Sabtu, 30 April 2022

Keep in touch

to keep in touch
to say i miss u
to be whoever you want to be
to celebrate with me

Penggalan jingle iklan Smartfren 2014 silam ini masih terngiang-ngiang sampe sekarang. Dulu si Ncin bilang dia suka juga dengernya, karena bernada semangat! Momennya pas pula di akhir masa kuliah sebelum kita semua berpisah: jadi berasa personal.

Anyway, besok Senin. Udah mulai masuk kantor lagi. Tapi semenjak Sabtu kemarin, gue udah ga tenang mikirin kerjaan yang akan datang.

Ada banyak pr menghadang. Hahaha. Tim design ketambahan dua member baru, tapi mejanya belum ada. Udah gitu, gue masih kesulitan manage tim dan ngedelegasiin task untuk masing-masing member. Gue sendiri aja masih ngeraba to-do list harian mau ngapain, lah ini tau-tau ada a bunch of people yang nunggu task dari gue. Wakakak, kita figure it out bareng-bareng aja ya. 😂

In the past 3 months, gue interaksi intens dengan lebih banyak orang dibanding sepanjang dua tahun kebelakang. Gila ya, bagaimana dunia kita bisa segitu mudahnya berubah, bolak-balik, jungkir-balik. Skenario-Nya tuh emang ga bisa ditebak, jadi jalanin aja.

Dengan segitu lika-liku hidup yang sebenernya ga lika-liku banget dibanding pengalaman hidupnya Echi, Dewi, dan Tiara (salah tiga teman baru gue), gue mengambil pelajaran untuk lebih luwes menghadapi hidup. Kalo ada masalah, jangan distress-in, ketawain dulu aja! It helps loh, at least jadi ga tegang dan lebih rileks, bikin ngehandlenya juga lebih tenang.

*diedit 8 Mei, penghujung libur lebaran.

Minggu, 20 Februari 2022

Dinamika Timeline

*scroll timeline*

Liat berita pimpinan KPK ngasih penghargaan ke istrinya sendiri karena nyiptain hymne baru, sampe dibikin satu acara resmi segala: duh, ngga banget lah. Cringe dan ga masuk di akal sehatku.

Jadi ingin ganti warga negara.

*scroll timeline*

Liat postingan Kak Ge, yang seneng banget tim putri bulutangkis INA menang kejuaraan Asia, aku sesak dan terharu. Bangga banget sama mereka, bangga banget merah-putih berkibar.

Aku ikut merasakan bangganya Kak Ge ke adik-adiknya. Huhu, panutan banget.

Tentang Pasangan dan Vonis Office Outbreak

Belakangan ini, tiba-tiba saya jadi ingin punya pasangan. Rasanya akan menyenangkan jika punya seseorang yang bisa saya cintai dan .. ia juga mencintai saya. Apa, ya, pemicunya? Saya juga masih menelusuri balik soal ini.

Mungkinkah saya akan menemukan seseorang yang mau menerima saya? Yang tanpa ragu dan canggung akan jadi "tempat pulang" dan tujuan hidup saya. Yang akan jadi objek utama surprise-surprise kecil maupun besar. Yang akan saya perdengarkan playlist lagu favorit dan rekomendasi tontonan, lalu jadi lawan bicara soal apa-apa saja: sisi gelap, abu-abu, dan terang kami. Yang saling menguatkan saat salah satunya lemah. Berbagi tawa, keringat, dan air mata bersama.

Entah pikiran saya akan semakin bising atau justru makin tenang karena dibagi, saya ingin mencobanya untuk tahu.

Rasanya, konsep pasangan seperti ini yang terbayang untuk sekarang. Terlalu serius, ya? Hahaha.

Saya open for discuss, kok. Saya sadar, untuk bisa jadi "tempat pulang" seseorang, saya pun juga harus memberikan apa yang saya bisa untuk membuatnya nyaman. Ini pekerjaan dua orang. Saya bertekad untuk terus belajar. So please, bear with me.

Btw, cukup omongan soal pasangan ini. Di tanggal 14 Februari lalu kami serumah tes PCR dan esok harinya keluar hasil: saya positif covid, ibu saya juga.

Alhamdulillah, ga ada gejala yang memberatkan.

Yang saya dan ibu rasakan, lebih ke gejala flu berat dengan batuk berdahak dan bersin yang keras, disertai sakit tenggorokan. Kerennya, dari kami berempat hanya adik saya yang beda sendiri. Dia negatif.

Alhamdulillah, kondisi ibu saya stabil dan tetap baik nafsu makannya. Aktivitas juga normal. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Story close friend, tapi malah diupload sini gimana sik.


Jujur saya ngga kaget ketika hasil saya keluar, meski tetap ada perasaan mencelos. Bagaimana engga, satu kantor dikonfirmasi positif semua dan kita semua kontak erat sehari-hari. Tinggal nunggu vonis aja ini mah, pikir saya. Office outbreak is really happening.

Meski begitu, kami tetep kerja dari tempat masing-masing. Bagi yang tumbang, istirahat 1-2 hari lalu kemudian join the forces, lanjut kerja lagi. Ga ada yang murni istirahat. Sad but true.

Dari kacamata karyawan, sebenernya kita bisa (dan harus) izin istirahat dan take the day(s) off for sure. Tapi, entah kami ini terlalu polos atau saking loyalnya, ga ada yang menuntut hal itu. Saya jadi kebawa juga. Jadi meragukan, hey, kamu beneran kuat atau mau izin ga kerja dulu aja? And I took the hard way, keep the working on.

Ada cerita lucu, si Tiara, yang perhatian ke semua orang, nanyain udah minum obat belum. Minum deh, itu obat dari kemenkes. Obat flu segala flu mulai dari flu burung, flu babi, influenza dan influencer.
"Ra, ini serius sekali minum 8 tablet?"
"Iya, Yaumillll. Hari pertama kita minum 16 tablet."
*emot senyum tapi menangys*

Baiklah, kata dokter Halodoc juga obat ini harus dihabiskan. Sekali mulai, kita ngga bisa mundur lagi. Sampai hari ini, dari total 40 butir, sisa 3 butir lagi untuk jadwal diminum sore. Hore.

Besok juga jadwal kami untuk PCR ulang dari puskesmas. Meski kalo nanti dideteksi masih positif, katanya udah ga di tahap menularkan lagi. Semoga, ya. Aku kangen jajan keluar, mau belajar bahasa isyarat di Sunyi dan menelusuri jejak DariHaltekeHalte. Itu cita-citaku loh kalo udah negatif. Hahaha.

Dan, hari ini aku bandel udah jajan es kopi lagi. :p

Rabu, 19 Januari 2022

Kayak di Film-Film

Kemarin sore, adikku jadi korban maling di kereta. Tasnya yang isi laptop dan dompet, diambil sama orang dengan modus nuker tas.

Pagi tadi, waktu berangkat ke kantor, aku menyaksikan sendiri kejadian kemalingan ini di kereta yang aku naiki. Ada mas-mas muda yang lapor ke petugas kalau tasnya yang ditaruh di rak atas, hilang. Dia naik di Bekasi dan tasnya ketauan ga ada selepas di Kranji. Cuma beda satu stasiun doang.

Heboh, lah. Ada mba-mba yang ga sengaja mergokin si maling waktu nuker tas, cuma dia mana tau kan kalo itu tas orang, bukan tas si maling. Ada bapak-bapak yang ngakunya penyidik malah ngetawain, nyalahin si mas-mas korban karena keasikan nunduk main hp dan ga waspada sama barangnya sendiri.

Wah, ngeliatnya aku kesel banget. Yang salah ya si maling lah, kenapa diwajarkan dan dibalikin jadi tanggungjawab korban?

Ini kejadian udah seriiiiing banget terjadi di kereta, tapi ga ada tindakan apa kek dari tim KRL untuk mencegah ini terjadi lagi. Semalem waktu aku laporan ke email care-nya KRL, malah cuma diimbau untuk penumpang (korban) untuk jaga barangnya masing-masing.

Lah, terus si pelaku ga ditindak gitu? Biarin aja lepas dan berkembangbiak di perkeretaan?

Pak, coba loh itu dipasang CCTV di rak atas. Jadi kalo ada laporan gini lagi, bisa dilacak siapa pelakunya. Terus sebar itu muka maling di stasiun-stasiun, kalo ketemu langsung tangkep!

Kayak di film-film gitu, loh, Pak. Canggih, pinter, keren, bertanggungjawab sama keamanan pengguna transportasi massal.

We're going there, darl

just wait

Senin, 13 Desember 2021

Georgia (2020)

Sepasang orang tua yang 'gaptek' membuat desain spanduk untuk menuntut investigasi ulang atas dugaan bunuh diri yang menimpa anaknya, Jina. Georgia adalah jenis huruf yang bersikeras mereka pilih, walau sebenarnya tidak bisa digunakan untuk menulis aksara Korea. Pada akhirnya, kata-kata dalam spanduk itu hanya berupa kotak-kotak kosong.

GEORGIA oleh Jayil Pak

GEORGIA (2020) diangkat dari kasus Miryang yang benar-benar terjadi di Korea Selatan. Diduga korban bunuh diri setelah sebelumnya mengalami kekerasan seksual yang dilakukan teman-teman sekolahnya. Dalam film ini, hanya 3 dari 21 pelaku yang dijatuhi 'hukuman' skorsing, selebihnya tidak terungkap sama sekali. Alih-alih diusut tuntas, polisi malah menawarkan jalur damai.

Selama kurang dari 30 menit, film ini sangat dalam dan hati-hati mengangkat kesulitan yang dialami kedua orang tua Jina menuntut keadilan untuk anaknya. Hanya mereka berdua, dan mereka hanya punya satu sama lain, melawan sistem yang melindungi pelaku. Betul-betul sulit dan sendirian. Bahkan teman-teman sekelas Jina juga bungkam, tidak ada yang berpihak dan bersedia jadi saksi.

Huruf Georgia sendiri dipilih sebagai simbol kehadiran Jina dalam upaya protes ini. Huruf yang sedang didesain ulang oleh Jina agar dapat digunakan dalam aksara Korea. Kedua orang tua Jina, dan huruf Georgia, mereka bertiga melakukan protesnya lewat desain spanduk.

Akting para pemain yang mumpuni, didukung desain produksi yang amat matang, berhasil menggiring emosi penonton. Penggunaan simbol-simbol, gesture tokoh, dan warna palete yang dipilih semakin memperkuat setiap aspek yang tak terkatakan. Hingga sampai di bagian akhir film, di situlah gong-nya.

Korban kekerasan seksual dan keluarga masih sering dipersulit dalam menuntut pengusutan kasusnya. Victim blaming masih juga sering ditemui. Rasa-rasanya, semua yang ada hanya sunyi yang mengarah ke jalan buntu.

Meski begitu, seperti yang berulang kali tokoh utama ini sampaikan: tetaplah hidup. Kita masih punya kehidupan untuk dihidupi.

Jayil Pak

Setelah tahun lalu aku nonton film "You and I" dan belum lama mendadak jadi buzzernya, tahun ini secara ga sengaja ajang JAFF (Jogja-Netpac Film Festival) kembali menjadikanku sukarelawan buzzer untuk Georgia (2020). Film pendek dengan durasi kurang dari 30 menit, yang diangkat dari kisah nyata kasus Miryang di Korea Selatan.

Georgia by Jayil Pak

Aku ga nonton film ini dalam periode festivalnya. Aku tau film ini dari review singkat di Twitter dan langsung tertarik sejak tweet pertama. Bagaimana satu jenis font bisa dijadikan medium untuk menyebarkan kisah tentang manusia. Ternyata reviewnya jadi ramai dan banyak warga Twitter lain yang juga sependapat. Hingga akhirnya Ayu (si penulis review) berinisiatif nge-DM Jayil Pak (sang director) dan terjadilah pemutaran film "Georgia". Terbatas dalam 24 jam khusus untuk penonton Indonesia.

Wow. Bagaimana banyak hal bisa terjadi atas nama kemanusiaan.

Selain dari antusiasme masyarakat Twitter dan pecinta film di Indonesia, kisah yang diangkat "Georgia" (sayangnya) punya kemiripan dengan kasus yang belum lama ini terjadi di Mojokerto. Tentang korban KS yang mengakhiri hidupnya karena demikian gelap mencari keadilan di hukum manusia. Mungkin hal ini juga yang akhirnya mendorong Jayil Pak untuk menayangkan filmnya di Youtube supaya bisa diakses lebih banyak orang. Padahal dengan begitu, jadi mengurangi kesempatan "Georgia" untuk tampil di festival film lain. Tapi, lebih banyak orang yang bisa menjangkau film ini mungkin dirasa lebih jadi prioritas bagi Jayil Pak.

Hal menarik lainnya adalah adanya sesi QnA lewat Twitter Space oleh Pak Jayil Pak sendiri. Wow, again, terima kasih, Ayu, yang udah mengusahakan. Dari sini keliatan banget dia orangnya sangat berdedikasi, ga banyak protokol, langsung action. Terasa tulus dan humble juga, mau ngeladenin permintaan dari kami, masyarakat biasa yang bukan siapa-siapa.

Semalam, kuikut sesinya dan semakin kagum dengan proses berkarya Jayil Pak dan timnya. Penjelasan simbol-simbol, cerita di balik font Georgia, fakta kasus Miryang di Korea, hingga pendekatan yang dipikirkan secara hati-hati, dengan sangat memihak korban, bikin aku jadi semakin bisa memaknai pesan yang disampaikan. Kamu bisa baca beberapa faktanya di sini.

Asli, Jayil Pak ini humble dan tulus banget. Orang film yang ga menjaga jarak dengan penontonnya. Semua pertanyaan dijawab dengan jawaban yang sungguh-sungguh. Mungkin hal ini juga yang bikin dia jadi dipertemukan dengan timnya, yang juga berdedikasi dan habis-habisan selama proses pembuatan film.

Anyway, dari 24 jam berubah jadi 48 jam lebih, dan hingga tengah malam nanti "Georgia" masih bisa diakses secara online, sebelum ditake-down dari YouTube.

JP on the QnA session

Banyak hal yang aku bisa refleksikan, dari proses berkarya, keberpihakan, pendekatan dan riset yang hasilnya emang tercermin banget bisa sebegitu dalam. Juga soal komunikasi, apresiasi, interaksi, dan kolaborasi yang kita ga tau bisa membawa ke mana.

Jayil Pak memberi ku banyak hal, lebih dari pengalaman bersinema dan tontonan yang luar biasa tulus. Thank you so much, Mr. Pak. 🌼

Kamis, 09 Desember 2021

wiken plan (2)

plan A
  1. jajan tomaple (sekalian bungkus)
  2. mampir ke bookhive menteng
  3. pulang
plan B
  1. renang
  2. donor
  3. nonton Yuni
I can't think about anything else but tomaple's donut 🥺
been craving for their specialities since I introduced them as "makanan khas daerah jaksel" to my friend

I keep listing the flavour combination back and forth, from the savoury to the sweet ones, the classic and the luxe version, trying to get the best experience everyone has ever tasted.

I can't hold it back anymore. I. Must. Visit. Them. This. Weekend.


Huh, it feels nice to write down your own thought, isn't it?

Kamis, 02 Desember 2021

wiken plan

plan a:
  1. renang di galaxy
  2. nonton seperti dendam
  3. groceries shopping
  4. chill and streaming (100% manusia/jaff/youtube)

plan b:
  1. footurama hopping
  2. pos bloc patjarmerah
  3. bungkus dapurempa
  4. jajan tomaple
plan c:
  1. renang bareng anggi
  2. footurama hopping
  3. pos bloc patjarmerah
  4. tomaple

*merenungi hidupku yang dari wiken ke wiken

Sabtu, 20 November 2021

tentang sekarang

melihat foto-foto lama aku jadi ingat
terakhir kali kita keluar
menelusuri jalan,
memungut kepingan-kepingan sepi
yang tertinggal di ujung hari

ah, waktu itu ya.

berapa lama waktu tersingkatmu
dalam pengalaman mengenal seseorang
hingga patah hati sepatah-patahnya?

seminggu
hari ini persis seminggu.

rasanya seperti ada balon yang ditiup maksimal lalu meletus
dan menekan-nekan rongga dada

aku jarang menggunakan siratan langsung
tapi kali ini langsung saja

rasanya sakit dua kilo