Rabu, 31 Agustus 2016

Retorika 2016: Episode Agustus




Makhluk Sastra
matamu adalah puisi
yang binarnya bicara seribu bahasa
lebih indah dari seorang penyair

bibirmu adalah soneta
yang heningnya menyuarakan surga
lebih agung dari seorang pujangga


Kamu yang Berduka
Ada mendung di matamu
yang rintik gerimisnya
membasahi tanah merah
di Jeruk Purut sore itu

Ada guntur di suaramu
yang getar gemuruhnya
gemetar di sekujur jasad
saat membisikkan adzan di telingaku


Ketuk
Masihkah kau tutup rapat
pintu ke mana kita menuju?
Hanya satu ketuk lagi yang tersisa
untukmu, kuharap itu cukup


Rahasia
Jangan bilang siapa-siapa
katamu
pada cermin
di pantulan mataku

Minggu, 21 Agustus 2016

Jazz Atas Awan - Dieng Culture Festival 2016


Teruntuk Dieng..
yang dinginnya sukses bikin laper..
yang bintangnya sukses bikin saya merasa kecil..
yang sunrisenya sukses bikin saya nanjak-nanjak di sepertiga malam..
yang lampionnya sukses bikin langit malam itu indah banget..
yang sederhana tapi megah alamnya..
Terima kasih udah menerima kedatangan saya dan teman-teman.

:))

"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.” (QS. Al Mulk: 5)

Kamis, 11 Agustus 2016

Kamis, 04 Agustus 2016

Sabtu, 30 Juli 2016

Retorika 2016: Episode Juli

Kalau Kau Bertanya Aku Mau Apa
Kalau kau bertanya aku mau apa
aku mau kita
pergi berjalan
ke toko buku yang kau tak suka

Kau suruh aku memilih buku apa
biar kutraktir
katamu bersabda

Setelah ini kau mau apa?
kali ini giliranku yang bertanya
Kita menyanyi saja
sampai serak pita suara kita
sampai tiba pulangnya pekerja

Seperti itu jawabanku
kalau kau bertanya aku mau apa
Atau kujadikan sederhana saja
aku mau..
kau bertanya aku mau apa

Suara Hati
Apa yang lebih jujur dari suara hati?
Ialah suara perut yang nyaring berbunyi

Sudah terlalu lama kita di sini
Ayo pergi, bukan mereka yang kita cari

Jumat, 22 Juli 2016

Jangan Abaikan Perasaanmu, Nak

Tulisan ini saya buat di tengah perasaan yang lagi ga jelas. Bermacam emosi sedang saya rasakan sekaligus. Ada takut, ragu, kuatir, penasaran, berharap, mereka bertolak belakang tapi campur aduk. Saya sampe bingung gimana ngeresponnya. Berakhir malah jadi blank dan ga tau harus berbuat apa.

Saya begini jarang-jarang kok, kalo lagi down aja. Padahal sering nge-down. Haha. Kalo udah gini nih, maunya diem aja ga ngelakuin apapun dulu. Merenung, ngelamun, sambil menata kembali perasaan yang porak poranda. Duh.

Saya mau nanya. Apa yang biasa kalian lakuin kalo lagi dihadapin sama perubahan? Ada ga kecemasan ketika kalian memilih untuk berubah? Saat ini saya lagi pingin berubah ceritanya. Jadi Power Ranger. Eh, ga deng. Jadi Powerpuff Girls.

Ada tiga pilihan, mau jadi Blossom, Buttercup, atau Bubbles. Nah, kalo nyamannya saya sih jadi diri sendiri aja ya, biar ga usah pura-pura jadi orang lain. Haha, canda. Serius dong, serius. Oke ini serius, misal saya mau jadi Blossom. Karena dia pemimpin dari the Powerpuff Girls, bener kan ya?

Saya antusias untuk jadi Blossom. Setelah dikenalin Blossom itu siapa, gimana karakternya, perannya apa, blablabla, ternyata.. ga sesuai sama ekspektasi saya. Saya jadi ragu. Kuatir dan ragu, apa ini cocok sama karakter saya?

Logika dan teori pada umumnya keukeuh bilang supaya jadi hebat kamu harus ngambil kesempatan untuk jadi Blossom. Coba aja. Take the risk, kitu.

Nah, idealnya dan seharusnya, mungkin saya harus ngikutin logika ya. Ini cuma kecemasan kamu doang. Itu wajar. Coba aja terus.. biar jadi Blossom..

Tapi..
Tapi..
Kebanyakan tapi.

Tapi beneran. Saya bingung. Saya kuatir akan ngelewatin kesempatan kalo saya ngikutin perasaan saya. Tapi saya udah kelamaan ga dengerin perasaan saya sendiri, karena ditutupin sama logika.

Jangan-jangan sebenernya ada yang nawarin kesempatan, cuma karena saya ga peka jadi terlewat gitu. Kalo kali ini saya abai lagi, jangan-jangan saking seringnya mengabaikan, saya jadi ga sadar kalo nanti mati rasa. 

Saya ga mau begitu. Soalnya..

Yang akan ngejalanin itu semua nanti adalah kamu.
Kesempatan lain akan datang lagi nanti.
Jangan mengabaikan perasaanmu, Nak.

Selasa, 12 Juli 2016

Retorika 2016: Episode Juni

Sandiwara Rasa
Cuma di kepalamu
kopi bisa menari
menari ia dengan kata-katamu
yang tak berbunyi

Cuma di matamu
air bisa bicara
bicara ia dengan perasaanmu
yang tak bersuara

Minggu, 10 Juli 2016

[Posting Sebelum Balik]: Klinik Kopi Jogja

From where I stand

Tuh. Padahal jarak kita cuma 38 menit jalan kaki, tapi kamu belum buka, bahkan masih tutup karena libur. :<