Rabu, 29 November 2017

Tentang Nicholas dan Tatsuo dalam Satu Polling



Sedikit cerita untuk anak cucu. Tentang Nicholas Saputra dan Tatsuo Suzuki saat dihadapkan pada sebuah pertanyaan sebelum mati. Pilih mana, pergi ke Luxembourg atau.. beli King Mango?

Dan.. kenapa anak-cucu?
Yha, saranku sih baca artikelnya aja biar ga bingung. :')

Klik link ini untuk membaca artikelnya, yhaaa..

Terima kasih, aku sayang kalian!

*postingan ini mengandung click-bait. Nama-nama di atas penulis catut tanpa bermaksud apa-apa, hanya untuk menambah semangat. Ehe.

Selasa, 19 September 2017

Kerah Baju Kemeja Ayahku

Ibuku punya anak perempuan cuma satu, yaitu aku. Sisanya lelaki semua. Aku tidak tau apa yang Ibuku pikirkan tentang aku sebagai satu-satunya gadis di antara ketiga anaknya yang tidak berkumis.

Ayahku (alm.) cuma punya anak perempuan satu, yaitu aku. Dua anaknya yang lain, lelaki semua. Aku tidak tau apa yang dipikirkan Ayahku tentang aku, satu-satunya anak yang tidak wajib solat jamaah di mesjid.

Abangku punya adik perempuan cuma satu, yaitu aku. Sisanya adikku yang cuma satu dan ia lelaki. Aku tidak tau apa yang Abangku pikirkan tentang aku, adik perempuan satu-satunya yang sukanya keluyuran ke acara gratisan.

Adikku cuma punya satu kakak perempuan, yaitu aku. Sisanya adalah abangku, satu-satunya kakak lelaki yang ia punya. Aku tidak tau apa yang dipikirkan adikku tentang aku, satu-satunya kakak perempuan yang suka menyuruh-nyuruh ia. Karena ia juga satu-satunya yang bisa kusuruh.

Aku yang perempuan tapi lebih sering bergaya maskulin, terpengaruh peninggalan Ayah dan saudara-saudaraku.

Pada suatu hari entah kapan, yang aku sendiri juga tidak ingat, aku menemukan kemeja ayahku dan mengenakannya untuk kuliah ke kampus. Kemeja biru muda yang kebesaran, yang lembut sekali kainnya seiring menuanya umur kemeja itu. Aku merasa keren sekali saat memakainya, dipadukan celana denim dan sepatu kets. Tipikal anak kuliahan yang cuek dengan pakaian kebesaran, tapi malah terlihat santai dan menarik tanpa dibuat-buat. Tapi pasaran.

Perasaan keren itu masih terbawa hingga kini. Kemeja kebesaran Ayahku kadang masih kupakai ke kantor. Semacam karakterku dalam berpakaian dan berpenampilan. Selain itu, aku juga jadi merasa punya semacam kedekatan dengan Ayahku kala mengenakannya.

Aku tidak tau berapa umur kemeja itu. Tapi semakin kukenakan, semakin tipis dan lembut ia. Apalagi kalau kau melihat kerah lehernya yang sudah mulai koyak.

Kini di setiap aku mengenakannya, ada semacam pemikiran yang mengganggu.
Sampai kapan ya aku bisa mengenakan kemeja ini?
Berapa kali pemakaian lagi?
Tidak bisa seterusnya, ya?
Sampai kapan ya, hingga saatnya aku harus mengistirahatkan kemeja ini? Seperti bendera pusaka yang kini tidak dikibarkan lagi, saking tua dan lapuknya lepas dicuci berkali-kali.

Aku jadi emosi sesaat kalau mengingatnya.

Belum lama ini aku mendengar lagunya Iksan Skuter yang berjudul Bapak. Cerita kami mirip, aku juga malu dan agak angkuh untuk mengakuinya, dan membayangkan Ayahku diam-diam menanyakan aku waktu dulu itu rasanya.. :'(

Di kemeja tua Ayahku itu, kamu bisa temukan ada inisial namanya yang ditulis dengan spidol hitam permanen, MAM tertulis di sana dan masih terbaca hingga kini. Satu dari sekian peninggalannya yang bisa membuat aku merasa dekat.

Sabtu, 16 September 2017

Tidur

Tidur adalah satu-satunya cara berhenti berpikir. Itu katamu pada suatu malam.

Memikirkan apa memang?

Macam-macam. Kebanyakan memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaanku.

Mengapa kau memikirkan hal semacam itu?

Tidak tau juga, semacam kebiasaan kurasa. Aku ingin berhenti berpikir demikian. Aku ingin berhenti berpikir soal apapun.

Kuberi tau ya, orang-orang yang kau pikirkan itu sebenernya sama sekali tidak ambil pusing soal kamu. Orang-orang yang kau pikirkan itu, sama sekali tidak memikirkan kamu. Bahkan mereka semua sama saja dengan kamu, sibuk memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaan mereka. Jadi, stop berpikir soal itu.

Kamu, memang kamu tidak pernah berpikir seperti itu?

Kalo aku sih, aku ya aku. Soal apa yang orang lain pikirkan mengenai aku, itu urusan mereka bukan urusanku. Ada hal lain yang lebih sering kupikirkan. Misal makan pagi besok aku mau makan apa ya? Baju untuk kondangan besok, aku akan memakai apa ya?
Hal-hal seperti itulah.

Kau tau, sebenarnya aku sedang mencoba berhenti untuk berpikir. Tapi semakin aku mencoba, malah semakin berpikir aku. Ada suatu saat ketika aku berhasil berhenti dari kegiatan berpikir, tapi setelah itu aku justru berpikir soal tindakanku yang tanpa pikiran itu. Seperti lingkaran setan.

Kau.. saranku sih kau cari pacar sana.

Hah, apa hubungannya?

Ya aku belum tau juga sih, karena aku belum pernah pacaran juga. Tapi kelihatannya orang yang punya pacar dan melakukan aktivitas pacaran tidak akan menyedihkan seperti kamu. Ya setidaknya mereka kurang punya waktu sendiri untuk memikirkan hal yang sering kau pikirkan itu.

Hei, lihat siapa yang ngomong. Aku tidak ingin menerima saran soal pacaran dari orang yang belum punya pacar juga.

Kuralat ucapanku barusan. Jangan cari pacar. Orang-orang seperti kita ini rasanya tidak cocok kalau pacaran. Ruang yang kita punya bahkan belum cukup untuk menampung diri kita sendiri, apalagi kalau mau ditambah keberadaan orang lain.

...

Bisa tidak ya aku melewati hari tanpa berpikir?

Kupikir kamu pasti bisa. Kamu pernah melakukannya, beberapa kali setauku.

Kapan ya itu?

Ya itu.. seperti ucapanmu yang mengawali percakapan kita ini. Kamu bisa berhenti berpikir ketika kamu sedang tertidur. Katamu kan, tidur adalah satu-satunya cara yang berhasil membuatmu berhenti berpikir.

Hm.. iya sih. Tapi selain itu, sebenarnya aku ingin melakukan aktivitas lain selain tidur. Rasanya sayang kalau malam yang panjang aku lewatkan hanya dengan tidur. Kadang otakku bisa berhasil memikirkan hal lain dan jadi melahirkan karya lain di malam hari tanpa tidur.

Dari pembelaanmu barusan, aku bisa menangkap sesuatu tentang kamu.

Apa?

Sebenarnya yang membuatmu terus-terusan berpikir itu adalah takut. Ketakutanmu akan sesuatu yang akan hilang, yang lepas karena kau biarkan lewat begitu saja tanpa kau pikir masak-masak. Sementara yang kau pikirkan adalah ketakutanmu, bukan caramu untuk menghadapi ketakutanmu itu.

Ucapanmu masuk akal.

Ya kan? Saranku sih, kita sering-sering melakukan hal ini. Kamu bicarakan saja apa-apa yang kamu pikirkan, aku akan dengar dan tanggapi dengan kebisaanku.

Akan kupertimbangkan saranmu.

Bagus. Setelah ini, kau mau apa?

Aku akan mencoba berhenti berpikir.

Caranya?

Tidur.

Sabtu, 09 September 2017

Menjadi Bapak-Bapak

Malam ini saya iseng berkunjung ke blog teman lama dan membaca postingannya yang berjudul mirip dengan apa yang saya tulis sekarang: Menuju Bapak-Bapak.

Kalau dia bercerita soal sedihnya ia karena belum siap dipanggil Bapak oleh orang yang juga kenalannya, maka.. saya bisa lebih sedih lagi, karena dipanggil Bapak oleh orang yang belum kenal dan lebih-lebih lagi saya bukan bapak-bapak.

Dengan alasan yang sama, atas nama pekerjaan dan belum pernah bertemu maka kita akan cenderung menggunakan sapaan yang sopan. Banyak yang mengira saya ini laki-laki mungkin karena melihat nama saya, "Yaumil" disangka "Jamil" atau memang ini nama yang agak bias gendernya? Saya juga tidak tahu, tidak ingin terlalu melabeli juga sebenarnya. :')

Perkara salah panggil ini sampai membuat saya mengupdate foto profil di email kantor. Padahal saya lebih suka untuk tetap misterius dan tidak mudah dikenali, tapi yah daripada membiarkan orang salah sebut terus kan?

Jadilah saya memasang gambar siluet ini:


Harapannya saya dikenali sebagai perempuan dan tidak dianggap bapak lagi.

Tapi..

Masih ada yang memanggil saya bapak. Meski dengan PP siluet wanita berkerudung. Lebih sedih lagi, karena saya dipanggil bapak oleh mbak-mbak yang masih satu kantor.

Jumat, 01 September 2017

Retorika 2017: Episode September

Dialog Kota
Di antara desing yang bising
tepi yang sunyi
dan atap yang meratap

ada makna yang terperangkap
menunggu untuk diungkap

Jakarta
Desing mesin yang bising
hilang tertelan bunyi yang sunyi
di pinggiran kota Jakarta
kau dan aku tidak bicara kata

bahasa debat membabat percakapan yang melarut,
sontak kita sepakat soal sudut yang lapuk,
dan kota menertawakan kita
yang merengut

Jakarta Tua
Di seberang bangunan tua
kamu mengawali perkenalan kita
di hari itu juga
kita mengakhiri perjalanan berdua

Jejak Merapi
Ada kisah yang mengalir
lewat benda yang menjadi abu
jejak para pendahulu hadir
di lintas lahar yang membeku

di tanah vulkanik aku berdiri
menangkap makna yang tak terucap
di hadapannya aku menyadari
betapa kecilnya aku

Jumat, 25 Agustus 2017

Selamat Pagi Keripik Kentang

Pukul 01:15
dini hari ini terbuat dari aku yang kelaparan dan ingin mengunyah,
di tengah-tengah perasaan kagum yang sulit dibendung hingga ingin dikagumi juga
kulangkahkan kaki ke meja makan yang tak berpenghuni di rumah ibuku

masih ada sebungkus keripik kentang
yang sudah terbuka bungkusnya
tercerabut sebagian isinya olehku seminggu lalu
teronggok tanpa pesona seolah kehilangan minat

hei
pernahkah kalian merasa sangat senang hingga berakhir sulit tidur?
keantusiasan yang berujung terjaga semalaman saking tak sabar akan petualangan esok hari
seperti aku sekarang ini

selamat pagi keripik kentang
aku menyayangimu tanpa tapi
tanpa tentang
tanpa mimpi

Sabtu, 19 Agustus 2017

Catatn Acak: di Toko Buku

Siang ini saya jalan-jalan sendirian ke toko buku. Sudah lama rasanya tidak begini, saking lamanya  sampai lupa kapan terakhir kali.

Omong-omong, selama waktu yang panjang itu, banyak buku baru yang terbit. Mereka menyambut saya di baris terdepan etalase toko buku. Berjajar dalam kategori rekomendasi, sungguh ingin saya untuk memilikinya. Entah sedih atau harus bersyukur, uang di dompet yang tinggal selembar berhasil menahan saya dari tindakan impulsif sembarangan membeli. Yah, setidaknya sampai saat saya mengetik tulisan ini.

Ada beberapa buku yang menarik perhatian saya, yang menimbulkan ide tulisan ini. Yang membuat saya buru-buru menyepi ke lorong mainan anak, kuatir ide ini lepas tertutup pemikiran lainnya.

Buku-buku kumpulan ilustrasi sederhana tentang persahabatan karya desainer lokal, yang mengapa saya berpikir demikian, mirip sekali konsepnya dengan buku serupa karangan orang luar yang saya ketahui duluan.

Ada juga buku tentang metode bersih-bersih, yang mengapa saya berpikir demikian, langsung mengingatkan saya dengan buku serupa karangan penulis luar terkemuka. Saya rasa kamu tahu siapa dengan metodenya yang terkenal itu.

Sebenarnya sebelum ini pun saya pernah mengalami hal serupa. Waktu itu tentang buku pengembangan diri dan cara menghadapi orang lain. Baik dari judul, isi sebagian besar bukunya (iya, saya membaca sekilas dari buku yang sudah tersobek sampul plastiknya), bahkan gambar sampulnya juga. Karya penulis asing berjajar dengan karya penulis lokal. Sekilas sama, yang sangat berbeda hanya harga dan ketebalan bukunya.

Saya merasa, kenapa buku seperti ini, yang sekilas pandang sangat terlihat serupa, bisa terbit dan dipasarkan?
Ini.. seperti membajak tidak sih?
Atau ini sah-sah saja, karena pada dasarnya memang dua buku dan dua karya yang berbeda?

Entah kenapa saya berpikir seperti ini.

Atau ini hanya masalah sudut pandang saja sebenarnya?
Masalah buku siapa yang saya temui duluan.
Bagaimana kalau kejadiannya dibalik, saya menemukan buku-buku lokal duluan baru melihat buku karangan luar belakangan.
Akankah saya masih berpikir demikian?

*diketik di toko buku di Bekasi, diiringi "High Hopes - Kodaline"

Kamis, 17 Agustus 2017

Short Note

Pagi ini tiba-tiba saya ingat waktu dulu, di masa awal-awal PKL.
Saat itu kita (saya dan teman-teman Pixels) saling update tentang kondisi masing-masing, yang sebenarnya tidak jauh beda satu sama lain. Pukul sepuluh pagi kita kira akan disibukkan dengan briefing dan segala macam perkenalan, nyatanya yang kamu dan saya sendiri share kebanyakan adalah sama-sama menunggu petinggi, yang akan menampung kita selama sebulan kedepan dari lokasi masing-masing. 😂

Senin, 14 Agustus 2017

Retorika 2017 | Episode Agustus

Nona
Nona, bisa tolong tunggu sebentar?
Rasanya kita terlalu jauh melangkah tanpa mempelajari apa-apa.

Hari-hari yang panas memaksa kita berjalan cepat-cepat. Kamu yang gampang terbujuk,
dengan tanpa perlawanan menyerah dibawa gelombang manusia modern.

Nona, bisa kita kembali sebentar?
Di ambang batas ini, kita tidak tahu mengejar ambisi siapa.

Nona, bisa kita kembali bersama?
.

Tidak Ada Sunset Hari Ini
Sore itu matahari pergi tanpa pamit
Tenggelam ia tanpa aba-aba,
meninggalkanmu yang berharap melihat pendarnya
dari tepian teluk Jakarta

Tidak ada sunset hari ini
tidak ada jejaknya yang warna-warni
menyisakan kita dengan kamera masing-masing
dan tanda tanya untuk rencana esok hari
.

Penulis yang Tertidur
seseorang coba tolong bangunkan
ada penulis yang tertidur di kepalaku

bisa kudengar deru dengkurnya di sela-sela hela
lelap ia dilahap gelap
kalap ia menangkap dekap
.

Pujangga yang Tidak Romantis
Aku ini pujangga yang tidak romantis
katamu bermonolog pada suatu gerimis