Rabu, 15 April 2020

Mengulas Heterogenic

Ikut #giveaway tapi salah ngerti, ibarat udah ngerjain pr tapi harus ngulang. 😂

Hari ini (tanggal 15 April) kesempatan terakhir giveaway mengulas foto di akun @htrgnc. Sejak kemarin malam saya sudah memikirkan foto beserta ulasannya. Semalaman saya mikir, sampai ditinggal tidur dan akhirnya tadi pagi sekitar jam 9 saya post. Tidak berapa lama, story yang saya submit di-repost oleh akun ybs. Tidak berapa lama juga, ada info tambahan bahwa ketentuan ulasan ditujukan untuk satu rangkaian karya foto, bukan foto tunggal.

Jeng-jeng. Berarti saya salah, dong? Wkwk. Ulasan saya cuma untuk salah satu foto dari rangkaian foto seri yang dipilih. Udah gitu interpretasinya bebas banget bawa-bawa karantina, sangat di luar konteks dari karya itu sendiri. 😂😂😂

Sambil senyum konyol, saya mbayangin reaksi admin yang mungkin ngetawain dan senyum-senyum konyol juga baca ulasan saya. Haha. Yaudahlah, saya bertekad untuk submit lagi dengan mengulas seri foto yang lain.

Tekadnya sih udah, tapi kok jadi susyeh ya ngulas fotonya? Hahahah. Sambil nunggu saya selesai ngerjain versi yang benernya, silakan disimak ini ulasan saya yang pertama, klik aja untuk memperbesar gambarnya.


Selasa, 14 April 2020

Perkara Racun Tikus

Kemarin saya chatting dengan Guru. Dia cerita soal Yoda yang mati kena racun salah sasaran. Sudah tiga hari Yoda hilang, sampai akhirnya ditemukan dengan kondisi sudah tak bernyawa di teras tetangga.

Guru sedih sekali, karena sekian lama Yoda hidup bersama mereka selama ini. Sudah 4,5 tahun. Sedih juga, karena Guru berharap Yoda bisa berumur panjang hingga menemani Maryam (anaknya Guru) masuk perkuliahan.

Btw, Yoda adalah nama kucing peliharaannya.

Saya baru tahu, ternyata bisa sefatal dan sesedih ini perkara yang ditimbulkan racun tikus.

Sebagai orang yang sebal sekali dengan gangguan tikus, saya sempat menggunakan racun juga untuk menumpasnya. Tanpa ada beban moral apapun, rasanya wajar saja seperti menggunakan semprotan anti nyamuk. Saya melihat sendiri bagaimana Ibuku membeli racun tikus dari kawannya yang seorang petani, ia terlihat biasa saja.

Pernah suatu hari Ibuku cerita, pembuat racun tempat ia biasa beli sudah tidak berjualan lagi. Mati keracunan saat meracik, katanya. Saya tidak berkomentar apa-apa.

Guru meminta saya untuk tidak lagi menggunakan racun tikus. Saya masih ngeyel karena tidak mempan dan tikus cepat sekali berkembang biak.


'Gunakan lem saja sebagai gantinya,' ia menawarkan opsi.

Selain takut salah sasaran, racun juga tak aman untuk lingkungan. Korban yang mati, jasadnya mengandung racun dan bisa mempengaruhi proses pembusukan alami tanah. Tidak bisa diproses sebagai campuran kompos pun.. Residunya bisa mencemari air dan tanah.

Setelah tau fakta ini, perkara racun tikus jadi sedikit mengganggu moral saya.

Senin, 06 April 2020

Pillow Talk

Semalam, ketika menunggu kantuk sambil memandang langit-langit kamar, saya memikirkan kebiasaan orang-orang Bogor saat berbelanja. Ini terkait jadwal meeting online yang diset jam 10 pagi. Kepagian freeen.

Lalu saya memikirkan abang penjual boba yang tadi kelebihan ngasih uang kembalian. Saya harus secepatnya jajan boba lagi untuk mengembalikan kelebihannya.

Lalu soal physical distancing, yang harus disiasati dan saya pahami ulang supaya bisa tetap olahraga di luar sambil tetap menjaga berat badan diri dari covid-19.

Lalu soal belanja ke pasar pagi, titipan Ibuku membeli lobak dan keinginan untuk jajan pempek bang Jali yang belum keturutan.

Lalu soal kantuk yang tidak datang-datang, karena saya minum kopi instan.

Lalu soal menyiasati paket internet unlimited yang akan menurun kecepatannya setelah pemakaian 1 GB. Tapi tetap ingin nonton Netflix, main IG, dan nonton YouTube, sambil wfh.

Lalu soal keinginan beli ukulele, sebagai pengalih dari nonton streaming yang terbatas dan memasak yang berpotensi membuat saya makan lebih banyak. Apa masih ada jatah bulan ini untuk beli ukulele?

Jumat, 03 April 2020

Lagi-lagi Impulsif

Baru saja, saya memasak satu bungkus mie goreng Jawa yang terdiri atas tiga keping mie kering. Padahal hari sudah malam, dan saya tidak lapar-lapar amat. Terlebih bahan yang ada sangat terbatas, tidak ada sayur dan telur segar. Sumber protein hanya mengandalkan crab stick beku dan putih telur sisa membuat roti kemarin.

Terbukti, saya cepat kenyang tanpa menghabiskan jatah yang saya ambil. Baru setengah piring yang masuk ke perut saya, sisanya saya makan perlahan sambil mengetik postingan ini.

Perkara impulsif ini bukan tanpa ragu disebabkan sedari pagi saya duduk di depan laptop. Mengerjakan proyek candi yang direquest marketing. Bosan duduk di depan laptop, saya butuh kegiatan lain untuk sekadar refreshing. Masak adalah pilihan yang paling mungkin.

Padahal, saya sedang bertekad untuk mengurangi asupan makan. Tidak ke mana-mana dan di rumah saja, praktis membuat saya jarang bergerak. Terasa banyak duduk membuat lemak perut menumpuk. Baru kemarin saya mulai workout tujuh menit yang katanya bisa membuat lingkar perut berkurang 1-2 inchi. Kalau rutin selama tujuh hari saja, sambil didukung pola makan yang sehat dan tidak berlebih.

Apa daya, baru hari kedua tapi pola makan saya sudah berantakan lagi. Sebabnya apa lagi, kalau bukan perkara masak-memasak yang impulsif ini.

Padahal, menu ini saya masak untuk menu makan malam orang serumah. Tapi ibu saya ternyata sudah makan duluan. Adik saya menolak makan malam, mungkin sedang diet juga. Abang saya, picky eater, tidak mau makan masakan yang tidak jelas.

Lalu, sisa mie yang masih banyak ini siapa yang akan mengurusnya?

Dasar, impulsif.

Kamis, 02 April 2020

36 x Zine dan Cerita Penggalangan Donasi

Tahun lalu, mas Desta (@rukiinaraya) bikin project photo online di Instagram. Selama 36 hari, dengan pakai kamera analog dan satu roll film 36-frame, kami yang ikutan project ini akan motret bareng. Satu kata kunci tiap satu hari, untuk satu frame. Namanya @36x36project.

Di akhir project, semua hasil akan dikumpulkan dan dipamerin bareng. Semua ide project ini, kata kunci per hari, eksekusi pameran, sampai workshop nyuci film, mas Desta yang ngonsep. Keren, ya? Doski memang keren, sih. :D

Nah. Hasil dari ikutan @36x36project kemarin, saya bukukan dalam bentuk zine sederhana. Pertama kalinya nyoba nyetak sendiri nih. Ngeri-ngeri sedap, tapi menyenangkan.

Dari cetakan pertama ini, saya tau apa yang masih harus diimprove kedepannya. Pemilihan kertasnya perlu dipertimbangkan lagi, harus coba jenis kertas lain supaya lebih oke. Untung ga cetak banyak-banyak. Hehe.

Selesai dari percetakan, saya bingung zine ini mau diapakan. Sayang kalau cuma numpuk gitu aja. Mau dijual tapi ga yakin ada yang mau saya ga bisa ngasih harga.

Jadinya, saya mau bagi-bagikan zine ini, ke siapa pun yang mau. Syaratnya: harus ditebus.
Cukup donasi Rp100.000 plus biaya kirim. Uangnya bukan untuk saya cetak zine lagi. Nanti hasil yang terkumpul akan disalurkan ke penggalangan dana untuk membantu warga terdampakk Covid-19 di kitabisa.com.

Dari lima zine yang saya tawarkan lewat IG dan Twitter minggu lalu, baru ada satu yang ditebus (terima kasih, bang Khalid!). Susah juga ternyata menggalang dana. Padahal targetnya udah ga banyak, tapi memang exposurenya dikit juga sih. Perkiraan soal teman-teman yang saya incar untuk donasi, juga meleset. 😅




*klik gambar untuk memperbesar


So, I'll leave it here. Barangkali ada yang membacanya dan berminat, mari hubungi saya, ya. :)

Sabtu, 29 Februari 2020

Bandung, Terima Kasih


Catatan yang saya buat di stasiun Bandung saat menunggu kereta pulang. Klik gambarnya ya kalau ingin baca :)

Rabu, 29 Januari 2020

#30haribercerita: Podcast Rasa LDR

Omong-omong soal podcast, ayo dengar podcast terbaru saya hasil kolaborasi bersama Aliyah. Check it out, ya. :)

Podcast kali ini disusun dengan metode LDR, karena kami obrol-obrol dengan bertukar pesan suara lewat aplikasi WA. Jadi.. maklum saja ya, kalau hembusan nafas saya akan terdengar keras sekali. Ga ahli nih kirim-kirim pesan lewat voice note. :)

Susyaaah, susyah asli bikin podcast dengan LDR. Saya orangnya butuh pancingan untuk bisa bercerita dengan seru,  kalau hanya pertanyaan yang dilontarkan, yaa jadinya saya akan hanya menjawab. Ini kekurangan yang harus dievaluasi nih.

Seperti yang saya tulis di sini, kata-kata yang saya rasa menarik untuk diceritakan biasanya baru akan keluar setelah acaranya bubar. Untuk kasus ini, sebenarnya sudah saya atasi dengan mengirim beberapa voice note untuk satu pertanyaan yang Aliyah tanyakan. Tapi.. mendengar jawaban saya sendiri, rasanya saya kebanyakan muter-muter nih jawabnya. Kurang praktis, taktis, dan ekspresif. Suara saya ngebas dan lempeng sekali, hahahah. Jadi ga PD. :'(

Tapi.. di sisi lain, saya senang sih diajak kolabs. Makasih ya Al, atas ajakannya. Mari kita bikin podcast lagi dengan cerita yang seruuu!

*ditulis 05 Feb 2020

Selasa, 28 Januari 2020

#30haribercerita: Pria Pisau Cukur

Di kasir Indomaret, setumpuk cokelat perak dipajang berdampingan dengan produk silet cukur. Visual dari model di kemasan pisau cukur secara kebetulan menyatu dengan tumpukan cokelat perak, menghasilkan satu cerita yang menarik. Spontan saya foto.


Dari gambar yang diambil, saya menangkap ekspresi seorang pria yang mengintip dari balik tumpukan cokelat. Terlihat ia ingin sekali mendapatkan makanan manis itu. Sedikit gesture jari yang terlihat mengelus pipinya, seperti bujukan agar si pria pisau cukur tidak tergoda. Kamu bisa menyebut ia sebagai pria penggila cokelat, namun karena suatu keadaan ia tidak boleh sama sekali memakan cokelat. Mungkin ia menderita suatu penyakit, sehingga harus menjaga asupan makannya.

Dari sisi sebaliknya, ada cipratan saus sambal di visual model kemasan pisau cukur. Kombinasi visual dan saus sambal ini menghadirkan cerita yang lain di otak saya. Kembali saya foto.


Elemen saus yang terciprat seakan terlihat seperti darah. Ketidaksengajaan ini jadi sangat sesuai konteksnya dengan pisau cukur, mewakili kulit wajah yang terluka hingga berdarah akibat tergores tajamnya pisau. Elemen jari-jari yang mengelus, seakan sebuah pencapaian atau imbalan atas pengorbanan pria pisau cukur yang rela melukai wajahnya hingga berdarah, demi mendapatkan hasil cukuran yang mulus. Beauty/handsome is pain. Seakan menyiratkan hal itu.

Saya lempar pertanyaan terkait gambar ini ke IG story, ada beberapa yang merespon. Tidak banyak, hanya empat respon yang saya dapat.

Dari jawaban yang masuk, visual ini sebagai tindakan sembunyi/ngumpet; sisanya mengaitkan cokelat dengan kisah Valentine di bulan Februari. Tidak bisa disanggah, cokelat dan bulan Februari memang erat kaitannya dengan momen Valentine. Memang saya tidak merayakan/meyakini, namun saya juga tidak memusingkan pro-kontra soal momen ini. Yasudah, seperti sebuah kewajaran saja. Apakah saya jadi gawat?

*ditulis 05 Feb 2020, menggunakan metode menulis cepat.

Senin, 27 Januari 2020

#30haribercerita: 1917

Adegan dibuka dengan hamparan padang rumput liar. Blake dan Scot tertidur sambil tetap membawa peralatan lengkap menempel di tubuhnya. Seorang komandan membangunkan Blake, "Ajak seorang teman," katanya. Tanpa pikir panjang, Blake mengajak Scot. Dari sini, jalan hidup mereka akan berubah.

Premis yang sederhana, "Tolong antarkan pesan ini ke pasukan A yang ada di barisan Z. Waktu kalian tidak banyak, karena ini adalah perintah pembatalan misi penyerangan besok. Nyawa ribuan orang bergantung dari sampainya pesan ini ke komandan di pasukan Z nanti."

Lalu sepanjang film kita akan diajak serta dalam perjalanan Blake dan Scot mengemban misi. Mata kamera tidak lepas sedetik pun, mengiringi setiap langkah yang ditempuh dua prajurit ini. Penonton dibawa menelusuri parit buatan sekaligus tempat berlindung saat serangan berlangsung, tempat puluhan prajurit terluka diobati langsung dengan peralatan seadanya. Tumpukan mayat, kuda yang tinggal kerangka, dan tebaran potongan tubuh manusia menggambarkan kondisi di arena perang saat itu. Perang dunia I, saat Jerman menarik mundur pasukannya dari daerah sekutu.

Pada suatu kesempatan, Scot, yang berdedikasi tinggi pada misi, akhirnya tidak tahan bertanya, "Kenapa kau memilih aku dalam misi ini?"

Tidak ingat apa persisnya jawaban Blake, tapi rasanya tidak jauh dari soal Scot orang yang paling bisa dipercaya.

Meski ceritanya hanya soal perjalanan dua orang prajurit pengantar pesan ini, tapi emosi penonton dengan mudahnya terbangun. Lewat obrolan singkat, lewat tindakan saling menjaga satu sama lain antarmereka berdua, dan lewat ancaman serangan yang bisa datang kapan dan di mana saja. Misi sepenting ini benar-benar hanya mereka berdua yang bisa mengembannya.

Selain dari cerita dengan emosi yang dalam, teknik pengambilan gambar dan setting yang ditampilkan benar-benar bikin saya menahan nafas. Gila, visualnya cakep banget!

Saya juga menikmati sekali menangis, meluapkan emosi saat menonton film ini. Film terbaik yang saya tonton di awal tahun.

Kudos, Sam Mendes!

Sabtu, 25 Januari 2020

#30haribercerita: Cawan (tak) Berbisik

Sebuah cawan dengan pesan yang tak tersampaikan sampai di tangan saya sore tadi. Ini dia, cawan yang sudah lama saya tunggu-tunggu.

Cawan nomor 26, dari pameran "Cawan Berbisik" oleh Yugie Kartaatmaja. Awalnya, mas Yugie ingin menyampaikan sendiri cawan ini. Nanti akan dikabari lagi, katanya, untuk bertemu langsung. Beberapa hari saya penasaran, sambil menunggu kabar. Tidak ingin menagih duluan juga, karena mungkin beliau sibuk. Sampai terlupa. Seminggu, dua minggu, sebulan.

Hingga tiba-tiba, serah-terima cawan itu digantikan perannya dengan paket yang diantar kurir.

"Bray, nitip ambilin tissue pesenan yak di gedung J," pesan saya untuk si Bray sore itu.

Balik-balik, bukan cuma tissue yang dibawa si Bray, tapi juga cawan misterius ini.

Cawan Berbisik

Cawan dengan pesan yang tak sempat tersampaikan. Cawan yang dijanjikan mas Yugie.

Ternyata, memang tidak sempat untuk bertemu langsung. Tiba-tiba mas Yugie harus pindah ke Bali, makanya terpaksa dikirim paket begini. Begitu balasnya saat saya mengabarkan cawannya sudah saya terima.

Penasaran, saya buka paketnya, berharap akan ada pesan misterius yang akan saya tebak siapa pelakunya. Tapi cuma ada cawan dengan nomor 26 di dasarnya, dan keterangan singkat soal konsep pameran.

"Btw mas, memang pesannya ga ikut dikirim, ya?"

"Engga, itu sebenarnya hanya medium penyampaian pesan yang tertuju tapi masih anonimus. Jadi hanya sebagai pengingat. Kalau pesannya tersampaikan dengan jelas, saya jadinya intervensi terlalu dalam. Jadi ini semacam gestur."

Ah, padahal sudah penasaran sekali. Kayaknya gapapa kalo pesannya tetap disampaikan, asal identitas pengirimnya tetap anonim. Begitu balas saya, yang tidak ditanggapi mas Yugie. Mungkin saya justru terlalu mengintervensi (ikut-campur) dalam karyanya. Maklum sih, hehe.

Apapun itu, terima kasih ya mas Yugie. Sukses selalu! Mungkin suatu saat kita bisa ga sengaja ketemu.

*diketik 4 Maret, 2020. Dua hari setelah cawannya sampai.