Sabtu, 29 Februari 2020

Bandung, Terima Kasih


Catatan yang saya buat di stasiun Bandung saat menunggu kereta pulang. Klik gambarnya ya kalau ingin baca :)

Rabu, 29 Januari 2020

#30haribercerita: Podcast Rasa LDR

Omong-omong soal podcast, ayo dengar podcast terbaru saya hasil kolaborasi bersama Aliyah. Check it out, ya. :)

Podcast kali ini disusun dengan metode LDR, karena kami obrol-obrol dengan bertukar pesan suara lewat aplikasi WA. Jadi.. maklum saja ya, kalau hembusan nafas saya akan terdengar keras sekali. Ga ahli nih kirim-kirim pesan lewat voice note. :)

Susyaaah, susyah asli bikin podcast dengan LDR. Saya orangnya butuh pancingan untuk bisa bercerita dengan seru,  kalau hanya pertanyaan yang dilontarkan, yaa jadinya saya akan hanya menjawab. Ini kekurangan yang harus dievaluasi nih.

Seperti yang saya tulis di sini, kata-kata yang saya rasa menarik untuk diceritakan biasanya baru akan keluar setelah acaranya bubar. Untuk kasus ini, sebenarnya sudah saya atasi dengan mengirim beberapa voice note untuk satu pertanyaan yang Aliyah tanyakan. Tapi.. mendengar jawaban saya sendiri, rasanya saya kebanyakan muter-muter nih jawabnya. Kurang praktis, taktis, dan ekspresif. Suara saya ngebas dan lempeng sekali, hahahah. Jadi ga PD. :'(

Tapi.. di sisi lain, saya senang sih diajak kolabs. Makasih ya Al, atas ajakannya. Mari kita bikin podcast lagi dengan cerita yang seruuu!

*ditulis 05 Feb 2020

Selasa, 28 Januari 2020

#30haribercerita: Pria Pisau Cukur

Di kasir Indomaret, setumpuk cokelat perak dipajang berdampingan dengan produk silet cukur. Visual dari model di kemasan pisau cukur secara kebetulan menyatu dengan tumpukan cokelat perak, menghasilkan satu cerita yang menarik. Spontan saya foto.


Dari gambar yang diambil, saya menangkap ekspresi seorang pria yang mengintip dari balik tumpukan cokelat. Terlihat ia ingin sekali mendapatkan makanan manis itu. Sedikit gesture jari yang terlihat mengelus pipinya, seperti bujukan agar si pria pisau cukur tidak tergoda. Kamu bisa menyebut ia sebagai pria penggila cokelat, namun karena suatu keadaan ia tidak boleh sama sekali memakan cokelat. Mungkin ia menderita suatu penyakit, sehingga harus menjaga asupan makannya.

Dari sisi sebaliknya, ada cipratan saus sambal di visual model kemasan pisau cukur. Kombinasi visual dan saus sambal ini menghadirkan cerita yang lain di otak saya. Kembali saya foto.


Elemen saus yang terciprat seakan terlihat seperti darah. Ketidaksengajaan ini jadi sangat sesuai konteksnya dengan pisau cukur, mewakili kulit wajah yang terluka hingga berdarah akibat tergores tajamnya pisau. Elemen jari-jari yang mengelus, seakan sebuah pencapaian atau imbalan atas pengorbanan pria pisau cukur yang rela melukai wajahnya hingga berdarah, demi mendapatkan hasil cukuran yang mulus. Beauty/handsome is pain. Seakan menyiratkan hal itu.

Saya lempar pertanyaan terkait gambar ini ke IG story, ada beberapa yang merespon. Tidak banyak, hanya empat respon yang saya dapat.

Dari jawaban yang masuk, visual ini sebagai tindakan sembunyi/ngumpet; sisanya mengaitkan cokelat dengan kisah Valentine di bulan Februari. Tidak bisa disanggah, cokelat dan bulan Februari memang erat kaitannya dengan momen Valentine. Memang saya tidak merayakan/meyakini, namun saya juga tidak memusingkan pro-kontra soal momen ini. Yasudah, seperti sebuah kewajaran saja. Apakah saya jadi gawat?

*ditulis 05 Feb 2020, menggunakan metode menulis cepat.

Senin, 27 Januari 2020

#30haribercerita: 1917

Adegan dibuka dengan hamparan padang rumput liar. Blake dan Scot tertidur sambil tetap membawa peralatan lengkap menempel di tubuhnya. Seorang komandan membangunkan Blake, "Ajak seorang teman," katanya. Tanpa pikir panjang, Blake mengajak Scot. Dari sini, jalan hidup mereka akan berubah.

Premis yang sederhana, "Tolong antarkan pesan ini ke pasukan A yang ada di barisan Z. Waktu kalian tidak banyak, karena ini adalah perintah pembatalan misi penyerangan besok. Nyawa ribuan orang bergantung dari sampainya pesan ini ke komandan di pasukan Z nanti."

Lalu sepanjang film kita akan diajak serta dalam perjalanan Blake dan Scot mengemban misi. Mata kamera tidak lepas sedetik pun, mengiringi setiap langkah yang ditempuh dua prajurit ini. Penonton dibawa menelusuri parit buatan sekaligus tempat berlindung saat serangan berlangsung, tempat puluhan prajurit terluka diobati langsung dengan peralatan seadanya. Tumpukan mayat, kuda yang tinggal kerangka, dan tebaran potongan tubuh manusia menggambarkan kondisi di arena perang saat itu. Perang dunia I, saat Jerman menarik mundur pasukannya dari daerah sekutu.

Pada suatu kesempatan, Scot, yang berdedikasi tinggi pada misi, akhirnya tidak tahan bertanya, "Kenapa kau memilih aku dalam misi ini?"

Tidak ingat apa persisnya jawaban Blake, tapi rasanya tidak jauh dari soal Scot orang yang paling bisa dipercaya.

Meski ceritanya hanya soal perjalanan dua orang prajurit pengantar pesan ini, tapi emosi penonton dengan mudahnya terbangun. Lewat obrolan singkat, lewat tindakan saling menjaga satu sama lain antarmereka berdua, dan lewat ancaman serangan yang bisa datang kapan dan di mana saja. Misi sepenting ini benar-benar hanya mereka berdua yang bisa mengembannya.

Selain dari cerita dengan emosi yang dalam, teknik pengambilan gambar dan setting yang ditampilkan benar-benar bikin saya menahan nafas. Gila, visualnya cakep banget!

Saya juga menikmati sekali menangis, meluapkan emosi saat menonton film ini. Film terbaik yang saya tonton di awal tahun.

Kudos, Sam Mendes!

Sabtu, 25 Januari 2020

#30haribercerita: Cawan (tak) Berbisik

Sebuah cawan dengan pesan yang tak tersampaikan sampai di tangan saya sore tadi. Ini dia, cawan yang sudah lama saya tunggu-tunggu.

Cawan nomor 26, dari pameran "Cawan Berbisik" oleh Yugie Kartaatmaja. Awalnya, mas Yugie ingin menyampaikan sendiri cawan ini. Nanti akan dikabari lagi, katanya, untuk bertemu langsung. Beberapa hari saya penasaran, sambil menunggu kabar. Tidak ingin menagih duluan juga, karena mungkin beliau sibuk. Sampai terlupa. Seminggu, dua minggu, sebulan.

Hingga tiba-tiba, serah-terima cawan itu digantikan perannya dengan paket yang diantar kurir.

"Bray, nitip ambilin tissue pesenan yak di gedung J," pesan saya untuk si Bray sore itu.

Balik-balik, bukan cuma tissue yang dibawa si Bray, tapi juga cawan misterius ini.

Cawan Berbisik

Cawan dengan pesan yang tak sempat tersampaikan. Cawan yang dijanjikan mas Yugie.

Ternyata, memang tidak sempat untuk bertemu langsung. Tiba-tiba mas Yugie harus pindah ke Bali, makanya terpaksa dikirim paket begini. Begitu balasnya saat saya mengabarkan cawannya sudah saya terima.

Penasaran, saya buka paketnya, berharap akan ada pesan misterius yang akan saya tebak siapa pelakunya. Tapi cuma ada cawan dengan nomor 26 di dasarnya, dan keterangan singkat soal konsep pameran.

"Btw mas, memang pesannya ga ikut dikirim, ya?"

"Engga, itu sebenarnya hanya medium penyampaian pesan yang tertuju tapi masih anonimus. Jadi hanya sebagai pengingat. Kalau pesannya tersampaikan dengan jelas, saya jadinya intervensi terlalu dalam. Jadi ini semacam gestur."

Ah, padahal sudah penasaran sekali. Kayaknya gapapa kalo pesannya tetap disampaikan, asal identitas pengirimnya tetap anonim. Begitu balas saya, yang tidak ditanggapi mas Yugie. Mungkin saya justru terlalu mengintervensi (ikut-campur) dalam karyanya. Maklum sih, hehe.

Apapun itu, terima kasih ya mas Yugie. Sukses selalu! Mungkin suatu saat kita bisa ga sengaja ketemu.

*diketik 4 Maret, 2020. Dua hari setelah cawannya sampai.

Jumat, 24 Januari 2020

#30haribercerita: Watchdoc

Tentang realita yang disampaikan lewat karya-karya watchdoc. Tapi kok membangkitkan geram juga, ya? Ketika melihat tokoh-tokoh yang dulu kampanye dengan gaya sok memperjuangkan, sekarang di mana? Melihat senyum-senyum tamak, seakan benar akan bekerja atas kepentingan rakyat.

*(25/01)

Kamis, 23 Januari 2020

#30haribercerita: #30haribercerita

Kemarin saat sedang asik ngobrol soal postingan kak Rey dan Galcit, tiba-tiba Hesty nyeletuk, "Mil, kok lu ga ikutan 30 hari bercerita?"

Ehem. Siapa bilang ga ikut? Gue ikutan Hes, tapi nulisnya di blog. Hehehe.

Memang platform yang mengajak orang-orang bercerita selama 30 hari ini terlahir di IG. Tapi, gue tau ga akan bisa cerita banyak, di sana bukan platform yang tepat untuk bercerita kalo bagi gue pribadi. Ini preferensi personal aja ya.

Alasan sebenarnya karena gue jadi memikirkan hal yang kurang penting ketika akan nge-post di IG. Gue akan kecewa kalo cuma sedikit like yang gue dapat, akan mikirin foto dan cerita yang ga nyambung. Akan takut di-judge macam-macam, padahal mah siapa juga yang akan mikirin.  Mikirin caption aja daku lama sekali, Fren. Ada toxic dan ketidakpuasan yang tersembunyi dari bermain IG.

Gue sendiri ikut #30haribercerita ini karena setuju dengan semangatnya, sebagai penyalur pikiran dan kata-kata yang ga sempat keluar. Bagi gue, nulis itu kayak terapi untuk jujur dengan diri sendiri. Untuk mengakui pemikiran-pemikiran yang kadang suka dipendam, pandangan-pandangan yang kadang suka terlupa, juga megikat pelajaran hidup yang didapat dari kejadian sehari-hari. Semacam dialog intim dengan diri sendiri sekaligus berlatih berpikir runut. Sekaligus... latihan menjelaskan dalam kalimat tertulis, karena gue sering kesulitan kalau harus menulis laporan dan jawaban di formulir atau kuesioner apa.

Karena keterampilan menulis, berpikir, dan bicara atau kemampuan apapun itu bisa diasah. Dan daku masih bodoh. :)

Di blog ini, gue bisa nulis apapun dengan bebas. Entah percakapan imajiner dengan mas Wid, pertanyaan yang belum sempat kepikiran saat screening film, atau hal-hal lain yang belum tersalurkan.

Mulai tahun ini, rasanya gue akan merutinkan lagi aktivitas literasi. Ini pengaruh positif nih, dari kegiatan main-main ke Post dan event Patjar Merah kemarin. Yuk, harus konsisten. :)

*(26/01)

Rabu, 22 Januari 2020

#30haribercerita: Di Balik #36x36project

Sebuah kisah di balik layar #36x36project. Ternyata saya sempat menulis beberapa catatan sampingan, yang baru sekarang kesempatan di-post. Selamat membaca! :)

Ini tentang sebuah project kolaborasi berbasis kamera analog! Selama 36 hari para partsipannya akan memotret satu frame saja dengan tema yang ditentukan malam sebelumnya oleh akun @36x36project. Satu roll film untuk 36 hari.

Karena hal ini, niatan gue untuk hiatus dari Instagram harus tertunda. Sayang yah, padahal ingin log-out dan sok-sokan detox gitu ceritanya. 😅

Hari-hari pertama gue agak khawatir. Ini filmnya beneran kepotret ga ya. Beneran jadi ga ya ntar. Karena kepikiran hal itu, frame yang gue ambil jadi sekadarnya. Itu yang gue rasa sih.

Pernah di hari ketiga yang temanya pasar, gue udah motret tuh satu frame. Eh, di detik berikutnya objek yang gue incar justru semakin fotojenik (bener ga yah penulisannya begitu 😅). Pingin motret lagi, ga bisa. Mau ngulang ambil foto lagi, ga bisa diulang. Sayang sih, tapi gue harus komit untuk cuma ambil satu frame/hari. Di situ gue dapet pelajaran untuk ga terburu-buru. Harus sabar. Gue seperti diingatkan lagi tentang makna motret dengan analog, yang tiap framenya begitu berharga. Tsah.

Memang dasar gue anaknya sok dan banyak gaya yah. Di hari berikutnya, karena sok mengaplikasikan ilmu sabar yang gue dapat di hari ketiga, gue malah belum ambil foto apapun sampe sore hari menjelang magrib. Selain karena tema yang berubah dengan tantangan berbeda. Tapi jangan kuatir, akhirnya gue berhasil kok untuk mengambil frame untuk hari keempat. Nih, barusan aja sebelum buka puasa. 😉

Gue punya pemikiran untuk hanya memotret ketika ada cahaya matahari. Karena namapun motret dengan film ya, sangat tergantung dengan cahaya. Makanya maksimal sore hari gue harus udah menyelesaikan tantangan motret di hari itu.

Ini baru hari keempat, masih ada 32 hari dengan 32 tema lainnya. Semoga kita semua bisa komit dan istiqomah ya, dan semoga akan selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil di setiap harinya.

🙃

*(26/01)

Selasa, 21 Januari 2020

#30haribercerita: #36x36project

Ini tentang proyek di awal Juni tahun 2019 kemarin. Selama 36 hari kami memotret dengan satu roll film berisi 36 frame kamera analog. Satu frame/satu kata kunci/hari, sampai habis satu roll film itu. #36x36project

Ada banyak cerita, banyak rasa, macam-macam hal yang saya alami selama ikut dalam proyek ini. Debar-debar memencet tombol shutter, kata kunci yang kadang bikin bingung, kadang bikin antusias.. dan lainnya. Yang pada dasarnya terasa menyenangkan.

Sayang, harus terhenti di hari ke-32 karena filmnya lepas di dalam kamera. Gara-gara ini, saya kembali berdebar-debar.

Seorang teman menyarankan untuk langsung membawanya ke lab foto untuk diproses. Saya pun ke sana, dengan debar-debar juga. Kali ini soal hasil gambarnya, bisakah tetap diproses? Akankah sesuai dengan yang dibayangkan sewaktu motret kemarin? Atau justru komedi karena ngeblank?

Ternyata hasilnya tidak segagal yang saya kira. Beberapa foto memang tidak jadi, tapi ada juga yang berhasil. Dan semakin senang rasanya saat foto itu bertemu dengan karya dari pemotret lainnya di pameran bulan Juli kemarin.

Melihat foto teman-teman lain yang juga dipamerkan, secara tidak langsung saya merasa seperti ada koneksi yang muncul. Rasanya seperti orang asing yang belum pernah bertemu masing-masing, tapi bisa saling bercerita lewat foto. :)

*(25/01)

Senin, 20 Januari 2020

#30haribercerita: Anak Magang

Pernah pada suatu malam sepulang kerja, saya melintasi gedung pertokoan dan bertemu segerombol karyawan magang. Saat itu jam operasi toko sudah usai, mereka sedang membereskan troli yang sebelumnya dipakai para pembeli. Sekitar 4-5 orang yang saya temui, dengan seragam hitam-putihnya bersama-sama menumpuk troli dan menyusunnya jadi satu rangkaian panjang.

Di batas akhir troli, ada jalanan menurun yang mengarah langsung ke basement pertokoan. Sambil tertawa mereka beramai-ramai mendorong troli-troli itu dan menungganginya. Suara gesekan roda dan jalanan yang dihasilkan nyaring sekali, semakin kencang seiring kecepatan troli yang meluncur. Melihat mereka tawa-tawa bareng, saya jadi ketularan. Interaksi hangat di antara para karyawan magang itu tersampaikan hingga ke tulang. Di penghujung hari dengan kondisi yang sudah loyo, tapi kalau diingat-ingat energinya masih terasa sampai sekarang. :)))

*(25/01)