara ada dia yang menghalangi langkah kita?

Aku bisa apa jika kamu memintaku bergerak cepat
sementara ada dia yang menahan laju kita?

Aku bisa apa jika kamu memintaku mendekat
sementara ada dia yang memperlebar jarak kita?

Aku bisa saja menerobosnya, berebut
lalu saling jegal dan berakhir dengan keributan

Tapi kita harus sabar, Sayang
karena kita sedang di kereta, yang penuh dengan pekerja

Minggu, 22 Maret 2015

Puisi untuk Pixels

06.07.2014

Perpisahan sedih bukan karena berpisah
tapi karena melupakan
dan saling hilang-menghilang

Empat atau tiga tahun bukan waktu yang sebentar
tapi juga belum cukup lama
untuk kenal dekat kalian semua

Meski begitu, kita tahu satu cerita
yang pernah menyatukan kita

Maaf dan terima kasih, Pixels.
Sampai bertemu di lanjutan cerita berikutnya.


*) Puisi ini udah lama dibuatnya, musim lebaran tahun lalu. Waktu itu gue masih di kampung halaman, ketika tiba-tiba dapet sms dari temen gue, namanya Mawar, ini beneran nama samaran, minta tolong dibuatin puisi untuk Pixels. Setelah perenungan tiga hari tiga malam, jadilah puisi di atas itu. Eheheh.

Hari ini gue mendadak melankolis. Kangen sama masa kuliah. Kangen sama masa dua tahun lalu, ketika gue PKL sambil puasa Ramadhan.

Kenapa? Karena PKL sambil puasa Ramadhan itu ampuh meniruskan pipi gue. Oke, sebenernya gue cuma kangen masa ketika 'badanku dulu tak segini'. Sekarang, 1/3 hari gue dihabiskan dengan duduk. Mengutip kata-kata Alfat, 'Banyak duduk, lemak numpuk'. Begitulah yang gue rasa sedang gue alami sekarang.

Wahahha.

Minggu, 01 Maret 2015

Obrolan Bang Ke

'Woy, Bang Ke!'
'Elu manggil nama gue yang bener napa.' -_-
'Lah itu udah paling bener, Bang. Hahahahha'

Bang Ke, teman saya, orangnya tinggi besar. Karena dia memang hobi makan, sih. Kesukaannya adalah mie rebus pake telor yang biasa dia makan sebelum masuk kantor. Hampir setiap pagi saya papasan sama dia yang lagi sarapan mie di kantin B1. Saking seringnya, saya jadi khawatir kalo nanti dia bosan.

'Kagak bakal bosen gue mah. Masalahnya, ini udah makanan paling enak yang bisa gue dapet sepagi ini. Kagak ada yang ngalahin,'

Itu jawaban Bang Ke waktu saya tanyakan hobi makannya. Esok harinya, saya ketemu dia yang lagi sarapan bubur. -_-

Selain hobi makan, Bang Ke juga hobi ngoding. Hampir setiap hari dia ngoding. Karena itu memang kerjaannya, sih. Bang Ke orang yang mengajari saya dalam dunia kode-kodean, meski sambil marah-marah. Dari saya yang tadinya ga tau apa-apa, sekarang jadi tau beberapa. Bang Ke memang galak, tapi dia sebenarnya orang baik. Tapi lebih baik lagi kalo dia ga galak.

Sering saya nimbrung ngobrol sama dia, sering juga saya dimarahin. Bang Ke selalu mikir jelek tentang apa yang saya obrolin. Sementara saya selalu mikir yang asik-asik aja.
'Gue tuh selalu mikir jelek bukan apa-apa, cuma supaya gue punya argumen aja. Jadi bisa antisipasi kalo ada yang ngebantah pendapat gue. Dari awal mikir tuh, gue harus curiga.
Karena waktu lu curiga, lu jadi kritis..
Lu jadi mempertanyakan, benar ga sih? Emang begini? Kok begitu? Lu jadi pingin tau jawabannya. Lu jadi nyari tau jawabannya. Jadi lu ga nerima mentah-mentah informasi yang ada. Apalagi soal kerjaan.

Biar lu ga gampang dikibulin..
Biar lu punya pegangan atas pendapat lu sendiri, ga gampang dipengaruhin..
Biar lu ga dimanfaatin orang..
Tuh, biar jelek tapi bermanfaat juga kan cara mikir gue?' *ketawasetan*

'Gue sebenernya juga pingin gitu, Bang, kritis. Defaultnya gue kalo sama apa-apa tuh pasti mikirnya baik, dipositif-positifin duluan. Niat gue sih emang untuk menghindari pikiran-pikiran jelek. Tapi berakhir kayak gue yang netral ga punya pendapat atau pandangan apa-apa.'

'Ya lu ga usah ikut mikir jelek kayak gue juga. Cukup lu saring aja, apapun itu. Lu pikirin dulu, yang penting otak harus selalu jalan.

Lu kan udah lumayan lama kan idup? Pasti ada pengalaman lah yang lu dapet. Lu pake itu aja buat nyaringnya.'

'Ribet ya, Bang.'

'Ribet emang, ribet banget. Tapi gue mendingan kayak gitu deh, mikir jelek, kemungkinan terburuk untuk antisipasi. Makanya suka geregetan gue sama orang yang kelewat santai.'

'Pantesan lu galak ya, Bang.' 
*lalu saya dijitak*

Sabtu, 28 Februari 2015

Retorika 2015: Episode Februari

Manusia Pura-pura
Dia yang senang
Aku yang girang
Dia yang sedih
Aku yang perih
Dia yang jatuh
Aku yang mengaduh
Dia yang takut
Aku yang kecut
Dia yang cemas
Aku yang lemas
Dia yang sakit
Aku yang koit

Ngobrol Modern
online
xx is typing..
send
read by xy

Pindahan
Sudut yang sama 
tapi rasanya beda
semua berubah
ketika penghuninya pindah

Momen
'Yang fana adalah waktu. Kita abadi.'
kata Sapardi Djoko Damono
'Perpisahan cuma masalah waktu. Itu pasti. Apalagi di sini.'
kataku


*)Retorika 2015: Episode Januari

Senin, 23 Februari 2015

Artis SoundCloud


Bang Umam, teman saya, adalah seorang artis SoundCloud. Saya pertama ketemu dia dalam open trip ke Baduy setahun lalu. Terakhir kali saya ketemu dia, juga dalam perjalanan open trip ke Baduy setahun yang lalu.

Bang Umam orang yang sederhana sekali. Penampilan dan gerak-geriknya biasa saja. Tidak seperti artis SoundCloud. Memangnya saya tau seperti apa penampilan dan gerak-gerik seorang artis SoundCloud? Yah, manalah saya tau.

Sebagai artis SoundCloud, Bang Umam termasuk orang yang produktif. Dia aktif di beberapa project. Coba kalian buka situs SoundCloud, ketik namanya 'Asyraful Umam' di kotak pencarian. Di bulan Februari tahun 2015 saja, hasil pencarian menunjukkan '34 tracks, 4 playlists, and 1 person found'. Entah akan ada berapa banyak tracks di hasil pencarian masa yang akan datang, saya belum mencarinya.

Teruslah berkarya, Bang Umam!

Kamis, 19 Februari 2015

Confidential

Dalam sebuah obrolan brainstorming di gedung berlantai 17, saya dan teman-teman duduk bergerombol. Ada yang semangat menuangkan idenya, ada yang melawan, ada yang minta tips untuk menambah keahlian, ada yang menimpali dengan lelucon ringan. Seru!

Saya mengikuti obrolan itu dengan penuh perhatian. Kadang sambil tersenyum. Kadang menoleh mencari perhatian dari yang lain. Kadang lepas tertawa. Kadang menangkap bayangan orang lain yang mencari perhatian, dan seterusnya. Sampai datang teman saya yang mengajak pergi sebentar. Agak berat, saya tinggalkan obrolan untuk sementara.

Selesai dengan urusan menemani teman saya, obrolan yang saya tinggalkan sudah berganti topik dengan masalah pelik. Ini menyangkut hidup orang banyak. Sangat confidential. Jangan sampai dibawa keluar forum. Woops.

Lantas, mengapa saya justru menulisnya?
Di sini?
Di jagad maya?
Bukannya seperti mengkhianati kesepakatan?

Saya rasa ini bukan masalah. Karena saya yakin, tidak akan ada yang membacanya. Kalau pun ada, toh bukan isi pembicaraannya yang saya tulis. Hehehe.

Sama seperti masalah perasaan. Saya termasuk orang yang tertutup menyangkut soal hati. Semua saya simpan rapat-rapat, seperti menjaga rahasia langit. Dilapisi bermacam logika. Sampai saya sendiri kuatir, jangan-jangan saya sendiri tidak sadar kalau nanti mati rasa.

Untuk itu, saya mencoba membuka beberapa lapis pertahanan saya. Dengan menulis di sini. Saya rasa tak apa. Karena saya mengupasnya toh bukan tanpa pertahanan. Karena saya yakin, tidak akan ada juga yang membacanya. :)

Keduluan

Beberapa minggu yang lalu saya berkumpul dengan sahabat-sahabat saya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kami berkumpul ramai-ramai, mungkin empat tahun jauhnya. Sibuk dengan urusan masing-masing, selama rentang itu, komunikasi saya dengan mereka hanya sebatas interaksi di socmed dan aplikasi chatting jarang-jarang.

Di pertemuan kemarin, saya, yang suka canggung kalau lama tidak bertemu orang, lebih banyak diam dan menontoni tingkah mereka. Mereka masih sahabat-sahabat saya yang dulu. Yang ramai. Yang asik. Yang seru tidak ada habis-habisnya. Yang tidak seru mungkin saya sendiri. Hehehe, maaf, ya, teman-teman. ;)

Lama tidak bertemu, yang saya harapkan adalah banyak obrolan, banyak cerita, dan banyak kisah yang diungkapkan. Namun, kehadiran makhluk dalam genggaman mengacaukannya.

Setelah obrolan yang panjang, tiba-tiba suasana menjadi hening. Saya, yang sedang melamun melihat jalanan, refleks menoleh, dan.. terlihat wajah sahabat-sahabat saya yang kini tengah menatap gadget masing-masing.

Mereka sibuk check in, upload gambar makanan, tag-tag dan meninggalkan jejak 'cinta' di postingan satu sama lain.

Aktivitas yang kekinian sekali. Saya, yang bukan pengguna socmed satu itu, hanya bisa diam dan kembali melamun. Sambil kadang ikut memandang layar dalam genggaman.

Di antara sahabat-sahabat yang kekinian, saya merasa keduluan.

Pernahkah kamu mengalami keresahan yang sama?
Bukan sebagai manusia keduluan, tapi bagaimana gadget canggih lebih menarik perhatian dibanding diri kamu sebagai manusia. Saya takut social media lebih bersifat sosial dibanding 'kita' sebagai makhluk sosial.
Atau kata 'sosial' kini sudah berganti maknanya?

Sabtu, 31 Januari 2015

Retorika 2015: Episode Januari

Haluuu...
Kali ini gue mau gombal. Kita coba sedikit beretorika di akhir Januari ini. Siap?

Kesasar
Ibu ke pasar
Ayah bekerja
Adik sekolah
Aku kesasar

Kabar Gembira
Kesempatan baik hadir dalam kabar gembira
Gembiraku, gembiramu, gembira kita
Tapi aku bisa apa, jika ada dia
yang memintaku jadi sumber gembiranya?

Ternyata
seperti waktu
gembira itu
relatif

Tertawa

"Hahaha"
Di sini aku tertawa
Denganmu aku tertawa
Dengannya aku ingin tertawa
Setelah inginku menjadi nyata
Aku ragu bisa tertawa

Pengajar Kurang Ajar 

Jangan memintaku
untuk menjadi pengajar

kamu sendiri tahu
aku masih kurang ajar