Jumat, 01 Januari 2021
Tentang Mencintai Seseorang
Kamis, 31 Desember 2020
#30dayswritingchallenge
Tahun ini saya buka dengan menulis #30haribercerita di bulan Januari kemarin. Banyak hal terjadi di antaranya. Lupa, ga punya cerita, ga tau mau bahas apa hahaha akhirnya ga rutin juga 30 hari non-stop saya nulis, bahkan belum genap 30 hari.
Beberapa merupakan tulisan #latepost dan simpanan dari tulisan yang lama saya pendam.
Di bulan terakhir tahun ini saya kembali melakukan challenge menulis. Keren juga ya jadi semacam punya konsep awal-akhir yang sama haha. Sekalian sebagai wadah refleksi juga untuk saya. Catatan-catatan yang saya buat bisa dicek di label #30dayswritingchallenge.
Tahun ini tahun yang akan dikenang banyak orang dengan masing-masing ceritanya. Tiap tahun bisa begitu sih, tapi jadi menarik karena kali ini kita semua dirangkul dengan latar belakang yang sama: pandemi.
Postingan ini saya buat di tanggal 1 Desember, hari pertama tantangan menulis ini dimulai. Bagaimanakah perjalanannya? Berhasilkah saya melakukannya tanpa putus? Yah, kita sama-sama tahu bagaimana ini semua berakhir.
Jadi?
Sampai jumpa di tahun 2021!
Terus bertahan, ya. Memang babak belur rasanya, tapi kamu udah sejauh ini dan ga ada opsi lain kecuali bertahan.
:')
Rabu, 30 Desember 2020
DAY 30: My writing experience
Selasa, 29 Desember 2020
DAY 29: My goals for the future
Senin, 28 Desember 2020
DAY 28: About loving someone
Minggu, 27 Desember 2020
DAY 27: Someone who inspires me
Sabtu, 26 Desember 2020
DAY 26: My school
Dari SD-SMP-SMA sekolahku masih satu kelurahan semua. Karena dekat, semua masih bisa kutempuh jalan kaki. Kadang naik angkot sesekali kala ku SMA. Pas kuliah lumayan, agak jauh sikit, di Bogor. Tiap minggu masih bisa pulang jumpa mamak-bapak.
Waktu SD aku cuma setahun, habis itu aku pindah sekolah ke SD tetangga. Masih satu komplek memang. Kubiasa jajan di warung Bu Indri. Dari dulu aku anak baik-baik, kesayangan guru dan selalu dikirim ikut lomba calistung. Walau ga pernah menang. Haha.
Eh walau begitu, aku pernah nakal juga. Kupecahkan kaca jendela kelas dengan batu, tak sengaja pun. Waktu itu kuincar temanku, eh meleset. Langsung panas dingin aku. Besokannya aku mengaku, aku tanggungjawab ganti rugi dengan kaca yang baru, pakai tabunganku. Sampai sekarang, kalau kau tanya mamak-bapakku pun pasti tak tau soal tragedi ini.
Jumat, 25 Desember 2020
DAY 25: The 11th images
Ini #spotifart lain yang kubuat. Seorang pria berkemeja hitam, berdasi merah muda menyala, bertopi hitam juga. Di bawah langit biru yang cerah dengan beberapa awan putih menaungi. Saat itu, udah aku tag si artist pun, tapi tak digubris dicampakkannya aku. Wkwkw.
Iseng bikin beginian membantuku melatih imaji spasial, dan kesabaran. You know, jariku besar, layar hp standar, kadang brush yang digores kelewat lebar. Tapi seru! Semacam therapeutic proses juga, walau kreasinya masih sebatas hal-hal sederhana begitu.
Nah, di situ tantangannya! Bagaimana membuat #spotifart yang bagus, visualnya kuat, dengan cara-cara sederhana. Seru! Aku senang! Kalo berhasil hahaha.
Kamis, 24 Desember 2020
DAY 24: Lesson I've learned
As you guys know, I’ve taken a Japanese lesson in Duolingo. It’s been 3 months and I can tell you, I’m getting smarter at some points. What a dumb #selfproclaimed 🌝
Watashi wa nihonggo benkyoushimasu!
So, itu hard skill yang kupelajari di tahun ini. Kalau dalam hidup, pelajaran apa yang sudah kudapat?
Bulan Oktober-November aku depresi dan stress abis. Kesepian, sendirian, ga ada teman. Belum dapat pekerjaan baru, sementara tawaran kontrak dari plat merah udah kutolak. Padahal udah lebih dari 10 perusahaan kulamar, ga satupun tembus. Ntah salah strategiku di sebelah mana, ketinggian kah kuminta gaji? Apa skillku belum cocok dengan yang mereka cari?
Tak taulah, ya.
Berkali-kali di masa depresi itu aku nangis, berpikir untuk ambil silet dan kugores ke nadi di lenganku. Tapi aku tau itu dosa. Ga bakal masalahku selesai, malah nambah masalah tanpa akhir yang ada. Bakal selamanya aku merasakan sakit dan pedih sepanjang hidup setelah matiku nanti.
Aku mikir dan refleksikan, yah memang nasibku sedang bergejolak. Hidup tak selamanya mulus bukan? Harapanku semoga yang kemarin kulalui itu, ya itulah lowest poinku. Jangan sampai turun lagi, makin menyedihkan aku nanti.
Hidup tak selamanya mulus, rejeki tak selamanya dalam bentuk materi. Aku mikir, kalau aku bisa mencukupkan diriku dengan yang ada sekarang, it’s okay. Aku mengurangi membandingkan diriku dengan orang lain. Masih iri-iri sikit lah, tapi ya aku ngga ngoyo dan ngaca juga dengan usahaku.
Akhirnya tawaran kerja datang dari temanku si Jepri Waworuntu. Kuterima saja lah, walau benefitnya kurang dari sebelumnya. Tak apa daripada tak ada pemasukan. Mudah-mudahan bisa jadi batu loncatan.
Aku belajar konsep bersyukur dalam praktek sebenarnya, bukan cuma teori. Kalau kutengok cerita temanku yang lain, beuh lebih-lebih cobaan mereka dibanding aku. Tapi mereka tak cemen, yaa tak diperlihatkan.
Aku bersyukur aku masih bisa beraktivitas normal. Keluargaku serumah sehat, mamakku sehat dan aktif masak. Adekku keterima PNS dan aktif memulai karirnya sekarang. Abangku ya alhamdulillah lancar pekerjaannya. Aku walau sempat kegoncang, dikit-dikit aku masih bisa nyumbang donasi di mana. Aku minta hidupku aman dan berkah sajalah. Walau tak banyak, tapi masih bisa aku bantu orang itu tak apa.
Aku akan fokus aja ke apa yang aku bisa buat, bukan apa yang tak aku dapat.
*Postingan ini kubuat di tanggal 25. Telat sehari, ngga apa-apa ya? Hehe, cheating lah..
