Pukul 01:15
dini hari ini terbuat dari aku yang kelaparan dan ingin mengunyah,
di tengah-tengah perasaan kagum yang sulit dibendung hingga ingin dikagumi juga
kulangkahkan kaki ke meja makan yang tak berpenghuni di rumah ibuku
masih ada sebungkus keripik kentang
yang sudah terbuka bungkusnya
tercerabut sebagian isinya olehku seminggu lalu
teronggok tanpa pesona seolah kehilangan minat
hei
pernahkah kalian merasa sangat senang hingga berakhir sulit tidur?
keantusiasan yang berujung terjaga semalaman saking tak sabar akan petualangan esok hari
seperti aku sekarang ini
selamat pagi keripik kentang
aku menyayangimu tanpa tapi
tanpa tentang
tanpa mimpi
Jumat, 25 Agustus 2017
Sabtu, 19 Agustus 2017
Catatn Acak: di Toko Buku
Siang ini saya jalan-jalan sendirian ke toko buku. Sudah lama rasanya tidak begini, saking lamanya sampai lupa kapan terakhir kali.
Omong-omong, selama waktu yang panjang itu, banyak buku baru yang terbit. Mereka menyambut saya di baris terdepan etalase toko buku. Berjajar dalam kategori rekomendasi, sungguh ingin saya untuk memilikinya. Entah sedih atau harus bersyukur, uang di dompet yang tinggal selembar berhasil menahan saya dari tindakan impulsif sembarangan membeli. Yah, setidaknya sampai saat saya mengetik tulisan ini.
Ada beberapa buku yang menarik perhatian saya, yang menimbulkan ide tulisan ini. Yang membuat saya buru-buru menyepi ke lorong mainan anak, kuatir ide ini lepas tertutup pemikiran lainnya.
Buku-buku kumpulan ilustrasi sederhana tentang persahabatan karya desainer lokal, yang mengapa saya berpikir demikian, mirip sekali konsepnya dengan buku serupa karangan orang luar yang saya ketahui duluan.
Ada juga buku tentang metode bersih-bersih, yang mengapa saya berpikir demikian, langsung mengingatkan saya dengan buku serupa karangan penulis luar terkemuka. Saya rasa kamu tahu siapa dengan metodenya yang terkenal itu.
Sebenarnya sebelum ini pun saya pernah mengalami hal serupa. Waktu itu tentang buku pengembangan diri dan cara menghadapi orang lain. Baik dari judul, isi sebagian besar bukunya (iya, saya membaca sekilas dari buku yang sudah tersobek sampul plastiknya), bahkan gambar sampulnya juga. Karya penulis asing berjajar dengan karya penulis lokal. Sekilas sama, yang sangat berbeda hanya harga dan ketebalan bukunya.
Saya merasa, kenapa buku seperti ini, yang sekilas pandang sangat terlihat serupa, bisa terbit dan dipasarkan?
Ini.. seperti membajak tidak sih?
Atau ini sah-sah saja, karena pada dasarnya memang dua buku dan dua karya yang berbeda?
Entah kenapa saya berpikir seperti ini.
Atau ini hanya masalah sudut pandang saja sebenarnya?
Masalah buku siapa yang saya temui duluan.
Bagaimana kalau kejadiannya dibalik, saya menemukan buku-buku lokal duluan baru melihat buku karangan luar belakangan.
Akankah saya masih berpikir demikian?
*diketik di toko buku di Bekasi, diiringi "High Hopes - Kodaline"
Omong-omong, selama waktu yang panjang itu, banyak buku baru yang terbit. Mereka menyambut saya di baris terdepan etalase toko buku. Berjajar dalam kategori rekomendasi, sungguh ingin saya untuk memilikinya. Entah sedih atau harus bersyukur, uang di dompet yang tinggal selembar berhasil menahan saya dari tindakan impulsif sembarangan membeli. Yah, setidaknya sampai saat saya mengetik tulisan ini.
Ada beberapa buku yang menarik perhatian saya, yang menimbulkan ide tulisan ini. Yang membuat saya buru-buru menyepi ke lorong mainan anak, kuatir ide ini lepas tertutup pemikiran lainnya.
Buku-buku kumpulan ilustrasi sederhana tentang persahabatan karya desainer lokal, yang mengapa saya berpikir demikian, mirip sekali konsepnya dengan buku serupa karangan orang luar yang saya ketahui duluan.
Ada juga buku tentang metode bersih-bersih, yang mengapa saya berpikir demikian, langsung mengingatkan saya dengan buku serupa karangan penulis luar terkemuka. Saya rasa kamu tahu siapa dengan metodenya yang terkenal itu.
Sebenarnya sebelum ini pun saya pernah mengalami hal serupa. Waktu itu tentang buku pengembangan diri dan cara menghadapi orang lain. Baik dari judul, isi sebagian besar bukunya (iya, saya membaca sekilas dari buku yang sudah tersobek sampul plastiknya), bahkan gambar sampulnya juga. Karya penulis asing berjajar dengan karya penulis lokal. Sekilas sama, yang sangat berbeda hanya harga dan ketebalan bukunya.
Saya merasa, kenapa buku seperti ini, yang sekilas pandang sangat terlihat serupa, bisa terbit dan dipasarkan?
Ini.. seperti membajak tidak sih?
Atau ini sah-sah saja, karena pada dasarnya memang dua buku dan dua karya yang berbeda?
Entah kenapa saya berpikir seperti ini.
Atau ini hanya masalah sudut pandang saja sebenarnya?
Masalah buku siapa yang saya temui duluan.
Bagaimana kalau kejadiannya dibalik, saya menemukan buku-buku lokal duluan baru melihat buku karangan luar belakangan.
Akankah saya masih berpikir demikian?
*diketik di toko buku di Bekasi, diiringi "High Hopes - Kodaline"
Kamis, 17 Agustus 2017
Short Note
Pagi ini tiba-tiba saya ingat waktu dulu, di masa awal-awal PKL.
Saat itu kita (saya dan teman-teman Pixels) saling update tentang kondisi masing-masing, yang sebenarnya tidak jauh beda satu sama lain. Pukul sepuluh pagi kita kira akan disibukkan dengan briefing dan segala macam perkenalan, nyatanya yang kamu dan saya sendiri share kebanyakan adalah sama-sama menunggu petinggi, yang akan menampung kita selama sebulan kedepan dari lokasi masing-masing. 😂
Saat itu kita (saya dan teman-teman Pixels) saling update tentang kondisi masing-masing, yang sebenarnya tidak jauh beda satu sama lain. Pukul sepuluh pagi kita kira akan disibukkan dengan briefing dan segala macam perkenalan, nyatanya yang kamu dan saya sendiri share kebanyakan adalah sama-sama menunggu petinggi, yang akan menampung kita selama sebulan kedepan dari lokasi masing-masing. 😂
Senin, 14 Agustus 2017
Retorika 2017 | Episode Agustus
Nona
Nona, bisa tolong tunggu sebentar?
Rasanya kita terlalu jauh melangkah tanpa mempelajari apa-apa.
Hari-hari yang panas memaksa kita berjalan cepat-cepat. Kamu yang gampang terbujuk,
dengan tanpa perlawanan menyerah dibawa gelombang manusia modern.
Nona, bisa kita kembali sebentar?
Di ambang batas ini, kita tidak tahu mengejar ambisi siapa.
Nona, bisa kita kembali bersama?
.
Tidak Ada Sunset Hari Ini
Sore itu matahari pergi tanpa pamit
Tenggelam ia tanpa aba-aba,
meninggalkanmu yang berharap melihat pendarnya
dari tepian teluk Jakarta
Tidak ada sunset hari ini
tidak ada jejaknya yang warna-warni
menyisakan kita dengan kamera masing-masing
dan tanda tanya untuk rencana esok hari
.
Penulis yang Tertidur
seseorang coba tolong bangunkan
ada penulis yang tertidur di kepalaku
bisa kudengar deru dengkurnya di sela-sela hela
lelap ia dilahap gelap
kalap ia menangkap dekap
.
Pujangga yang Tidak Romantis
Aku ini pujangga yang tidak romantis
katamu bermonolog pada suatu gerimis
ada penulis yang tertidur di kepalaku
bisa kudengar deru dengkurnya di sela-sela hela
lelap ia dilahap gelap
kalap ia menangkap dekap
.
Pujangga yang Tidak Romantis
Aku ini pujangga yang tidak romantis
katamu bermonolog pada suatu gerimis
Selasa, 08 Agustus 2017
Peninggalan Seseorang
Hi,
Saya orang yang baru kelimpahan barang bekas pemakaian kamu nih. Yah, namapun aset kantor kan, makenya gantian. Haha.
Kita benar-benar ga saling kenal, ga pernah ketemu, ga pernah berurusan langsung. Bahkan kamu pasti ga tau kalau ada saya di dunia ini. Monolog ini benar-benar satu arah, dari saya ke kamu sebagai tuan dari fasilitas ini sebelumnya.
Belum lama ini, saya melihat nama kamu dalam selembar kertas. Surat bukti serah-terima aset IT perusahaan. Dari kamu yang sudah tidak di sini, kepada saya yang baru beberapa bulan. Saya yang kepo dan tertarik dengan hal-hal kurang penting, malah fokus ke nama kamu sebagai pengguna sebelumnya.
Tanpa berpikir, saya cari nama kamu dalam mesin pencari yang katanya paling tahu sedunia. Ga banyak informasi tentang kamu dalam pencarian menggunakan nama asli. Cuma ada blog pribadi dan akun di media sosial khusus profesional, plus akun twitter yang kebanyakan isinya re-tweet dari cuitan orang-orang. *saya cuma liat sekilas sih
Tapi ada akun Instagram dengan nama samaran kamu. Dari sana saya tahu bahwa kamu, benar-benar seorang hipster yang nyeni. Dan saya yang mudah kagum, jadi agak-agak minder dengan peninggalan ini.
Selasa, 20 Juni 2017
Selasa, 13 Juni 2017
Time Paradox dan Postingan Soal Harta
Kenapa waktu cepat sekali berlalu kalau di rumah?
Sementara kalau di kantor, rasanya lamaa berlalunya?
Ketika gue di rumah, Sabtu-Minggu kerasa cepet banget cuma dua hari. Sementara di kantor, rasanya lama betul gue menghabiskan waktu, dari Senin-Jumat. Beda tiga hari doang padahal. Men.
Terbuktilah kebenaran teori relativitas Einstein terhadap waktu.
Anyway, malam ini adalah malam ke-19 Ramadhan. Ga kerasa, udah 18 hari gue berpuasa dengan sahur minum air putih doang. Bukan apa-apa sih, kebetulan aja pas sahur itu gue ga ada keinginan untuk makan. Karena perut masih terasa ada isinya, jadi kalo gue makan sahur justru begah rasanya.
Jadi, gue cukupkan sahur dengan minum air putih. Itu sudah, cukup juga sih. Insya Allah.
Di malam ke-19 ini, Serpong distrik Cisauk hujan sejak menjelang magrib, sampai sekarang gue ngetik postingan ini. Tadi pun gue tarawih di kosan, karena hujan, dan teman-teman yang lain juga sepakat tarawih di kamar masing-masing. Ga apa-apa ya, at least tarawihnya jangan sampe ketinggalan aja. Sayang.
Sebenernya gue buka laptop ini berniat untuk bikin slide untuk sharetech Jumat nanti. Tapi, malah berakhir bikin postingan yang sedang kalian baca ini. :)))))
Ngomong-ngomong, barusan gue menemukan sesuatu yang bermanfaat. Apa tuh? Adalah cara menghitung zakat maal alias zakat harta. Bisa cek di cara menghitung zakat maal ya. :)
Setelah gue baca dari sumber di atas, ternyata dibalik penghitungan zakat yang sebenarnya ga rumit itu, sesungguhnya jumlah yang harus kita keluarkan itu dan jumlah yang bisa kita keluarkan itu ada takarannya, yang persentasenya itu ga memberatkan. Sama sekali ga memberatkan. Dan jumlah itu pun harus memenuhi nisab selama satu tahun dulu.
Lumayan lama juga ya, ditunggu satu tahun harta kita udah masuk nisab belum?
Tapi jatuhnya jadi ga memberatkan (IMHO). Sama sekali ga memberatkan (diulang 2x), karena persentasenya yang untuk satu tahun itu.
Jadi gaes, jangan sampe lupa bayar zakat ya! Karena zakat itu membersihkan harta kita, dari hak orang lain di dalamnya. Biar barokah dan berfaedah, sekalian bantu sesama juga. Karena juga, zakat itu ga memberatkan. Sama sekali ga memberatkan (diulang 3x).
Kalo bingung gimana bayar zakatnya, ke siapa? Sekarang di mall-mall udah ada stand yang nyediain info dari BAZNAS untuk zakat gitu kata seorang teman. Bahkan di situs ecommerce juga udah ada. Contohnya di mataharimall.com, ini kalo mau yang online. Tapi enakan ngasih langsung sih, lebih interaktif.. Kekekek.
Gitu deh. Woi, slide jangan lupa dibikin woi.
Ciao! :))))))
Sementara kalau di kantor, rasanya lamaa berlalunya?
Ketika gue di rumah, Sabtu-Minggu kerasa cepet banget cuma dua hari. Sementara di kantor, rasanya lama betul gue menghabiskan waktu, dari Senin-Jumat. Beda tiga hari doang padahal. Men.
Terbuktilah kebenaran teori relativitas Einstein terhadap waktu.
Anyway, malam ini adalah malam ke-19 Ramadhan. Ga kerasa, udah 18 hari gue berpuasa dengan sahur minum air putih doang. Bukan apa-apa sih, kebetulan aja pas sahur itu gue ga ada keinginan untuk makan. Karena perut masih terasa ada isinya, jadi kalo gue makan sahur justru begah rasanya.
Jadi, gue cukupkan sahur dengan minum air putih. Itu sudah, cukup juga sih. Insya Allah.
Di malam ke-19 ini, Serpong distrik Cisauk hujan sejak menjelang magrib, sampai sekarang gue ngetik postingan ini. Tadi pun gue tarawih di kosan, karena hujan, dan teman-teman yang lain juga sepakat tarawih di kamar masing-masing. Ga apa-apa ya, at least tarawihnya jangan sampe ketinggalan aja. Sayang.
Sebenernya gue buka laptop ini berniat untuk bikin slide untuk sharetech Jumat nanti. Tapi, malah berakhir bikin postingan yang sedang kalian baca ini. :)))))
Ngomong-ngomong, barusan gue menemukan sesuatu yang bermanfaat. Apa tuh? Adalah cara menghitung zakat maal alias zakat harta. Bisa cek di cara menghitung zakat maal ya. :)
Setelah gue baca dari sumber di atas, ternyata dibalik penghitungan zakat yang sebenarnya ga rumit itu, sesungguhnya jumlah yang harus kita keluarkan itu dan jumlah yang bisa kita keluarkan itu ada takarannya, yang persentasenya itu ga memberatkan. Sama sekali ga memberatkan. Dan jumlah itu pun harus memenuhi nisab selama satu tahun dulu.
Lumayan lama juga ya, ditunggu satu tahun harta kita udah masuk nisab belum?
Tapi jatuhnya jadi ga memberatkan (IMHO). Sama sekali ga memberatkan (diulang 2x), karena persentasenya yang untuk satu tahun itu.
Jadi gaes, jangan sampe lupa bayar zakat ya! Karena zakat itu membersihkan harta kita, dari hak orang lain di dalamnya. Biar barokah dan berfaedah, sekalian bantu sesama juga. Karena juga, zakat itu ga memberatkan. Sama sekali ga memberatkan (diulang 3x).
Kalo bingung gimana bayar zakatnya, ke siapa? Sekarang di mall-mall udah ada stand yang nyediain info dari BAZNAS untuk zakat gitu kata seorang teman. Bahkan di situs ecommerce juga udah ada. Contohnya di mataharimall.com, ini kalo mau yang online. Tapi enakan ngasih langsung sih, lebih interaktif.. Kekekek.
Gitu deh. Woi, slide jangan lupa dibikin woi.
Ciao! :))))))
Minggu, 11 Juni 2017
Retorika 2017 | Episode Juni
Musim Panas di Cisauk
Langit tidak pernah semerah hari ini
Di penantian dari siang ke malam
seiring dengan semakin menyalanya rona di pipimu
kau mengisi jeda yang ada, dengan menertawakan hal-hal yang kita kuatirkan
sambil berharap itu tidak pernah benar-benar terjadi
Semalam di Cisauk
Hari-hari berlalu lebih cepat di sini
sementara kau masih belum tau akan memilih apa
dengan keputusan dan nasihat orang tua
yang mati-matian kau bela sampai mati
Hanya tinggal aku sebagai gundukan tanah
yang orang lupa pernah ada
Suatu Sore di Cisauk
Matahari masih terasa panasnya
ketika angin datang membawa kesenangan yang kekal
tapi kau mulai bosan dengan apa-apa yang bersifat dunia
Janji Jani
Namanya Jani
yang kepadanya aku berjanji
ini kali terakhir kita membicarakan musim panas di Cisauk
Langit tidak pernah semerah hari ini
Di penantian dari siang ke malam
seiring dengan semakin menyalanya rona di pipimu
kau mengisi jeda yang ada, dengan menertawakan hal-hal yang kita kuatirkan
sambil berharap itu tidak pernah benar-benar terjadi
Semalam di Cisauk
Hari-hari berlalu lebih cepat di sini
sementara kau masih belum tau akan memilih apa
dengan keputusan dan nasihat orang tua
yang mati-matian kau bela sampai mati
Hanya tinggal aku sebagai gundukan tanah
yang orang lupa pernah ada
Suatu Sore di Cisauk
Matahari masih terasa panasnya
ketika angin datang membawa kesenangan yang kekal
tapi kau mulai bosan dengan apa-apa yang bersifat dunia
Janji Jani
Namanya Jani
yang kepadanya aku berjanji
ini kali terakhir kita membicarakan musim panas di Cisauk
Tentang Puisi
Puisi adalah serangkai kata-kata indah, bagimu
tidak lebih dari bunga-bunga sajak
yang subur ditanam benihnya oleh petani syair
lalu dipetik mentah-mentah dan ditelan bulat-bulat oleh pemaknanya
tidak lebih dari bunga-bunga sajak
yang subur ditanam benihnya oleh petani syair
lalu dipetik mentah-mentah dan ditelan bulat-bulat oleh pemaknanya
Rabu, 31 Mei 2017
Oh, Flamingo | Band Indie-Alternatif yang Masih Saudara Sendiri
Pertama kali saya dengar lagunya Oh, Flamingo yang berjudul "June", bayangan saya langsung lari ke band-band indie ala British. Betotan bass dan petikan gitarnya terasa asik di telinga saya yang awam sekali soal musik. Taunya cuma dengar, suka, lalu kepo. :D
Iramanya lumayan bikin kepala saya goyang-goyang sambil bahu naik-turun sok asik menikmati lagu. Nah, ini salah satu cara mendefinisikan lagu yang saya suka. Karena kalo ditanya sukanya jenis musik kayak apa, saya agak sulit menjelaskan saking generalnya. Asal lagunya asik, itu saya suka. Ga membantu ya jawaban saya? Haha.
Lagu yang saya dengar di Spotify ini durasinya 10 menitan. Tapi kocak karena di tengah lagu mendadak hening beberapa saat, lalu mulai lagi dengan lagu yang sama sekali berbeda. Entah ini medley atau mix atau lagu berapa babak, karena ketika saya cari, lirik untuk June tidak sepanjang ini.
Next setelah ketemu liriknya, saya tertarik dengan grup Oh, Flamingo ini. Apa benar mereka dari British sana? Saya lihat cover photonya, kok ala-ala pemuda Bandung yang kreatif dan piknik abis ya? Tampang mereka juga asia-melayu yang unyu-unyu gitu.
Saya googling lagi, ternyata mereka band asal Filipina. Oalah, masih sodara jauh rupanya!
*Gambar dari sini
Iramanya lumayan bikin kepala saya goyang-goyang sambil bahu naik-turun sok asik menikmati lagu. Nah, ini salah satu cara mendefinisikan lagu yang saya suka. Karena kalo ditanya sukanya jenis musik kayak apa, saya agak sulit menjelaskan saking generalnya. Asal lagunya asik, itu saya suka. Ga membantu ya jawaban saya? Haha.
Lagu yang saya dengar di Spotify ini durasinya 10 menitan. Tapi kocak karena di tengah lagu mendadak hening beberapa saat, lalu mulai lagi dengan lagu yang sama sekali berbeda. Entah ini medley atau mix atau lagu berapa babak, karena ketika saya cari, lirik untuk June tidak sepanjang ini.
Next setelah ketemu liriknya, saya tertarik dengan grup Oh, Flamingo ini. Apa benar mereka dari British sana? Saya lihat cover photonya, kok ala-ala pemuda Bandung yang kreatif dan piknik abis ya? Tampang mereka juga asia-melayu yang unyu-unyu gitu.
Saya googling lagi, ternyata mereka band asal Filipina. Oalah, masih sodara jauh rupanya!
![]() |
| Anak piknik abis |
Langganan:
Postingan (Atom)
