Akhir pekan kemarin saya datang ke acara diskusi dan peluncuran buku foto, di Bandung. Jauh-jauh datang semata karena impulsif ingin short escape, ingin berada dalam perjalanan di luar rutinitas kantor-rumah-rumah sakit, ingin simulasi solo trip, dan ingin melakukan saja apa yang mau saya lakukan. Menyenangkan, tapi tidak boleh sering-sering.
Tentang diskusi fotonya sendiri, it was great, berhasil memunculkan emosi yang macam-macam bagi saya pribadi. Seperti biasa, perasaan saya selalu campur aduk selepas menghadiri acara diskusi dan bertemu dengan banyak orang. Ada rasa sentimentil yang timbul ketika mendengar pemaparan dan kisah di balik pembuatan buku foto ini. Ada iri yang hangat, membayangkan perasaan yang tumbuh antara teh Grace dan keluarga Sabrina selama proses pemotretan. Juga keakraban yang sesaat, lewat interaksi yang singkat dengan orang-orang baru. Juga kehilangan yang menyertai, di setiap penghujung acara.
Sehabis mengalami luapan emosi yang beragam itu, yang diakhiri secara tiba-tiba, saya selalu seperti hilang pijakan. Tidak tahu mau ke mana, melakukan apa. Seperti butuh beberapa saat untuk diam dulu, meresapi pengalaman emosional yang drastis. Yang di sisi lain, justru di setiap akhir acara selalu saya tutup dengan bergegas pulang.
Lalu menyesal. Karena entah kapan lagi bisa bertemu dengan mereka-mereka yang mudah untuk dikagumi.
Selasa, 10 September 2019
Selasa, 22 Januari 2019
Telah Hilang, Teman Berbagi Kesedihan Korporasi
Kehilangan teman bekerja,
bisa sama rasanya seperti duka ditinggal kekasih.
Apalagi malam sebelumnya kita masih sempat menertawakan lelucon yang sama,
yang mungkin tidak lucu bagi yang bukan kita.
Apalagi malam sebelumnya, di warung pinggir jalan kita masih merayakan kesedihan
sebagai sesama budak birokrasi basi.
Kalian dengan rokok masing-masing, dan aku yang sibuk protes soal asap berbalut nikotin.
Apalagi di malam sebelumnya, warung pinggir jalan tempat berkumpul selepas jam kerja,
menjadi saksi kita yang masih bersiasat agar sama-sama selamat dari sabda Raja Terakhir.
...
Malam ini, di warung pinggir jalan kita sama-sama berteduh dari hujan yang tumpah. Kalian masih dengan rokok masing-masing, bersama aku yang sesak dari asap dan kabar pisah yang terlalu mendadak
dan kesedihan adalah teman terbaik bagi retorika.
bisa sama rasanya seperti duka ditinggal kekasih.
Apalagi malam sebelumnya kita masih sempat menertawakan lelucon yang sama,
yang mungkin tidak lucu bagi yang bukan kita.
Apalagi malam sebelumnya, di warung pinggir jalan kita masih merayakan kesedihan
sebagai sesama budak birokrasi basi.
Kalian dengan rokok masing-masing, dan aku yang sibuk protes soal asap berbalut nikotin.
Apalagi di malam sebelumnya, warung pinggir jalan tempat berkumpul selepas jam kerja,
menjadi saksi kita yang masih bersiasat agar sama-sama selamat dari sabda Raja Terakhir.
...
Malam ini, di warung pinggir jalan kita sama-sama berteduh dari hujan yang tumpah. Kalian masih dengan rokok masing-masing, bersama aku yang sesak dari asap dan kabar pisah yang terlalu mendadak
dan kesedihan adalah teman terbaik bagi retorika.
Minggu, 04 November 2018
Di Surau Bawah Tanah
Ada air mata tumpahAgustus-September 2018 adalah bulan-bulan yang berat. Perjalanan Bekasi-BSD selama dua jam bukan ngga mungkin dilewati tanpa pikiran macam-macam, termasuk hal-hal negatif yang mau ngga mau pasti kepikiran. Dan ini terjadi dua kali sehari, di setiap pulang pergi.
sajadah basah
dan harapan-harapan yang mendaras
dari jiwa yang tak henti mendoa
Kalo udah begitu, biasanya sesampainya di kantor saya akan mampir ke musholla sebelum langsung ke meja. Musholla yang satu lantai dengan parkiran. Beres-beres, touch up, solat. Ngadu, sengadu-ngadunya soal segala hal yang terasa mengganjal.
Dua bulan di tahun 2018 itu termasuk bulan yang basah bagi saya. Bukan karena hujan, tapi karena rembesan air yang lain. Air asin.
Sabtu, 06 Oktober 2018
Thank you
"That awesome moment, when you find a friend you can act stupid with."
Belum lama ini seorang teman saya menikah. Kami berteman cukup dekat, dia mirip "kotak sampah" karena saya bisa mengeluarkan segala pemikiran dan bertingkah apa saja tanpa takut di depannya. Bahkan dia lebih kotak sampah dari blog ini. :)
Di hari menjelang pernikahan, dia sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Saya senang hati membantunya. Sampai di hari pernikahan, saya senang luar biasa. Seperti ikut merasakan kebahagiaan dari seseorang yang benar-benar dekat dengan saya.
Tapi belakangan ini saya kok merasa kehilangan.
Sekarang saya bingung akan membagikan ke siapa tiap kali menemukan postingan aneh di Instagram.
Postingan ini udah tersimpan lama banget, lewat setahun lebih cuma mentok sampe draft. 😅Saya kehilangan teman untuk bertingkah aneh bersama. :")
Sekarang saya sekantor lagi sama temen "kotak sampah" ini. Dan kabar baiknya, dia ngga banyak berubah meskipun udah nikah. Masih bisa saya curhatin macam-macam tanpa takut dihakimi. Kelakuannya juga masih aneh. :")
You don't know how grateful I am, Mak. Thank you.
Thank you for being a friend I can act stupid with.
*salam anak Jaksel cabang Pancoran
Jumat, 20 Juli 2018
Cerita Lebaran: Kematian yang Indah
Di kampung kecil ini, banyak kudengar kisah tentang para sepuh yang menutup hidup dengan indah. Lebaran hari ke-3, bendera putih dipasang di depan salah satu rumah. Pertanda duka. Seorang warganya (Mbah Parman) meninggal kemarin malam.
Lebaran hari pertama, Mbah Parman masih menerima tamu di rumahnya. Termasuk aku. Dengan sisa-sisa ingatan yang dipunya, beliau bercerita kepada para tamunya. Tentang anaknya yang berjumlah tiga belas, dengan hanya satu putri, sisanya putra sejumlah dua belas.
Ia selalu bercerita, tentang anaknya yang selalu lupa urutan berapa. "Kowe anakku sing nomer piro, yo? Sanga? Sedoso?"
Yang dijawab anaknya, "Aku anak ke sepuluh, Bu."
Yang masih kuingat sosoknya dengan atasan mukena putih waktu silaturahmi kemarin, tapi esok malamnya sudah pergi duluan.
Saat itu magrib di hari ke-2 lebaran, beliau siap-siap sembahyang di rumah. Karena tempat solatnya penuh, beliau duduk menunggu giliran. Sembari menunggu, tiba-tiba beliau tidur. Hilang kesadaran. Hingga kemudian berpulang. Begitu cerita yang kudengar dari bulek.
Esok paginya, kursi-kursi berjajar di halaman rumah Mbah Parman. Beberapa sudah terisi oleh pelayat dari tetangga sekitar rumah, yang datang untuk "ngormati" dan turut berbelasungkawa atas meninggalnya salah seorang dari warga sepuh gang masjid. Walau tanpa hubungan darah, semua yang datang sukarela ikut mengurus, menyolati, hingga selesai proses pemakaman.
Lebaran hari pertama, Mbah Parman masih menerima tamu di rumahnya. Termasuk aku. Dengan sisa-sisa ingatan yang dipunya, beliau bercerita kepada para tamunya. Tentang anaknya yang berjumlah tiga belas, dengan hanya satu putri, sisanya putra sejumlah dua belas.
Ia selalu bercerita, tentang anaknya yang selalu lupa urutan berapa. "Kowe anakku sing nomer piro, yo? Sanga? Sedoso?"
Yang dijawab anaknya, "Aku anak ke sepuluh, Bu."
Yang masih kuingat sosoknya dengan atasan mukena putih waktu silaturahmi kemarin, tapi esok malamnya sudah pergi duluan.
Saat itu magrib di hari ke-2 lebaran, beliau siap-siap sembahyang di rumah. Karena tempat solatnya penuh, beliau duduk menunggu giliran. Sembari menunggu, tiba-tiba beliau tidur. Hilang kesadaran. Hingga kemudian berpulang. Begitu cerita yang kudengar dari bulek.
Esok paginya, kursi-kursi berjajar di halaman rumah Mbah Parman. Beberapa sudah terisi oleh pelayat dari tetangga sekitar rumah, yang datang untuk "ngormati" dan turut berbelasungkawa atas meninggalnya salah seorang dari warga sepuh gang masjid. Walau tanpa hubungan darah, semua yang datang sukarela ikut mengurus, menyolati, hingga selesai proses pemakaman.
Rabu, 21 Maret 2018
Caption yang Tak Sempat Kau Publish dan Tak Sengaja Kumelupakannya
Romantisme Kereta Tua
Di kereta pagi tadi, Kita begitu dekat. Kurasakan naik-turunnya nafasmu, seperti kau juga merasakan kembang-kempisnya pernafasanku.
Jarak mengikat Kita begitu erat, menjaga Kita demikian tegap. Di setiap pemberhentian yang tidak lama itu, tanpa berpegangan apa-apa, Kita masih bisa berdiri tegak.
Topangan tangan-tangan tanpa Tuan, rapat melawan tekanan di lengkungan logam yang belum seberapa tua, tapi padat berisi pekerja-pekerja Kota.
Hai,
Saat ini, saat kamu membaca pesan yang kutulis waktu kamu tertidur tadi, itu berarti kamu sudah bangun.
Jika saat itu tiba, aku sudah tidak di sini lagi. Namun kamu tak perlu kuatir. Pada suatu petang di masa dua tahun lagi, dengan membawa hati yang hangat, aku akan pulang.
Kembali ke rumah.
Kembali ke tempat para pendahulu kita menjalani hidup dengan petuah-petuah bijak.
Tak perlu kau balas pesan ini.
Simpan saja untuk bahan bertukar cerita, di pertemuan kita nanti.
Rabu, 27 Desember 2017
Rabu, 29 November 2017
Tentang Nicholas dan Tatsuo dalam Satu Polling
Dan.. kenapa anak-cucu?
Yha, saranku sih baca artikelnya aja biar ga bingung. :')
Klik link ini untuk membaca artikelnya, yhaaa..
Terima kasih, aku sayang kalian!
*postingan ini mengandung click-bait. Nama-nama di atas penulis catut tanpa bermaksud apa-apa, hanya untuk menambah semangat. Ehe.
Selasa, 19 September 2017
Kerah Baju Kemeja Ayahku
Ibuku punya anak perempuan cuma satu, yaitu aku. Sisanya lelaki semua. Aku tidak tau apa yang Ibuku pikirkan tentang aku sebagai satu-satunya gadis di antara ketiga anaknya yang tidak berkumis.
Ayahku (alm.) cuma punya anak perempuan satu, yaitu aku. Dua anaknya yang lain, lelaki semua. Aku tidak tau apa yang dipikirkan Ayahku tentang aku, satu-satunya anak yang tidak wajib solat jamaah di mesjid.
Abangku punya adik perempuan cuma satu, yaitu aku. Sisanya adikku yang cuma satu dan ia lelaki. Aku tidak tau apa yang Abangku pikirkan tentang aku, adik perempuan satu-satunya yang sukanya keluyuran ke acara gratisan.
Adikku cuma punya satu kakak perempuan, yaitu aku. Sisanya adalah abangku, satu-satunya kakak lelaki yang ia punya. Aku tidak tau apa yang dipikirkan adikku tentang aku, satu-satunya kakak perempuan yang suka menyuruh-nyuruh ia. Karena ia juga satu-satunya yang bisa kusuruh.
Aku yang perempuan tapi lebih sering bergaya maskulin, terpengaruh peninggalan Ayah dan saudara-saudaraku.
Pada suatu hari entah kapan, yang aku sendiri juga tidak ingat, aku menemukan kemeja ayahku dan mengenakannya untuk kuliah ke kampus. Kemeja biru muda yang kebesaran, yang lembut sekali kainnya seiring menuanya umur kemeja itu. Aku merasa keren sekali saat memakainya, dipadukan celana denim dan sepatu kets. Tipikal anak kuliahan yang cuek dengan pakaian kebesaran, tapi malah terlihat santai dan menarik tanpa dibuat-buat. Tapi pasaran.
Pada suatu hari entah kapan, yang aku sendiri juga tidak ingat, aku menemukan kemeja ayahku dan mengenakannya untuk kuliah ke kampus. Kemeja biru muda yang kebesaran, yang lembut sekali kainnya seiring menuanya umur kemeja itu. Aku merasa keren sekali saat memakainya, dipadukan celana denim dan sepatu kets. Tipikal anak kuliahan yang cuek dengan pakaian kebesaran, tapi malah terlihat santai dan menarik tanpa dibuat-buat. Tapi pasaran.
Perasaan keren itu masih terbawa hingga kini. Kemeja kebesaran Ayahku kadang masih kupakai ke kantor. Semacam karakterku dalam berpakaian dan berpenampilan. Selain itu, aku juga jadi merasa punya semacam kedekatan dengan Ayahku kala mengenakannya.
Aku tidak tau berapa umur kemeja itu. Tapi semakin kukenakan, semakin tipis dan lembut ia. Apalagi kalau kau melihat kerah lehernya yang sudah mulai koyak.
Kini di setiap aku mengenakannya, ada semacam pemikiran yang mengganggu.
Sampai kapan ya aku bisa mengenakan kemeja ini?
Berapa kali pemakaian lagi?
Berapa kali pemakaian lagi?
Tidak bisa seterusnya, ya?
Sampai kapan ya, hingga saatnya aku harus mengistirahatkan kemeja ini? Seperti bendera pusaka yang kini tidak dikibarkan lagi, saking tua dan lapuknya lepas dicuci berkali-kali.
Aku jadi emosi sesaat kalau mengingatnya.
Belum lama ini aku mendengar lagunya Iksan Skuter yang berjudul Bapak. Cerita kami mirip, aku juga malu dan agak angkuh untuk mengakuinya, dan membayangkan Ayahku diam-diam menanyakan aku waktu dulu itu rasanya.. :'(
Di kemeja tua Ayahku itu, kamu bisa temukan ada inisial namanya yang ditulis dengan spidol hitam permanen, MAM tertulis di sana dan masih terbaca hingga kini. Satu dari sekian peninggalannya yang bisa membuat aku merasa dekat.
Sabtu, 16 September 2017
Tidur
Tidur adalah satu-satunya cara berhenti berpikir. Itu katamu pada suatu malam.
Memikirkan apa memang?
Macam-macam. Kebanyakan memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaanku.
Mengapa kau memikirkan hal semacam itu?
Tidak tau juga, semacam kebiasaan kurasa. Aku ingin berhenti berpikir demikian. Aku ingin berhenti berpikir soal apapun.
Kuberi tau ya, orang-orang yang kau pikirkan itu sebenernya sama sekali tidak ambil pusing soal kamu. Orang-orang yang kau pikirkan itu, sama sekali tidak memikirkan kamu. Bahkan mereka semua sama saja dengan kamu, sibuk memikirkan orang lain yang sepertinya tidak membutuhkan keberadaan mereka. Jadi, stop berpikir soal itu.
Kamu, memang kamu tidak pernah berpikir seperti itu?
Kalo aku sih, aku ya aku. Soal apa yang orang lain pikirkan mengenai aku, itu urusan mereka bukan urusanku. Ada hal lain yang lebih sering kupikirkan. Misal makan pagi besok aku mau makan apa ya? Baju untuk kondangan besok, aku akan memakai apa ya?
Hal-hal seperti itulah.
Kau tau, sebenarnya aku sedang mencoba berhenti untuk berpikir. Tapi semakin aku mencoba, malah semakin berpikir aku. Ada suatu saat ketika aku berhasil berhenti dari kegiatan berpikir, tapi setelah itu aku justru berpikir soal tindakanku yang tanpa pikiran itu. Seperti lingkaran setan.
Kau.. saranku sih kau cari pacar sana.
Hah, apa hubungannya?
Ya aku belum tau juga sih, karena aku belum pernah pacaran juga. Tapi kelihatannya orang yang punya pacar dan melakukan aktivitas pacaran tidak akan menyedihkan seperti kamu. Ya setidaknya mereka kurang punya waktu sendiri untuk memikirkan hal yang sering kau pikirkan itu.
Hei, lihat siapa yang ngomong. Aku tidak ingin menerima saran soal pacaran dari orang yang belum punya pacar juga.
Kuralat ucapanku barusan. Jangan cari pacar. Orang-orang seperti kita ini rasanya tidak cocok kalau pacaran. Ruang yang kita punya bahkan belum cukup untuk menampung diri kita sendiri, apalagi kalau mau ditambah keberadaan orang lain.
...
Bisa tidak ya aku melewati hari tanpa berpikir?
Kupikir kamu pasti bisa. Kamu pernah melakukannya, beberapa kali setauku.
Kapan ya itu?
Ya itu.. seperti ucapanmu yang mengawali percakapan kita ini. Kamu bisa berhenti berpikir ketika kamu sedang tertidur. Katamu kan, tidur adalah satu-satunya cara yang berhasil membuatmu berhenti berpikir.
Hm.. iya sih. Tapi selain itu, sebenarnya aku ingin melakukan aktivitas lain selain tidur. Rasanya sayang kalau malam yang panjang aku lewatkan hanya dengan tidur. Kadang otakku bisa berhasil memikirkan hal lain dan jadi melahirkan karya lain di malam hari tanpa tidur.
Dari pembelaanmu barusan, aku bisa menangkap sesuatu tentang kamu.
Apa?
Sebenarnya yang membuatmu terus-terusan berpikir itu adalah takut. Ketakutanmu akan sesuatu yang akan hilang, yang lepas karena kau biarkan lewat begitu saja tanpa kau pikir masak-masak. Sementara yang kau pikirkan adalah ketakutanmu, bukan caramu untuk menghadapi ketakutanmu itu.
Ucapanmu masuk akal.
Ya kan? Saranku sih, kita sering-sering melakukan hal ini. Kamu bicarakan saja apa-apa yang kamu pikirkan, aku akan dengar dan tanggapi dengan kebisaanku.
Akan kupertimbangkan saranmu.
Bagus. Setelah ini, kau mau apa?
Aku akan mencoba berhenti berpikir.
Caranya?
Tidur.
Langganan:
Postingan (Atom)
